Oleh: uun nurcahyanti | Januari 12, 2012

INDONESIA KITA


Hari ini adalah hari Kamis, 5 Januari 2012. Hape saya bergetar pertanda ada sms masuk. Dua sms masuk dan langsung memenuhi ruang pesan. Wow, 16 sms! Niat betul teman yang mengirimkannya. Inilah isi sms tersebut :

“Sore hari ini sekitar 120 an mahasiswa dari 35 kampus akan bertemu untuk berbicara bagaimana menurunkanSBY. Gila! Apa mungkin bisa anak2 muda pembangkang itu menurunkan SBY? Dari mana rumusnya uang jajan mampu melawan uang korupsi ratusan trilyun rupiah? Sinting! Darimana rumusnya pena bisa mengalahkan senjata, mana sanggup buku membungkam mesiu!

Mimpi kali yee kalau sepatu kets bisa mengalahkan sepatu lars, sama tidak mungkinnya mengadu metromini dgn panser baja. Mahasiswa itu pasti kumpulan anak muda tidak waras yg ilmu matematikanya pasti rendah. Coba bayangkan siapa orang yg ingin mereka turunkan, Presiden! Presiden yang dililndungi 600.000 tentara bersenjata dgn 2.500 kendaraan lapis baja, 400 pesawat tempur, 400.000 polisi, 15.000 satpol PP, dan puluhan ormas pendukung SBY. Lalu apa yang dimiliki mahasiswa?

Coba dengar apa kata mahasiswa, ‘Kami tidak punya apa-apa kecuali SEMANGAT, KETULUSAN, KEBENARAN, SOLIDARITAS, PENGETAHUAN, MASA DEPAN, KEYAKINAN, dan yang pasti adalah CINTA. Itu sudah menjadi modal perjuangan yang akan mampu mengubah angin menjadi taufan, mengubah riak menjadi gelombang, mengubah hujan rintik menjadi badai, menggelorakan samudera, meledakkan gunung api, menjungkirbalikan semua kesombongan…Itu semua adalah modal terpenting yang akan menentukan kemenangan perang dimanapun. Dan kami tahu, SBY tidak memiliki itu semua!’

Dan dengan Tshirt lusuh, jeans belel dan ditemani aqua dan goreng pisang petemuan anak-anak muda itu berlanjut dgn gaya mereka yg polos, lucu, apa adanya…Mereka jiwa2 muda yang menjadi pertanda bahwa HARAPAN itu masih ada! Masa depan yang gemilang bagi Negeri ini bukanlah impian! Keep on fighting for Justice and Democracy! Bravo Mahasiswa!”

Saya tidak tahu harus berperasaan bagaimana. Senang, bersemangat atau justru prihatin. Ingatan dan perasaan saya langsung melesat kepada kenangan pada Gerakan Reformasi 1998. Gerakan reformasi 1998 terasa penuh dengan semangat kepahlawanan yang menggetarkan. Apalagi saat itu saya masih belum lama selesai kuliah sehingga semangat perlawanan akan kondisi negara yang carut marut dan stagnan masih begitu menggebu dan sangat tinggi. Rasa-rasanya semakin hari keberanian dan gelora semangat untuk menurunkan Presiden Soeharto pada waktu itu semakin mengental dan menguat. Rasa takut dan nyali yang ciut sdikit demi sedikit terkikis semangat perbaikan diri yang membuncah, muncrat keseluruh sendi-sendi hidup di seantero negeri Indonesia ini.

Namun, 13 tahun perjalanan reformasi yang heroik dan penuh puja optimisme itu lambat laun melantunkan kesumbangan-kesumbangan pikir dan tindak penguasa. Lagu-lagu perjuangan yang baru saja diciptakan dengan gagah dan penuh pesona keberanian malah diaransemen ulang dengan cepat demi memenuhi selera penguasa dengan dalih menyesuaikan diri dengan zaman dan perubahan yang dibungkus dengan slogan demi selera pasar agar tidak terkucil dari pergaulan internasional.
Semangat reformasi pada masa lalu belum disertai dengan konsep kedepan yang kokoh sebagai arah pijakan untuk melangkah menuju Indonesia yang lebih baik. Masih saja ada penjualan aset-aset negara dan kekayaan alam negeri Indonesia ini kepada pihak asing dan swasta, yang malah semakin terang-terangan dan dengan dalih transparasi justru mengguritakan jarring-jaring konspirasi.

Hebatnya, bukan sekedar persekongkolan para pedagang, tapi juga para pejabat negara yang notabene merupakan pihak-pihak yang memperoleh amanah besar rakyat. Bahkan persekongkolan para pejabat antar negara pun. Seakan merupakan slide-slide film yang memang tak risih untuk dsajikan secara gegap gempita di media-media yang memang dibuat serba puja pesona, penuh kepura-puraan nan fiktif sehingga semakin sulit membedakan yang nyata dan maya.

Semangat reformasi yang sebenarnya menyala dari api harapan akan perubahan yang lebih baik seakan menjadi lagu sedu sedan yang ruh perjuangannya raib entah ke sisi dunia sebelah mana. Namun bukan berarti saya berkehendak untuk mengecilkan api perjuangan yang tengah dikobarkan kembali demi mewujudkan kembali cita-cita reformasi yang masih belum sepenuhnya mewujud tersebut. Saya hanya hanya hendak mengedepankan pemikiran yang tidak setengah matang atau justru setengah terbakar, bahwa masalah paling mendasar dalam diri bangsa ini adalah masalah mental dan tata pikir.

Tak peduli siapapun yang bakal memegang tampuk kepemimpinan tertinggi di negeri ini, namun bila kita masih bermental bahwa pemimpin sebuah negeri adalah penguasa, maka yang terjadi adalah penguasaan dan terkuasai. Penyelenggara negara yang dipandang sebagai penguasa negara akan bertingkah seperti layaknya penguasa dan bermental penguasa dimana segala hal diluar diri dan lingkup mereka menjadi hal yang dikuasai, dan karena dikuasai maka pihak yang dikuasai berhak untuk dieksploitasi dan dieksplorasi atas nama kekuasaan yang bisa berkedok apa saja, dengan dalih apa saja.
Mentalitas penguasa tidak sama dengan mentalitas kepemimpinan. Penguasa berpotensi untuk jatuh pada karakter yang bernama penguasaan. Sementara, penguasaan sendiri memiliki keterkaitan makna dengan pengangkangan yang memiliki sifat yang akrab disebut dengan istilah kebablasan. Penguasaan juga berkerabat dekat dengan konsep mengalahkan. Bahwa komunitas yang kuatlah yang berhak atas kehidupan dan penghidupan. Bahwa komunitas yang lemah dan serba tidak mampu adalah golongan budak yang bertugas mengabdi dan melayani yang menang, si penguasa.

Dalam konsep menguasai dan terkuasai tidak ada hal yang bernama persamaan derajat, horisontalitas adalah maya. Hal yang tampak sangat nyata adalah keserba-vertikalan,serba atas bawah. Sehingga wajar kiranya bila kemudian lahir istilah pemerintahan dan pemerintah. Dan ‘pemerintah’ bisa disepadankan dengan si pemberi perintah alias pihak yang memberi imperatif-imperatif yang bersifat perintah, suruhan, bukan imperatif yang bersifat meminta apalagi memohon.

Kesan kata memerintah dan menyuruh tentu jauh dari kesan pengayoman dan pengasihan yang utuh. Jauh juga dari filosofi menghargai dan serba menghormati. Berbeda sekali dengan pilihan kata yang digunakan Tuhan. Tuhan saja sebagai pemilik alam semesta beserta isinya bersabda : “ Mintalah kepadaku, dan niscaya Aku kabulkan.”

Betapa Maha Sopannya Sang Pemilik Kehidupan itu. Kekuasaannya yang tanpa tanding itu bukanlah sebuah narasi yang beraroma kecongkakan yang kental, tapi justru dijadikan keteladanan indah dengan penggunaan kata-kata santun justru pada saat memamerkan kemahakuasaan-Nya. Betapa Tuhan saja meminta, bukan main perintah dan sok menguasai padahal hidup mati setiap individu ada didalam genggaman kekuasaannya. Padahal begitu nyata tanpa terbantahkan bahwa tuhan benar-benar maha kuasa.

Sementara kita sebagai makhluk justru menggariskan kekuasaan atas nama penyelenggaraan sebuah negara, suatu wilayah di bumi Allah dengan komunitas bangsanya. Bahkan kita begitu saja mencomot kata penguasa dan pemerintah, dan pemerintahan, dengan tanpa pengkajian atas makna mendasar dari kosakata yang bersangkutan dan akibat dari penggunaan kosakata tersebut terhadap mentalitas para anak dan awak bangsanya dan juga masa depan bangsa itu sendiri. Tidakkah kita terasa begitu congkaknya, kawan?

Dari logika kosakata pemerintahan dan penguasaan ini kemudian muncul berbagai istilah yang menggambarkan kepemimpinan dalam konsepsi vertikalitas seperti : pucuk pimpinan, pemegang tampuk kekuasan, atasan, bawahan, bapak pimpinan, anak buah, kepala negara, kepala sekolah, dan kepala-kepala lainnya. Yang dari pengistilahan itu jelas terlihat adanya jenjang levelitas yang pasti berkonsep atas-bawah. Dan pemimpin adalah bagian teratas dari konsep ketubuhan benda yang diambil.

Sebenarnya bila ditilik lebih jauh pengistilahan ini lebih banyak mengadopsi gaya imperialis yang memang penuh tangga hierarki kekuasaan yang konon katanya untuk menggambarkan kesantunan dan perbedaan derajat antar individu dengan raihan posisi yang dicapai si individu sebagai perlambang tingkat sosial dan kemapanan dirinya dalam masyarakat. Pangkat dan gelar-gelar, kemudian, menjadi bagian penting dan nafas hidup komunitas ‘kerajaan’ ini. Hal ini tampak jelas pada gelar-gelar yang disandangkan pada para maharaja, permasuri, keluarga kerajaan, dan para punggawanya yang memiliki sisi pembeda yang khas dan jelas dengan komunitas yang tak bergelar yang biasa disebut sebagai rakyat jelata. Kondisi yang pada akhirnya memicu persaingan untuk mencapai suatu raihan gelar tertentu demi mendongkrak posisi sosial seorang individu dalam masyarakat.
Konsepsi ini tentu berbeda bila kita mengambil contoh sederhana dalam sebuah proses dalam fisika yang dikatakan sebagai posisi statis. Misalnya dalam pembentukan sebuah gunung pasir dengan cara menaburkan pasir dari atas untuk mendapatkan model gunungnya.

Ternyata secara nyata akan terlihat bahwa pada saat ujung gunung semakin ke atas, semakin jenjang, maka akan selalu ada bagian yang runtuh ke bawah untuk menguatkan pondasi gunung demi memondasi kuantitas luas dan ketinggian gunung yang hendak dibuat. Material-material yang beruntuhan itu terutama adalah material berat seperti kerikil dan batu yang ternyata akan berdiam di bagian bawah dan saling memondasi.

Dari percobaan kecil ini terlihat jelas bahwa untuk mencapai tingkat ketinggian yang maksimal, maka keruntuhan-keruntuhan yang terjadi akan semakin riuh dengan material-material berat yang bergelontoran turun untuk saling menguatkan. Semakin luas area menyebaran runtuhannya dan semakin kokoh pondasi yang menguatkan kaki gunungnya, maka akan semakin tinggi puncak gunung yang akan terbentuk nantinya.

Andai kepemimpinan adalah puncak gunung seperti pada konsepsi vertikalitas, maka sesungguhnya puncak-puncak ini adalah hal sangat temporer yang nantinya akan meluruh untuk menopang kebesaran dan ketinggian si gunung. Andai sang puncak tak mau meruntuh, maka sang gunung juga tak pernah bisa membumbungkan dirinya dan menjadi gunung berpuncak tinggi luar biasa, sehingga istilah pucuk pimpinan tidak akan pernah dipakai dalam konsepsi komunitas dan keberbangsaan yang menggunakan filosofi gunung sebagai dasar pembentukan adab dan budaya bangsanya. Mengapa? Karena pemimpin dalam konsepsi komunitas jenis ini adalah pemondasi komunitasnya, si gunung, agar komunitasnya tersebut bisa mencapai puncak-puncak ketinggiannya.

Para pemimpin dengan filosofi ini sangat menyadari bahwa fungsi kepemimpinan adalah untuk membawa komunitas pada puncak pencapaiannya dan untuk itu maka pemimpin bertugas untuk mengokohkan komunitas, memondasi bangsanya.

Pemimpin adalah kaki-kaki gunung yang mengokohkan. Mereka adalah orang-orang yang siap melayani dan berkorban besar demi keterkokohan komunitas bangsanya. Pemimpin bukan puncak gunung yang angkuh dan enggan meruntuh sebagai bukti ketulusannya dalam mengabdi demi bangsa dan negaranya. Puncak gunung dalam konsepsi ini adalah gerakan angkatan muda yang menggelegak dan gelisah sehingga tak bisa duduk tenang untuk terus berdiam diri. Seperti halnya batu-batu gunung yang terus membangun dirinya dalam kawah gunung yang nantinya muncul dengan matang ke puncak gunung untuk selanjutnya meruntuh demi tanggung jawab dan panggilan pengabdian bagi keberlangsungan hidup sang gunung, demi pencapaian tertinggi sang gunung. Sehingga pemimpin pun disadari sebagai kerja kolektif yang berdasar pada kesadaran atas pengabdian yang setulusnya pada kebesaran bersama, yaitu komunitas. Bukan kebesaran si kerikil semata atau sebongkah batu saja. Karena butir-butir kerikil maupun bongkahan-bongkahan batu adalah bagian dari konsepsi tubuh sebuah gunung. Bukan gunung itu sendiri.

Dalam konsepsi keberkomunitasan yang seperti ini, tentu tidak akan muncul istilah pucuk pimpinan dan tidak ada istilah penguasa apalagi pemerintah karena kepemimpinan adalah kerja kolektif, tempat individu-individu yang siap menjadi pelayan dan benar-benar mengabdi demi komunitas yang ditopangnya. Pemimpin adalah orang-orang yang siap mengalami penderitaan dan berani mengambil resiko tersebut demi memikirkan kepentingan besar komunitas yang ditopangnya. Pemimpin adalah bongkahan kekuatan yang tak patah oleh keterinjakan dan lapuk oleh beban yang mendera diri-diri komunitasnya.

Kepemimpinan ala gunung ini hanya bisa dimiliki oleh individu-individu yang penuh cinta dan pemberani. Bukan cinta pada posisi dan jabatannya, tetapi cinta pada setiap komponen komunitas yang dipimpinnya. Cinta yang pastinya harus luar biasa, sebuah cinta mati yang tak menyurutkan nyalinya untuk berkorban demi orang-orang tercintanya. Sebuah cinta yang kukuh dan hebat yang dipersembahkan hanya demi mereka yang dipimpinnya, bukan pada fasilitas dan semu-semu yang melenakan.

Para pemimpin dalam filosofi gunung ini adalah kumpulan para pemberani yang senantiasa mempersiapkan dirinya untuk tak gentar menyambut resiko. Mereka bukan sekedar orang yang berani memegang jabatan, tetapi mereka juga orang yang berani menjalankankan amanahnya dengan penuh rasa tanggung jawab. Dan berani mempertanggungjawabkan amanah atau mandat yang disampirkan dipundaknya. Mereka juga merupakan individu yang tidak hanya berani kaya dan tehormat karena gelar dan kemuliaan jabatan yang disandangnya, tetapi mereka juga merupakan kumpulan orang hebat yang berani miskin atau mengambil pilihan kebersahajaan dalam kehidupannya demi memperkaya komunitas dan peradabannya, bukan memperkaya diri dan kerabatnya. Mereka para pemimpin yang menyadari bahwa untuk menjadi gunung tertinggi bukanlah dengan menjadi bongkahan batu terbesardan memuja kebesaran bongkahannya itu, tetapi bongkahan besar itu dipersembahkan sebagai pengabdian tanpa pamrih kecuali kebesaran komunitasnya dan ketinggian peradaban bangsanya.

Mereka juga sekelompok jiwa yang tidak takut akan kematian, keruntuhan, tetapi mereka juga para jiwa yang berani hidup.
Keberanian mereka untuk hidup tak kan lekang oleh masa karena hakekat hidup bagi para pemimpin jenis ini adalah keberhidupan jiwa. Kematian raga tidak akan merenggut kehidupannya. Raga boleh terkubur, kematian boleh menjelang dan merenggut raga-raga mereka, namun hidup mereka akan terus berlanjut melintasi ruang-ruang zaman.

Mereka adalah manusia-manusia yang tidak hanya sekedar berani memiliki mimpi besar untuk dirinya sendiri dan hidup hanya berpusat pada keakuan dirinya, tetapi mereka adalah orang yang dengan gagah berani membagi mimpi mereka untuk semesta yang melingkupinya. Pecahan mozaik mimpi-mimpi itu adalah serpihan-serpihan kehidupan dan pencerahan bagi setiap diri dalam komunitasnya. Pecahan mimpi yang tidak akan pernah habis meski masa berputar dan kejadian berganti sekelupas demi sekelupas.

Konsep ini saya istilahkan dengan konsep berkomunitas, berkebangsaan, yang berkiblat pada horizontalitas. Konsep kepemimpinan yang secara langsung dicontohkan oleh Tuhan dengan diturunkannya para nabi yang memondasi setiap zamannya. Konsep sederhana yang sebenarnya bukan tidak mungkin untuk diadopsi.

Sayangnya, konsep kepemimpinan para nabi inilah yang saat ini belum lagi kita temukan dalam diri individu-individu yang menyelenggarakan dan menjalankan roda kebernegaraan di negara kita tercinta ini. Sandainya konsep keberkomunitasan kita dan para pemimpin bangsa masih berorientasi vertikalitas bukan horizontalitas, maka sebenarnya gerakan rekan-rekan mahasiswa atau gerakan apapun yang bertujuan untuk meruntuhkan rezim yang tengah berkuasa tidak akan menemukan jalannya yang lempang dalam menuju kehidupan bernegara yang jauh lebih baik karena permasalahan utamanya adalah konsepsi keberbangsaan, mentalitas berkomunitas kita. Dan perjalanan ‘mereparasi Indonesia’ pun akan mengalami kemandegan-kemandegan substansial lagi seperti perjalanan 13 tahun pasca gerakan reformasi 1998 , kemandegan keteladanan dan kepemimpinan nasional.

Pare, 12 Januari 2012
Uun Nurcahyanti


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: