Oleh: uun nurcahyanti | Oktober 21, 2012

ANAK PINAK DOSA


Uun Nurcahyanti

‘Dosa’ adalah empat huruf yang akrab dengan kehidupan anak-anak. Konsepsi yang diajarkan sejak awal masa hidup seorang bocah. Anak yang pasti memang akrab dengan penasaran dan segala macam hal yang bersifat coba-coba membuat mereka melahap segala pelajaran. Memeristiwai segala keingintahuan dengan pencelupan diri sepenuhnya demi menuntaskan rasa penasaran mereka. Untuk itu mereka adalah penganut paham trial and error yang fanatik. Metode belajar dan pengajaran yang telah dimakamkan oleh teori belajar modern.

Oleh karenanya anak-anak sering betul melakukan segala macam eksperimen dan terbenam dalam aneka ragam kesalahan. Kesalahan menjadi khas perilaku anak. Dalam kultur Jawa, konsepsi khas perilaku anak ini ditengeri dengan istilah bocah, dan bila seorang anak manusia melakukan kesalahan yang akut jadi tersimbolisasikan dengan ungkapan pancen isih bocah alias memang masih berjiwa atau berkarakter anak-anak. Sekalipun usianya telah banyak. Kesalahan adalah kelaziman anak. Sebaliknya bila seorang anak sudah bergerak memahami kesalahan dan belajar dari kesalahannya hingga menimbulkan pengertian dalam memahami hidup, maka orang akan lekas berucap, “Bocah kok wis njowo.” Masih kecil tetapi telah bersikap dan berfikir dewasa.Bocah disini mengucap ragawiyahnya saja. Kesalahan menjadi kelaziman perjalanannya yang memang muda usia. Sebuah pemakluman yang arif atas ritus belajar makluk manusia.

Dalam riwayat agama, kesalahan merupakan hal yang intim dengan istilah dosa. Kesalahan lekas kusut pada mata rantai dosa. Seakan teman sehidup semati. Yang kemudian akan menggandeng peristilahan lain yang lebih merepresi, yaitu neraka. Dan lantaran setiap manusia pasti mengalami masa anak-anak dalam hidupnya, maka ia menjadi pusat segala riwayat kesalahan. Otomatis juga ia sering dianggap sebagai makhluk berlumuran dosa. Wah!

Tentu rasanya tak adil bila anak dikaitkan dengan dosa dengan pola pertautan yang seperti itu. Apalagi bila mengambil sebuah konsepsi bahwa setiap bayi terlahir dalam kondisi suci. Persoalan suci dan dosa pun lekas menjadi sebuah pertarungan. Kondisi dan keadaan. Anak terlahir dalam kondisi tanpa dosa alias suci, namun rentan melakukan kesalahan yang membuat mereka dengan cepat mendapat lebelisasi pembuat dosa. Tumpukan kesalahan anak dalam merangkaki proses belajarnya bertabrakan dengan arus dosa yang intim dengan kesalahan. Malah sering diasosiasikan sebagai sebuah bentuk konsekuensi dari suatu kesalahan. Kata salah dan dosapun dengan cepat mendominasi dunia anak. Anak pun dengan sebal sering berkata : “Aku salah terus, salaah terus”, atau “Aku kok nggak pernah benar?”

Lebih celaka lagi bila orang-orang dewasa di sekitar anak dengan gegabah membawa kosakata neraka demi menguatkan kesalahan atau dosa yang dilakukan oleh si anak. Anak pun terpenjara dalam kata yang bahkan belum mereka mengerti artinya. Mereka tumbuh dan hidup dengan rasa bersalah sebagai seorang pendosa.

Mungkin seperti itu rasa Adam dan Hawa setelah nekat menggigit buah khuldi. Merasa seantero dirinya memanggul dosa dan kesalahan. Jika begitu, manusia adalah riwayat pelayaran traumatis. Lahir dalam kesucian dan merdeka, tetapi terjerat dalam takdir dirinya yang berupa manusia. Ibarat bayi yang lahir di Indonesia yang secara otomatis seakan telah menanggung hutang negara sekian juta rupiah. Negara menjadi sentral kehidupannya yang celaka. Ada demi menjadikan mereka yang lahir sebagai budak hutang. Kelahirannya menyatakan kesengsaraan berpunuk hutang negara.

Perjalanan belajar manusia.

Kesalahan dengan segera menjadi persoalan yang tidak intim dengan hakekat belajar. Kesalahan adalah mutlak milik para calon penghuni neraka. Terbakar api. Hangus. Hilang. Kesalahan menjadi ritus penghilangan eksistensi kebermakhlukan manusia. Sementara belajar itu dari ayunan hingga ke liang kubur. Seluruh waktu hidup manusia adalah proses belajar tanpa henti. Dan tidaklah mungkin manusia belajar tanpa melakukan kesalahan. Belajar adalah perjalanan berselancar dengan kubangan kesalahan dan kekurangan, bahkan kegagalan. Seperti masuk neraka sahaja.

Bukankah anak butuh jatuh bangun dalam belajar berjalan? Bukankah anak mesti tertaih-tatih dalam mengucap kata-kata pertamanya? Kegagalan dan kesalahan yang dilakukannya menjadi berkah. Betapa yang gagal butuh mereka yang memberinya keyakinan. Betapa kesalahan tidak serta merta menjadi aib dan cela. Apalagi dosa. Jadi, sebenarnya kesalahan pun adalah perjalanan tanpa henti. Keberdosaan pun demikian.

Represi anak besar dalam dunia dan imaji anak-anak tentang kesalahan, dosa, dan neraka sudah saatnya untuk dibenturkan dengan konsepsi mentalitas kemanusiaan si anak. Rasa bersalah akan memantik ketakutan. Menimbulkan trauma akut yang kadang tak terkisahkan oleh lisan seorang bocah. Membuatnya diam, tak bergerak. Takut berbuat salah. Takut berdosa. Takut hidupnya yang telah susah menjadi celaka karena terbayangi arang dan api neraka.

Fatalitas akan berlanjut bila akhirnya hal tersebut membuat mereka menjadi manusia-manusia yang takut Tuhan. Akhirnya menjauhi. Ujung-ujungnya tak memercayai lagi. Ajaran untuk mengenal Tuhan menjadi lorong gelap tanpa cahaya. Agama lekas dituduh bualan atawa lawakan ala televisi kita yang sekedar mengumbar tawa. Tawar rasa humor. Tidak berolah rasa hanya puja mata. Agama pun gagal menjahitkan kisah keintiman manusia dengan penciptanya. Perjalanan bercinta dengan Tuhan hanya menimbulkan murka. Menjadikan si pencinta masuk dalam cangkir malapetaka. Takdir, seloroh seantero pemuka agama. Jatuh cinta kepada Tuhan adalah anjuran dan ajaran. Masuk ke labirin dosa adalah jalannya. Ujungnya bernama lubang neraka. Manusia tak bisa memilih. Lahir lantas ketakutan.
Manusia yang ketakutan biasanya lebih memilih diam. Mencari titik aman. Asal tak kecemplung ke neraka. Mereka hidup tapi diam, tak mau melakukan kesalahan. Gagap bereksperimental. Tak sanggup menanggung resiko pengelanaan kemauan. Diam menjadi pilihan agar tak tertaburi dosa. Berdiam menjadi kewajaran zaman. Hidup tapi tak bergerak. Dosa mengucap kematian peradaban manusia. Tuhan mencipta cinta. Mencipta segala atas nama cinta. Ia ingin dicinta karena Ia sang maha pecinta. Dosa mengebiri persenggamaan manusia dengan Tuhannya. Berdosakah bila aku tak paham maumu, Tuhan terkasihku?

Pare, 19 Agustus 2012
Dimuat di edaran Ora (Weruh) edisi 8


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: