Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 5, 2011

Busur Dan Anak Panah…


Pertengahan tahun 1991 saya memasuki dunia perkuliahan pertama saya di sebuah tempat yang mungkin terasa asing bagi sebagian besar orang, yaitu Lembaga Pendidikan Perkebunan yang bertempat di Yogyakarta. Jurusan saya pun pasti juga terdengar asing, yaitu AKU Gula alias Administrasi Keuangan dan Umum Gula. Yap, kampus saya adalah milik departemen pertanian waktu itu yang berkaitan dengan dunia perkebunan milik BUMN. Jadi sangatlah wajar bila tidak familiar bagi sebagian besar orang.
Selepas OSPEK atau masa orientasi mahasiswa, kami diajak para senior untuk membersihkan gudang asrama. Ditengah debu dan aroma lembab yang menghiasi ruang gudang yang tak seberapa luas itu, saya menemukan beberapa majalah lama yang nantinya banyak membawa pencerahan dalam hidup saya, yaitu majalah UMMI, dan selembar kertas yang berisikan sebuah puisi karya sebuah nama yang saat itu masih terasa asing di telinga saya : Kahlil Gibran.
Puisi ini begitu menggugah kesadaran terdalam saya sebagai seorang anak manusia. Puisi ini begitu melekat dalam nurani saya dan membawa banyak hal baru bagi saya dalam memandang kehidupan. Inilah puisi itu :

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu, tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri
Engkau dapat merumahkan tubuh-tubuh mereka, tapi bukan jiwa mereka…
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok
Yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba engkau menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan
Sang pemanah telah membidik ke arah keabadian,
Dan Ia meregangkanmu dengan kekuatannya,
Sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh

Jadikanlah tarikan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika Ia mencintai anak-anak panah yang terbang,
Maka Ia juga mencintai busur yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

Puisi Kahlil Gibran ini memberi kesadaran yang paling fundamental pada saya, yaitu tentang kesadaran untuk berani memilih sikap dan menentukan arah kemauan saya sendiri sebagai seorang anak manusia, seperti yang digambarkan dalam puisi di atas. Setiap individu ibarat anak-anak panah hidup yang diluncurkan kearah keabadian, ke arah masa depannya. Artinya, kita adalah milik masa depan. Milik mimpi-mimpi dan harapan-harapan peradaban di masa yang akan datang.
Hal ini semakna dengan sebuah hakekat ke-individu-an yang melekat pada manusia yang bergelung erat dengan hal penting lain yang bernama kewajiban kita sebagai manusia, sebagai pemimpin di muka bumi ini. Dan sebelum mencapai level itu, pasti level individu-lah yang harus ditata terlebih dahulu. Manajemen diri akan menjadi pijakan penting untuk mewujudkan mimpi akan masa depan.
Dalam sistem pendidikan anak di Indonesia, biasanya orang tua adalah kelompok yang dominan dan menguasai segala hal yang berkenaan dengan keputusan-keputusan yang berkenaan dengan kondisi diri dan masa depan anak, yang kadang terkesan bahwa anak adalah perpanjangan mimpi-mimpi orang tuanya. Memang ada sebagian anak yang diberi kebebasan untuk merakit mimpinya sendiri, namun sebagian besar yang lain tidaklah demikian dan saya termasuk golongan yng terakhir ini. Jadi bisa sangat dimaklumi bila puisi ini serasa air sejuk yang menyirami ladang gersang tentang konsep hidup dan asumsi tentang mimpi dan masa depan.
Puisi ini juga memberi wacana berharga dalam memberi peng-ibarat-an posisi orang tua,anak dan tuhan. Orang tua yang digambarkan sebagai busur panah, sebagai tempat berpijak bagi anak panah untuk meluncur deras menuju sasaran yang telah di tetapkan sang pemanah, adalah penggambaran yang sungguh luar biasa bermakna. Karena sebagai pijakan luncur, tentu saja orang tua harus mampu saling melengkapi seperti layaknya busur panah yang bagus, pegangan yang kokoh dan kuat dengan disertai tali panah yang lentur tapi liat!
Konsepsi ini adalah konsepsi mendasar yang harus dimiliki oleh para orang tua dan wajib dipahami oleh para calon orang tua, yaitu bahwa bila kita telah berani memutuskan untuk memiliki anak, maka kita tak boleh berhenti belajar, malah justru harus lebih keras belajarnya karena orang tua menakdirkan dirinya sebagai landasan pacu bagi anak untuk melontar sejauh-jauhnya. Orang tua haruslah berpengetahuan luas sehingga ia mampu dengan luwes merespon kondisi dan secara lentur kan melejitkan potensi-potensi anak yang telah Tuhan pahatkan dalam sel-sel tubuhnya.
Busur panah haruslah menjadi pijakan yang serasi dengan anak panahnya, sehingga orang tua sebagai busur panah harus memahami kondisi anak panah dan menyesuaikan dengan kebutuhan berpijaknya si anak panah, bukan sebaliknya. Pijakan yang tidak tepat akan membuat si anak panah berpotensi gagala dalam mencapai tujuan si pemanah, bagaimana pun ahlinya si pemanah.
Sunnguh sebuah puisi kehidupan yang sangat mengesankan…

Pare, 5 Agustus 2011


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: