Oleh: uun nurcahyanti | Desember 25, 2011

MAAF


Kata maaf sering kita gunakan untuk menyampaikan rasa penyesalan yang kita rasakan manakala kita melakukan sebuah kesalahan atau kekhilafan. Kata maaf juga seringkali kita gunakan sebagai ujaran penghalus manakala kita merasa tindak yang hendak kita lakukan berpotensi untuk mengganggu kenyamanan orang lain misalnya kita hendak mengambil barang yang mengharuskan kita melewati orang lain. Kata maaf juga jamak digunakan saat kita hendak menyela orang lain, misalnya menyela pembicaraan atau saat kita hendak lewat diantara orang-orang lainnya atau sekedar orang yang tengah duduk-duduk.

Kata maaf yang pertama yaitu yang digunakan untuk menyatakan rasa penyesalan adalah kata maaf yang mengandung makna berdaya karena kata ‘maaf’ jenis ini adalah kata yang menyimpan emosi mendasar berupa kerendah-hatian dan kebertundukan akan ego diri. Dalam kata maaf yang pertama ini, seorang manusia mencoba untuk menempatkan keakuan dirinya pada kondisi terendah dengan sikap berani menunjukan kelemahan dirinya yang telah jatuh pada suatu tindak yang tidak benar atau pun tidak tepat (‘bener’ dan ‘pener’, dalam Bahasa Jawa).

Kata maaf jenis ini pada hakekatnya merupakan sebuah pintu untuk melangkah ke dalam kesemestaan diri demi melakukan perbaikan-perbaikan yang mendasar agar minimal kesalahan yang sama tidak terulang, disini ada tindak mengambil pelajaran hidup, dan maksimalnya adalah melangkah ke depan dengan landasan hidup yang lebih mantap karena pernah jatuh dan pernah salah. Disamping itu memiliki kemampuan yang lebih matang dalam membuat pertimbangan dan keputusan, yang pada akhirnya nanti semakin bijak dalam mengarifi hidup.

Kata maaf yang berikutnya yaitu kata maaf saat kita merasa apa yang hendak kitalakukan berpotensi mengganggu orang lain adalah kata penghalus yang cenderung bersifat memberi penekanan kesantunan pada konteks kalimat yang digunakan. Kata jenis ini muncul dalam bahasa dengan membawa makna implisitnya yang halus dan berbudi bahasa. Kata ini menunjukkan budaya komunitas yang tinggi dan adi luhung. Karena kata maaf jenis ini berasa kata ‘nguwongke’ (Jawa) atau tercakup rasa menghargai orang atau pihak lain.

Kata maaf yang berikutnya yaitu digunakan manakalakita hendak menyela orang lain adalah kata maaf yang sebenarnya juga punya rasa menghaluskan bahasa, tetapi dalam konteks yang bersahaja sehingga terkesan sebagai pemanis bahasa atau pemanis bibir alias seperti sekedar basa basi semata. Kata maaf jenis ini mengesankan keramahan dan muncul karena adanya budaya saling menghormati yang tulus antara sesama manusia.

Memang, kata maaf jenis ini akhirnya terkesan seperti basa-basi semata, namun bila berbasa-basi saja kita tidak mampu apalagi berbahasa dengan lebih berbobot? Jadi meskipun kata maaf yang terakhir ini hanya terkesan ‘abang-abang lambe’, namun kata maaf jenis ini memiliki bentuk maknanya sendiri yang bisa dianggap sebagai tolok ukur rasa kebermasyarakatan seorang individu.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa seperti kata-kata lainnya, kata ‘maaf’ memiliki nyawanya sendiri dalam memaknai dirinya. Memang hanya empat huruf yang bersusunan sama, namun dalam kebermaknaannya ternyata nyawa kata maaf ini sama sekali tak sama.

Dan tentunya bila dalam menggunakan kata maaf ini seseorang sekedar main tiru dan mencomotnya begitu saja tanpa pernah dengan teliti mengenal dan merenungkan kata maaf yang digunakannya dalam bertutur, bisa jadi bakal terjadi tumpang tindih rasa kata dan jungkir balik makna ini tentu berpotensi untuk membuat si penutur berpola pikir tertentu terhadap suatu proses hidup yang bernama maaf permaafan ini.
Suatu misal, bila seseorang hanya terbiasa mengenal dan akrab dengan kata maaf yang bermakna pemanis bibir semata, maka tentu ia akan kehilangan konsepsi hidup yang bernama evaluasi diri. Mengapa?

Karena manakala ia melakukan suatu kesalahan dalam hidupnya dan kemudian ia meminta maaf, kata maaf yang dipergunakannya ini menjadi suatu kata maaf yang tidak mempunyai daya ledak untuk memperbaiki diri dari kesalahan yang diperbuatnya. Kata maaf ini akhirnya tidak berdaya sama sekali kecuali hanya sekedar pengumuman bahwa ada yang melakukan kesalahan dan orang lain harap maklum saja karena manusia kan tempatnya salah dan lupa.

Bahkan kata-kata berdaya ini pun bisa berasa sangat menyebalkan karena intonasi dan lagu pengucapannya yang terkesan enteng dan tanpa beban, seperti : “Ya, maaf…”

Sungguh benar-benar bukan kata yang beremosi dan terucap dari lubuk hati yang paling dalam. Terasa sangat arogan malah.Dan akhirnya kata maaf menjadi punya makna lain yaitu sebagai kata pajangan untuk pemakluman atas kelemahan manusia yang memang tidak mungkin sesempurna Tuhan. Yang bahkan nama tuhan pun dibawa-bawa dengan entengnya, “Tuhan kan Maha Tahu.”

Dalam perjalanan hidupnya, kata maaf saat ini seringkali dibajak oleh pihak-pihak yang tidak mengerti keberdayaan kata maaf jenis ini. Keberdayaan kata maaf yang merupakan bagian dari segala hikmat kebijaksanaan ini lambat laun terkikis kesakralan dan juga ketinggian maknanya. Apabila pendangkalan makna ini terus terjadi pada diri seorang individu, maka konsepsi perbaikan nilai-nilai hidup pada diri si individu tersebut akan mengalami fase penipisan pula. Akibatnya, kebijaksanaan dan kedewasaan yang seharusnya bertumbuh bersama waktu yang terarungi oleh individu akan mengalami kemandegan. Dan bila fase kemadegan ini tidak segera terlewati, maka secara perlahan-lahan ia akan mengalami kondisi kebangkrutan diri.

Bisa dibayangkan bila si individu ini adalah saudara kandung atau kawan baik kita, maka sangat mungkin kita akan menjadi orang yang cukup capek dan mudah merasa lelah karena individu yang kita temani ini seperti enggan berproses untuk menuju perbaikan diri. Memang ia akan terasa santun karena terasa begitu berendah hati, namun pada hakekatnya ia tidak melangkah maju karena ebenarnya ia bersembunyi di balik alasan-alasan.

Dan pada akhirnya kondisi tidak sadar makna satu kata saja ini berpotensi untuk menciptakan individu-individu robotik yang bergerak dalam keseragaman yang terus menerus tanpa gerak emosi yang memadai karena ketiadaan konsepsi untuk menyadari bahwa maaf yang kita ucapkan memiliki makna tanggung jawab perbaikan atas kesalahan dan kekhilafan yang telah kita lakukan, baik sengaja ataupun tidak. Lebih jauh, pada akhirnya kita akan menjadi individu yang terbiasa berbuat salah dan terbiasa melupakan hati-hati lain yang terluka karena kesalahan-kesalahan ‘yang sama’ yang dengan enteng selalu kita lakukan.

Bayangkan, sahabat, bila pribadi yang penuh maaf seperti inilah yang menduduki posisi-posisi publik dan memangku tanggung jawab kepemimpinan di negara Indonesia Raya ini. Pasti yang terjadi adalah kesalahan-kesalahan politis dan kekhilafan-kekhilafan kebijakan nasional yang bakal dengan enteng disikapi dengan lontaran kata maaf yang reaktif sambil menyodorkan sejumlah alasan untuk mewajarkan kesalahan atau kekhilafan yang diperbuatnya. Bila nantinya bisa terkesan tidak wajar, maka dibuatlah cara agar pada akhirnya menjadi terasa wajar dan normal.

Sebenarnya, orang yang kurang memahami kata maaf sebagai sebuah pintu untuk menuju ruang perbaikan diri adalah orang-orang yang masih polos karena konsepsi keberevaluasian dirinya belum matang. Dalam proses perkembangan anak, kondisi ini berada pada fase umur yang cukup lama yaitu awal 4 tahun hingga awal 10 tahun. Fase awal masa logika anak secara normal mulai berkembang.

Tentu saja kepolosan kanak-kanak ini akan berkembang seiring dengan pilihan kedewasaan yang kemudian dialami si anak. Jika pada fase ini tidak ada pemondasian konsepsi diri yang mendasar, maka si anak akan tumbuh terus secara polos seperti itu. Namun bila kepolosan ini dimanipulasi, maka yang terjadi adalah kepalsuan-kepalsuan bersikap yang berlindung di balik topeng kepolosan. Dan pilihan kosakatanya pun di manipulasi agar terdengar penuh kepolosan juga. Misalnya :”Biarlah orang berkata apa!”,”Wah, maaf bagian yang itu saya lupa…”,”Apa dosa saya…”, “Ya harap maklumlah manusia kan bisa saja khilaf…”, “Mohon pengertiannya karena urusan kami sungguh banyak…” dan lain sebagainya.

Akhirnya bahasa-bahasa klise yang normatif seperti itu menjadi pilihan kata yang dipakai sebagai basa-basi publik. Publik (baca :RAKYAT) sebagai komunitas yang dipimpin diberi tauladan kebasa-basian semata. Publik (baca; RAKYAT) dianggap sebagai penonton sinetron yang tidak mungkin terlibat aktif seperti halnya dalam pertunjukan Lenong. Dan Kondisi ini tentu saja membentuk pola pikir penguasa yang bukan pemimpin, tapi penguasa dalam arti yang sesungguhnya. Bahwa rakyat adalah penonton. Namun penonton, yang lucunya, memiliki kewajiban membayar upeti seperti jaman raja-raja dulu. Hanya, upeti itu pada masa kini bernama pajak. Penguasa pun pada akhirnya juga menganggap sepi para penonton terebut karena merasa berada di semesta yang tidak sama.

Kondisi yang pada akhirnya juga hanya menjadikan masalah hanya sebatas wacana yang menimbulkan budaya membicarakan masalah bukan menghadapi kenyataan bahwa memang ada masalah dan bagaimana cara untuk memecahkan masalah tersebut lantas menyelesaikannya. Kondisi yang sungguh memang berakhir pada kata m-a-a-f saja. Sungguh sebuah pembunuhan karakter hebat dari sebuah kata hebat.

Hanya kata m-a-a-f memang, namun ternyata satu kata ini saja bisa mereduksi keberbangsaan sekelompok pemimpin bangsa. Makna kata ini mampu menyihir begitu banyak orang menjadi manusia-manusia yang terlelap. Buta hati meskipun hidup. Sementara sebenarnya kita menggunakan ratusan ribu hingga ratusan juta kata saban harinya. Dan ada berapa kata yang benar-benar kita pahami apa maknanya dari sekian banyak kata yang kita gunakan saban harinya itu?

Betapa, kata sebenarnya memiliki nyawa dan kehidupannya sendiri. Ia punya awal dan keberakhiran. Kata tak akan pernah lepas dari dunia dan ruang hidup manusia. Dengan kata kita merenung, dengan kata kita berbincang, dengan kata pula kita memahami kehidupan dan memaknainya, dan bila kita sebagai manusia masih tak juga sadar bahwa kata itu mengucap diri, sia-sialah lukisan aksara-aksara yang dianyam Tuhan dalam setiap sel tubuh kita ini, kawan.

Hanya kata M-A-A-F memang, tapi kata itu mengucap dirinya dan diri manusia yang mencomotnya sebagai koleksi kosakata yang dituturkannya. Mari kita selamatkan pembusukan masal atas nama MAAF. Dan, maafkan saya yang telah mengusik hari anda dengan kebermaafan ini.

Pare, 25 Desember 2011
Uun Nurcahyanti


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: