Oleh: uun nurcahyanti | September 15, 2012

Gadis Pantai


Karya : Pramudya Ananta Toer

Sebuah cerita dengan latar belakang masa kolonial. menggambarkan kekuasaan seorang bendoro alias penguasa Jawa. Feodalisme gaya Jawa Tengahan di masa lalu yang kental dengan aroma kekuasaan yang tanpa kompromi. bahwa hidup rakyat ditentukan oleh sabda pandito ratu, apa kata penguasa.

Seorang penguasa adalah pusat kosmos masyarakat Jawa. Sekelompok manusia yang sangat dipercaya masyarakat sebagai wakil dari Gusti Sing Makaryo Jagad. Tuhan pencipta alam semesta. Sabda penguasa adalah semacam firman Tuhan. Keinginan penguasa diibaratkan sebagai kehendak Tuhan. Ditaati dengan fasih tanpa berbantah. Dianggap sebagai rezeki yang datangnya dari langit meskipun tak lazim Dan menguliti harga diri.

Pola pikir inilah yang kemudian menjadikan masyarakat Jawa menjadi seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Serba menuruti apa kehendak orang-orang ‘atas’ atau junjungan yang selalu secara membabi buta dianggap sebagai miniatur Tuhan yang mengatur alam mikrokosmos dan makrokosmos mereka. Membangkang berarti menggoyang harmoni dan keselarasan hidup. Menciderai kelaziman adalah menyalahi kehendak alam yang bisa berakibat kegoncangan bagi alam raya dan nantinya berimbas pada alam raga.

Jawa bermakna ketakziman dalam menjaga segala keberlangsungan semesta, alam dan juga bangsanya. Untuk itu kehendak junjungan haruslah dijalankan tanpa kompromi dan tanpa banyak cingcong. Raja atau penguasa dipercayai sebagai titisan dewata yang datang kedunia dengan segala kesaktian dan kesakralannya. mereka datang demi keselamatan segala keberhidupan.

Nilai Perempuan

Pernikahan bagi masyarakat Jawa adalah ujung kemudaan yang megah. Awal segala pengabdian kepada masyarakat dan alamnya. Berpasrah diri untuk mengawal peradaban bangsanya. Bagi laki-laki, menikah adalah pembuktian kepantasan dan kepatutan diri. Bahwa ia siap, mampu, serta pantas diberi segurat kekuasaan atas dunia kecil yang terdiri atas dirinya sendiri dan perempuan yang menjadi pendampingnya.

Lantas, kelak anak-anaknya. Menikah adalah pengangkatan dirinya menjadi seorang ratu, alias raja, sekaligus pandito, seorang Begawan atau maha guru. Yang sabdonya adalah imperatif tanpa bantahan.
Pernikahan adalah sekolah alam bagi lelaki untuk memberi bukti bahwa dirinya telah siap dan pantas untuk menjadi sang pemberi tauladan serta titah. Sebuah arogansi gender yang berpotensi membawa rasa keblinger bagi kaum adam ini bila tidak benar-benar dipahami filosofinya.

Sementara bagi perempuan, pernikahan adalah penyerahan diri dan puja pengabdian tanpa interupsi. Sebuah kerja diri bagi publik yang absurd. Ketahanan diri seorang perempuan adalah kunci pemeliharaan tradisi bangsanya sekaligus peruwatan sepotong peradabannya. Ia hadir demi meladeni suaminya. Suami dianggap pemilik dirinya sepenuhnya. Perempuan yang menikah adalah hak pemiliknya. Ratu dan sekaligus panditonya. Ia diinginkan karena kebutuhan sang ratu. Keberadaan perempuan adalah seutuhnya demi menopang kesuksesan sang ratu. Menjadi tulang punggung laki-laki dan seluruh keturunannya.
Sebuah beban besar yang harus mampu tertampung dalam seluruh diri keperempuanannya. Sekalipun demikian, ia tetaplah konco wingking. Tokoh yang memang harus berdiri kokoh Dan kukuh di belakang layar. Forum publik adalah kuasa para ratu dan pandito. Istri adalah milik forum domestik di lingkup ‘kerajaan’ sang raja kecil. Perempuan menjadi inti kosmos yang sepi dan didiamkan di kediaman laki-laki.

Sebuah kenyataan adat yang tak bisa dicaci maki oleh manusia perempuan. Bahwa perempuan Jawa tiada pernah memiliki dirinya seutuhnya. Pada masa sebelum menikah, ia adalah milik bapaknya. Bapak adalah representasi Gusti Allah di dunia. Ratu juga pandito bagi diri perempuan. Sabda bapak adalah firman Tuhan. Keinginan bapak adalah lakon yang dimaui dalang. Perempuan hanyalah anak wayang kehidupan. Setelah menikah peran bapak digantikan oleh suami.
Perempuan tidak berhak memilih ataupun berkehendak. Ia terlahir untuk diam. Tak diam berarti harus bersiap diri untuk didiamkan masyarakat bangsanya.

Ia bertugas melahirkan generasi penerus negerinya, namun tak memiliki hak untuk menyatakan kepemilikan atas anak-anaknya. Perempuan bertanggung jawab atas keberlangsungan diri anak yang dilahirkannya, tapi adat dengan tegas menghardiknya untuk menjadi sutradara saja. Berada di belakang layar. Eksistensinya terakui hanya dalam nama dan cerita. Sosoknya terhilangkan.

Perempuan terlahir di dunia fana sebagai yatim. Pernikahan membuatnya menjadi yatim piatu. Perempuan Jawa seperti sosok makhluk yang celaka riwayatnya itu.

Kosmologi masyarakat Jawa ini dipahami benar oleh para penguasa Jawa. Feodalisme yang membabi buta semakin mendepak harkat dan kedirian para perempuan. Sebuah filsafat kebangsaan yang bersifat kearifan sebenarnya. Namun, memiliki titik lemah yang dengan mudah bisa dimainkan oleh sedikit kerja kata sahaja. Ketaatan dan pengabdian berpotensi melahirkan perbudakan yang sukarela dan direstui zaman dengan norma kebangsaannya.

Saking bertuahnya kebutaan kesukarelaan ini, sampai-sampai seorang penguasa boleh menikah dengan cacah berapa saja. Boleh menginginkan siapa saja. Bila ia tidak sekasta, maka sepucuk keris boleh menjadi pengganti kehadirannya dalam ritus pernikahan. Manusia perempuan hanyalah seharga dengan sebentuk barang. Bahkan si keris bisa jadi tetap dianggap lebih berharga karena dianggap sebagai simbol sabda sang ratu. Orang tua perempuan tidak dengan serta merta menjadi orangtua sang menantu. Menantu adalah penguasa. Penguasa tetaplah penguasa. Ia ratu sekaligus pandito bagi rakyatnya. Ia disembah dan dielu-elukan. Simbol keteladanan dan pusat ketakwaan. Ia tidak berhak merendahkan diri di hadapan orangtua istrinya yang bukan penguasa. Itu bukan kelaziman.

Orangtua perempuan, apalagi yang berkasta sudra, lekas takluk pada suhu feodalitas yang tebal. Semangat kebijakan serta kebajikan dan segala pengalaman hidupnya dengan mudah dienyahkan oleh sebuah peristiwa perkawinan. Mereka dianggap sekedar tetamu di ruang tamu rumah anaknya sendiri. Kesudraan adalah nasib malang tiada berujung. Dihormati karena memiliki anak yang kebetulan dikersakake, dimaui, oleh sang ratu. Masyarakat sekitarnya pun dengan segera menjunjung keluarga si perempuan dengan segala kehormatan. Tanpa mempedulikan peringkusan hakekat orangtua di hadapan kekuasaan sistem keberbangsaan.

Perkawinan antar kasta

Pernikahannya dengan Bendoro menjadi kecamuk perang batin bagi si gadis pantai. Kehidupannya di kampung nelayan yang berteladankan keluarganya Dan juga desa tempat tinggalnya menjadi sebuah pijakan pembanding atas kehidupan barunya. Ketaatan Dan kebertundukan bapaknya pada suaminya yang notabene adalah menantunya adalah kegelisahan paling fatal yang merubung hari si gadis pantai ini.
Bapaknya yang perkasa sangat dihormati masyarakat desanya karena mampu menaklukan ombak Dan tak gentar menghadang badai. Bapaknya tak takluk pada lautan yang gagah perkasa. Namun, beliau takluk pada Bendoro yang sama-sama manusia seperti halnya dirinya.

Bendoro yang berkulit halus dengan warna kuning langsat karena tak akrab dengan sinar matahari seperti halnya para pemuda di desanya itu terasa begitu berkuasa. Lebih jumawa dibandingkan dengan lautan yang membentengi desanya. Hal yang tak mampu diterima Dan sekaligus dicerna oleh seorang gadis pantai. Sayangnya kegelisahan itu hanya berujung di kelambu tempat tidurnya.

Kekuasaan Dan kepantasan kasta juga menjadi represi tersendiri di dalam biografi pernikahan antar kasta ini. Upaya penyingkiran pun menjadi momentum sah demi alibi penyelamatan sistem feodalitas. Prinsip bibit, bobot dan bebet menjadi pedang yang siap menebas siapa saja yang dirasa tak pantas. Kedudukan mengucap standart kepantasan. Kemanusiaan dan segala harkatnya lenyap, tersingkirkan.

Perang batin

Pernikahan gadis pantai dengan priyayi ini memang mengangkat derajat keluarganya. Ada kemegahan derajat yang menjadi perangkap pesona kelas. Tetapi ada konsekuensi yang harus dibayar. Perang batin yang terasa tak segera usai. Ada onggokan kegelisahan yang terus berkelindan dalam ruang batinnya. Dan terus bertambah setiap harinya.
Kehamilan pun ternyata menyatakan duka lara bagi batin seorang gadis pantai. Anak yang menjadi tempat bersandar segala keletihan malah justru menambah keletihan tersebut. Menjadikannya berada dalam dunia trauma yang berkepanjangan. Benih seorang priyayi agung, pandito, tidak boleh tumbuh di luar istana. Sementara nasib tak memihak kepada sang gadis pantai. Ia pun terbuang dari lingkaran komunitas kepriyayian yang pernah memungutnya dengan sekedar keris. Dan kemudian menyingkirkannya ke jalanan dengan tanpa penghormatan. Menjauhkan seorang ibu dari buah hatinya. Perang batinnya bukan berarti tunai. Berhenti dari lingkup kebendoroan tetapi terus mendapati perang batinnya. Sendirian.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: