Oleh: uun nurcahyanti | Januari 13, 2012

ORANG INDONESIA


Seorang teman mengenakan kaus dengan tulisan besar yang menonjol dan hanya terdiri dari dua huruf saja : OI. Orang Indonesia, katanya saat saya menanyakan apa maksud dua huruf tersebut. Ini fans clubnya bang Iwan Fals imbuhnya penuh rasa bangga. Wow! Saya juga salah satu penggemar lagu-lagunya Bang Iwan. Dan dua huruf itu membawa saya pada satu perenungan yang memikat karena berhubungan dengan dua kata indah yang membentuk frase hebat yaitu ORANG INDONESIA. Yah, segala hal tentang Orang Indonesia bagi saya adalah pikat yang pernah usai untuk digali dan diobrolkan.

Kita, Orang Indonesia, adalah orang-orang yang mudah bahagia. Hal-hal kecil saja mampu membuat kita terbahak. Penderitaan orang lain juga bisa membuat kita tertawa-tawa tapi bukan atas nama pelecehan yang sinis, hanya memang karena ada terselip kelucuan dan keterpolosan dalam setiap kejadian. Karena seringkali ternyata ada saja hal-hal bodoh tapi tanpa sadar kita lakukan secara lugas, begitu saja. Ada kekanak-kanakan kita yang lugu dan apa adanya, dan hal tersebut merupakan hal alamiah yang terjadi atas nama gerak alamiah dan kita menerima hal tersebut sebagai bagian dari kebahagiaan dan kesemestian kita dalam menjalani hidup. Hal sederhana yang membuat kita dengan mudah melepaskan tawa begitu saja, spontan tanpa beban. Sungguh berbahagia itu sangat sederhana dan mudah bagi kita.

Beban hidup yang berat juga seringkali kita hadapi dengan tersenyum-senyum saja. Kita adalah sebuah bangsa yang akrab dengan bencana alam dan keprihatinan. Namun hal itu tidak lantas dengan serta merta membuat kita menderita lahir dan batin yang berkepanjangan. Mentalitas yang liat adalah cirri khas keberbangsaan kita yang tak lekang oleh waktu. Bencana demi bencana yang seringkali meluluh-lantakkan wilayah-wilayah komunal kita dianggap sebagai pengingat dan disikapi dengan keikhlasan sebagai bagian dari harmoni kehidupan yang memang tak lepas dari alam sekitarnya.

Bagi sebagian kita sikap semacam ini bisa dianggap sebagai sikap yang bodoh dan dangkal, tapi dari sisi yang berbeda kita juga bisa melihat bahwa hal tersebut adalah sebuah sikap yang mendalam atas keberterimaan dan kebermaafan yang tinggi dan tulus. Sebuah sifat alamiah atas kesadaran untuk berevaluasi diri yang telah mengental dalam darah dirinya, sudah sedemikian mendarah daging.

Sungguh, banyak hal kecil yang membuat kita bahagia dan hidup penuh dengan tawa. Merasa berkesusahan dan menyerah terhadap berbagai tekanan bukanlah bagian dari budaya mendasar yang dimiliki oleh bangsa ini. Dan oleh karena itulah sebenarnya kata ‘stress’ tidak menjadi bagian dari perbendaharaan khas dari keberbudayaan orang Indonesia.

Kata ‘stress’ adalah milik individu yang bermental tidak gampang bahagia dan yang tidak memiliki keliatan mental. Kata ‘stress’ akan merasuki sisi sikap hidup individu-individu yang tidak mudah tertawa dan memiliki sisi keberterimaan yang teramat tipis ataupun temporer. Dan satu hal lagi kata ’stress’ bukanlah kosakata asli dalam bahasa-bahasa daerah yang mendukung kosakata besar dalam bahasa Indonesia.
Artinya lagi, kata ‘stress’ dan segala konsep yang melingkupinya adalah kata dan konsep adoptif yang sama sekali tidak berasa budaya dan adab Indonesia. Bila kita menyadari betul rasa keindonesiaan kita dengan kesadaran sepenuhnya sebagai orang Indonesia, maka konsep ‘stress’ ini pasti bukan merupakan bagian dari desah nafas keseharian kita.

Sehingga, sebenarnya pulalah kita bukan kelompok manusia yang sebegitu sangat membutuhkan hiburan sehingga harus merasa selalu perlu untuk dihibur dan berdarmawisata demi melepas lelah, penat dan segala macam ‘stress’ yang melingkupi keseharian kita, yang membebani jiwa dan raga kita. Mengapa? Karena derap kehidupan kita adalah semesta hiburan yang siap untuk kita santap sebagai menu keseharian kita yang tak lekang kelezatannya untuk dinikmati.
Kita adalah bangsa yang girang manakala bertemu, bertatap muka, dengan diri-diri lain. Kebertemuan itu bagi kita adalah wilayah perputaran ilmu yang bernuansa surga yang penuh hiburan. Cerita-cerita yang bermunculan sebagai pengejawantahan hal yang teralami oleh setiap diri, dan juga peristiwa-peristiwa yang berderap di ruang pertemuan antar manusia inilah wilayah wisata jiwa raga yang sesungguhnya. Dan hal ini adalah jati diri bangsa kita, Indonesia. Inilah rasa khas yang asli Indonesia. Sesungguhnya, sungguh kita bukan bangsa yang haus hal remeh temeh yang bernama hiburan. Juga berwisata.

Namun saat ini kita secara sistematis tengah digiring pada sebuah kesadaran yang maya dan tidak utuh bahwa hidup kita ini beresiko dan penuh tekanan. Bahwa hidup itu berat karena ketatnya persaingan agar tetap bertahan hidup (atau entah bertahan dalam posisi nyaman), sehingga kita butuh hiburan. Dan kata ‘refreshing’pun muncul dan dengan serta merta menjadi populer dan memenuhi ruang pikir kita, mengekalkan keberpikiran kita akan kebutuhan berlibur dan sedikit hiburan, katanya.

Desain sempurna dari sistem serba modal yang berkehendak meraup modal dari bisnis manipulasi alam bawah sadar manusia akan hal yang bernama keinginan yang dibungkus berbagai atribut sehingga nampak seperti kebutuhan mendesak yang memiliki sifat mesti terpenuhkan dan terpuaskan. Yang pada akhirnya mencipta kehendak-kehendak untuk mencari dan mengejar pemenuhan serta pencapaian kepuasan diri.

Desain ini pada akhirnya juga membentuk aliran pemahaman baru tentang berbagai konsep mendasar dalam diri manusia. Termasuk konsep tentang kebutuhan mendasarnya. Pada masa lalu kita memahami tentang kebutuhan pokok dengan konsep 3P, yaitu pangan, sandang dan papan, yang memang seperti itulah seyogyanya. Kebutuhan mendasar dari keberagaan manusia. Tapi pada saat ini kebutuhan itu mulai bergeser pada hal-hal yang sebenarnya sangat tidak substansial seperti menonton televisi, berdarmawisata, berbelanja atau shopping, atau sekedar jalan-jalan ke mall, dan sebagainya.

Hal yang lebih mengarah pada pemenuhan kehausan jiwa yang kita asumsikan sering berkekosongan daripada pemenuhan hak ragawi yang justru memang memiliki mekanisme alamiahnya untuk berkekosongan. Perut memiliki saat untuk diisi dengan member sinyal semesta yang bernama lapar.Tubuh memiliki masa untuk diistirahatkan bila telah berada di puncak lelah. Mata memiliki ketahanan tertentu dalam menerima segala silau dan aneka pandang dunia sekitar sehingga butuh dipejamkan dan terpejamkan sejenak demi sejenak, dan Tuhanpun mencipta hal yang bernama kedipan mata dalam organ tatap makhluknya demi mengisi keberkekosongan ini. Sungguh luar biasa, bukan?

Saat ini, kondisi alamiah dan naluriah yang luar biasa ini mulai memasuki masa kelinglunganya karena dibenturkan dengan kepentingan peraupan modal sehingga manipulasi konsep tentang rasa keberbutuhan manusia menjadi hal yang wajib dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan agar rasa butuh itu muncul secara tampak alami dan wajar atau dengan kata lain bagaimana caranya agar kondisi serba manipulatif ini menjadi sebuah kewajaran atas nama pranata zaman.
Pemanipulasian konsep tentu membutuhkan modal dasar demi menyokong keberhasilannya. Modal dasar bagi kepentingan desain besar pemanipulasian konsep yang nantinya akan menyetir mindset dan mentalitas setiap individu adalah ‘kata’. Dan kata merupakan rangkaian dari huruf yang memiliki makna tertentu.

Sehingga, secara otomatis bila suatu golongan berkehendak untuk menguasai sebuah kaum atau bangsa lain dengan memanipulasi seluruh cara pikir dan cara tindaknya, maka hendaklah ia menguasai huruf-huruf yang nantinya dipakai dalam keseharian si kaum atau si bangsa yang bersangkutan karena setiap diri adalah kitab dan setiap kitab berbahan dasar huruf. Menguasai huruf adalah politik paling mendasar dalam penguasaan individu. Menguasai individu adalah bentuk penguasaan paling hakekat dalam konsep yang lebih besar nantinya yaitu penguasaan kaum, golongan, ataupun sebuah bangsa.

Kelompok yang menguasai huruf akan menguasai kata. Kelompok yang menguasai kata akan mampu memanipulasi konsepsi-konsepsi apapun dalam diri suatu kelompok masyarakat, baik yang konsep bersifat basa-basi ataupun konsep yang mendasar mereka tentang adab dan budayanya. Sehingga kaum dan bangsa yang bersangkutan sedikit demi sedikit dijauhkan dari karakter aslinya, jauh dari keberbutuhan dasarnya.

Konsep dan kata yang telah dimanipulasi tersebut akan menjadi konsepsi baru dalam diri si individu tanpa ia sadar dengan apa yang ada dalam dirinya dan apa yang sebenarnya diinginkannya. Seperti konsepsi ‘stress’ ataupun keberbutuhan akan ‘refreshing’ seperti yang telah diuraikan di atas.

Orang Indonesia yang merupakan sebuah bangsa yang sebenarnya memiliki konsepsi budaya yang liat dan kukuh mental pada akhirnya didesain menjadi sebuah bangsa yang ikut-ikutan mengunyah dan mengkonsumsi konsepsi ’stress’ dan lantas menggunakan kata ‘stress’ sebagai kosakata sehari-hari dengan entengnya seolah ‘stress’ adalah bagian dari nafas hidup kita. Gawatnya, seolah-olah lagi, bila tidak ‘stress’ tidak menjadi bagian dari orang-orang modern.

Sedemikian deras pengaruh kata ‘stress’ ini, maka ia pun membawa serta gerbong kosakata lain yang bermakna dan bercita rasa sama seperti kata ’trauma’ dan ’phobia.’ Seolah-olah kita adalah sebuah golongan anak-anak bangsa bermental rapuh sehingga rentan trauma dan merupakan sebuah bangsa yang bermental kerupuk yang tak tahan cuaca dan pantang tersentuh air. Padahal kita adalah bangsa pelaut yang gagah berani. Padahal belum pernah ada bangsa lain yang begitu hebat dalam penguasaan lautannya dibandingkan kita. Sehingga perlu kiranya penaklukan mentalitas hebat bangsa ini dengan memasukan konsepsi-konsepsi ketakutan yang mampu mencengkeram hati dan jiwa setiap diri anak bangsanya. Dan lahirlah kata ‘phobia’ sebagai bagian dari perbendaharaan kata dalam Bahasa Indonesia demi meruntuhkan konsep dasar keberanian yang menjadi budaya khas bangsa penakluk lautan.
Politik kata memang selalu ditandai dengan lahirnya kosakata-kosakata asing dalam kamus suatu bangsa yang hendak dikuasainya dan nantinya lambat laun menjadi kosakata baru yang populer dan mudah diserap. Terjadilah euforia dalam berkata-kata hingga kita terbiasa berceloteh dengan segala kata itu di seantero ruang hidup kita. Lantas, dengan asyik masyuk kitapun melahirkan kata-kata dengan cita rasa sama dalam bahasa kita sendiri. Itulah gegap gempita kemenangan politik kata dengan penjajahan dan pemanipulasian konsep pikir dan konsep tindak setiap diri pada sebuah bangsa.

Dan dengan tanpa sadar kita terus digiring untuk senantiasa ’haus hiburan’ sehingga kita merasa wajib nonton televisi. Dan para pemilik stasiun televisi pun terus menjaga mindset pemirsanya bahwa mereka adalah sekelompok orang ‘stress’, kelelahan, dan traumatik sehingga senantiasa butuh hiburan. Dan akhirnya program hiburan hadir begitu marak dalam dunia petelevisian kita dengan kosakatanya yang begitu membumi yang bernama ‘entertainment.’

Gilanya, segala hal yang bernama hiburanpun akhirnya menjadi wacana yang begitu marak sehingga kata ‘entertainment’ inipun diadopsi dengan membabi buta. Dan karena orang-orang Indonesia pada dasarnya (lagi) adalah manusia-manusia super kreatif, maka muncul kosakata baru yang beranak pinak dengan cepat dengan dasar kata ‘entertainment’ ini. Seperti edutainmen dan infotainmen. Seakan ketercemasan dan penyakit mental kita sebegitu akutnya sampai-sampai bila suatu hal atau kondisi tidak bercirikan suatu hiburan maka hal tersebut tidak memikat. Hingga hal yang bersifat sangat mendasar seperti pendidikan dan bahkan informasipun dianggap perlu untuk disisipi wilayah hiburan juga.

Dan, kata ‘hiburan’pun membawa saudaranya yang katanya jauh lebih berwibawa dan memiliki cita rasa lebih legit yaitu ’wisata.’ Kata wisata pun menjadi kosakata populer pengganti penggalan kata ‘entertainment’ yang lebih berbau asing dan kurang akrab bagi sebagian besar kalangan di Indonesia. Dan bum! Menjamurlah sagala frase yang mencomot kata ’wisata’ ini : desa wisata, wisata air, wisata religi, wisata hati, wisata kuliner, wisata pendidikan dan wisata-wisata lainnya. Dan departemen pariwisata yang dulunya mati suri pun akhirnya kebanjiran tugas yang mengalir deras. Departemen pariwisata menjadi departemen primadona karena kehadiran kosakata yang ditelurkan oleh kepentingan dunia usaha yang membawa (atau terbawa) arus kosakata ’wisata’ ini.

Kitapun sebagai bagian dari masyarakat pemilik kosakata ini tidak bisa tidak seakan diharuskan menelan kosakata yang ‘berpenampilan manis’ ini, wisata dan hiburan. Mengapa saya katakan ‘berpenampilan’ yang mengesankan keseolah-olahan? Karena keberhadiran kata-kata ini memang diawali dengan pembungkusan konsep pikir kita tentang kebutuhan kita akan hiburan dan berwisata itu sendiri. Bungkus identik dengan penampilan. Penampilan bermakna mematut-matutkan diri dengan situasi dan keadaan yang akan dihadapi. Dan mematut-matutkan diri tentu tidak semakna dengan tampil apa adanya, atau dengan kata lain dengan penuh kesadaran mau sekedar menjadi diri sendiri.

Mematut-matutkan diri sangatlah dipengaruhi oleh kondisi dan situasi diluar diri orang yang tengah mematut-matutkan dirinya, sementara tampil apa adanya tidak terpengaruhi oleh segala macam hal diluar kemauan dirinya. Dua kondisi yang sama sekali berbeda. Dan bila kebutuhan akan hiburan dan wisata itu adalah karena pengkondisian lingkungan yang seperti saat ini tengah bertumbuh subur di negeri orang Indonesia ini, maka kita seyogyanya memaknai kembali kebutuhan itu saat keinginan itu tumbuh. Kita juga seharusnya mengonsepkan kembali kata ‘refreshing’ yang selama ini seringkali kita telan begitu saja dan kemudian kita sepakati dengan takzim seolah menjadi kebutuhan hidup yang mendesak untuk segera terpenuhkan itu.

Sahabat, kita adalah orang Indonesia yang memiliki karakter khas yang keterhiburan yang alamiah. Lingkungan dan orang-orang yang berada di sekitar kita ada kegirangan-kegirangan yang didesain alam untuk memenuhi keberadaban kita sebagai bangsa. Bertemu muka dan berbagi cerita kehidupan adalah budaya khas kita yang menghidupi setiap aliran darah kita dengan beragam hikmah. Kita adalah sekumpulan komunitas yang berkarakter teatrikal dengan sejarah kebudayaan dan kebersenian yang kuat dan mengakar. Dalam setiap diri manusia Indonesia adalah pencerita dan aktor sekaligus biduanita. Kita adalah penghibur alamiah yang mudah tersenyum dan tertawa bahagia karena hal-hal sederhana di sekitar kita. Kitapun mampu dengan sigap bangkit kembali di saat mengalami aneka keterpurukan. Penderitaan memang bisa membuat kita menangis dan berduka, tetapi kita dengan mudah akan tertawa lepas begitu saja saat mengenangnya, saat mengungkapkannya.

Sahabat, kita adalah sebuah bangsa yang memiliki sejarah panjang tentang perjuangan demi mempertahankan segala bentuk kehidupan kita. Kita adalah bangsa pelaut yang jauh-jauh hari sebelum Columbus menginjakkan kakinya di benua Amerika, kita bahkan telah mencapai ujung Amerika Selatan sekitar 3.500 tahun yang lalu. Kita adalah sebuah bangsa yang bertabur darah keberanian yang melegenda.
Dan seyogyanya kita tidak membiarkan dan pasrah begitu saja saat kata-kata mulai menggerogoti karakter khas dan khasanah budaya indah kita yang tinggi dan alamiah itu. Sebuah kata memang hanyalah rangkaian huruf, kawan, tapi ia adalah sesuatu yang mampu berdiam di benak setiap kita dan bisa saja kita ucapkan setiap waktu. Kenapa kita tidak mulai saja membangunkan keindonesiaan kita. Mungkin akan beresiko kita disebut sebagai orang udik, wong ndeso. Bukan golongan orang-orang modern. Memang kenapa bila kita udik? Kenapa bila kita Ndeso? Kenapa harus takut disebut orang Jawa yang njawani? Kenapa harus jerih disebut sebagai orang Minang, Bugis, Melayu dengan segala khas yang dimilikinya?

Sahabat, bila modern, Jawa, Sunda, Mandar, Dani, Dayak, Sasak adalah sekedar sebutan dan pengistilahan, mengapa kita tidak berani menyebut diri kita sebagai ORANG INDONESIA saja? Yah, Orang Indonesia yang apa adanya, yang tampil dengan karakter keindonesiaan kita. Agar orang tidak meremahkan dan bertanya, “ Memang ada apanya Indonesia itu?”

Andai kita tidak menggali keindonesiaan kita, kawan, maka kita akan menjadi Orang Indonesia yang seadanya alias Indoneia KTP saja. Gitu.

Pare, 13 Januari 2012
Uun Nurcahyanti


Responses

  1. Saya [Husen/Tarjo] SANGAT-SANGAT Bangga Menjadi Penduduk Asli Indonesia, “orang pertama indonesia yg akan menyatukan DUNIA dan TIDAK AKAN KORUPSI selama Hidupnya” **

    > Tarjo kelahiran “Pulogadung, Jakarta” perpaduan dari suku dan karakter yang berbeda, dengan [Bapak “Ciamis, Sunda” dan Ibu “Prambanan, Jawa”]

    ** Semoga tidak berlebihan ya miss… ^_^

    • siip Sen..semoga kau tidak pernah lupa pintamu sendiri ini…amiin…

  2. “menjadi Orang Indonesia yang seadanya”

    saya suka penggalan kalimat ini..
    tulisan yg menarik mba..
    “Suka ngga suka inilah Indonesia kita..!”

    • Salam Indonesia mas,inilah kita dengan keragaman identitasnya.Mari menguatkan perbedaan kita demi berbhinneka tunggal ika mas…

    • Salam Indonesia mas,inilah kita dengan keragaman identitasnya.Mari menguatkan perbedaan kita demi berbhinneka tunggal ika mas…


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: