Oleh: uun nurcahyanti | Desember 30, 2011

TENTANG TIGA KATA


Suatu hari dulu, seorang sahabat memberikan sebuah artikel hebat tentang tiga kata hebat yang saat ini mulai hilang dari dunia kosakata keseharian kita. Ketiga kosakata itu adalah ‘tolong’, ‘terima kasih’ dan ‘maaf’. Menurut artikel tersebut, tiga kata ini mengandung nilai moral yang tinggi namun saat ini mulai menghilang dalam kamus keseharian kita secara wajar.

Memangnya menghilang seperti apa yang dimaksud dalam artikel tersebut? Artikel tersebut menyoroti bahwa ketiga kata yang berdaya tersebut diatas saat ini lebih sering muncul dalam konteks yang serba formalistik dan normatif belaka, bukan lagi digunakan secara akrab sebagai bagian intim dalam sistem keberbahasaan kita. Padahal kata-kata ini adalah bagian tak terpisahkan dari budaya tutur di berbagai suku di Indonesia.

Kata ‘tolong’ adalah sebuah ungkapan penghalus yang bernilai budi pekerti tinggi demikian juga dengan kata ‘maaf’, sementara kata’terima kasih’ adalah kata yang didalamnya dipenuhi oleh muatan kesantunan dan rasa kebersyukuran atas segala yang terjadi maupun apa–apa yang telah dilakukan oleh orang lain pada kita.

Artikel tersebut mengingatkan kita agar kembali menggali makna kata tersebut dengan benar dan mendorong kita untuk menggunakan ketiga kosakata yang mulai sekarat keberadaannya tersebut dengan lebih intim karena ketiga kata tersebut adalah bagian dari jati diri bangsa.

Artikel tersebut menarik bagi saya karena menurut sahabat saya artikel tersebut hebat, bahwa kata ‘tolong’, ‘terima kasih’, dan ‘maaf ‘yang sederhana itu ternyata memiliki makna yang dalam yang selama ini luput dari perhatiannya. Bagi saya pribadi, kemudian, isi artikel tersebut menjadi bahan perenungan yang cukup menarik selama beberapa bulan terakhir ini.

Pertanyaan mendasar yang cukup menggelitik adalah : mengapa ketiga kosakata tersebut menjadi terasa asing dan kurang akrab ternyata bagi sebagian besar orang. Sementara, memang, kalau bagi saya pribadi saya cukup akrab dengan kosakata-kosakata tersebut. Lantas, kondisi apa yang melingkupi konteks yang seharusnya menjadi wadah persemaian si kosakata tersebut?

Dari pencarian dan pengamatan saya akhirnya ada satu kesimpulan yang cukup menarik dan memang seyogyanya menjadi perhatian yang cukup serius bagi kita bila kita ingin kembali menghidupkan kosakata-kosata berdaya milik bangsa kita sendiri itu. Kesimpulan itu adalah bahwa ternyata dalam ruang lingkup keluarga Indonesia, pemberian contoh dari orang tua kepada anak mengenai aplikasi langsung penggunaan kosakata ini sangatlah kurang. Demikian juga dalam konteks kemasyarakatan. Pemberian contoh dari penguasa atau para pejabat sebagai pemimpin komunitas ke masyarakat juga sangat minim. Celakanya lagi di ruang-ruang pendidikan pun terjadi hal yang demikian. Guru kurang memberi keteladanan kepada para siswanya dalam mengeksplorasi konsepsi kata ‘terima kasih’,’tolong’ dan ‘maaf’ dalam keseharian secara wajar dan alamiah.

Kondisi ini yang pada akhirnya mengikis keberadaan kata-kata tersebut dalam keseharian kita dan kemudian kitapun merasa asing dengan perkataan tersebut. Dari ketiga kata tersebut, konsep ‘terima kasih’ dan ‘tolong’ masih sedikit terselamatkan karena ‘terima kasih’ masuk kedalam kata tehnis di wilayah pemasaran dan merupakan bahasa basa-basi di dunia usaha sebagai bagian dari etika kepatutan dagang. Meski konsep ‘terima kasih’ ini pada akhirnya tetap hidup sebagai pemanis bibir semata, namun gaungnya masih terdengar. Dan bila kata ini dengan ikhlas kembali diadopsi oleh ayah dan bunda sebagai bahasa keseharian yang penuh nilai dan makna, maka ruh kata dahsyat ini akan kembali menjadi bagian dari peradaban luhur bangsa Indonesia ini.

Sahabat, pembumian kembali kata ini sangatlah mudah dilakukan yaitu dengan membiasakan diri untuk menghargai hal sekecil apapun yang dilakukan oleh anggota keluarga kita dengan ucapan khas yang tidak susah diucapkan,”Terima kasih,Nak…” atau “terima kasih ayah..” dan sebagainya. Kata kuncinya adalah bahwa kata ini harus dimunculkan dan dibiasakan oleh para orang tua terlebih dahulu sebagai contoh nyata bagi anak-anaknya. Dan kata bersahaja ini pasti akan menjadi tradisi hebat dalam budaya khas Indonesia yang memang serba saling menghargai.

Demikian juga dengan kata ‘tolong’. Kata ini mulai meluntur karena konsep majikan-pembantu berkembang sedemikian pekat dalam alam kapitalisasi ini. Banyak orang yang butuh pekerjaan dan pada akhirnya memutuskan untuk menjadi pekerja. Para petani meninggalkan sawah dan kebunnya demi menjadi buruh. Kapitalisasi juga menyebabkan terjadinya perubahan sistem mentalitas masyarakat yang serba bersendikan materi dengan budaya kepemilikan yang sangat tinggi seperti layaknya anak usia 1-3 tahun yang tengah belajar konsep kepemilikan dan keakuan saja.

Kondisi ini menimbulkan kecurangan dan kelicikan gaya para majikan yang melahirkan budaya nepotisme dan kolusi demi mempertahankan gengsi para majikan. Dan karena budaya dan semangat kolonialisme masih kuat mencengkeram nurani bangsa-bangsa terjajah maka penghisapan uang rakyat yang seperti tak bertuan pun menjadi kultur yang membiak secara sangat cepat. Merajalelalah budaya korupsi.
Ketiga hal ini sebenarnya hanya bermuara pada satu hal saja yaitu langgengnya status dan pola majikan yang nyaman dan serba terladeni.

Para petani dan nelayan yang terabaikan oleh sistem ekonomi dunia pun terpaksa mengais rezeki sebagai pembantu. Dan gaya yang sok majikan ini pun melahirkan budaya memerintah, sehingga jadi terasa sah dan wajar bila majikan kerjaannya adalah berteriak-teriak memerintah para pembantunya. Sistem kelas majikan-pembantu inilah yang sebenarnya memiliki andil besar dalam mengkerdilkan dan melenyapkan konsepsi mendalam dan luar biasa dari kata ’tolong’. Karena majikan terbiasa memerintah bukan minta tolong untuk dibantu oleh para pembantu.

Sayangnya, konsep ini kemudian membiak di pelbagai strata masyarakat. Pemimpin komunitas alias pemerintah juga mengadopsi konsep majikan dan pembantu, lembaga pendidikan juga tak jauh beda, dan yang paling memiriskan hati adalah dalam hubungan orang tua dengan anak pun ikut-ikutan mengadopsi konsepsi ini.Astaghfirullah…

Dalam konteks orang tua dan anak konsep ini saya katakan memiriskan karena konsep majikan-pembantu akan menimbulkan kesenjangan yang luar biasa antara orang tua dan anak. Anak, kemudian, sangat berpotensi untuk menjadi sasaran ekploitasi orang tua karena orang tua yang terlalu sering memerintah anak-anaknya lambat laun bisa merasa berhak atas diri anak bukannya berkewajiban sepenuhnya atas diri anak. Pengadopsian konsep majikan-pembantu inilah yang berandil besar mengebiri nafas hidup kata ’tolong’ dalam masyarakat bangsa ini.

Kata ’tolong’ yang merupakan penghalus suatu perintah yang mencerminkan tingginya peradaban suatu komunitas tidak mungkin hidup dalam iklim saling memerintah dan serba memaki ini. Karena kata ‘tolong’ lebih berasa kata meminta dan memohon yang tentu bukan bahasa tehnis untuk memberi suatu perintah atas suatu pekerjaan yang bernilai materi. Kata ‘tolong’ hidup dalam nilai moral dan bertumbuh dalam iklim penuh penghormatan dan moralitas.

Dari kondisi ini, wajib agaknya kita berprihatin atas daya hidup kata ‘tolong ini. Membudayakan meminta tolong kepada anak-anak kita dengan menggunakan kata ‘tolong’ agaknya adalah hal mudah yang pantas untuk disemaikan kembali dalam tutur keseharian kita. Baik di rumah maupun di ruang-ruang kemasyakatan kita.

“Nak, tolong ambilkan sapu…”, atau “Pak, tolong laporannya segera diselesaikan!” Ah, rasanya tidak sulit kok memulai suatu perintah dengan kata ’tolong.’

Wah, kita sampai pada kata yang terakhir yaitu: ‘maaf.’ Rasanya cukup berat untuk membincangkan kata sederhana yang bernama ’maaf’ ini. Mengapa? Karena solusi mendasarnya akan sama dengan dua kata sebelumnya. Namun hal yang membuatnya berbeda adalah bahwa kata ‘maaf’ dengan berbagai maknanya selalu membawa konsepsi-konsepsi moralitas mengenai ketulusan, keikhlasan dan kerendah-hatian. Dan konsepsi kerenda-hatian yang memenuhi tubuh kata ’maaf’ ini sangatlah kental dan aromatik, lebih kental dibandingkan dengan dua kata lainnya.

Selain itu, konsep arti kata ’maaf’ yang hilang justru adalah makna maaf yang memang digunakan sebagai pernyataan permohonan ampun atas kesalahan dan kekhilafan yang telah dilakukan, sementara nafas kata ‘maaf’ yang ada saat ini adalah ‘maaf’ dalam konsepsi basa-basi yang lagi-lagi digunakan sebagai bahasa tehnis dalam etika di dunia usaha. Kondisi inilah yang membuat perbedaan antara kata ‘maaf’ dan dua kata sebelumnya.

Penanaman konsep dan pembumian kembali kata ’maaf’ yang lagi-lagi harus dimulai dalam lingkungan keluarga, pasti berbenturan sangat keras dengan konsep global maupun konsep budaya lokal. Karena tradisi orang tua meminta maaf kepada anak tidak lagi hidup dalam kebanyakan etnis kita, apalagi dalam budaya global yang serba materi dimana kebesaran seseorang lebih ditilik dari keberpunyaaannya. Dan pada mereka yang berpunya dan berkuasa itu tidak melekat kata salah! Wah….

Bahkan ada pameo yang seringkali dibuat guyonan sinisme dalam lingkup masyarakat bahwa ada dua aturan utama di pesantren itu. Aturan pertama: Kyai tidak pernah salah. Aturan kedua: bila kyai salah, maka kembali ke aturan pertama. Dan guyon ala santri ini meluas dan meluber menjadi pemakluman umum bahwa demikian juga dengan presiden, pak lurah, pak guru, dosen dan orang tua! Bukan main…

Sayangnya memang, konsep yang seakan-akan main-main ini adalah kondisi sosial yang senyata-nyatanya terjadi dalam masyarakat kita di era serba uang ini. Dan memang pada akhirnya ada cukup banyak alasan yang membuat kata ‘maaf’ ini terjerat sekarat secara perlahan-lahan. Dan para ‘pembesar’ (sayangnya termasuk orang tua) menjadi bagian masyarakat yang enggan bahkan tidak terpikirkan untuk bersegera meminta maaf ketika melakukan suatu kesalahan. Minta maaf dan mohon ampun adalah hanya kepada Tuhan yang dianggap lebih superior, dan akhirnya minta maaf serta mohon ampun pun dianggap sebagai kewajiban dan tradisi bagi mereka yang dianggap inferior. Dan konsep inferior ini adalah mereka yang secara posisi berada di bawahnya, termasuk anak.

Dari sisi ini, saya memandang bahwa kata ‘maaf’ ini menjadi konsepsi kata yang penanaman dan pembumiannya kembali bakal terasa lebih sulit dibandingkan kata ‘tolong’ dan ‘terima kasih.’ Mengucapkan ‘maafkan saya’ bagi sebagian diri adalah hal yang teramat sulit dan bila orang tua adalah bagian masyarakat yang mendapat kesulitan dan tidak memiliki tradisi khas untuk meminta maaf dan memohon ampun saat melakukan kesalahan pada anak-anaknya, maka anak pun akan bertumbuh menjadi pribadi yang jauh dari konsep meminta maaf pada sesamanya. Konsep kebermaafan yang adiluhur dalam masyarakat pasti dan pasti dimulai dari lingkungan keluarga. Dan orangtualah yang berkewajiban memberikan contoh yang bernilai keluhuran tersebut.

Terlebih lagi, anak-anak adalah makhluk-makhluk genius dan hebat namun memang belum memiliki kematangan dalam merangkai konsepsi-konsepsi hidupnya. Sehingga seringkali, sebenarnya, asumsi benar-salah dalam sudut pandang orangtua dan anak amatlah berbeda. Dan orangtua seyogyanya menanyakan kepada anak-anaknya mengenai asumsi muda mereka dan meminta maaf bila ternyata ada hal yang salah menurut mereka sembari, tentu saja, menata konsep-konsep asumsi mereka bila ternyata kurang tepat dengan kondisi dan situasi yang melingkupi suatu kejadian yang menimbulkan munculnya asumsi.
Hal-hal sekecil apapun bagi anak adalah lempengan-lempengan modalitas konsep hidup yang tentunya kelak akan membentuk kepribadiannya dan akan dibawanya dalam bermasyarakat di masa depannya.

Pribadi-pribadi pemaaf dan memiliki keluasan hati untuk tidak enggan meminta maaf akan muncul dari rumah-rumah yang didalamnya memiliki tradsi kebermaafan yang kental. Pribadi seperti ini tentu merupakan pribadi yang selalu berkesanggupan untuk berterima kasih sebagai penghargaan pada dirinya sendiri dan orang lain yang ada di sekelilingnya sebagai ungkapan kebersyukuran yang dalam dan khas. Dan pribadi semacam ini pasti memiliki kesantunan yang cukup untuk senantiasa berendah hati dalam meminta dan memerintah dengan ungkapan ‘tolong…’ dan ungkapan penghalus lainnya.

Sahabat, bukan tidak mungkin kesekaratan ketiga kata hebat tersebut kita bangkitkan dan hidupkan kembali dengan kerja-kerja kecil yang bernama keteladanan dan pembiasaan. Bila orangtua-orangtua kita belum mampu memberi keteladanan yang kita harapkan, usah berkecil hati, karena yang terpenting adalah memulai suatu kerja. Apapun itu, termasuk kerja kata ini. Dan bukankah kelak kita bakal menjadi orangtua? Dan bukankah setiap kita adalah kitab,kawan?

Pare, 30 Desember 2011
Dalam titian ilmu selalu ada kegairahan yang tak lelah meletup
Yang kan menghidupkan hidup kita sepanjang masa ilmu.

Uun Nurcahyanti


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: