Oleh: uun nurcahyanti | Oktober 21, 2012

BERKUBANG KATA LUBANG


Uun Nurcahyanti

Lubang adalah kata yang akrab dengan tamsil di masyarakat kita. Lolos dari lubang jarum, hanya keledai yang jatuh dilubang yang sama, gali lubang tutup lubang . Demikian beberapa perumpamaan yang sering kita dengar dan berhubungan dengan lubang.
Lubang, dalam keseharian kita, adalah sebuah benda yang lekat tapi hampir tak mampir dan lekat pada tubuh keseharian kita. Lubang juga menyimpan mana yang tak sama. Lubang sumur mengucap sumber kehidupan, lubang WC menjadi tempat pembuangan kotoran. Lubang kamar mandipun demikian. Lubang bermakna lorong untuk mengucap sumber kehidupan atau tempat pengeluaran kotoran.
Dalam tubuh manusiapun terdapat berbagai lubang. Di kepala, ada lubang telinga, lubang hidung, mulut dan mata. Di area selangkangan, terdapat lubang kencing, lubang persenggamaan alias lubang lahir pada diri perempuan, dan dubur. Dalam tubuh, akan ditemukan lubang payudara. Lubang- lubang ini ada dan melekat pada tubuh setiap diri manusia sebagai kelaziman ragawiahnya, namun jarang sekali menjadi tema obrolan.
Wajah familiar dengan obrolan keseharian kita, namun tidak demikian dengan lubangnya. Payudara bergelantungan di seantero iklan dan pancar mata kita, namun lubang susunya seakan tak kita anggap ada. Persenggamaan menjadi adonan kisah indah gairah manusia dan mencipta banyak cerita. Rasa dan aroma persenggamaan menjadi tabur keberkisahan yang seakan tak usai untuk diurai menjadi anggur kenikmatan. Yang seakan-akan mengabadikan manusia dalam kemabuk-kepayangan percintaan. Kita membicarakan fungsionalitas ragawi berdasarkan selera kamanungsan kita. Melupakan lubang dan membiarkanya menjadi kitab lusuh tak terbaca.
Di selangkangan kita ada lubang kencing dan dubur. Sebuah pintu untuk mengeluarkan kotoran . Lubang pengeluaran segala sampah tubuh . Ada juga lubang vagina pada tubuh perempuan. Yang menjadi pintu untuk masuknya sperma yang membawa bakal kehidupan, sekaligus gerbang keluarnya sebuah kehidupan. Lubang vagina mengucap denyut kehidupan. Layaknya lubang sumur pada tubuh bumi. Sementara pada laki-laki lubang keluarnya sperma, sang calon kehidupan, sama dengan lubang keluarnya air kencing. Lubang ini memiliki karakter unik. Sebagai tempat pembuangan kotoran yang sering kita sebut sebagai air seni, dan sekaligus tempat memancarkan calon generasi yang merupakan karya seni Sang Pencipta.
Demikian juga lubang payudara, semestinya. Payudara adalah sumber kehidupan. Hak para generasi untuk mencercapnya. Dan tentu menjadi sebuah ironi bila manusia justru lebih memikirkan bentuk payudara,volume, dan besar ragawiyahnya. Lalu lekas menafikan setitik lubang yang memancarkan sumber kehidupan yang menjadi bagian dari kebertubuhanya. Lubang payudara ada demi memancarkan air susu. Ia adalah lubang kehidupan.
Lubang di bagian kepalapun demikian adanya. Lubang telinga adalah pembaca yang tekun . Ia dengan telaten mengikat makna-makna. Menangkap kata-kata yang berhamburan . Seperti lubang vagina yang tengah bersenggama setiap saat. Informasi dan segala kata tersebut lantas ditetaskan di rahim pikiran. Demikian juga dengan mata. Mata membaca dengan menyerap aneka cahaya. Mengikat makna dan menyemaikanya dalam alam pikiran dengan permenungan. Dari rahim pikiran inilah yang nantinya lahir generasi aksara. Yang tumbuh menjadi anak-anak kata. Kelahirannya tentu lewat mulut dalam bentuk wicara. Ucapan-ucapan. Omong-omongan.
Mulut, tentu saja, lantas menjadi lubang pemancar sumber kehidupan. Layaknya lubang vagina. tetapi riwayat vagina tidak selalu mencipta kelahiran anak manusia. Manakala bukan anak generasi yang terlahirkan, maka vagina menjadi lubang pengeluaran darah haid. Sesuatu yang dianggap kotor dari zaman ke zaman, dalam berbagai keyakinan adat dan agama. Demikian juga dengan mulut. Manakala ia tidak melahirkan anak kata , maka ia hanya mengeluarkan darah haid. Haid kata. Menstruasi aksara.
Vagina mengalami masa haid sebulan sekali, lebih dari itu alias terlalu kerap berarti dia tak normal. Berpenyakit. Saat rahim tengah menyimpan nafas calon generasi, ia malah tidak mengeluarkan darah haid sama sekali. Berpuasa selama sembilan bulan sepuluh hari . Sementara, mulut bisa menstruasi aksara tiap waktu, namun hebatnya ia bisa juga melahirkan generasi aksara setiap waktu`. Kadang, mulut kita pun butuh berpuasa saat rahim permenungan kita sedang membobot calon generasi aksara. Menstruasi kata yang terlalu berlimpah juga berarti tak normal. Menyimpan penyakit rahim yang akut bisa-bisa. Wah!
Dimuat di Edaran ORA(WERUH) edisi 10


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: