Oleh: uun nurcahyanti | Mei 18, 2012

Cerpen Semangkuk Mi Ayam


Aku masih jua termangu di ujung penaku. Belum juga ada aksara yang tergores di lembaran-lembaran putih di depanku ini. Cerpen! Yah satu kata ini mendesakku untuk memutar jurus meraih kata. Berkelisang ide laksana badai tapi tidak ada satupun yang mengaitku pada pikat kisah. Ah, cerpen selalu menjadi onani obsesif bagiku. Ruwet. Tak pernah usai tetapi seringkali meninggalkanku terpaku karena seenaknya ide itu pergi.

Sekeranjang cerpen tidak berujung terkapar di map-map tuaku. Tidak ada yang pernah ku publikasikan. Satupun. Cerpen seperti mimpi buruk yang tidak mengijinkanku tuntas menunaikan ibadah tidurku dengan akhir yang indah. Tapi entah mengapa siang tadi ku bertekad menulis cerpen lagi. Dan inilah aku sekarang. Terpaku dalam kebingungan tapa tahu harus menulis apa.

Yah, diskusi sastra dua minggu nanti itulah penyebabnya. Peserta diminta menulis satu model tulisan sebagai syarat keikutsertaan. Boleh berupa puisi dan esai sebenarnya. Dua jenis tulisan yang tidak begitu asing bagiku, tetapi aku ingin menantang diri dengan menulis hal yang tidak pernah berhasil aku tulis. Cerpen!

Dan entah mengapa keinginan ini begitu menggebu. Begitu ingin segera dituntaskan. Seperti kerinduan pada kekasih yang berlabuh pada sebentuk harap untuk bersegera bertemu. Lantas begitu saja ku sms sahabat penaku, Mas Bandung.

Ahai…sebenarnya ku bingung untuk menyebutnya sahabat apa, tapi memang kami biasa berasyik masyuk lewat tatah kata layaknya sahabat pena pada masa lalu. Ya. Aku suka bersahabat pena semasa sekolah dulu.

Namun, zaman yang telah mengambil alih kertas surat warna-warniku dan pena dengan segenggam hape yang lebih simpel, praktis dan canggih sebagai alat untuk berbagi kata lewat tulisan. Yah, tidak ada lagi ritus ngontel sampai ke kantor pos di seberang Stadion Sriwedari untuk sekedar beli perangko dan amplop lantas mengeposkan surat. Atau yang seru tentu adalah saat puasa Ramadhan menjelang Idul Fitri. Tumpukan kartu lebaran bertebaran meminta untuk segera dikirimkan. Kesibukan di kantor pos besar pada saat menjelang lebaran menjadi pemandangan menarik bagiku.

Hari-hari berikutnya juga tak kalah seru.Hari-hari penuh kejutan akan hadirnya barang sepucuk dua pucuk surat dari para sahabat. Namun kuasa kemajuan zaman mengambil waktu magis menunggu itu.  Tidak ada hari-hari penuh harap akan datangnya surat balasan dari sang sahabat pena. Semua waktu menunggu yang mistis dan penuh debar itu sudah dipersempit dengan adanya tehnologi hape yang praktis. Dan yang terbaru adalah facebook.

Memang kalau dirasa-rasa…masih menggetarkan  sebenarnya ritual menunggu jawaban itu, meski lewat hape. Namun sms lebih seperti ngobrol tanpa kepentingan bertatap muka daripada menulis surat dalam makna tradisionalnya. Tak ada girang karena dijamu dengan segala bentuk mimik wajah dari manusia yang bertatapan. Tiada guratan usia dan sinar mata yang hidup ataupun redup. Tak ada tindak gelisah yang memikat. Hanya kekataan. Tersenyum simpul sendirian. Ngakak sendirian. Tercenung. Termangu sendirian. Bengong sendirian. Bersorak sendirian. Pedih juga sendirian. Kok apa-apa jadi serba sendirian ya…?! Jadi seperti telah berada di alam serba bersendirian dan berkesunyian daripada berada di alam kehidupan yang bergegap gempita.

Wah, bisa-bisa manusia gagap membaca air muka manusia lain karena keseringan menggunakan fond di hape sebagai pengganti berbincang. Udah gitu, fond-nya juga serba seragam. Sirna pula kesukaanku bersibuk dengan mencumbui tulisan tangan beragam dari para sahabat penaku dulu yang terkadang tulisannya memeningkan mataku. Aku baru tersadar. Trus, persahabatan lewat sms ini masih bisakah ku sebut sahabatan pena?

Ah, biarkan saja begitu… demi mengenangngenang pena yang dahulu menganyam persaudaraan lewat ukirannya diatas kertas surat biru, putih, merah jambu, dan hijau daun nan kelabu. Yang juga  bersemburatkan bau berbau aneka bebungaan semu. Masak disebut sahabat sms?! Wagu, ah.

Aku bertanya tentang cerpen dalam perpektifnya yang suka bertekateki. Jawabannya biasanya memang sudah bisa kuduga. Penuh misteri dan harus ku asah lewat serumpun intuisi yang pekat laksana menikmati secangkir kopi. Yang menurutku lebih sedap kalau sudah mulai menggigil airnya.

Smsku (12.47) :

Aku pengen nulis cerpen. Cerpen tuh apaan mas?

Smsnya (12.48) :

Semangkuk mi ayam di siang hari.

Huahahaha. Na…bener kan?! Pasti jawabannya bertekateki. Namun bayanganku tidak pada kata-kata di layar hapeku itu. Alam fiksiku melayang pada lapangan manahan dan bunderan Solo Baru. Juga melayang ke Bakso Totti dan bakso Mangkunegaran. Ke bakul-bakul mi ayam langgananku dan adik-adikku yang memang penggila masakan khas yang beraroma penuh goda rasa ini. Aku rindu kota kelahiranku. Walah…aku malah lupa pada cerpenku dan pilihan-pilihan tema yang ku bolak-balik tapi malah membuat isi kepalaku terbalik-balik.

Cerpen adalah semangkuk mi ayam dan itu adalah menu makan siang alternatif terfavorit. Mi ayam adalah segerumbul kenikmatan sekejap nan menawan. Membuat organ pengecap berkerjab-kerjab dalam kerinduan yang menggoda, dalam candu yang halus mengikat. Dan, sebuah cerpen haruslah beraroma semenggoda semangkuk mi ayamnya pak Nardi di Jalan Muwardi itu. Begitukah? Hanya semangkuk saja memang, tetapi berasal dari karya tangan si pengolah rasa. Dari mi-nya yang orisinil buatan sendiri, bukan instant atau beli kodenan di pasar Sumenang. Kuahnya yang beraroma rempah khas jawa tengahan, dan potongan daging ayam kecap yang menggiurkan organ pengecap. Hmm…Cerpen adalah buatan tangan orisinalitas khas penulisnya. Aha!

Dimakan di siang hari! Kebetulan Pare beberapa hari ini teramat terik dan saat tersengat terik inilah kenikmatan makan mi ayam menemukan ritus termagisnya. Menggelorakan nikmat dan menyertakan tetes-tetes keringat. Sedap.

Smsnya (13.17) :

Cerpen itu sekejap meresap.

Pengungkapan yang paling nyus untuk menggambarkan imajiku barusan lewat kekataan. Dan itu hal yang selalu tertinggal saat aku belajar menulis cerpen. Hal yang sekejap itu butuh berkejap-kejap dan pasti malah kehilangan ruh endingnya. Cerita seringkali jadi tidak fokus dan melebar ke manamana. Sepertinya inilah gambaran diriku. Diri yang terlalu hobi pecah fokus.

Ah, bukankah makan mi ayam itu lebih nikmat bila cepat-cepat dan masih dalam keadaan panas? Kesedapan mi ayam juga karena racikan kecap, saus, dan sambal yang pas sesuai selera si pengracik. Jadi, mi ayam adalah masalah selera racikan. Demikian juga dengan cerpen.

Aku terpaku. Mata penaku terpana pada takjub wacana yang bertaburan di langit siang ini. Lantas, aku masih tidak juga menemukan simpul ide untuk judul cerpen yang ku harapkan bisa ku tuliskan. Siapa lakonnya dan bagaimana alur ceritanya tidak jua segera terlintas di benakku. ”Hari ini aku belajar satu hal Mas, bahwa membuat mi ayam itu tidak mudah!”

“Ngapain bengong, Bos Genk?” sapa si gembul Kentung dengan mimiknya yang lucu. Lamunanku akan kata-kata berhamburan, terhambur tiba-tiba.

“Belajar nulis cerpen,” jawabku pendek. Masih gusar dengan keinginanku sendiri. Kegusaran yang perlahan mengait kegamangan.

“Ada sms dari Amiqoh Bos,” suara lain menjadi percakapan tak penting kami. Spontan aku menoleh ke arah suara seraya bertanya balik, “Apa katanya?”

“Baca sendiri Bos,” jawab Jaja mengangsurkan hape-nya.

Sebelum membaca kekataan di layar hape itu, hatiku tiba-tiba berdebar. Amiqoh. Makasar. Kenaikan harga BBM. Demo!

Dengan cepat ku baca sms dari pulau seberang itu :

Laporan.

Makasar ngeri eh..

Polisi vs mahasiswa..

 

Waduh. Bayanganku berkelana ke Yogyakarta. Demonstrasi mahasiswa 1998. Bentrokan yang terjadi antara mahasiswa dan polisi. Sama-sama kelelahan dalam letih yang menciderai. Aku dan sahabatku Jimi pernah terjebak di tengah-tengah aksi lempar batu antara mahasiswa dan polisi di depan gerbang Universitas Negeri Yogyakarta. Hanya tuhan yang tahu bagaimana kami berdua selamat dari hujan ‘meteor’ tersebut. Juga gas airmata yang berhamburan entah ditujukan untuk siapa.

“Tuh kan Bos, ada urusan yang lebih serius.” Suara Kentung membuyarkan himpun kenanganku. ”Kenaikan BBM tuh isu serius lho. Ini malah mikirin cerpen!”

Asyeem.. si Kentung kurang ajar. Rutukku dalam hati. Aku yang masih berpusing karena masalah gairah nulis cerpen jadi sedikit terusik juga. Mencoba memilah dan memilih kata yang pas untuk memosisikan kondisi agar tak rusak oleh usikan sekian bentar tadi.

“Kenaikan BBM dan demo adalah hal yang menjadi adab khas demokrasi, Tung. Saling unjuk kedigdayaan adalah hal yang menepikan kekuatan diri dan keindahan peradaban hakikat kita menurutku.”

“Lantas?”

“Demokrasi, Tung, dalam kadar tertentu tidaklah sedemokratis yang ditampilkan. Penjara demokrasi memicu berbagai tindak kekerasan dan aksi revolusi sosial atas nama ketidak-adilan,” ku hela nafas beberapa kali sebelum melanjutkan pendapatku. “Revolusi sosial akan mengelupaskan kulit ari. Meninggalkan luka batin. Juga lahir. Butuh ongkos besar karena berhubungan dengan ragawiyah. Materi. Menurutku, revolusi budaya lebih menjanjikan. Dan menulis cerpen adalah bagian dari apresiasi kebudayaan. Bagian dari menulis. Bagian yang ikut membangun keberkisahan diri. Juga biografi bangsa meski dalam jumlah sesumbangan yang sekedarnya.”

“Halah, ngeles. Mencoba membenarkan tindakan diri…” serang Kentung tanpa ampun seakan ingin menjajal menggerogoti kewungkulan niatku.

Aku tidak mau menyerah. Ogah banget. “Seandainya Mpu prapanca ikut terjun ke medan perang dan bersikeras menjadi prajurit kerajaan yang lebih berpotensi untuk dikenal masyarakat dan bisa termasyur karena jasa pengabdiannya, tentu kita tidak akan mengenal sejarah berbagai kerajaan Jawa di masa keberhidupan beliau. Dari kitab-kitab yang beliau tulis itulah jejak kebernilaian kita terjejakan. Warisan publik sepanjang masa. Akhirnya beliau dikenal dan terkenal bukan saat masa jasadnya ada.”

Kentung mengangguk-angguk, namun ia masih berniat bertahan sepertiku. “Tapi Mpu Prapanca tidak nulis cerpen kan Bos..?!”

“Hahaha…hahaha…” tawa kami pun pecah berderaian.

 “Asyem kamu Tung…!” umpatku antara kesal dan geli mendengar celoteh khasnya. “ Hahaha…”

Wah, gara-gara niatan untuk nulis cerpen hari ini, aku malah mendapati keberkisahanku yang tidak terduga. Hidup, memang membawa kisahnya sendiri-sendiri. Kisah keseharian manusia adalah tulisan Tuhan yang otentik. Aku tiba-tiba membayangkan bahwa Tuhan adalah juga merupakan penulis cerpen yang produktif. Sama dengan kemampuannya dalam menulis novel untuk kisah setiap individu yang ada di dunia ini dalam berbagai hitungan masa. Tuhan pasti sedemikian tekun menulis, hingga hidup serasa mampir ngombe kata orang Jawa. Mungkin ngombe sambil makan mi ayam di bunderan Solo Baru. Hmm…sungguh banyak sedap-sedap yang tak berkesudahan dalam hidup kita.

Andai Tuhan tidak konsisten dalam ibadah tulis menulis kisah, tentu hidup sudah terhenti. Hidup tentu tidak lagi berdenyut dan bertaburan lembah ngarai. Aku tidak mungkin secara ajaib hinggap di tanah Padang. Berjabat tangan dengan Taufik Ismail, bahkan. Juga menyaksikan Ngarai Sihanouk yang bagai cekungan sungai purba itu.

Andai Tuhan bukan pembingkai kisah yang lihai bermain ritmik emosi, hidup tentu tidak memiliki kesan dengan segala celepat-celepot misterinya. Kematian jadi hal lumrah yang tiada berkisah. Cinta hanya pemanis rasa, penyedap hidup. Tidak meresonansi berbagai ajaran-ajaran kehidupan. Tidak menimbulkan luka atau kuntum-kuntum sukaria. Tidak menjadi alasan berkekuasaan atau berkematian dalam jurang derita tiada usai. Untungnya tuhan maha sempurna dalam membuat kisah dan pelbagai cerita, sehingga hidup selalu memiliki cerita dan menelisik keberkisahannya.

Memang, ide untuk sebuah kisah fiktif yang sedap dan menyajikan goda pengecapan yang serba lezat sekejap belum juga terlintas di lautan benakku, namun kisahku hari ini memilih tempatnya tersendiri dalam bingkai latihan tulis-menulisku.

Memang, ku tidak mencapai 5.000 karakter layaknya para cerpenis menuliskan cerpen-cerpennya, tetapi aku berhasil membuat akhir dari cerita pendekku hari ini. Aku menyelesaikan cerpen wagu pertamaku. Dan yang pasti aku menjadi orang yang beruntung mendapatkan tiket untuk ikut bincang sastra setengah bulan kedepan.

Aku memang belum juga menuliskan sepatah katapun untuk cerpenku, tetapi aku telah tunaikan ujung-ujung pikiranku pada hujan kata-kata yang mengalir dari sela jemari realitasku. Ah, bila memang hanya seperti ini menulis cerpen, berarti hanya semudah menjalani hidup dengan menaiki sampan takdir pada sajadah waktu.

Selamat untuk diriku sendiri.

 

Pare, 29 Maret 2012 (23.15)

Uun Nurcahyanti

 

 


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: