Oleh: uun nurcahyanti | Maret 12, 2012

Pare : Sebuah Kupasan Pribadi


Pare : Sebuah Kupasan Pribadi

Uun Nurcahyanti

Tulisan ini adalah upaya penulisan ulang dari tulisan saya yang berjudul Selayang Pandang Tentang Pare yang pernah diposkan di blog Smart ILC lama yaitu http://www.smartilc.co.nr. Pada bulan Juli 2009. Tulisan ini saya coba tuangkan kembali dengan wacana yang sama tetapi dengan penjelasan yang lebih detail atas segala sisi perspektif yang saya pakai dalam mengejawantahkan jejak langkah dan pemikiran seorang tokoh yang telah meletakkan pondasi bagi pengembangan sistem pendidikan alternatif ala Pare. Ada beberapa perubahan data yang tentunya disesuaikan untuk memutakhirkan kondisi data itu sendiri.

Pare adalah sebuah kota kecamatan yang terletak di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kota kecil ini terletak antara kota Kediri dan Jombang. Waktu tempuh yang dibutuhkan dari masing-masing kota tersebut ke Pare sekitar 45 menit. Di kota kecil nan damai ini terdapat sebuah wilayah yang saat ini akrab dijuluki Kampung Bahasa Inggris, yaitu wilayah desa Tulungrejo. Di wilayah ini kita bisa menemukan suatu lokasi pendidikan yang unik dan mengkhusus diri pada bidang bahasa-bahasa asing terutama bahasa Inggris.

Pare saat ini telah dikenal secara nasional. Gencarnya pemberitaan tentang Pare dalam beberapa tahun terakhir ini telah membawa Pare menapaki masa ketenarannya. Sebuah kondisi yang sungguh memang sudah menjadi bagian dari kewajarannya, karena Pare memang telah melewati masa keberhidupannya selama lebih dari 30 tahun. Masa perjuangan eksistensi sebuah wilayah belajar yang terletak pada sebuah desa yang notabene jauh dari konsepsi wilayah strategis tentunya merupakan hal yang sangat menarik untuk ditelaah. Kebersejarahan Pare bukanlah sebuah perjalanan instanitas yang pasti bertabur berjuta cerita hikmah didalamnya.

Sejarah perkembangan pendidikan kebahasaan di wilayah ini dimulai pada tahun 1977. Perintis sekaligus peletak dasar konsep kependidikannya adalah bapak Muhammad Kalen_yang akrab dipanggil Mister Kalen atau Pak Kalen. Sosok yang luar biasa ini adalah pribadi yang visioner dan dikenal memiliki kedisiplinan yang tinggi dan keteguhan sikap yang luar biasa.

Meski Mr. Kalen sendiri tidak pernah secara eksplisit mediskripsikan pemikiran-pemikirannya tentang pengembangan wilayah Kampung Kursus Bahasa Inggris ini, saya mencoba untuk menelisik retas pemikiran beliau dari segala langkah-langkah kebajikan yang sampai saat ini masih tampak jelas jejaknya.

Konsep Pendidikan Wilayah

Sistem pendidikan informal yang berkembang di Pare merupakan pengejawantahan dari gerak hidup dan pemikiran yang khas dari seorang Mr. Kalen. Sistem pendidikan yang beliau kembangkan saya istilahkan sebagai sistem pendidikan wilayah. Sistem ini beliau adopsi dari sistem pendidikan yang biasanya dianut oleh pondok-pondok pesantren di Indonesia.

Pondok pesantren merupakan wilayah belajar dimana terdapat sinergi yang kokoh antara sekolah sebagai wilayah belajar utama, masjid sebagai tempat beribadah dan juga motor untuk menggerakkan keberaktifitasan warganya, koperasi sebagai wilayah ekonomi, dan kamar-kamar sebagai tempat tinggal secara bersama-sama yang dipimpin oleh senior sebagai kepala dan pengurus kamar. Ibaratnya, seluruh tempat adalah wilayah belajar. Every place is a school.

Konsepsi ini diadopsi secara luas ke dalam sistem belajar yang melibatkan masyarakat. Sehingga, sistem pendidikan wilayah ala Mr Kalen, dalam perpektif saya adalah sebuah sistem yang melibatkan peran aktif warga di sekitar lembaga pendidikan yang bersangkutan. Disini, warga masyarakat dilibatkan secara aktif bukan hanya dalam pengembangan sistem ekonominya semata, tetapi justru lebih ditekankan pada penjagaan motivasi belajar dan keberlangsungan kultur dan sistem belajar pada para peserta didik sebagai pembelajar itu sendiri.

Bagaimanapun, peserta didik tentu lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat kos daripada di tempat kursus. Oleh karena itu peran aktif para pemilik kos sebagai pengontrol utama situasi dan keaktifan belajar dari para peserta didik sungguh sangatlah dibutuhkan. Hal ini tentu saja bukanlah hal yang mudah untuk dirintis karena melibatkan orang-orang yang nyaris seperti tidak berurusan dengan aktifitas belajar mengajar, tapi inilah tradisi pertama dan utama yang kelak secara signifikan terus mendampingi perkembangan Pare.

Konsep Pendidikan Komunitas

Dalam pendidikan ala pondok pesantren, peran senior sangatlah signifikan. Senioritas bukan bermakna otoritas semata, senioritas lebih pada makna tanggung jawab. Entah itu tanggung jawab pada wilayah keilmuannya, pengetahuannya, kepribadiannya, maupun jiwa pengabdiannya.

Sistem inipun diadopsi secara mendalam oleh Mr. Kalen dalam mengembangkan wilayah pendidikannya. Hal ini tertuang nyata pada prinsip hidup beliau yang selalu ditularkan kepada seluruh anak didiknya, yaitu bahwa tanggung jawab itu harus lebih besar daripada penampilan. Prinsip ini jugalah yang memondasi sistem belajar yang saya sebut sebagai sistem pendidikan komunitas, yaitu sistem belajar yang bertumpu pada tanggung jawab keilmuan yang telah diperoleh. Sistem ini mendorong kesadaran penuh kepada para peserta didik untuk ikut terlibat secara aktif dalam keberhasilan adik-adik kelasnya. Pada para peserta didik dipompakan rasa percaya diri yang setinggi-tingginya bahwa di dalam dirinya terkandung potensi yang luar biasa dan dalam dirinya terkandung sebuah wilayah tanggung jawab untuk menshodaqohkan ilmu yang telah dipintalnya.

Dari sistem ini, kemudian, kelompok-kelompok belajar yang biasanya disebut study club yang diampu oleh para senior. Study club ini biasanya diadakan di rumah-rumah kos. Sistem ini merupakan salah satu tradisi penting yang menopang perkembangan Pare ke depannya dan dengan dinamis menopang sistem pendidikan wilayah yang dikembangkan. Sinergi dari kedua tradisi utama sistem pembelajaran ala Pare inilah yang dengan gagah mengarungi arus zaman hingga mampu bertahan selama puluhan tahun dan menelurkan ribuan alumni serta membangun konsepsi keberwilayahannya sendiri.

Konsep Pendidikan Mandiri

Disamping dua konsep prinsipil diatas, ada keunikan khas lain yang diusung oleh sistem pendidikan ala Mr. Kalen ini yaitu adanya kemandirian dalam hal metode dan kurikulum pembelajaran. Kemandirian ini menghasilkan kreatifitas yang tinggi dalam upaya mencipta alternatif-alternatif yang memola keberagaman cara dan gaya mengajar tetapi tetap kerangka tujuan yang telah di desain oleh lembaga.
Konsep kemandirian yang sederhana ini nantinya memberi peluang yang cukup besar bagi perkembangan metode pengajaran khas Pare maupun keberagaman model kurikulum pembelajaran bahasa asing ala Pare yang pada akhirnya membawa Pare pada kemasyurannya karena keunikannya ini.
Eksklusivitas sistem ini tidak lantas melambungkan biaya pendidikannya. Inilah hal khas lainnya dari sistem pedidikan yang dikembangkan oleh Mr. Kalen yaitu biaya pendidikannya yang relatif terjangkau atau murah. Kondisi ini memang telah dikembangkan dari awal berdirinya Basic English Course (BEC) yaitu lembaga pendidikan kursus bahasa Inggris yang tertua di wilayah Tulungrejo, Pare, yang didirikan oleh Pak Kalen dan sampai saat ini menjadi ikon utama di wilayah kursus bahasa Inggris Pare.

Sistem ini tentu juga merujuk pada model sistem pembiayaan ala pondok pesantren yang murah meriah namun padat ilmu. Sistem pembiayaan ini sekaligus merupakan upaya nyata untuk memberi bukti bahwa pendidikan yang berkualitas bukan melulu ditentukan oleh harga yang membumbung tapi lebih pada kemapanan sistem yang digunakan, kemandirian kurikulum, serta peran seluruh komponen yang terlibat dalam seluruh aktivitas belajar.

Kemandirian dalam segala sisi dan dengan disertai upaya secara terus menerus untuk mempertahankan eksistensi lembaga mau tidak mau harus diakui telah berhasil mengantarkan Pare dalam menorehkan kebersejarahan wilayah pendidikan non formalnya selama lebih dari 30 tahun.

Konsep Pendidikan Kerakyatan

Jika sistem ekonomi kerakyatan telah dikembangkan oleh Penguasa Puro Mangkunegaran I yang sangat menolak monopoli yang saat itu dikembangkan oleh Belanda, sehingga mengamanahkan negara sebagai pengendali wilayah ekonomi yang digunakan untuk sebesar-besarnya kepentingan dan kemakmuran rakyat, sistem pendidikan ala Pare mencoba dengan gigih menawarkan sistem pendidikan kerakyatan yang memiliki prinsip berbeda dari prinsip keberekonomian raja jawa yang paling ditakuti dan yang tidak pernah ditaklukan Belanda ini.

Saat negara tidak mampu lagi memenuhi amanah mulia untuk mencerdaskan anak bangsa seperti yang termaktub dalam UUD 1945, banyak warga negara mencoba untuk mengambil alih peran strategis ini demi tetap mengguritanya regenarasi sebuah bangsa. Pare yang dimotori oleh seorang visioner yang berhati kukuh mencoba mengambil bagian dari peran ini dengan konsep pendidikan wilayahnya mencoba untuk mendobrak sistem wilayah serba sekolah dengan denyut keberekonomiannya yang egoistis dengan sistem wilayah serba belajar. Juga meredefinisikan ulang konsepsi pendidikan dalam sisi pencapaian yang biasa tercantum dalam angka-angka rapor dan ijazah ke dalam konsep keperguruan dan kepengajaran yang mengedepankan kekuatan komunitas yang berpengabdian sebagai basis keberhidupan sistem belajar mengajarnya. Sebuah sistem yang berlandaskan tanggung jawab keilmuan dan tanggung jawab kemajuan komunitas.

Pare dengan segala konsepsi sistemik yang menopangnya juga melakukan kritik konstruktif secara aktif terhadap sistem pendidikan modern yang dianut oleh dunia pendidikan nasional kita dengan mengelola kemandirian kurikulum yang mencipta beragam metode pengajaran dan desain program. Juga menawarkan harga yang murah sehingga terjangkau oleh segala lapisan masyarakat namun tidak lantas lalai untuk tetap kukuh menjaga kualitas pembelajarannya. Asumsi bahwa pendidikan adalah hak seluruh anak bangsa merupakan penopang utama bagi Mr. Kalen dalam membangun keberkaryaaannya, demikan juga kesadaran bahwa penguasaan bahasa asing sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa.

Inilah bentuk tanggung jawab dalam pengejawantahan konsepsi sederhana dan humanis yang bernama sistem pendidikan kerakyatan. “Sistem ini merupakan sebuah karya nyata untuk bangsa,” demikian selalu yang diimbaukan Mr. Kalen demi menyulut keberanian para juniornya saat ingin mandiri dan berkarya di jalur pendidikan kursus juga.

Bagaimanapun, Pare juga tidak bisa begitu saja lepas dari kekurangan dan juga menuai kritik atas pilihan-pilihan ideologinya. Segala hal memang mengandung konsekuensi, bukan?

Yang pasti, Pare dan segala fenomenanya tetap saja menjadi hal yang menarik untuk dikaji. Kini, 35 tahun setelah peletakan batu pertama itu, Pare telah dikenal sebagai sebuah ikon wilayah pendidikan alternatif dalam bidang Bahasa Inggris dan bahkan dijuluki kampung Inggris.Tradisi-tradisi belajar yang telah puluhan tahun terus bermetamorfosa tentu merupakan hal yang perlu di dalami demi kebaikan sistem pendidikan di negeri tercinta ini.

Pare, 8 Maret 2012


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: