Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 16, 2012

Resensi


SEBUAH ULASAN

Judul : Cundamanik
Penulis : Indah Darmastuti
Penerbit :ANDI OFFSET
Tebal : vii+ 229 halaman
ISBN : 978-979-29-3071-9

Terus terang, ini pertama kalinya saya membaca kumpulan novelette dan langsung membuat ulasannya. Biasanya saya menikmati cerpen dan novel saja. Teristimewa lagi, saya membaca buku ini setelah mengenal pengarangnya. Pertama kalinya saya mengalami pengalaman membaca dan merefleksi yang ajaib seperti ini.

Jadilah peristiwa membaca Cundamanik diiringi dengan gelengan-gelengan kepala membayangkan proses kerja Mbak Indah dan berkelisatnya pemikiran-pemikiran beliau dam menuang air cerita ke dalam cangkir kata-kata.

Buku ini ini adalah serumpunan cerita tentang perempuan dan segala garis nasib dan kondisinya. Psikologis, mentalitas, maupun kualitas pikirnya. Perempuan dan pergolakan dirinya sendiri seakan lekat dengan tarian pena Mbak Indah. Dan segala jeroan perempuan memang selalu menjadi hal yang menarik untuk diberitakan, apalagi lewat adonan cerita yang mencipta kesan rasa.

Cundamanik

Membaca Cundamanik membuat seluruh sendi tulang saya menggigil karena hal yang seringkali gagal untuk dilalui oleh manusia adalah berdamai dengan ketakdiran tubuhnya sendiri. Apalagi bagi manusia perempuan. Perempuan adalah makhluk tubuh. Yang senantiasa merasa bahwa tubuhlah letak segala puja dan pengharapan dirinya. Tanpa kesempurnaan ragawi yang layak, perempuan sering merasa mati diri, mati rasa. Tubuh bagi perempuan adalah sumber keakuan dan sekaligus sumber kutukan. Dunia modern bahkan selalu memberi stigma melambung mengenai puja tubuh ini.

Sosok Cunda dengan segala coba yang tengah dialaminya seakan merupakan sebuah gambaran telanjang kesakitan perempuan akan pengkhianatan takdir dirinya. Tubuh yang dirawat dengan harap, puja dan doa ternyata tak bisa memberinya kebanggaaan sebagai seorang bunda. Rasa keperempuanannya goyah dan hatinya terkoyak oleh tangan agung tak nyata yang menamai dirinya takdir hidup. Dalam kalutnya, tangan takdir menguji kekukuhan dan kesiapannya sebagai bunda.

Karena bunda itu bukan sekedar ceita dan takdir kelaziman perempuan.
Penulis seakan mengingatkan khalayak bahwa kesiapan untuk menerima tumpah ruah takdir itu menjadi hal penting dalam pusaran ketentuan sang takdir itu sendiri. Bahwa manusia tak harus berbusung dada atas garis keturunan dan abai pada garis lain yang juga meretas takdirnya sendiri. Bahwa pengasuhan anak adalah upaya merawat zaman bukan sekedar meneruskan garis keturunan.

Seting Jerman dan keeropaan merupakan sisi lain yang menarik. Penulis seakan mencoba meletakan konflik pada wilayah persemaiannya. Mencemooh modernitas yang ternyata lunglai jua oleh pisau takdir. Bahwa dunia bukan hanya sejuk dan indahnya salju yang turun, ataupun kesibukan memozaik keakuan diri semata, tetapi juga lorong diri yang magis, mistis dan serba gelap. Tak tersentuh logika tapi berkekuatan memberi kekukuhan yang bertangan benderang. Takdir dan cerita Tuhan tidak usang oleh perputaran roda zaman. Tuhan memang tak terbicarakan secara terang, tapi segala cerita diam-diam terpusat pada narasi-Nya. Luar biasa.

Uang Panaik

Judul diatas merupakan frasa yang asing bagi saya. Namun setelah berkelana kalimat, cerita ini tidak jauh dari lingkar diri saya yang acapkali dikelilingi oleh teman-teman dari Sulawesi. Genius lokal ini memang seringkali dibicarakan dan jadi rasan-rasan juga guyonan. Namun membaca kisah uang panaik yang secara kasat mata tampak sebagai budaya puja benda ini, akan menjadikan kita sedikit tidak terima atas keputusan pasrah yang diambil. Berpisah dengan biografi luka adat istiadat.

Cinta seharusnya memang diperjuangkan karena menurut WH Auden: Saling mencintai atau punah. Adat seakan dengan congkak mencegat diri dalam wilayah kesuciannya sendiri. Hal indah dari perjuangan sebuah bangsa untuk tetap hidup dan mengisah.

Sulawesi menjadi terang bagi saya yang bukan orang Sulawesi. Pantai Losari dan hamparan sawah dan semak seperti menyapa mata saya dengan nyata. Terbawa terbang tubuh saya di buminya.

Kesakitan akan kepatahan atas nama ketidak berdayaan siklus dan sistem adat seakan ikut menohok dasar nurani saya sendiri. Di satu sisi sebuah adab harus meritusi budaya agar sebuah bangsa tetap hidup tegak. Di sisi lain dua aku tak berkekuatan mengayuh sampan cinta untuk mengarungi arus waktu dan menuju rajutan mimpi di tepian cakrawala. Cinta dua aku lunglai tak berdaya dikaki kehormatan. Puja uang memisau impian, memiskinkan kisah. Senyum berkembang kedukaan dan lara. Terdiam selamanya menjadi biografi duka dengan penghormatan.

Ending yang pasrah adalah khas bila kita bicara budaya. Ada banyak pertimbangan memang, namun menjadi berbeda sebenarnya taka pa. Karena berbeda tentu membutuhkan keberanian yang lebih luar biasa. Ending yang arif dan bijak tetapi menyanyat. Sebenarnya saya tidak terima, tetapi mungkin itu juga yang akan saya lakukan bila berada pada sisi pengambil keputusan. Berbeda pasti bermakna menakar diri. Dan kita belum lagi punya keberanian besar untuk mencipta kebesaran. Meski lewat cerita.

Beri Aku Apimu

Lilin adalah hal menarik untuk dibicarakan. Tema lilin dalam cerita Beri Aku Apimu ini sangat kuat dalam menguak filosofi lilin itu sendiri. Lilin yang dekat dengan narasi kristologi menjadi seting kuat dalam merinai cerita tentang perbedaan adat. Adat dan nama keluarga tampil dengan arogansi yang kuat layaknya birokrat dan kaum feudal yang dengan seenaknya menunjuk-nunjuk diri sebagai keberadaban. Cinta dan ritus hidupnya terberangus oleh kekuatan tahta tak kentara.

Kelaraan menumbuhkan keberhidupan lainnya. Menyemai cerita lain tentang perjuangan hidup ditengah prahara yang meremukan jiwa meluluhkan cerita. Kegelapan nasib romansa tak selamanya mengelabukan masa dan meringkus cerita. Manusia selalu butuh pengalihan, seakan seperti itu pesan kuat penulis. Celaka tak selalu tanpa juru selamat. Lagi-lagi Tuhan dihadirkan dalam cerita secara diam-diam. Tanpa jejak diri tapi merasuki ruang-ruang pilihan dan memancang pilar-pilar ketegaran.

Tuhan juga merasuki misteri dengan teka-teki. Pertemuan yang tiada terduga dan kisah tak bahagia adalah persoalan khas perkawinan atas nama kehormatan atau segala puja dunia. Lagi-lagi penulis dengan rapi mencemooh zaman. Mengaduk-aduk rasa.

Keputusan untuk berpasrah diri dengan takdir merupakan sikap hidup penulis agaknya. Dan akhirnya api tetap akan terus menyala dengan kesadaran bahwa luka yang pernah terasakan tidak harus tertularkan. Bahwa sebuah keputusan pasti berbuah resiko. Pelajaran hidup bagi setiap diri, setiap pasangan.

Cerita ini juga dengan indah memberikan gambaran tentang kasih sayang antar sesama manusia. Bahwa kehidupan berjalan diatas segala macam perbedaan dan segala kisahnya. Kelaraan adalah universal. Demikian juga dengan cinta kasih. Hanya dengan saling berbagi dan menebarkan rasa kepedulianlah yang membuat hidup menjadi awet.
Terawat dan teruwat. Perjalanan takdir bisa jadi menakutkan dan menyakitkan, tetapi hidup itu sendiri tidak akan berhenti dan diam.
Berpasrah diri pada degup perjalanan hidup merangkai mistis yang akan memberikan kita kejutan-kejutan yang menaklukan diri pada takjub tak kunjung tunai merupakan moral utama dari kisah ini.Penulis memberi sajian nyata bahwa hidup adalah serentetan ketakjuban. Tidak akan pernah usang bila kita tetap berniat menjalaninya.

Pulung

Pulung adalah cerita yang terasa akrab dengan saya yang memang asli Solo. Penggambaran juragan batik pada cerita ini merupakan penggambaran umum masyarakat Solo yang memiliki budaya dagang dan usaha konveksi yang kuat. Feodalitis yang anggun masih tersisa di ruang-ruang hidup masyarakat Jawa yang mendiami kota ini. Pengabdian para pelayan dan pekerja adalah ikatan batin yang khas ala juragan dan para pembantunya.

Hidup dalam rumah gedong akan berpotensi untuk menciptakan persekongkolan atas nama nama baik keluarga dan pencitraan. Jawa pada masa lalu masih hidup pada Jawa pada masa kini dalam tubuh kemodernannya. Derap zaman tiada mampu mengubah mentalitas kearifan yang sayangnya acapkali bersembunyi pada momen kegetiran. Manusia Jawa dengan remang yang dibawa tetap menghimpun diri dalam rasa gagal yang terbingkai kearifan lokalitasnya.

Saling memahami Dan mengerti tanpa terucapkan tetap menjadi patokan ngroso-rumongso bangsa Jawa. Konsepsi ini membawa cerita yang menyimpan takjub Dan melepaskan rasa kejut yang tetap mistis dan menyimpan awetan rasa terpukau tak selesai.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: