Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 17, 2012

Canting


Novel Arswendo Atmowiloto
(Sebuah Ulasan)
Uun Nurcahyanti

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Bahasa menunjukkan bangsa. Sebuah bangsa menciptakan peradabannya. Dunia peradaban manusia Jawa tertabur dalam setiap lembar novel Arswedo Atmowiloto ini. Manusia Jawa yang dipilihnya Arswendo adalah jenis manusia Jawa yang priyayi dan memiliki perwatakan ksatria. Jenis yang konon kabarnya adiluhung dengan kemuliaan budi pekerti dan kearifan diri yang tiada tara. Kebijakan dan kebajikan menjadi pondasi pikir dan langkahnya. Begitu kabarnya.

Arswendo ingin menuturkan sebuah pertarungan. Bahwa kearifan tiada datang dari langit. Kearifan adalah sebuah proses. Kastanitas diri dalam dunia Jawa adalah keniscayaan yang naïf. Lebelisasi lekas mengucap posisi sosial dalam masyarakatnya. Kelas sosial dengan tegas memberi batas-batas. Bahwa juragan dan pembantu berbeda dunia. Tinggal dalam satu pagar namun bagai langit dan kerak bumi.

Arswendo mengucap manusia Jawa atas persaksian pengabdian. Sala yang halus adalah kehalusan cita rasa pengabdian. Mengabdi pada keyakinan tanpa bertanya dan menggugat karena hidup adalah sakdermo nglakoni. Sekedar menjalankan perintah dalang. Manusia adalah wayang yang menjalani cerita-ceritanya. Mungkin nantinya saling bertautan. Hidup mengalir dalam lintasan kehendak Gusti Allah, Sang pemangku cerita. Juga di lidah para raja dan juragan yang mereka yakini mewarisi kearifan Tuhan. Sama seperti orangtua yang wajib dihormati dan dijunjung tinggi harkat serta martabatnya. Anak adalah wayang, orangtua menjadi dalang.

Bahwa nglakoni bukan berarti menyerah tetapi pasrah. Pasrah adalah riwayat pengertian yang taat pada tujuan akhir dari pengabdian diri si individu. Bahwa Gusti Allah telah menetapkan secara adil dan penuh pertimbangan adanya sebuah peristiwa kelahiran. Hidup itu tidak lantas semena-mena memilih karena Sang Maha Dalang telah menetapkan lakon dan ceritanya. Pilih memilih adalah milik laki-laki. Kemutlakan adalah di tangan bapak. Bapak adalah pusat semesta. Simbol otentik kearifan dan mewakili seluruh kerso Gusti Allah. Kehendak Tuhan tergurat dalam tutur seorang bapak.
Maka dari itu bapak seyogyanya berwatak ksatria betuahkan kepriyayian yang adiluhung. Seorang bapak mesti mengerti tanpa banyak berucap. Mengucap dengan segala kedalaman ilmu dan lautan kearifan hidup. Bapak adalah tipikal kekuasaan. Ucapannya adalah perintah tak terbantah. Maka seorang bapak dalam alam manusia Jawa hendaknya mengejawantah. Harus nggenah. Membumi, mengakar dan berada pada kelurusan paling sejati.

Potret seorang wakil Tuhan ini lantas membias dalam pelangi perempuan. Seorang istri. Manusia Jawa menyebut perempuan dewasa sebagai wanito, wani ditoto. Kata wani menghimpun diri dengan makna bersedia, berikhlas diri. Untuk diperintah, dirawat dan diruwat.

Perempuan adalah riwayat guru dan murid sejati. Ia juga seorang manajer terajaib. Mampu merawat, siap menaati perintah dan kerso, karep atau kehendak Sang Gusti dalam pengertiannya yang dalam. Siap menguji diri untuk memimpin orang lain demi tetap mengepulnya asap dapur keluarganya. Perempuan Jawa memanggul tanggung jawab periwayatan peradaban bangsanya.

Air susunya adalah mata air kehidupan generasi bangsanya. Kemolekan dan ketaatannya adalah pancaran mata Sang Gusti. Permata yang tak bisa sekedar dipamerkan. Langkah kaki dan kibasan tangannya adalah penghidupan. Riwayat hajat hidup peradabannya. Pada sisi ini laki-laki tak memiliki kuasa atas diri kebangsa-Jawaan perempuan Jawa.

Manusia perempuan dalam alam Jawa dientengkan dengan sebutan konco wingking, teman yang mendorong dan menopang segala kegiatan lelaki dari belakang alias bukan untuk mendampingi di perjamuan untuk dipajang atau justru tampil dimuka untuk berhadapan dengan tamu alias publik. Meski seringkali malah perempuanlah yang justru menjadi urat nadi kehidupan keluarga, namun ia tetap dianggap the second sex.

Dalam mengairi ladang hidup keluarganya, perempuan Jawa dalam novel ini digambarkan sebagai sebuah organ yang menjadi bagian dari pasar. Menghidupkan Pasar Klewer yang menjadi ikon perekonomian kota ini dalam perkainan. Nguri-uri budaya dengan tetap meruwatkan batik tulis. Bekerja dengan para perempuan lain demi berdarahnya sebuah kebudayaan yang tergambar dalam aroma malam dan tarian canting.

Merawat siklus industri dalam konsepsi kekeluargaan. Tradisionalitas yang kental serta memiliki kedalaman kearifan. Bahwa hidup manusia adalah sebuah ketekunan dalam menjalani tugas kebudayaannya.
Menjadi bakul alias pedagang pasar yang merawat peradaban bangsa Jawa dengan mentalitas saudagar adalah hakikat perempuan Jawa. Hal besar namun dianggap nyleneh. Bukan pekerjaan kaum priyayi. Sikap feodal yang masih sangat kental di bumi Surakarta menepikan peran para perempuan perkasa ini ke pinggiran gelanggang kehidupan bangsanya sendiri. Bebakulan menjadi cemooh kastanitas.

Pasar tradisional Jawa mencatat etos kerja dan sejarah para perempuan dalam mengendalikan roda perekonomian. Wanita karir yang kerap digembar-gemborkan para pembela emansipasi wanita seakan menjadi sepi dalam dunia nyata para perempuan Jawa. Mereka telah terbiasa keluar dari rumahnya demi ’berkarir’. Bukan demi eksistensi diri seperti kampanye para feminis yang menuntut persamaan derajat dengan kaum lelaki, tetapi demi menjaga peradaban bangsanya. Untuk terus menjaga tetap lestarinya para generasi penerusnya. Meski eksistensinya kerap dinisbikan, dan perannya hanya dipandang sebelah mata. Eksistensi hidup perempuan adalah dalam hikayat peradaban darah dan tulang belulang, bukan kulit apalagi sekedar baju dan make up. Ia ada dan membesar pada jalan-jalan yang gelap dan sunyi. Ada untuk memberi arti dan menghidupi. Tidak dalam puja dan nalar penampilan apalagi unjuk diri.

Perputaran garis hidup yang serba melenakan. Yang meringkus diri manusia Jawa dalam alam yang tak bergelombang. Sehingga manusia Jawa selalu diselai mistis hidup yang nyleneh dan nyentrik. Keanehan tersebut tentu tidak akan diterima begitu saja oleh lingkungan Jawa yang bertenang dan berkesunyian. Namun dari hal yang aeng tersebut eksotisme Jawa yang purba terus beriwayat dan bertahan hidup. Harus ada yang berbeda dengan keberanian yang sepenuh hati, karena berbeda saja bagi bangsa Jawa jelas tak cukup. Berani menantang kungkungan perilaku bangsa sendiri seringkali membutuhkan lebih banyak keberanian dibandingkan harus maju berperang ke medan laga.

Di medan laga akan jelas siapa berhadapan dengan siapa. Dalam kudus adat bangsa sendiri, diri berhadapan dengan diri sendiri. Ibarat menantang cermin yang memantul gambar diri. Kompromi hidup adalah peristiwa mengerti tanpa melihat. Memahami tanpa bertutur. Hanya berbuat. Perempuan Jawa adalah kisah perbuatan yang berajutan. Demi keselarasan semesta, demi kelanggengan adab bangsanya. Karena bagi mereka, mereka ada karena bangsa Jawa telah ada dan membutuhkan denyut nadi mereka. Ngono.

Pare, 28 Juli 2012


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: