Oleh: uun nurcahyanti | Oktober 21, 2012

Seharusnya Kata


Uun Nurcahyanti

Peristiwa tidurnya anak-anak yang menjadi peserta peringatan Hari Anak Nasional di akhir Agustus lalu pada saat pidato presiden tengah berberlangsung merupakan tragedi nasional menurut saya. Hal yang lucu, memprihatinkan, Dan sekaligus cukup menohok. Saya pun serta merta terbawa pada kenangan peringatan Hari Anak Nasional 25 tahun tahun silamdi gedung Balaikota Surakarta. Pidato bapak walikota saat itu mampu menyihir rasa kehormatan seorang anak akan cekam rasa bangga, haru, Dan takjub. Apalagi pidato seorang presiden, seharusnya.

Pertemuan dengan seorang presiden saja sudah menyeret gerbong rasa aneka rupa, apalagi menerima seduhan kata-katanya. Bila ternyata lontaran aksara dariseorang presiden tiada lagi memikat hati para bunga bangsa yang rindu kata, maka itulah tragedi terbesar ini. Sebuah tragedi kata nasional.

Memang, banyak kecaman yang muncul dari momen kata ini Entah menggugat sikap presiden ataupun esensi dari pidatonya. Namun, saya lebih suka mengaitkan hal ini dengan sekelumit kondisi dunia pendidikan kita hari ini. Utamanya universitas.

Universitas merupakan adopsi kata dari Bahasa Inggris university, yang kata dasarnya adalah universe. Universe adalah penggabungan dari kata uni Dan verse. Uni adalah kumpulan, antologi, atau himpunan. Verse bermakna ayat alias kalimat. Universe sebangun makna dengan sekumpulan ayat-ayat. Merupakan sebuah firman. University atau universitas, kemudian, berarti sebuah tempat berhimpunnnya ayat-ayat. Tempat dimana seorang diri mengasah kata menjadi pedang. Sejata pertarungannya sebagai maha manusia. Dengan kata lain, universitas adalah sebuah tempatuntuk menyemaikan kata. Mengalirkan, merawat, dan meruwat kata.

Seluruh komponen institusi universitas seyogyanya menjadi ahli bahasa, pendekar kata. Di tempat ini pulalah seharusnya bahasa sebuah bangsa diuri-uri keberhidupannya. Namun, yang terjadi saat ini justru menyimpang dari semangat nama institusinya sendiri. Dosen menjadi orang yang lebih suka member tugas Dan lantas menggelar diskusi Dan presentasi. Bukan menjadi perawat kata yang meruwat mahasiswanya Dan berperan menjadi mahaguru. Mahaguru yang tekun membaca Dan telaten menanamkan percikan benih-benih literasi dengan obrolan yang menghidupkan. Lantas mendorong seluruh diri menjadi individu yang lihai mengikat makna. Bukan hanya secara lisan, namun juga dalam tulisan-tulisan.

Sehingga mestinya, wilayah universitas adalah wilayah yang tak surut memancarkan produk-produk literasi. Jurnal, buletin, majalah, buku, Dan aneka kumpulan tulisan adalah hasil akhir dari dunia per-universitas-an. Universitas menghadirkan diri sebagai dewan penerbitan kitab semesta, semestinya.

Pada kenyataannya, universitas tidak lagi berfungsi sebagai pabrik kata Dan tempat persemaian kalimat berhikmat. Usaha penerbitan Dan media massa pun mengambil celah ini untuk menyebarkan kata. Universitas lumpuh kata. Produk universitas pun tidak akrab dengan dunia kata. Berkata sebagai kodratiyah mereka sebagai makhluk bahasa. Mereka miskin mahaguru yang menjadi dewa kata.

Mahasiswa pun tidak menjadi manusia mahakata. Insinyur kita gagap kata, pengacara kita tersedak kata, politikus kita sesat kata. Hal yang paling melarakan: calon guru-guru bangsa alpa kata. walhasil, guru-guru yang lahir menjadi sosok yang asing dalam menjahit kata-kata. Maka, tak janggal rasanya bila generasi Indonesia dari hari ke harimenjai generasi yang kering kata.

Tamsil-tamsil bijak tak lagi dipijak. Puisi-puisi yang membangun jiwa tidak lagi menyulut bara Dan merangkul rasa. Hidup terus berjalan tetapi mati rasa. Universitas dengan segera menjadi monument-monumen megah dengan tiket masuk yang wah. Pembukaannya setahun sekali Dan disudahi dengan perjamuan wisuda Dan pembagian ijazah.

Dosen pun dengan segera dijelmakan menjadi patung-patung batu penghias monument universitas. Berbahasa dengan kata-kata yang seragam, statis. Lambat laun meredup Dan lantas padam. Tempat pembenihan kata mati kata. Tak lagi menjahit kata.

Al-amin adalah yang bisa dipercaya. Tolok ukurnya adalah kesalehan Dan keberimanan kata. Kata yang diucapkan penuh keyakinan dengan lambaran kebenaran Dan natinya bisa dipertanggungjawabkan sepenuhnya. Kata yang tersadari terucapnya karena ia adalah aliran keberhidupan semesta. Bukankah universe juga bermakna semesta? Hanya kata yang menyemesta. Tertinggal menjadi warisan zaman. Raga akan using Dan menjadi tiada, tetapi tidak dengan kata-kata. ia akan terus mengalir membasahi setiap lapisan zaman Dan peradaban.

Kita mengartikan universitas sebagai perguruan tinggi, tempat para mahaguru yang memiliki ketinggian kata. Wilayah para mahaguru memahat ruas-ruas kata demi melahirkan generasi mahakata agar tidak melulu menjadi sebuah bangsa yang kalah kata. Seharusnya.

Pare, 10 September 2012

Dimuat bersama tulisan dari 26 penulis di buku Hajatan Aksara terbitan Taman Budaya Jawa Tengah Dan Bilik Literasi 2012


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: