Oleh: uun nurcahyanti | Mei 24, 2012

Fragmen Kamar Mandi


 

Setiap tubuh meruang dalam waktu. Saat memasuki kamar mandiku yang lembab sabtu sore itu, tubuh gelisahku yang  berkemeja penat itupun menemukan rumahnya sendiri. Kaos dalam anakku yang melar sana sini menyambut mata berhunusku. Warnanya yang hampir usai menghentakku untuk merunduk dan berucap istighfar dan mendendang takbir. Ah, sudah lima tahun kini umurnya. Sudah pandai berkelit kata dan bersilat celoteh dengan bundanya. Sudah lihai memainkan ayat-ayat nasihat dan memimikkan kisah biografinya. Kaca-kaca beningku menderas. Teringat matanya yang selalu mengalah penuh mengerti karena ego bundanya yang lebih ringan melangkah meninggalkannya demi puja urat biografinya sendiri. Terbayang jelas mimik kecewanya bila terbangun dan bundanya tak lagi disisinya, terbang menjelang impiannya, memuja keyakinannya.

Fragmen Pudar

Memoriku jatuh pada sore dimana dia meminta sedikit ribuanku untuk sebuah bakpao yang diidamkannya. Celaka. Sepeserpun tengah tak ada padaku. Ku pinta pengertiannya. Airmata kanak-anaknya pecah, amarahnya membuncah. Kata-kata penuh mistis keluar dari ujung hatinya, seperti biasanya, saat ia meneropong kejanggalan.

“Bunda pembohong. Katanya kerja…kerja. Miting…miting. Tapi tidak punya duit! Aku kesel.Bunda pembohong…” suaranya memarau menahan tangis, menabahkan hati kanak-kanaknya sendiri. Aku tersungkur dalam kubangan rasa bersalah. Bodoh sekali aku. Terlalu cuek sehingga abai untuk menyimpan beberapa rupiah di tas hitamku. “Aku benci bunda, bunda pembohong!” lanjutnya sambil memukul lenganku. Isaknya menguat, menahan kecewa berbalut kecewa. Tak menerima kenyataan yang ada didepan matanya. Pada bundanya.

Kepahitan zaman memang telah menyulap segala ruang menjadi pasar berjalan. Setiap diri mengais lembaran-lembaran uang di kaki kenyataan. Demi tetap merunutnya nafas diri dan orang-orang yang dipertanggungjawabi. Kuasa zaman juga menawarkan beragam kerakusan atas nama kepunyaan yang naif. Menafikan keberadaan semesta disekitarnya. Sepotong bakpao di ujung senja itu menasbihkan kesahihan bahwa palung waktu menunggu siapapun untuk tersedot dalam pesona angka dan kepastian kemodernan. Persaudagaran masa kini merupakan iming-iming dan harap-harap semu.Aku tersimpuh.  

Mataku tak kuat menanggungkan sayatan-sayatan hebat dihatiku atas kejujurannya yang polos. Ku coba untuk merengkuhnya, memeluknya. Dengan keras ditepisnya tangan bundanya yang dianggapnya pembohong itu. Hatiku kian perih. Seluruh lajur waktu seakan terjerembab dihadapanku. Pecah beratakkan. Aku tergelepar ditikam kata-kata dari mata hati buah hatiku sendiri dalam senja yang memagut itu. Tangis kembali menuntasi kepedihanku. Ku pegang kaos dalam kumal itu didadaku. Ku cium bau keringatnya dengan seraup hatiku.

Berlingkar-lingkar purnama kita tapaki, Nak, tapi tabahmu tak membuatmu menampik kaos dalam usangyang sudah tak lagi berwarna putih ini. Berwaktu-waktu bundamu abai pada kebermilikanmu, tapi kau bersikeras untuk tak bergeming dalam memahami. Setelangkup lelah mematahkan selasar salibku tiba-tiba. Yah, untaian keyakinanku meragu di warna kaos dalam anakku, si Halilintar.

Fragmen Rombeng

Dadaku bergelombang membadai. Susul-menyusul. Saat airmataku menyusut, tatapku bersirobok dengan celana dalam suamiku. Bergelantung menggulung sudah saatnya pensiun. Tak beraturan menarikan dansa rerombengan.  Lama ia memaku tatapku. Menghentikan denyut waktuku dan menghisap kesadaranku. Aku terhentak mengikuti alunan lagu nestapanya. Bulir-bulir beningku pun luruh kembali. Pertahananku tersayat realitas.

Memilih jalan tak lazim memang seringkali memindai badai. Pilihan idealis yang sok mengusung  hal yang berbau perjuangan seringkali menyungkurkan pemilihnya ke tepian selokan zaman. Seperti kondisiku sore ini. Tersungkur dan tertepikan. Ada segores luka yang melagukan keraguan.

Bayangku bergerak ke sekeping kelebat masa lalu. Saat hujan turun begitu garang. Merasuki setiap jasad yang disetubuhinya dalam dingin yang mencucuk. Mendesak kesakitan ditengah keberlimpahan semesta raya.  Sepeda onthel tua yang berderik-derik disetiap nafasnya menemani rajutan jejak-jejak kecil kami untuk memenuhi panggilan pengabdian. Detik demi detik yang terlakoni, tentu tak mudah untuk dikayuh dalam sampan rapuh kami yang baru beruji diri. Serentetan ketabahan membahanbakari perjalan pilihanku. Bukan hanya dari teguhku, tapi dari anyaman rumpun-rumpun kekokohan teguh-teguh disekelilingku.

Sekujur tubuh kamar mandiku tiba-tiba berceloteh riang, mendendangkan selaksa tembang kenangan atas perjalanan seluruh waktu. Yang bergemuruh di antara arus zaman yang gaduh. Sejumput senyum, setangkup lara, segenggam harap dan berbungkus-bungkus belatung kegamangan melingkari gerak waktuku. Hingga ia tak lagi mau laju. Sementara bak mandi telah penuh dan air yang mengucur memenuhinya berdesakkan lari dari ikatan-ikatan menjengahkan.

Lantas berkerumun juga raut wajah anakku. 4 hari umurnya. Hari pertama menjejakkan kamar berdebu ayah bundanya. Tangis tengah malam pertamanya ibarat sirene pemadam kebakaran. Meraung menindas dengkur yang sayup. Tak hendak berhenti. Tak mengerti dua orang dewasa disampingnya berpucat pasi dalam lugu nan dungu.

Berselang, tetangga kamar pun terusik risi. Tergopoh hadir membawa selongsong iba pada ayah bunda muda yang papa kisah anak-beranak. “Kedinginan, Nak, butuh digedong,” ujarnya landai memamerkan urat biografis keibuannya. Dengan tangan tuanya yang terampil, diajarinya sang ayah baru untuk menggedong si mungil yang belum jenuh meraung.Tangan keriput itu dengan terampil memamerkan kecekatannya nan anggun. Tegunku memercikkan jeri diri.

Aku tiada memiliki sekuntum kemampuan pun untuk mensejajari ritus bayang masa depanku itu. Tanganku akan asing dengan biografi purbanya. Tak akan terampil melapis kain-kain kehangatan. Sementara waktu tak mau menunggu. Tak hendak bertoleransi pada kuasa jeda demi bermampu macam apapun itu.

Titah takdir telah berjalan dengan dayung niat pada sampan perjanjian. Nuraniku mengaduh tak tentu. Kuasa Sang Penguasa memang terlalu perkasa. Tak pernah memberi ruang ber-asa karena selalu terasa paksamemaksa. Tiada ruang pulang bagi air yang telah berazzam tuk mengalir meninggalkan bak mandi itu.

Fragmen Penonton

Ember bertumpuk-tumpuk di sisi bak. Menyangga tempat sabun biru yang dahulu berbening cermin berpamer paha. Butiran peluh masa mengeriputkan kecantikannya. Daki-daki kisah mendebui setiap jengkalnya.Bila ia kampus masa kini, ia pasti tengah merayakan dies natalies pertamanya. Ah, ia memang tak mendapati pesta klise bermusikkan pongah si cerdik-cerdik pandai pemilik zaman. Namun tubuh diamnya telah setia memantulkan kejujuran tanpa lelah. Terperangah kala sekian raut mematut-matut dirinya. Berterima, kala tak satupun raut menyadari keberadaannya yang penuh bisu. Murkakah ia kala raut-raut itu menepikan ke-ada-annya? Masih berdiam bisukah?

Kotak kaca biru usang itu mengisahkan laju waktu yang berselimut kisah-kisah haru dendang pencarian ku dan tubuh-tubuh yang berjimat lingkaran nan berwaktu. Tangan yang merangkumi aksara. Mata yang menisbikan buaian pejam. Pikir yang berdzikir hikmah dan laku. Segalanya, yang hanya demi menuang ide ke dalam gelas-gelas kopi.

Waktu berlari bermataharikan mimpi. Langkah-langkah kecilku yang tak lekang memikul keyakinan lambat laun bermuarakan tetumbuhan. Menaik dan mengokoh. Mengalir dan menggoresi seantero otot-otot biografiku. Berjejalan tawa dan tangis, bermandikan harapan-harapan. Seutas mimpi meraup jiwa-jiwa sekeyakinan. Segelintir melahirkan kerumunan.Kerumunan mencipta barisan. Yang berkomandokan bulir-bulir keringat dan segenggam iman. Bergerak atur tak teratur dengan bertasbihkan senyuman dan airmata. Duhai para sahabat seperjuangan, ku rindui seluruh dirimu saat ini. Di kedinginan hatiku yang jeri berkurung ujung kamar mandi. Mohon, maafkan aku.

Kotak sabun biru dengan cermin yang memburam itu adalah kawan sejati yang berikhlas memberikan keutuhan dirinya pada perjalanan waktu. Tak pernah bertanya salah benar. Senantiasa tulus mengerti dan tak hendak sibuk menonjolkan keberadaannya. Aku tersipu sepenuh malu. Betapa kotor isi kepalaku. Tak mampu melemaskan ego diri dan bersegera menepi. Senja sudah mulai turun. Sudah saatnya memasuki pintu rumahku dalam ramai yang berikhlaskan sajadah waktu dalam lapar ilmuberilmu.

Lapar akan membuat siapapun untuk semakin kuat untuk mengarifi dermaga keinginannya. Menjadi penonton yang tekun membungkus catatan-catatan hikmah. Berkisah tentang segala macam kelaparan. Bertutur tentang segala jenis penciptaan dalam retas rasa laparnya. Bukankah zaman memiliki takdir keterselesaiannya sendiri dan juga syahadat-syahadat qodarnya. Zaman memang telah mempelajarkan tentang ketabahan dan kesabaran untuk bungkam pada telikung sejarah atas nama apa saja.

Pare, 5 April 2012

Uun Nurcahyanti

Revisi kecil dari materi Memoar Tak Usai tanggal 17 Maret 2012


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: