Oleh: uun nurcahyanti | April 24, 2012

Kartini Dan Rumah


Uun Nurcahyanti

 

Bulan April akan selalu mengingatkan kita pada seulas tatapan teduh sesosok gambar di ruang-ruang kelas kita yaitu sosok Kartini. Kartini pun menyeret pembahanaan perbincangan tentang perempuan. Media dipenuhi bincang tentang seantero perempuan dalam berbagai sudut diri dan peristiwa yang menyelubungi dirinya. Padahal perbincangan tentang perempuan sendiri sebenarnya seperti tiada habisnya. Namun April memang seakan menyediakan tubuhnya untuk lebih memblejeti dunia perempuan. Seperti Desember yang menyurungkan tema khas perempuan dalam kosmologi perannya sebagai ibunda.

Kartini yang dijadikan simbol ibu bagi kita semua tentu bukan sekedar teladan bagi para perempuan tetapi dan juga untuk seluruh anak lelakinya. Bila kita berada dalam wilayah asumsi ibu dan anak. Perempuan mendominasi tema perbincangan di sekitar hari Kartini. Kartini dipuja dan diapresiasi kembali dengan berbagai refleksi. Semuanya dihubung-hubungkan dengan peran perempuan di dalam masyarakat. Emansipasi perempuan istilah moncernya. Padahal Kartini sendiri sempat terperangah dalam daulat kenyataan diluar pintu rumahnya yang menyajikan sebuah pemandangan tak lazim dan tak terduga dalam benaknya yang berdesain feodal kejawen. Adanya perempuan yang bekerja di pasar dan bertani. Bahkan dengan gagah memikul hasil pertanian di tubuh ringkihnya. Menyaksikan anak-anak bekerja demi membantu orangtuanya menegakkan keberhidupan nama keluarganya.

Anak pinak bangsanya begitu menanggung derita. Kartini pun terbang dalam bejana keterpanaan atas nasib rakyatnya.Sementara perempuan, dalam konsep yang disusupkan dalam benak Kartini, adalah mutiara yang dijaga secara primpen. Sangat disayang-sayang sehingga tidak boleh sembarangan orang melihat apalagi menyentuhinya. Perempuan adalah manusia yang dipersiapkan sebagai persembahan bagi suami sehingga harus menguasai ketrampilan kerja yang bersentuhan dengan peran pengabdiannya sebagai istri dan ibunda bagi anak-anaknya kelak. Merawat rumahnya. Sehingga perempuan menjelang dewasa alias yang menginjak masa akil baligh atau remaja haruslah duduk manis dirumah dan belajar rajut-merajut, rawat-merawat ragawiyahnya, dan membaca untuk menambah wawasannya. Persiapan masa dewasa adalah waktu keterpingitan. Tidak boleh keluar rumah. Apalagi bila sudah dalam pinangan lelaki sang calon suami.

Dunia perempuan dibatasi oleh tembok dan pintu rumahnya. Pintu gerbang rumah seorang ningrat seperti Kartini adalah wilayah paling angker yang tabu untuk dilangkahi. Melangkah melewati pintu gerbang adalah langkah suci untuk menuju ke altar rumah tangga. Tiada lain hanya menuju ke rumah sang suami. Melakoni peran pengabdian berikutnya sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Penerus garis keningratannya.

Sehingga wajar bila saat Kartini remaja berkesempatan melangkah keluar sangkar emasnya, ia begitu terpesona dengan kondisi nyata yang terhampar di ruang matanya. Dunia jauh lebih luas dari seputaran rumah megahnya. Dunia lebih berwarna daripada apa yang tergambar dalam buku-buku yang dirawatnya dengan ketekunan membaca. Dunia di luar tembok rumahnya adalah kondisi yang bahkan tidak pernah terangkum dalam semua kata dari dalam kitab-kitab pengetahuannya selama ini. Semua kenyataan yang menempatkannya pada perenungan mendalam. Menggiringnya terjerembab dalam kesunyian yang paling mistis, ritmis dan  kritis. Merenungkan kesemestaan. Kenyataan luasan ruang hidup manusia.

Tembok dan pintu gerbang rumahnya memisahkan kondisi yang begitu melangit perbedaannya. Bagai ujung langit dan pangkal kerak bumi. Kartini terpelanting ke dalam simpul kehidupan yang paling hakiki. Betapa ilmu pengetahuan dan peradaban barat yang menjadi acuan keberilmuannya tersebut telah dengan keji menelanjangi harga diri dan kemanusiaan masyarakat bangsanya. Kondisi yang menguncang Kartini dan menggumpalkan tekad besarnya untuk memikirkan dan melakukan banyak hal mendasar demi tetap utuhnya ruh hidup bangsanya.

Pemikiran Kartini

Konsep keperempuanan dan kewajaran konsep hidup yang berjejalan dalam benak kartini remaja berbenturan dengan kenyataan yang dia dapati. Diluar pintu gerbang rumahnya para perempuan berkeliaran mencari nafkah. Memanen padi dan mengangkutnya  pasar. Membawa dedangangan untuk diperjual-belikan di pasar-pasar. Aroma  perempuan begitu menyesaki wilayah-wilayah pasar tradisional di sekitar rumah Kartini, bahkan sampai hari ini. Remaja-remaja perempuan seusianya pun ikut terbang bersama derap zaman. Berkelantang mencari penghidupan. Zaman sedemikian sulit untuk masyarakat bangsanya, sementara ia terpenjara dalam buaian citra keningratannya dan tuntutan kelaziman takdir dirinya.

Bejana benaknya dipenuhi pengharapan untuk memberontak dari kenyataan hidupnya. Perenungannya mengelana dalam punuk-punuk tanya tentang  apa yang tengah berkecamuk di negerinya sendiri. Pintu gerbang rumahnya membentangkan kesadaran akan nasib saudara-saudara sebangsanya. Konsep bahwa ruang perempuan adalah bangunan rumahnya, justru menjadi cumbu kepahitan sekaligus impian mengawang-awang bagi sebagian besar perempuan di negerinya. Masyarakat bangsanya tengah mengalami kepedihan, larut  dalam luka derita akibat penjajahan. Kartini remaja menggelisahkan nasib bangsanya dalam lunglai lingkaran pagar sang sangkar emas. Pagar tradisi dan juga pagar tembok yang mengelilingi rumahnya.

Lantas, Kartini menyerahkan tubuh dan pikirannya untuk menjawabi kegundahannya. Kegalauan yang menderanya memercikan api pemikiran dan memantik sebuah tindakan nyata. Pemikiran Kartini tertuang dalam tulisan-tulisannya dalam bentuk surat menyurat. Hasil perenungan dan tuang pemikirannya itu terurai dalam tindakannya membuka sekolah keputrian setelah ia menikah. Suaminya yang juga berpikiran maju menyokong gerak langkah Kartini. Merestui perjuangannya. Wilayah perempuan yang dipilih Kartini bukanlah pilihan berlatar belakang emansipatif, namun merupakan kebetulan zaman. Belum ada sekolah yang representatif bagi pria dan perempuan pribumi. Adalah tabu dan ketidaklaziman bila seorang perempuan mengampu santri pria demikian pula sebaliknya. Wajar bila Kyai Haji Ahmad Dahlan juga awalnya membentuk forum sekolah lewat penggajian para santri putra.

Cita-cita terbesar Kartini adalah lepasnya belenggu yang menindas bangsanya. Menguapnya rantai kebodohan yang menginjak-injak harga diri kaumnya. Seluruhnya. Laki-laki maupun perempuan. Tua maupun muda. Kartini mengidamkan kemerdekaan bagi masyarakatnya. Mengimpikan semua kalangan bersuka cita dalam cawan ilmu pengetahuan. Penjajahan dan ketertindasan membuat anak-anak dan remaja tercerabut dari rumahnya dan berkeliaran demi menuntaskan kebutuhan mendasarnya demi sekedar bertahan hidup. Kartini bercita-cita membagi madu pengetahuan untuk mereka. Membangunkan kesadaran puja kehidupan dan kemanisan dalam menyemai impian karena hidup adalah sebuah perayaan pencarian hakikat.

Kartini mencoba mendobrak tradisi penyepian pengetahuan ke penikmatan pembelajaran. Bahwa hidup bukan berjalan begitu saja dan berbuta diri dengan menyusuri jalan takdir. Penindasan bukan takaran garis hidup yang disikapi dengan berpasrah semata. Bahwa sesungguhnya manusia harus menjamu cita rasa kemanusiaannya dengan menghadirkan kesadaran yang utuh. Manusia perlu bersikap polos dan kritis. Bukan masa bodoh dan terbawa arus zaman. Takluk pada arogansi kelaziman masa.

Pemikiran Kartini remaja yang notabene juga berakraban dengan dunia pengetahuan barat tidak lantas serta merta berpihak ke  barat dan membutakan keberpikirannya pada puja pengetahuan yang konon saat itu membercitrakan dirinya sebagai bangsa dan pengetahuan yang lebih beradab. Demokrasi ala Eropa yang bekembang di akhir abad 19 itu diagung-agungkan sebagai amat jauh lebih unggul daripada adat feodalistis kejawen yang  dengan wangi di kalangan komunitas yang terjajah (dalam hal ini dalam konteks Kartini). Kartini mengkritisi sikap sebagian besar kaum kolonial yang menghina-dinakan peradaban bangsanya. Yang menganggap orang Jawa, seperti kaum terjajah lainnya, sebagai komunitas yang sangat kurang adabnya.

Peradaban sebuah bangsa dalam benak Kartini adalah suatu keutuhan cita rasa berbagai hal yang membentuk keutuhannya yang unik dari segala jati diri dan keragawian bangsa yang bersangkutan. Mencakup segala borok dan cacat dirinya. Meliputi segala sikap hidup dan pilihan-pilihan kebijaksanaannya. Peradaban adalah seluruh semesta yang memang tidak sama antara satu kaum dan komunitas lainnya. Peradaban seperti mozaik diri tuhan yang tidak perlu diseragamkan ataupun menonjol-nonjolkan dirinya. Serpihan-serpihan potongan puzzle yang memang perlu lengkung menonjol dan cuil lekukan. Memahami harmoni masyarakat bangsa lainnya adalah seni mengutuhkan dunia yang paling beradab. Menepikan penghormatan terhadap bangsa dan perbedaan antar berbagai ragam keunikan suatu entitas tak lebih merupakan sebuah kebiadaban.

Momen ala Masa Kartini

Kondisi masa Kartini lebih dari satu abad yang lalu itu sebenarnya kembali terejawantahkan pada wajah Indonesia masa kini. Kota besar yang bertaburan gelandangan, pengemis dan anak-anak yang berserakan mencari sesuap nasi demi mengongkosi kebertahanan tubuhnya adalah gambaran lain dari dunia luar pintu gerbang istana Kartini kala itu. Para perempuan masih turun ke jalan dan jatuh bangun menanggung membumbungnya beban hidup. Para ayah juga mesti berjibaku dengan waktu demi kepantasan hidup. Ongkos hidup bagai asap dupa yang menebar wewangian tetapi terus terbang jauh meninggalkan mangu-mangu mimpi.

Anak-anak bergerombol di petak-petak rumah orangtuanya tetapi serasa yatim piatu. Ayah kemana, ibu pun tak akrab roman mukanya. Peluk hidup begitu tak terjangkau rupa kelaziman dalam lapisan masa manapun. Ayah ada namun tiada. Ibu ada tetapi semu. Anak bangsa bertunas tanpa perlindungan air kehidupannya. Orangtua berkelahi dengan hari memenuhi kebutuhan hidup. Sekedar untuk bertahan hidup. Tembok kawedanan tempat Kartini bertumbuh memiliki penjagaan di pintu gerbangnya. Masa itu memungkinkan para perempuan ningrat untuk berdiam diri dalam tembok itu. Itulah kelaziman zaman itu. Karena keluar dari tembok kabupaten adalah tabu tradisi yang luar biasa. Belanda juga memang merasa perlu menjaga tradisi buta rakyat ini, karena para raja kecil dan keluarganyalah yang memiliki pendidikan tinggi. Belanda juga sangat berkepentingan untuk membuat kondisi stabil. Perang Aceh yang melelahkan dan di iringi dengan perang Diponegoro yang liat luar biasa menceburkan Belanda dalam selokan kelelahan fisik dan finansial akibat perang.

Menutup segala celah kucuran mata air pengetahuan tentu akan membuat Belanda bisa bernafas dengan lebih panjang dan teratur. Pengetahuan akan memberikan matanya untuk melek pada segala penderitaan akibat penjajahan, dan hal tersebut merupakan ketidaknyamanan atas nama kuasa penindasan. Para ningrat digiring untuk berbuta terhadap kondisi masyarakat bangsanya. Sekolah, jabatan dan pekerjaan sebagai pangreh praja di pujapujikan sebagai betuk gaya hidup dan dengan iming-iming pikat kelaziman zaman, lagi-lagi. Desain kondisi demi melanggengkan penjajahan bangsa atas bangsa.

Saat ini para ’ningrat’ era demokrasi yang katanya lebih moderat dan memuat konsep emansipatif sehingga bisa melintasi gerbang pintu rumahnya sekehendak hatinya. Tembok rumah dan pintu gerbangnya tidaklah bermakna sama dengan masa Kartini dulu. Arus informasi telah melintasi segala bentuk tembok dan pintu-pintu rumah dan kamar kita. Ilmu pengetahuan bisa kita akses semau-mau kita. Mudah dan sangat cepat bahkan. Konon, dunia ada di dalam genggaman kita ujar sebuah iklan produk tehnologi telepon genggam. Namun, peristiwa terperangah ala Kartini dan ritus ketajaman sensitivitas perenungan seperti yang pernah dialami Kartini dulu malah bagai asap yang terhembus angin. Tiada berbekas, tiada berasa.

Ibu presiden, anak perempuan para pejabat negara, istri pejabat pemerintahan tidak bergeming memandang kesengsaraan jiwa-jiwa lain di sekitar tembok rumahnya. Rumah dibangun sedemikian megah layaknya istana. Sementara sejengkal dari pintu gerbang rumahnya gubuk-gubuk nan lapuk berjejalan. Indonesia masa pasca kemerdekaan telah berjalan lebih dari 60 tahun dan pembangunan fisik serta infrastruktur di daerah-daerah perkotaan mengiringi pertumbuhan kemelaratan yang seolah tak mau bersegera surut.

Masa kolonialisasi Belanda memang telah berlalu, namun jejak biografi kesakitan masyarakat bangsanya masih terawat baik. Pintu gerbang rumah Kartini pernah berandil dalam membangun kesadaran kritisnya dan mendorong arus deras pemikirannya tentang sejarah dan kondisi bangsanya. Mendorongnya mengukir karya nyata dalam sisa umurnya yang begitu sebentar. Sekolah Kartini adalah sekolah yang didirikannya dengan cita-cita sederhana yaitu membangun harga diri kaumnya. Memberi bekal pengetahuan dan ketrampilan agar perempuan dan anak-anak kembali menjadi milik rumahnya.

Kosmologi perempuan dan anak-anak yang bertaburan di ruang-ruang publik demi tugas mengumpulkan tetes-tetes nafkah untuk keluarga dan pemerintah kolonial adalah gelisah yang butuh dicarikan simpul ketuntasan. Dan Kartini berbuat demi kemerdekaan yang semacam itu. Seperti yang dengan sepenuh rasa diungkapkan oleh W.R Supratman: Ibu kita Kartini pendekar bangsa/Pendekar kaumnya untuk merdeka/Wahai ibu kita Kartini putri yang mulia/Sungguh besar cita-citanya untuk Indonesia.

Syair yang seharusnya mampu menyentak rasa keberbangsaan siapapun yang mendengarnya. Syair yang ingin senantiasa mengingatkan seluruh umat Indonesia yang merupakan simbol ‘kaum’ dari seorang Kartini. Perjuangan Kartini memang untuk seluruh diri individu Indonesia. Bukan hanya untuk perempuan dan eksklusif bagi para perempuan. Teladan Kartini adalah untuk seluruh bangsa terutama para pemimpin bangsa yang terlalu lama berdiam di tembok-tembok istananya dan juga kemegahan gedung tempatnya bekerja. Diluar tembok gedung yang ongkos renovasi pelataran parkirnya saja bisa untuk menahan laju kenaikan BBM, ada perempuan, laki-laki, dan  anak-anak yang mengkais butir-butir rupiahdemi sekeping beras pengganjal perut. Sebenarnya Belanda benar telah pergi atau belum, sih?

Pare, 5 April 2012


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: