Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 1, 2012

PAMIT


Uun Nurcahyanti

Kata pamit adalah sebuah kata sederhana yang seringkali kita ucapkan sebagai salam perpisahan. Berpamitan. Pamit dengan begitu saja meluncur dari mulut kita saat masa perpisahan tiba. Dan ada pihak yang bergerak meninggalkan sesuatu. “ Aku pamit ya…” Begitu lazimnya. Pamit lantas memperkarakan dirinya pada peristiwa sejenak yang naïf.

Perjalanan pamit lantas bergerak menuju peralatan komunikasi yang akrab dengan manusia, handphone. Bila kita tidak sempat bertemu atau seringkali yang terjadi adalah tidak menyempatkan diri untuk bertemu, maka pamit lekas dititipkan di layar hape semata. Pamit meriwayatkan biografi dirinya pada kesan pemberitahuan lewat kata bukan menempatkan dirinya pada peristiwa. Pemberitahuan bahwa seseorang telah pergi. Bahwa telah terjadi sebuah perpisahan. Perpisahan menjadi lekas merutinkan diri pada lazim waktu sebagai ujung akhir pertemuan. Pamit sebagai bahasa penutupnya.

Sementara, pamit dan pemberitahuan bahwa seseorang itu telah bergerak pergi bukanlah hal yang sama. Berpamitan merupakan bagian dari sebuah peristiwa perpisahan. Memberi hak kepada yang ditinggalkan sebuah bentuk penghormatan dan penghargaan. Bahwa pertemuan yang dirancang Sang Pencipta itu mengandung keberhikmahan. Pamit mengucap tanda kesyukuran dan doa kerinduan agar panjang umur nantinya. Agar ada sukses yang tak boleh selesai usai perpisahan.
Disini pamit mengucap dirinya pada penghormatan diatas altar kesakitan karena adanya perpisahan. Pamit seperti antioksidan atas racun keterlukaan akibat peristiwa perpisahan. Pamit adalah refleksi diri dari dua pihak yang dipertemukan benang takdir untuk merajut baju hikmah dan kisah kebijaksanaan hidup. Pamit pun hidup dalam riwayat penghormatan. Pengejawantahan cinta dan kebersyukuran tak terbatas.

Pamit bukanlah pentas pesta dengan puja-puji yang hingar bingar. Pamit adalah sedalam-dalam perenungan. Meletakkan diri dalam keikhlasan berkehendak atas pertemuan yang telah dijalani. Kadang cukup dengan tatap mata tanpa kata. Pamit bukan sorak-sorai agar lantas berkebebasan untuk meritusi laku cemooh. Dalam peristiwa pamit ada ketuntasan ganjalan. Ada permintaan maaf dan peristiwa memaafkan. Bila masih ada beban terutarakan. Bila masih ada janji teringatkan. Pamit menjadi awetan ingatan akan janji yang belum terpenuhi, tanggung jawab yang belum terselesaikan, dan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.

Berpamitan juga merupakan peristiwa berbagi mimpi dan harapan.
Menyadari bahwa dalam setiap asa yang kita punya selalu butuh doa dan keikhlasan orang lain untuk memberi jalur. Berpamitan adalah peristiwa kecil untuk memanusiakan orang lain dan memuliakan diri sendiri. Sebuah peristiwa saling menghargai. Mengawetkan kebaikan diri sendiri atas segala kenangan yang telah terlanjur terjalin.

Berpamitan memberikan diri kita apa adanya. Menyadari bahwa manusia rupanya fana semata. Memberitahu atas kepergian pada peristiwa perpisahan mengangkut kesan ada apanya. Entah awetan ingatan macam apa tidak diberitahukan warnanya. Bila tersimpan sebagai kenangan tentu tak apa. Bila lantas tersimpan sebagai dendam kesumat, tentu justru celaka. Bukankah manusia adalah tempatnya berbagai kesalahan beriwayat?

Disini pamit merupakan sebuah ritus cerita demi mengikat kenangan. Ada awetan Dan terdapat luapan harapan. Pamit menyandarkan hidup pada pasrah yang lantas menjelma menjadi doa-doa.
Pamit memang sebuah lelaku yang sak imit. Sederhana, sebentar, dan mudah dilakukan. Namun berbicara tentang pamit bisa menjadi rumit. Apalagi bila tak pamit. Gitu.

Pare, 28 Juli 2012


Responses

  1. makasi banyak haji uun…,hmmm

  2. tapi sering kali pamit hanya jadi sebuah formalitas lho, mbak. Ia jadi semacam kata dekoratif dalam perjumpaan dan pengisahan antara manusia. Meski kata Mbak Uun ‘pamit merupakan sebuah ritus cerita demi mengikat kenangan’ tapi jika hanya jadi semacam kembang lambe akan jadi masalah. Bisa jadi “Banalitas pamit”. Pamit memang bisa jadi penanda kenangan atas petanda perjumpaan, tapi tidak selamanya kata pamit itu mesti dan harus di ucap jika kenangan bisa dipatrikan dalam perjumpaan dan perbincangan sebelum perpisahan raga dengan raga terjadi.😀:mrgreen:

    • Karena formalitas, maka lebih baik tak pamit. Formalitas itu karena normanitasnya terabaikan. Formalitas jadi kelaziman. Nomanitas hilang tanpa ampun. Sedikit tindakan akan memberi arti. Berpamitpun memiliki arti. Rindu itu tanda kita berarti. Bukan sekedar jadi pamit yang tak pamit. Saya pamit…


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: