Oleh: uun nurcahyanti | Maret 12, 2012

Apalah Tentang Intelektual


Orang menyebutkan abad yang tengah bergulir saat ini adalah abad modern yang konon katanya bercirikan riuhnya arus informasi sehingga penguasaan atas apapun haruslah melalui ruang-ruang sistem informasi alias media. Melalui gerak media yang sedemikian menggurita dan cepat, perkembangan kata dan istilah yang digunakan dalam keseharian kitapun mengalami perpesatan juga. Meskipun penjagaan keutuhan makna dalam kosakata-kosakata yang tengah dengan riuh bersliweran itu masih menjadi tanda tanya besar. Salah-salah pendistorsian makna yang malah terjadi. Bila kondisi ini meluas, sekarat kata secara masal bisa melanda dan budaya serba salah kaprah akan semakin mengakar kuat dan melahirkan bentuk keberhidupannya sendiri.
Sebuah contoh kosakata populer yang semakin keras bergaung adalah istilah ’intelektual.’ Kosakata ini akrab dan populer dengan keseharian kita karena para pekerja tampilan di televisi-televisi kita secara intensif menggunakan istilah intelek maupun intelektual dalam banyak tayangan terutama yang berkenaan dengan pendidikan. Sehingga, secara perlahan istilah ini menjadi sebuah kata ilmiah yang cukup akrab di ruang dengar pemirsanya.
Memperbincangkan kata intelektual membuat saya teringat pada sebuah tema debat kelompok yang pernah saya ikuti ketika belajar bahasa asing yaitu Bahasa Inggris. Temanya adalah sepakatkah anda bila yang disebut sebagai orang yang berpendidikan adalah orang yang bersekolah. Tema sederhana ini ternyata tidak sederhana buat saya karena tema ini membuat saya berpikir keras untuk secara personal mendefinisikan ulang istilah yang bahkan sebenarnya sudah akrab dengan ruang dengar saya : orang berpendidikan, karena saya memilih kelompok yang tidak bersepakat dan tentu harus memberikan alasan-alasan sebagai landasan argumentasi.
Bagi kebanyakan orang, jika mendengar istilah ‘orang berpendidikan’ maka hal jamak yang terbersit adalah sekolah atau bahkan gedung sekolahnya, orang-orang yang tengah diwisuda, bapak ibu guru yang berseragam safari nan rapi, para mahasiswa, dosen, atau para pembawa berita dan presenter televisi. Bahkan pasti tidak sedikit pula yang membayangkan para pejabat negara yang petentang petenteng dengan gayanya yang khas dan bermobil mewah. Yang pasti, orang berpendidikan adalah orang yang berada di ranah majikan bukan kacung. Bahkan saat ini dunia para orang berpendidikan ini membedakan dirinya dengan kaum yang dianggap tidak berpendidikan. Bahkan untuk tempat berbelanjapun terbedakan. Orang berpendidikan lebih berkisaran hidup pada area yang bersih dan wangi sehingga mengalirlah mereka ke mini market, super market atau market-market lain, dan mall. Sedangkan kaum yang dianggap tidak berpendidikan tempat belanjanya adalah suatu area yang bernama pasar, bukan market.
Lihatlah, betapa luar biasanya. Orang-orang yang berpendidikan bahkan mulai membedakan komunitasnya dengan kosakata-kosakata yang berbeda. Mereka akrab dan merasa lebih nyaman dengan berbagai kosakata dalam bahasa asing dibandingkan dengan bahasa nasionalnya sendiri, apalagi bahasa daerahnya. Hal yang seakan hendak menegaskan eksistensi kebersekolahannya, keberpendidikannya, dan merasa menjadi komunitas internasional dengan pilihan katanya itu.
Awalnya imaji saya kesana, namun entah mengapa tiba-tiba terbersit sosok para tukang parkir mobil yang bekerja di sekitar Pasar Klewer Solo, tempat ibu saya bekerja. Sebagian besar dari mereka tidak tamat SMA apalagi universitas, namun cara mereka mengatur posisi mobil yang hendak diparkir dengan ketersediaan ruang yang sempit di tengah ramainya arus lalu lintas dengan lebar jalan yang tidak seberapa itu sangat cermat dan lihai dan bahkan bisa dikatakan mereka hampir tidak pernah melakukan kesalahan yang bahkan menyebabkan adanya goresan pada mobil. Sangat profesional, begitu istilah ilmiahnya.
Sebuah ketrampilan kerja yang bagi saya menakjubkan dan luar biasa. Karena kerja seperti ini tentu membutuhkan penanganan cepat dan tepat dibawah tekanan panas yang menyengat dan uap aspal yang pengap atau malah guyuran derasnya air hujan. Salah memberi perintah bisa berakibat fatal dan menghambat arus lalu lintas. Pekerjaan ini dilakukan setiap hari dalam durasi kerja selama sembilan jam dengan resiko dimarahi dan diumpat-umpat yang tentu tidak setara dengan biaya parkirnya. Dan para pemarkir mobil di wilayah Pasar Klewer Solo ini mampu melewati tekanan pekerjaan yang sedemikian rumit ini dengan baik .
Kondisi mereka ini yang membuat saya berpikir ulang tentang definisi orang yang berpendidikan. Orang-orang yang memiliki ketrampilan memarkir seperti ini tentu tidak lahir dari gedung-gedung megah yang bernama sekolah atau apalagi universitas. Ilmu memarkir mobil dengan segala pertimbangan sudut parkirnya, yang hakekatnya adalah ilmu hitung dengan logika sudut dan ruang, adalah ilmu jalanan yang memiliki teori sangat sederhana : berprakteklah menjadi tukang parkir. Dan untuk ini tentunya tidak mungkin dilakukan dibangku sekolah dan di dalam ruang-ruang kelas. Lantas, mengapa tidak mereka disebut sebagai orang berpendidikan juga?
Debat seru yang tidak dinyana menelurkan berbagai wacana baru yang membelalakkan pikiran kami itu memang akhirnya dimenangkan oleh kelompok lawan yang berkeyakinan atau tepatnya meyakin-yakinkan dirinya bahwa istilah ‘orang berpendidikan’ memang lahir dan disematkan untuk mereka yang melewati jenjang pendidikan tertentu melalui jalur sekolah formal. Yang secara ekstrim bahkan ada yang berpendapat harus melewati level minimal S-1 alias bergelar sarjana. Bukankah untuk menjadi pejabat presiden saja minimal harus lulus S-1? Namun ironisnya memang, ada banyak pertanyaan dan kejanggalan yang menggantung dengan konsepsi orang berpendidikan atau yang saat ini lebih lazim disebut sebagai kaum intelektual yang membawa definisi model ini.
Pertanyaan paling mendasar yang kemudian muncul adalah tentang apa itu pendidikan dan apa sekolah itu sebenarnya. Lalu, lantas mengapa pendidikan dan sistem sekolah itu melahirkan ‘orang berpendidikan’ bukan ‘orang bersekolahan’? Lalu lagi, mengapa golongan yang konon katanya melek ilmu pengetahuan ini malah menciptakan strata tersendiri dalam masyarakat bangsanya, sementara sifat ilmu sendiri adalah mencipta egalitas alias kebersetaraan, sehingga ‘orang berpendidikan’ atau ‘kaum intelektual’ kemudian berkesan eksklusif milik golongan menengah keatas karena mahalnya biaya sekolah dan cenderung dikangkangi oleh masyarakat perkotaan yang memang cenderung memiliki banyak lembaga sekolah?
Pertanyaan yang cukup membuat gerah adalah mengapa semakin membumbung angka pengangguran dari mereka yang menyebutkan dirinya para sarjana ini. Bukankah orang yang telah menyematkan nama intelektual pada dirinya pada hakekatnya memiliki kemampuan kualitas pikir yang jauh lebih canggih daripada mereka yang tidak terlalu intelektual?
Pendidikan dan sekolah
Adalah sebuah kenyataan bahwa berbincang tentang pendidikan dan sekolah selama ini seringkali dipahami sebagai sebuah tema perbincangan yang hanya layak dilakukan oleh para pakar pendidikan, guru dan seluruh elemen departeman pendidikan nasional dengan dipandu oleh presenter menarik yang muncul dalam tayangan talkshow di media elektronik, atau dalam tulisan-tulisan menarik para pelaku pendidikan. Padahal, dalam hemat saya, berbincang tentang pendidikan dan sekolah dalam pengertian kekinian itu justru seyogyanya merupakan obrolan khas seluruh elemen masyarakat dalam berbagai lapisan, terutama para perempuannya. Mengapa perempuan? Karena karunia kepemilikan rahim terdapat pada tubuh perempuan. Mengapa dengan rahim?
Rahim adalah tempat calon anak manusia bertumbuh pertama kalinya. Semesta raya pertama manusia dalam mewaktu dan meruang, ruang belajar pertama manusia. Istilahnya, inilah sekolah pertama manusia. Disinilah untuk pertama kalinya manusia bersentuhan dengan hakekat dasar penciptaannya yaitu sebagai makhluk sosial dan makhluk pembelajar. Artinya, secara kodrati desain kemakhlukan bangsa manusia adalah makhluk yang berpendidikan karena tiada seorangpun yang pernah hidup apalagi dilahirkan tidak pernah mengecap universitas semesta pertama ini.
Artinya lagi , secara kodrati perempuan memang telah didesain untuk menjadi pemilik sekolah sekaligus kepala sekolahnya dan juga guru yang pertama bagi manusia. Desain seorang perempuan adalah desain seorang rektor yang memimpin universitas semesta di dalam ruang tubuhnya yang bernama rahim,yang konsekuensinya kemudian adalah bahwa seorang perempuan memang dituntut setiap zamannya untuk menjadi sosok individu yang cerdas dan bijaksana dengan kualitas seorang pemimpin. Ialah yang memimpin sistem pendidikan pertama untuk si calon manusia yang dikandungnya. Setiap perempuan, sehingga, memiliki desain khas pemimpin dan juga guru bangsa. Betapa terasa sangatlah benar ungkapan sederhana yang menyatakan bahwa perempuan adalah tiang sebuah negara.
Untuk urusan tes masuk, universitas ini menggunakan kebijakan seleksi masuk yang paling ketat yang pernah ada di dunia dalam lingkaran zaman manapun. Untuk urusan kurikulum, universitas ini menerapkan kurikulum impian terfavorit saya : Cara Belajar Guru Aktif. Keaktifan sang gurulah yang akan memola kecerdasan dan mendesain kualitas personal sang peserta didik. Keikhlasan sang guru akan memahatkan kebijaksanaan yang dalam dalam diri mahasiswanya itu kelak. Persekolahan pertama ini menandai secara tegas bahwa belajar adalah masalah individual yang sangat personal dan tidak membutuhkan atribut-atribut. Bahwa seorang guru kehidupan tidak boleh berkata tidak siap untuk memberikan seluruh energinya demi keberhidupan sang murid. Bahwa seorang guru hendaklah tidak melepaskan diri dari keilmuannya. Ia tidak boleh melepaskan dirinya dari berkutat dengan diktat-diktat segala macam ilmu bila mengharapkan sang mahasiswa menjadi manusia hebat kelak. Sang guru harus meyakini bahwa dirinya adalah mahaguru untuk mahasiswa kehidupannya itu. Sang mahaguru itu tidak melulu istri raja atau seorang menteri. Sang mahaguru itupun bisa saja hidup di bawah jembatan atau mesti bergulat dengan angin malam di pinggir-pinggir jalan. Sang mahaguru itu bisa perempuan manapun dan dari bangsa manapun.
Sang mahaguru seperti ini, tidakkah boleh menyandang gelar kaum intelektual juga? Atau tetap kita bersikukuh dengan istilah intelektual yang populer dengan menyatakan hanya para sarjana dan calon sarjana alias anak sekolahanlah yang berhak dipanggil demikian? Yang malah konon kabarnya, kepintarannya dari bangku sekolah itu seringkali digunakan untuk men-drop out mahasiswa kehidupannya yang telah berjuang keras memaktubkan dirinya sebagai mahasiswa kehidupan, yang mungkin saja sebenarnya kelak adalah calon pemimpin dunia. Apakah ini gambaran kaum intelektual dibenak kita saat ini?
Yang pasti, bagi manusia ibarat berbincang tentang pendidikan bagi masyarakat sebuah bangsa seyogyanya merupakan hal yang paling menggairahkan karena pendididikan adalah hal yang sangat mendasar dalam rangka keberlangsungan bangsa dan negara yang bersangkutan. Namun berbincang tentang pendidikan masa kini di Indonesia justru menimbulkan silang sengketa dan kebingungan yang tidak berujung layaknya lingkaran kepalsuan seperti yang digambarkan dengan sangat lugas dan menggetarkan oleh Agus R Sarjono dalam sajaknya : Sajak Palsu (1998). Berikut cuplikannya :

Sajak Palsu
Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
Dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, mereka pun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu. Sebagian
menjadi guru, ilmuwan atau seniman palsu.Dengan gairah tinggi
mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu
….

Sajak Agus R. Sarjono ini dengan nyata memotret keadaan dunia persekolahan kita. Dunia yang katanya menghasilkan kaum cendikia, kaum pemikir yang kelak diharapkan memegang estafet kepemimpinan bangsa ini. Sehingga sangatlah ironis rasanya bila dunia yang penuh kepalsuan seperti ini menjadi garda depan sistem yang mencetak para calon pemimpin bangsa.
Lantas, ingatan kita bolehlah melayang pada sebuah gedung parlemen yang katanya merupakan tempat sekumpulan wakil kita berkumpul, Gedung DPR/MPR. Tidak ada orang yang tidak menyebut mereka kaum intelektual. Mereka adalah orang-orang yang berjubel titel dari berbagai universitas, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. Tugas mereka adalah membuat undang-undang yang seyogyanya adalah yang membela kepentingan orang-orang yang diwakilinya. Namun, kita bisa menyaksikan bagaimana tingkah laku mereka demikian hedonis, sama sekali tidak mencerminkan kondisi riil kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia dan juga produk undang-undang yang mereka hasilkan yang lebih menyuarakan dan mewakili kepentingan para pengusaha dan golongan tertentu.
Sehingga agaknya patut kita bertanya-tanya tentang warga kelas mana yang sebenarnya mereka wakili. Bahkan kita juga berhak menduga bahwa mereka sebenarnya adalah para wakil palsu dengan sebutan intelektual palsu yang tidak mampu menghitung biaya logis dari biaya perbaikan kamar mandinya yang setara dengan biaya pembangunan jalan untuk beberapa jalan desa dalam lingkup sebuah satu kecamatan.
Dari sini agaknya kita terpaksa termangu pada sebuah keterbingungan makna kata. Hanya satu kata dan kita akhirnya menyerah pada kuasa tak jelas : apalah tentang intelektual.
Bila kuasa-kuasa seperti ini tidak lekas kita pungkasi pencarian kebermaknaannya, kita semua akan terseret pada kuasa logika para penguasa atas kekuatan makna kata-kata kita sendiri dan distorsi makna kata akan merajalela dan menghanyutkan logika intelektualitas kita sendiri pada pusaran arus zaman. Bila tiada daya makna dari suatu kata, apalah arti sebuah bangsa. Tentu tiada pulalah wajah sang bangsa. Duhai.

Uun Nurcahyanti

Penggerak literasi, tinggal di Pare- Kediri


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: