Oleh: uun nurcahyanti | Desember 28, 2011

BUNG TOMO…


Beberapa hari yang lalu saya menemukan majalah Tarbawi Edisi khusus yang bercerita tentang Keajaiban Surat Cinta. Surat-surat cinta yang dikisahkan dalam edisi khusus ini adalah surat-surat cinta para pahlawan bangsa yang hidup dan menjadi bagian penting pada masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Ada sepuluh tokoh, semuanya adalah ayah, yang dikisahkan dalam edisi ini. Mereka adalah Hadji Agus Salim, Bung Tomo, Prawoto Mangkusasmito, Kasman Singodimedjo, Muhammad Natsir, Hamka, Bung Hatta, Otto Iskandar Di Nata, Sjahfruddin Prawiranegara, dan Gaffar Ismail.

Banyak sisi yang bersifat pribadi yang diungkap dalam edisi ini. Tentang peran mereka sebagai suami dan juga ayah. Namun hal paling menarik bagi saya pribadi adalah gerak pemikiran mereka yang mengharuskan mereka bersinergi antara mempertanggung jawabkan dan menanggung pilihan hidup mereka sebagai penjaga negeri dengan tanggung jawab mereka sebagai ayah dan suami. Dan yang pasti, sikap dan pilihan mereka itu merupakan hal yang akrab terbicarakan di ruang-ruang keluarga mereka yang hangat. Suka dan duka perjalanan kepahlawanan mereka tentunya berjalan beriringan dengan perjalanan suka duka keluarga mereka juga.

Tadi sore saya baru membaca kisah tentang Bung Tomo. Beliau adalah salah satu tokoh yang saya kagumi memang. Kisah beliau yang dituturkan sang istri tercinta, Mbak Sulistina, awalnya nampak biasa dan cenderung membosankan bagi saya yang kurang suka dengan kisah-kisah roman. Namun cuplikan surat-surat beliau pada Mbak Tina dan peristiwa-peristiwa ‘kecil’ yang senantiasa menguji pilihan sikap seorang Bung Tomo, membawa saya pada suatu rasa-rasa yang hebat. Dari kebanggaan yang penuh terhadap konsistensi dan integritas beliau sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia, hingga realita-realita yang terjadi dalam kehidupan beliau sekeluarga yang sungguh terasa memilukan dan terasa sangat menyayat perasaan saya sebagai seorang anak bangsa

Ada suatu peristiwa yang dikisahkam Mbak Tina, bahwa pada suatu hari Bung Tomo yang saat itu menjadi kepala staf TNI (AL-AU-AD) dengan pangkat Mayor Jenderal ditugaskan untuk meninjau RRI. Saat dalam perjalanan, tiba-tiba beliau mendapat telegram dari Perdana Menteri Amir Sjarifudin. Telegram itu isinya meminta Bung Tomo untuk memilih : tetap menjadi jenderal tetapi tidak boleh pidato atau berhenti jadi jenderal tetapi bisa berpidato.

Entahlah, saya membayangkan tentunya ini adalah telegram yang mengoyak hati seorang prajurit bangsa seperti Bung Tomo yang memiliki keahlian dalam berolah kata lewat pidato-pidatonya yang membakar semangat rakyat itu. Jenderal adalah pilihan yang bernuansa jabatan pemerintahan. Dan pesan PM Amir Sjarifudin saat itu cukup terang, yaitu bila menjadi pejabat maka si individu harus menjauhi rakyatnya. Menjaga jarak dengan rakyat yang dibelanya.

Kawan, bahkan pada masa awal kemerdekaan, sudah ada pemimpin bangsa yang lupa pada hakekat perjuangan kemerdekaan Indonesia itu adalah untuk rakyat. Dan tokoh bangsa yang lupa itu adalah seorang perdana menteri. Sungguh hebat!
Dan tentu saja Bung Tomo marah sekali. Beliau memaki-maki. ”Persetan, ora dadi jenderal yo ora pateken, siapa nanti yang memberi semangat, siapa nanti yang memberi penerangan kepada rakyat,” kata beliau dengan logat Surobonya yang khas, saat
menyikapi telegram dari Amir Sjarifudin itu.

Dari sini jelas terlihat pilihan sikap beliau, betapa Bung Tomo sama sekali tidak tergiur pangkat dan jabatan karena beliau sadar betul potensinya dan mengerahkan segenap potensinya itu demi membantu mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mencerdaskan serta mencerahkan rakyat Indonesia. Pilihan yang sebenarnya bernada melecehkan itupun juga tak mengusik jiwa patriotisme beliau. Terbukti beliau tetap berada dalam front perjuangan mulai dari front Ambarawa hingga berhenti di Tulungagung karena kaki beliau membengkak dan membuat beliau susah berjalan.

Setelah perang usai dan kondisi mulai damai, Bung Tomo kemudian terjun ke dunia politik dan berjuang melalui partainya, Partai Rakyat Indonesia. Dan sebagai politikus, Bung Tomo pun banyak disibukkan dengan tugas-tugas politiknya di Jakarta yang membuatnya jauh dari anak dan istrinya yang tetap tinggal di kota Malang. Dan jalan komunikasi jarak jauh dengan keluarga dilakukan dengan cara saling berkirim surat.

Inilah cuplikan dari salah satu surat beliau yang ditulis untuk istri tercintanya, yang aslinya ditulis dalam bahasa campuran yaitu Jawa,Indonesia dan Belanda, pada tanggal 16 April 1952 :

“…
Saya betul-betul lelah tapi bahagia.
Ibu pertiwi kita seakan-akan saya lihat sementara tersenyum di hadapan mataku! Doakan untuk kakandamu, sayang! Agar aku selalu mendapat kekuatan.
Saya tak mempunyai seseorang disampingku, yang dapat melihat air mataku bercucuran, bila saya jengkel karena egoisme yang begitu besar dari beberapa orang yang mengaku pemimpin.
…”

Kawan, betapa pada tahun-tahun awal Indonesia merdeka, seorang Bung Tomo mampu bercucuran air mata kala melihat orang-orang yang disebut sebagai para pemimpin bangsa yang lebih mementingkan ego pribadinya daripada membela hak rakyat. Betapa, pada masa masih bertaburannya para pejuang kemerdekaan saja telah ada pejabat negara yang mengusung ego-ego pribadinya. Mereka pasti merupakan segelintir orang yang dengan berani telah menafikan perjuangan bersama demi tegaknya kemerdekaan itu sendiri. Mereka pasti memasang muka tembok dan menganggap para pejuang itu telah tiada. Tiada! Karena zaman telah berubah merdeka, sehingga mungkin mereka mulai mengubah haluan perjuangan kemerdekaan bangsa dan negara menjadi kemerdekaan diri dan golongan. Betapa, mereka menganggap sepi teman-teman seperjuangan yang masih ada dan masih berjuang. Duhai…

Bung Tomo yang masih tetap bersemangat dan konsisten dalam membakar daya hidup rakyatnya dan masih tak lelah menajamkan penanya dengan tulisan-tulisannya yang seringkali membuat jengah para petinggi negeri yang diperjuangkan kemerdekaannya itu pun akhirnya diseret ke penjara pada zaman rezim Soeharto sesaat setelah menyampaikan khotbah Idhul Adha di Roxy. Beliau pada saat itu mengungkap dengan tajam tentang adanya ‘Tien persen’ alias harus memberikan persenan terhadap Tien Soeharto sehingga idiom ‘Tien persen’ itu menjadi sangat popular pada saat itu.

Beliau ditempatkan di penjara Nirbaya. Di penjara Nirbaya Kramat Jati ini, Bung Tomo rajin menulis surat buat istrinya. Inilah salah satu surat beliau dari Penjara Nirbaya :

“…
Aku tahu, Dindaku, air matamu itu bukan air mata kesusahan, karena kita sementara ini tidak dapat berkumpul setiap hari penuh seperti dahulu.
Saya tahu bahwa air matamu tercucur karena Dinda merasa bahwa kita diperlakukan tidak adil.
Keadilan yang kita dambakan, sehingga kita bersedia menyambung nyawa di tahun 1945 itu, seolah-olah tidak ada lagi.Tiada lagi keadilan bagi kita, apalagi bagi rakyat jelata kita. Mengingat semua itu saya tidak jarang seperti Dinda pula mencucurkan air mataku.”

Kawan, betapa curahan hati seorang Bung Tomo kepada istrinya ini terasa mengilu di hati saya. Seorang yang begitu mencintai rakyatnya dan bahkan selalu hanya rakyat Indonesialah yang beliau pikirkan dan perjuangkan, namun apa yang beliau dapat? Gengsi dan nama baik penguasa dengan segenap kekuasaannya dengan tanpa belas kasih memisahkan sang pembela rakyat dari rakyatnya atas nama dan kepentingan pribadi.

Soeharto sebagai pemegang tampuk kepemimpinan orde baru saat itu tentu sangat marah dengan tulisan-tulisan Bung Tomo yang menggugat budaya upeti yang meenurut Bung Tomo berpotensi menghancurkan mental penguasa dan membentuk mental-mental bawahan dengan segala kebertundukannya. Bahwa pemimpin dan keluarganya adalah orang-orang yang wajib disokong, padahal mereka sebenarnya memiliki keluasan ekonomi dan sosial yang lebih lapang dari para bawahannya itu.

Dan atas keberaniannya itu pemerintah orde baru menghadiahinya hotel prodeo. Apabila seorang Bung Tomo saja bisa diperlakukan demikian, apalagi hanya sekedar rakyat jelata yang sudah tak punya kuasa apa-apa, tak punya nyali pula. Dan hal ini begitu melukai nurani beliau.

Bagian akhir dari surat ini adalah sebagai berikut :

“…
ALLAHU AKBAR !
Kini marilah kita lihat ‘The Lining Silver’nya.
Kita lihat betapa manusia-manusia yang ingin mencari popularitas kadang-kadang berbuat amoral, membeli ‘teman’ dengan menghamburkan uang negara (uang rakyat), mencoba mencari simpati orang banyak (massa) dengan menyebarkan fitnah dan mempergunakan cara-cara yang kotor lainnya.
Sedangkan kita dengan adanya penahanan terhadap diri saya, tanpa kita minta, simpati telah meluap-luap ditujukan pada kita sekeluarga.
Lebih-lebih simpati tersebut telah timbul secara sadar, karena mereka mengetahui benar ’what am I fighting for’.
Mereka tahu bahwa saya, demikian juga dinda, Titing, Bambang, Sri, dan Ratna, berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan sejati, sebagaimana yang dicita-citakan oleh segenap bangsa Indonesia pada waktu kita memproklamasikan negara kita pada tahun 1945 dulu.
Dindaku sayang, simpati itu akan besar artinya bagi keluarga kita, sadarilah itu!
Semoga simpati tersebut akan ada manfaatnya, sebagai ikhtiar serta usaha kita guna menciptakan keadilan dan kebenaran sejati bagi rakyat Indonesia yang kita cintai. Agar melalui jalan-jalan yang syah menurut hukum, benar-benar RI Proklamasi 17 Agustus 1945 ini akan menjadi negara yang diridhoi oleh ALLAH SWT, sesuai dengan dasarnya, Pancasila.
Itulah ! ’Silver Lining’ yang harus dilihat.
Dengan melihat kea rah ‘Silver Lining’ tersebut, akan nampaklah nantinya sebuah horizon, cakrawala yang gilang gemilang.
Di horizon itu akan kita jumpai rakyat Indonesia yang tersenyum simpul, anak-anak muda Indonesia yang tertawa riang karena nantinya kebebasan jiwa yang penuh tanggung jawab, kemakmuran serta kesejahteraan yang merata benar-benar akan menjadi kenyataan.
Nur Illahi akan memberikan cahaya terang, mantap dan abadi pada horizon atau cakrawala itu.
Tina, adikku sayang, jangan tertumpah lagi air matamu, biarlah butiran-butiran mutiara itu tertahan dalam dadamu.
Tabah terasa dalam dadamu, sehingga kelak akan gemerlapan mutiara-mutiara itu dalam menyambut cahaya cakrawala harapan bangsa kita.
Tegaklah kembali sepenuhnya, Dinda !
TUHAN sendiri yang menjanjikan kemenangan bagi manusia-manusia yang menegakkan kebenaran dan keadilan yang diridhoiNya. Dan janji TUHAN tidak akan meleset, adikku.
ALLAHU AKBAR !
ALLAHU AKBAR !
ALLAHU AKBAR !”

Sebuah surat yang diakhiri dengan takbir. Sungguh menggetarkan. Dari surat ini sangat terang terlihat bahwa dalam diri seorang dr. Soetomo yang terukir hanyalah kecintaannya yang begitu dalam dan tulus pada masyarakat bangsanya dan juga pada negara yang telah dengan sepenuh hati diperjuangkannya. Bahwa penjara tidak akan pernah mampu memenjarakan kecintaannya itu. Bahwa bagi seorang Bung Tomo, selain rakyat Indonesia, keluarga adalah bagian penting dalam perjuangannya untuk Indonesia itu sendiri. Keluarga adalah persembahan generasi untuk kebesaran nama ibu pertiwi yang teamat dalam dicintainya itu.

Setelah keluar dari penjara, pada suatu kesempatan, Bung Tomo dan keluarga mendapat kesempatan untuk menunaikan ibadah haji. Beliau diserahi tanggung jawab untuk memimpin kloter. Menurut Mbak Tina, ia bekerja all out seperti biasanya dan selalu mendahulukan kepentingan jemaah yang dipimpinnya.

Setibanya di Mekah, setelah beberapa kerepotan kecil, dan sempat berputar-putar mencari tempat penginapan yang disediakan panitia, akhirnya mereka menemukan tempat yang akan mereka tinggali selama di Mekah yaitu di rumah Syeikh Fuad Bugis.

Disana, Bung Tomo dan istrinya ditempatkan di sebuah kamar berukuran 1×2 meter yang merupakan bekas kamar dan wc dengan alas tikar yang tidak baru. Hal yang tentu sangat tidak terduga bagi mereka sekeluarga. Namun, saat melihat istrinya gusar, Bung Tomo menasehati agar ikhlas menerimanya. Namun istri beliau sempat mengelak,”Kalau selalu kata ikhlas yang dijadikan landasan, tidak berarti panitia tidak perlu ada sehingga tak tahu bahwa kamar ini tak pantas untuk dihuni.”

Dan mereka pun dengan ikhlas menerima perlakuan panitia yang sungguh sangat tidak manusiawi itu. Mereka pun menutup lubang wc tersebut dengan tas pakaian dan sedikit menata ruangan tersebut sehingga agak layak huni! Masyaallah…

Kawan, entahlah…saya tak mampu membayangkan dan bahkan berimaji terhadap apa yang terjadi pada saat itu. Seorang pengobarsemangat rakyat saat melawan tentara Inggris itu, yang pertempurannya selalu kita peringati sebagai hari pahlawan itu, menghuni bekas wc saat menunaikan ibadah hajinya…

Duhai…bangsa macam apa kita ini,kawan…?? Pemimpin macam apa yang pernah menduduki kursi tertinggi negara ini,kawan, yang tiada memperlakukan pahlawan bangsanya dengan penuh kehormatan…??
Bung Tomo kehilangan pangkat jenderalnya karena memihak rakyat. Beliau masuk penjara karena menentang penguasa demi keadilan rakyatnya. Dan karena banyak hal lainnya dan entah apa itu, ia tidak mendapatkan perhatian dan penghormatan yang sepatutnya.

Bila seorang Bung Tomo saja tidak mendapatkan penghormatan sebagai warga negara di negeri yang diperjuangkannya ini, apalagi rakyat jelata !

Rakyat pasti sangat berpotensi diperlakukan sepeti kotoran yang bisa disapu kapan saja untuk disingkirkan atas nama kebersihan. Pemerintah yang memiliki sudut pandang seperti ini terhadap rakyat yang sebenarnya adalah pemilik sah suatu negeri, pasti merupakan pemerintah yang tidak amanah terhadap mandat yang dipercayakan rakyat di atas pundaknya. Pemerintah yang menampilkan diri sebagai penguasa dan memperlakukan rakyat sebagai komunitas yang dikuasai. Suatu pemerintahan yang sangat berjiwa penjajah, yang berpotensi menyedot kekayaan dirumahnya sendiri, mencuri dari dompet ibunya sendiri, dan bahkan seperti kata Tan Malaka : berunding dengan maling di rumahnya sendiri! Dan bukankah hanya orang gila yang berunding dengan maling di rumahnya sendiri?

Kawan, dua hari kemudian beliau berpulang ke rahmatullah saat wukuf di Arofah setelah sehari sebelumnya jatuh sakit dan mengalami demam tinggi. Bahkan saat dibawa ke Arofah tersebut keluarganya tidak diberitahu terlebih dahulu. Baru ketika beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir keluarganya diberi kabar.

Air mata saya tak henti keluar membaca dan menuliskan kembali kisah seorang Bung Tomo ini, kawan. Benar sekali kata Radhar Panca Dahana : “Buang saja buku-buku pelajaran sejarah dari sekolah itu ke tempat sampah!”

Betapa kisah kepahlawanan para patriot bangsa kita itu berakhir begitu memilukan. Dan pertanyaan besar yang muncul adalah, lantas bagaimana nasib para pejuang lainnya…? Bagaimana negara memuliakan para keluarga yang ditinggalkannya…?

Bung Tomo, maafkan kami tak pernah menggali kisah patriotikmu.

Bung Tomo, apimu belum padam,Bung!!

Pare, 28 Desember 2011


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: