Oleh: uun nurcahyanti | Mei 18, 2012

Kelakar Tuhan Pada Jejak Tubuhku


Uun Nurcahyanti

Hidup dimulai dengan pertanyaan, begitu kakak para seniorku di kampus pada masa OSPEK dulu. Kalimat ini terasa sangat menawan bagiku yang masih minim konsep saat itu. Dalam komik Kung Fu Boy beberapa tahun kemudian, ku mendapati pasangannya, sebuah kalimat yang berbunyi : Belajar adalah petualangan untuk mencari jawaban. Dan lantas ku belajar bahwaTuhan seringkali menjawab pertanyaan-pertanyaan ‘gila’ kita dengan cara yang teramat kurang ajar.
Pagi di hari sabtu 29 April 1993 itu ku awali dengan penuh semangat karena hari ini teman-teman sekelasku mengadakan acara halal bi halal di rumah salah seorang teman di perumahan karyawan pabrik gula Gondang Legi, Klaten.

Entah mengapa saat tengah menyisir rambut di pagi itu, mataku terpaku pada kandang sapi tetangga yang memang berada tak jauh dari jendela kamar kosku. Dan dengan begitu saja dua ekor sapi yang tengah melakukan ritus sarapan pagi dan beberapa ekor ayam yang berkeliaran di sekitarnya itu membuai hobi bertanyaku dan mengilik-ilik lipatan-lipatan pikirku : benar juga kata guru-guru agamaku dulu bahwa hidup itu serba berpasang-pasangan. Sapi itu juga sepasang, ayam-ayam itu ada betina dan jantannya, langit bertunangan dengan bumi katanya, matahari bergandengan tangan dengan malam dan terlukislah siang dan malam dalam wadah berpasangan dalam logika guru-guruku itu. Berpasangan berarti adanya pembagian kondisi yang berjodoh untuk saling memberi harmoni seperti saat ujung jari merabai dawai-dawai gitar. Namun mengapa dalam etika beragama kita disuruh untuk mengutamakan tangan dan kaki kanan. Mengapa akhirnya, akupun tidak terampil menulis dengan tangan kiri seperti guru bahasa Inggrisku di klas dua SMA dulu yang bisa menulis dengan kedua tangannya? Apa maksud tuhan mengabarkan konsep berpasangan tapi mengingkarinya dengan aturan-aturan agama yang seringkali terasa memenjara dan tidak masuk akal, sementara diciptakannya akal yang konon dipercayai sebagai piranti tercanggih yang membuat manusia disebut sebagai makhluk yang paling sempurna. Apa maksud keseimbangan dalam maumu, duhai Tuhanku?

Keasyik-masyukanku dengan pertanyaanku sendiri itu terputus dengan teriakan teman sekamarku yang mengabarkan bahwa aku sudah dijemput. Dan perjalanku hari itu dicengkerami dengan pertanyaan-pertanyaan yang pagi itu menyapa nafas pagiku.

Saat di berkumpul di rumah temanku itu, kami mendapat kabar bahwa seorang kawan yang tinggal di Karanganyar tengah berbahagia dengan kelahiran bayinya. Kami pun serta merta menambakan jadwal baru hari itu, melanjutkan silaturahmi ke Karang Pandan, Karanganyar.

Usai acara di Klaten, kami bergerak ke Karanganyar dengan bis Mila dan turun di daerah Palur untuk berganti dengan angkutan pedesaan yang biasanya disebut angkot. Saat merebahkan tubuh di kursi angkot ini, rasa kantuk yang luar biasa tiba-tiba menyerangku yang memang terasa lelah dan penat luar biasa. Aku berpesan pada sahabat karibku, Andri, untuk membangunkanku sesampainya di pasar Karang Pandan bila nanti aku ketiduran.

“Nde, bangun Nde…”

Suara-suara itu berdengung di telingaku, namun kuasa lelap seakan enggan melepasku dari peluknya. Aku malas bangun, ku buka mataku sekejab saja lantas terkatup lagi. Kenapa sih pada ribut, pikirku. Dan dengan lunglai terpejam lagi. Tidur.

“Nak, bangun Nak…” suara-suara berisik mengganggu tidurku lagi, “bangun, Nak…istighfar…”
Kata-kata terakhir ini bagai air comberan yang menyengat saraf –saraf kesadaranku. Busyet, kenapa harus istighfar? Apa salahku? Siapa makhluk yang mengatakan kutukan yang sungguh sangat kurangajar itu… ? rutukku dalam malas yang kental.

Aku membuka mata dengan berat. Sedikit menggeliatkan tubuhku yang terasa bagai roti yang bantat.

“Hai…kenapa pada kumpul disini…?” celotehku penuh heran. Kepalaku sungguh terasa berat, tapi bukan aku kalau tidak usil kocak. Aku abaikan dering tubuhku.

“Alhamdulillah…” sahut suara yang tadi menyeruku untuk beristighfar. “Bagaimana rasanya, Nak…?”
“Kamu di rumah sakit umum Karanganyar, Nde. Ini Dokter yang menanganimu,” kali ini suara Andre menyahuti.
“Oh,” jawabku pendek. “Terima kasih, Dok.”

Aku bingung harus berucap apa. Aku sungguh terkejut dan tidak percaya. Aku tidak pernah masuk rumah sakit. Aku sangat jarang sakit. Kebiasaan lari mengelilingi stadion manahan atau menelusuri jalan Slamet Riyadi ke arah Gladak atau justru ke barat hingga Kartasura sangat membantuku untuk tetap berada dalam kondisi prima. Juga hobiku bersepeda hingga ke waduk Cengklik di seputaran Bandara Adi Sumarmo. Hal yang membuatku diakrabi dengan kebugaran. Dan masuk rumah sakit karena sakit menjadi hal teraneh dalam hidupku.

Eit…tapi bukankah semenjak kuliah aku memang jarang berolah raga kecuali jalan kaki dari asrama sampai kampus yang jaraknya tak begitu jauh? Kesibukan di bangku kuliah, belajar demo, keasyikan mengikuti kajian dan seminar-seminar telah menyita waktuku. Menjauhkan tubuhku dari kebutuhan hakikatnya. Ini pasti protes tak lazim dari tubuhku yang menuntut dinafkahi nafsu takdirnya. Wagu memang, tapi aku tak kuasa melawannya. Aku memang abai. Aku pasrah tapi tak sepenuh ikhlas.Pokoke wagu!

“Biasanya sampeyan kalo sakit gini diminumi obat apa, Nde?” tanya Andre setelah membantuku menyeruput beberapa teguk teh hangat.

Pkiranku melayang cepat pada mbah Arjo. Rewang keluargaku yang sepuh, galak tapi penuh pengertian. Aku tidak pernah sakit berat kecuali masuk angin kasep. Masuk angin yang tidak dihiraukan sehingga kasep. Kalausudah begitu maka aku akan berusaha untuk muntah dengan cara mengobok-obok uvulaku agar mual, dan lantas muntah!

Kalau sudah muntah maka badanku akan terasa enteng, dan segelas air teh manis yang panas akan menyegarkan sekujur gemetarku sampai keringat menderasi keningku kembali. Dan hup, aku pun pasti bugar kembali. Mbah Arjo pasti memaksaku untuk dikeroki sekujur badan dan dia akan berteriak-teriak takjub saat kulit putihku berubah menjadi merah kelam. Semakin kelam semakin membuatnya puas. Lantas, tidur sejenak bakal menyempurnakan ritus pemulihanku. Itu saja sejarah sakitku dan cara pengobatannya selama ini.

“Biasanya dikerokin Ndri,” jawabku singkat menahan pening yang semakin menghimpit.

“Sebelah mana yang dikerok?” tanyanya lebih lanjut. “Kalo badannya, ntar minta tolong ma perawat ja. Kalo kita yang ngerok bisa berabe…”

Tawa kamipun pecah memenuhi ruangan yang sepi dan menegangkan itu. Iya juga, bukankah Cuma aku tubuh perempuan di rombongan kecil kami itu?

“Biasanya di leher kok Ndri. Apalagi kalau pusing banget kayak gini. Kalo dah muntah biasanya enakan..”
Sumarso pun melakukan ritual suci penyembuhan ala mbah Arjo dengan hati-hati. Terasa enak. Rasa mual mulai datang. Aku pun muntah tak tertahankan. Teman-teman lain telah siap dengan kantong kresek sehingga aku muntah dengan indah. Tidak menimbulkan kegaduhan.

Tapi, hal yang tidak aku duga terjadi. Rasa pusing bukannya berkurang. Ia melawan sepenuh hati. Aku tak tahan. Dunia berputar-putar. Mungkin seperti itu jika kita ada dalam pelukan angin lesus, pikirku. Itu adalah rasa pusing terhebat yang pernah aku alami. Luar biasa. Sangat menghujamkan kesakitan. Berputar duniaku dengan begitu lesat. Aku kembali tak sadarkan diri.

Bau khas kayu Jati menyapa hidungku. Aku mengendus tak percaya. Tak ada bau obat dan lembab khas rumah sakit. Aku meyakinkan aroma yang ku hirup. Ini kamar tidurku. Kesadaran yang membuatku tergegas bangun.
Ciluk ba! Benar kata hidungku. Aku terbangun di kamar tidurku! Seraut wajah yang akrab menyambut mataku. Bulik Emi.

“Aku pengen pipis,Lik,” ujarku menepikan girangnya melihatku terjaga.

“Aku ambilkan pispot wae yo Nduk…?”

Waduh. Aku malu kalau harus pipis di dalam pispot dan peristiwa pipis itu pasti dilihat oleh Bulik Emi. Bayanganku kemana-mana. Rasa malu menutupi akal sehatku.

“Nggah ah, Lik,isin aku.”

“Nggak popo Nduk, bulik dah biasa ngopeni wong loro,” bujuk bulikku.” Kenapa ? isin? Orang sama-sama punya wae kok!”

Aku tertawa. “Pipis di kamar mandi aja, bulik,” ujarku bersikukuh. Ngeyel seperti biasanya.

“Kuat nggak dipapah sampai kamar mandi?”

“Ku..at.Ayuk…” jawabku tanpa pikir panjang.

Akhirnya bulikku menuntunku ke kamar mandi. Badanku terasa agak lemas. Mungkin karena belum makan.

Sesampainya di kamar mandi aku meminta Lik Emi menunggu di luar. Aku pun mengambil segayung seperti biasanya, lalu mulai berjongkok.

Begitu berjongkok, lututku terasa lepas dari engselnya. Sakit dan lemas luar biasa. Aku terjatuh. Ndeprok. Spontan aku mengaduh kesakitan. Lik Emi dengan tergesa menyerbu kamar mandi disertai Mbah Arjo yang tergopoh-gopoh. Mereka memegang tubuhku untuk membantuku berdiri. Aku spontan berteriak-teriak karena tangan mereka terasa seperti tjatut yang mencengkeram begitu kuat. Tubuhku seperti hendak remuk redam. Dengan tertatih-tatih aku dibawa kembali ke kamar. Sepanjang perjalanan dari kamar mandi ke kamar adalah puja kesakitan tubuh yang sangat hebat. Aku hanya mampu berteriak, tapi tidak hendak menangis. Sekujur tubuhku seakan lempengan logam yang digelontor dengan godaman palu bertubi-tubi. Sakit tiada terceritakan.

Begitu berhasil mencapai tempat tidur, Bulik Emi berkata, “Ngompol ra popo, Nduk… pipisno neng kasur wae, ngko bulik sing ngresiki.”

Akhir kalimat bulikku itu tidak lagi kugapai aksara-aksaranya. Aku tidak ingat. Pelukan mimpi diatas awan yang mengantarku mengitari kebiruan langit dan mengintipi hijaunya padang rumput nan elok membawaku berlari dari rentang waktu orang lain. Aku teringat pada sebuah mimpi saat masih di semester satu dulu.

Aku bermimpi berada di sebuah lapangan luas bersama begitu banyak orang. Akan ada bintang jatuh katanya. Aku heran, terus kenapa ada banyak orang berkumpul disana? Mereka berkata, saat ada bintang jatuh dan kita menyatakankeinginan kita, maka pinta kita itu akan menjadi kenyataan. Aku sungguh tidak percaya dengan kata-kata itu dan beranjak pergi meninggalkan kerumunan aneh itu.

Tiba-tiba teriak-teriakan membahana. menghentikan laju langkahku. Ada bintang jatuh. Aku memandang angkasa yang pekat. Tiga bintang biru mengitari langit dan bergerak pelan Turun ke arah kami. Semua orang menengadahkan tangannya. Berusaha untuk meraih sang bintang jatuh. Aku terdiam dalam keterpanaan. Pemandangan yang luar biasa langka. Seperti mimpi rasanya. Tidak sadar tengah berada dalam buaian mimpi.
Spontan tanganku yang tiada berniat meengadah itu tergerak untuk membentang. Dan hup! Bintang jatuh itu pasrah menggelepar dalam genggaman tanganku. Aku terpesona. Sangat terkagetkan oleh apa yang tengah terjadi. Bintang-bintang itu benar-benar berpendar di tanganku.Aku spontan terjaga. Terengah dalam pikat mimpi aneh barusan.

Aku koma selama dua hari!

Terbangun di pagi yang berkicau di tengah helaan nafas lega bapak, ibu dan adik-adikku. Puih, bau rumah sakit lagi! Ternyata aku tengah dirawat di Rumah Sakit Islam Solo, Yarsis. Adikku bekerja di sana.
Berbagai macam selang memerkosa tubuhku. Panas rasanya. Bosan dan meletihkan karena aku tidak boleh bangun. Meskipun untuk duduk sahaja. Busyet.

Banyak orang yang mengunjungiku. Aku juga tetap berkicau seperti biasanya. Aku tetap bersemangat. Apalagi bulan Mei sudah menyapa usiaku. Mei 1993 adalah bulan istimewa. Ekspedisi Rinjani dan Tana Toraja sudah terhidang di depan mata. Aroma Jawa Timur, Bali, Lombok dan Sulawesi terasa sangat lekat menodai keterdiaman hidungku. Dua minggu ke depan aku akan mencumbui puncak Mahameru. Aku bersemangat. Bertekad segera sembuh dan pulang ke Yogya. Kembali bersiap secara fisik sebelum memutar tapak jejak diri menyusuri dunia Indonesia bagian timur.

Usai mengantar keberangkatan bapak dan ibu ke tanah suci, aku akan mengantarkan mimpi suciku sendiri. Bapak dan ibu berjalan ke barat dan aku akan berlari ke timur. Kalau dalam film kesukaanku, perjalanan ke barat itu adala dalam rangka mencari kitab suci. Haha..aku membayangkan bapak ibuku seperti Sun GoKong dan Bhiksu Tong. Sementara aku ke timur dalam rangka mencari kitab hidup.

Ah, ekspedisi satu bulan yang menakjubkan, puja hatiku. Momen naik haji ini sangat penting bagiku karena bila bapak adalah orang yang sangat menentang hobiku. Panjat-memanjat. Tebing dan gunung. Mereka pergi 40 hari, aku berkelana 30 hari. Klop!

Seringkali aku tidak mengerti pilihan sikap bapak dan ibuku. Aku suka menulis, kertas-kertas tulisanku dikilokan. Dapat duit dan rumah bersih tidak berserakan kertas, dalih ibuku. Aku membenci penistaan itu. Bermain badminton menjadi pelampiasanku. Aku berhenti membaca dan emoh menulis. Trauma.

Ternyata aku berbakat main tepok bulu itu. Seorang pemandu bakat menawariku berlatih untuk seleksi pemain untuk Djarum Kudus. Aku bergairah. Aku akan melanjtkan kebersejarahan Icuk Sugiarto di arena bulu tangkis. Icuk juga orang Solo. Kata orang tersebut aku berbakat dan masih sangat muda. Potensiku besar sekali. Aku berbunga-bunga. Bayangan All England dan Uber Cup memacuku untuk bergiat dalam berlatuh. Seleksi sudah hampir tiba.

Bapak tidak setuju! Tidak merestui mimpiku untuk bergabung dengan club Djarum Kudus.Aku yang tengah melambung mengempis tanpa ampun. Pak Man, penjual minuman di tempatku biasa berlatihlah yang menghibur piluku. Matanya selalu berkaca menemaniku kecewaku pada bapak dan kekerasan kepalaku. Bujukan beliau tidak mempan, tidak diindahkan bapakku. Marahku melangit. Balap motor menjadi pelariansegala dukaku.

Jalanan menjadi buku diari dan roda motorku menjadi tarikan penanya. Kulukiskan amarahku pada pedal-pedal gas. Ku taburi waktuku dengan menindas aspal jalanan yang tak mengerti apa salahnya.
Sahabat dekatku masa SMA mengajakku ke Taman Budaya Surakarta suatu kali untuk melihat pementasan teater. Aku takjub. Takjub yang tak terlukiskan. Diam-diam impianku bertumbuhan kembali. Aku ingin menjadi pemain teater. Melihat latihan teater dan terlibat dengan malu-malu pada kegiatan tersebut membuatku bergairah. Sifat pemaluku yang hebat menghalangiku untuk segera menuntaskan gairahku itu.

Tampil di depan umum memang bukan bakatku. Aku terlalu pemalu untuk melakukannya. Satu persatu kukumpulkan lembaran keberanianku. Putaran pemilihan ketua OSIS menjadi ajang olah mentalku. Beberapa tahap seleksi ku lewati dengan susah payah. Banyak sahabat yang mensuportku untuk terus maju.
Tahap akhir seleksi di depan mata. Aku lolos! Namun, bapakku dengan congkak juga berdiri di depan gerbang sekolahku. Melakukan hal paling menyakitkan di dunia. Menjemputku pulang. Pergi meninggalkan latihan mentalku untuk masuk dunia teater. Aku diciduk dari kebersukaanku. Itu tidak apa-apa sebenarnya. Aku sadar bapakku terlalu berkuasa. Arogansi orangtua yang tidak mau memberi ruang peluang bagi mimpi kecil anaknya bertumbuh. Anak bukan milik dirinya, tubuhnya.

Hal yang memuncaki amarahku adalah peristiwa penjemputan itu! Aku anak paling tomboy di dunia saat itu. Setidaknya itu menurutku. Masa aku dijemput begitu saja oleh bapakku! Sungguh berupa percikan perca itupun terobek-robek pahitnya kenyataan.

Bagi bapakku, hidup adalah sekolah, jadi juara kelas, kuliah di fakultas terfavorit dan jadi pegawai negeri. Sugih, priyayi dan punya mobil mengkilat! Ah, gombal amoh.

Aku menimbun murka. Menanggung trauma tak berkesudahan. Aku tidak akan mengalah. Aku tidak pernah belajar semenjak itu. Nilai-nilaiku terjun bebas. Aku menolak menjadi kebanggaan bapakku. Diam-diam aku bergabung dengan kegiatan yang paling tidak direstu bapak. Pecinta Alam! Dan saat orangtuaku beribadah keanah suci nanti, aku juga akan beribadah ke gunung-gunung impianku. Juga Tana Toraja.

Tak terasa sudah lewat satu minggu aku terbaring di Yarsis. Siang itu bapak datang bersama seorang laki-laki setengah baya yang terlihat sabar. Si bapak yang sabar itu berdiri di depanku yang saat itu dimintanya duduk di pinggir tempat tidur. Beliau memperkenalkan dirinya sebagai seorang ahli fisioterapis. Uups! Makanan apa itu?! Kata yang sangat tak akrab dengan kupingku. Profesi yang sangat asing bagiku. Aku tidak bisa menebak apa persisnya jenis bidang kerja yang beliau geluti.

Setelah memperkenalkan dirinya, bapak-bapak tersebut menceritakan keahliannya. Beliau adalah seorang terapis yang membantu pasien untuk memulihkan keadan fisiknya agar menjadi maksimal. Aku manggut-manggut berbasa-basi. Aku masih euforia karena sudah boleh duduk dan berbagai selang yang melilitiku pun juga sudah mulai dilepas satu per satu.

Si bapak lantas menceritakan tentang sebuah penyakit yang bernama stroke. Penyakit jenis baru yang menyerang pembuluh darah vital yaitu jantung dan otak. Penyakit yang biasanya menyerang orang berumur ini saat ini juga bisa menyerang orang yang berusia muda, jelasnya. O ya…?! Aku mulai tertarik dengan penjelasannya. Bapakku membisu tak berkutik di kursi samping tempat tidurku. Si fisioterapis tetap gagah berdiri sambil terus menjelaskan padaku. Suaranya formal dan jelas sangat nampak kalau beliau sangat berhati-hati dalam memilih kata. Aku menikmati kesopanannya tersebut.

Beliau bercerita kalau kasus anak muda pertama terjadi di Jepang. Menyerang anak berusia 17 tahun.

”Meninggalkah,Pak?” tanyaku penuh keingintahuan.

“Oh tidak, Nak. Stroke memang sangat berpotensi untuk menyebabkan kematian tetapi biasanya tidak seganas jantung atau hipertensi,” jawab beliau sabar. Beliau menghela nafas pelan. ”Namun bagi penderita yang lolos dari kematian, ia akan mengalami disfungsi gerak tubuh,” lanjutnya.

“Maksudnya bagaimana itu, Pak?” tanyaku antusias.

“Biasanya ia akan mengalami kelumpuhan. Bisa separuh tubuhnya, bisa seluruhnya.”

“Oh, gitu ya Pak. Yang orang Jepang itu bagaimana ya…?!” gumanku prihatin. Berbicara pada diriku sendiri.

“Nak Uun, kasus yang kedua terjadi padamu, Nak…” kata-kata itu seperti bukankeluar dari mulut bijak si fisioterapis yang berdiri prihatin di depanku itu.

Blar!Blar!

Petir seakan menghantam ruang sadarku. Menghanguskan nadi dan mengukus mimpi Tana Torajaku ke dandang peyok yang usang. Aku tak percaya. Demi Tuhan! Aku tidak percaya. Aku nekat meloncat dari sisi tempat tidurku.

Bagai telah memperkirakan dan memperhitungkanposisinya dengan matang, si bapak dengan gesit menangkap tubuhku. Dari sudut mataku yang sedikit membasah, aku melihat bayang bapakku berkelebat keluar ruangan.

Tubuh garangnya terlihat lunglai. Getaran tubuhnya lemahnya terasakan benar oleh tatap jiwaku.

Benar! Apa yang dikatakan pria separo baya di depanku ini sungguh benar! Aku bahkan tidak bisa menopangkan tubuhku pada kedua kakiku! Emosi darah mudaku menggelegak. Aku sungguh tidak menerima dering kenyataan yang telah dengan nyata membalut ragawiku itu. Aku masih termangu seperti bermimpi dan berharap semua ini adalah mimpi belaka!

Andri yang kebetulan menjengukku tidak kuasa menatapku. Aku tiada menemukan mata tegar siapapun untuk membuatku tetap merasa tak mati. Hanya getar tangan si bapak dan kesenyapan yang angkuh. Menertawakan remuk runtuhnya mimpi-mimpi masa mudaku. Alam membisu, entah tersekat entah menertawakan dengan diam-diam.

Satu hal yang melekat erat dalam imajiku adalah pertanyaanku pada tuhan saat aku tercenung di jendela kamar asramaku di hari sabtu pagi lalu itu. Tuhan menjawab pertanyaanku dengan tuntas tanpa sisa, sampai-sampai aku tak mampu bertanya mengapa. Toh memang aku yang mengajukantantangan tanya dan tuhan punya seribu cara kurang ajar untuk menjawabnya!

Tuhan, ku tahu dirimu memang punya kuasa. Serba maha. Pemilik segala ilmu. Pengabul segala pinta. Aku memang telah datang bertanya. Dan kau pun dengan arogansi takdirmu telah menjawabnya.Tapi sungguh aku tidak pernah mengira sebegini tandas jawabanmu, Han! Aku tahu aku tak berhak marah padamu. Tapi mulai hari ini aku mau marah pada-Mu.

Yah. Hari itu aku masygul pada tuhan. Aku tidakmenerima kemauannya atasku. Jawa Timur, Bali, Lombok , dan Sulawesi. Ah, mimpi itu beretakan di perahu siang hariku. Di tepi tebing waktuku saat itu. Aku marah, padamu tuhan! Air mata yang sempat hendak merembesi sudut mataku terhenti seketika. Aku bertekad untuk tak menangis. Karena aku tengah diamuk gores-gores murka.

Pare, 7 April 2012


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: