Oleh: uun nurcahyanti | Desember 22, 2011

Mari Kita Bicara Cinta (1)


Saya tengah terserang penyakit latah atau entah apa. Lucunya bila orang terserang latah itu biasanya ternyatakan dalam ucapan atau dalam tindakan, namun penyakit latah yang saya derita ini lebih menyerang wilayah emosi dan ide . Dan ini sungguh menunjukkan satu hal penting yang secara tdar menjangkiti sebagian besar kita. Yang lalu secara saidak sadar dimanfaatkan oleh orang-orang yang berkepentingan dengan ketidaksadaran dan kelatahan kita tersebut.

Beberapa waktu lalu banyak teman-teman tim dan juga sahabat siswa yang secara hampir serentak terserang demam putus cinta dan terjangkiti epidemi patah hati akut sampai-sampai ada yang beniat bunuh diri yang untungnya urung dilakukan.

Lantas dengan begitu saja saya terikut suasana biru pilu itu. Dan dengan entengnya jari-jari saya menuliskan ayat-ayat patah hati yang serba pilu dan senyap. Puisi-puisi lara pun mengalir lancar dengan derai air mata dalam setiap tatah katanya. Rona warna jiwa saya seakan terhiasi warna abu-abu dan dipenuhi telaga hampa kesuraman. Seluruh rasa patah dan hampa yang tersimpan di masa lalu dan juga di ruang bawah sadar saya seakan meluap dan memenuhi seluruh ladang jiwa saya.

Saya begitu menikmati ketertenggelaman itu. Padahal itu bukan cerita saya. Saya hanya penyaksi, penonton dan pembaca dari lakon-lakon yang bersliweran di ruang hidup saya saat itu.

Dan saat ini saat banyak sahabat yang tengah terserang virus jatuh cinta, saya pun mendapatkan suntikan energi yang terasa serba merah jambu. Betapa rasa cinta dan mabuk kepayang begitu memenuhi rongga hidup saya. Entah mengapa. Mungkin karena rasa ikut bersimpati atau empati. Atau karena energi cinta mereka itu ikut membangkitkan segala kenangan indah di seantero perjalanan hidup saya. Lagi-lagi, entahlah.

Dan dengan segera pula jari-jemari saya bergelimpangan dengan segenap kosakata cinta beraneka rasa. Cinta menjadi tema sentral tulisan dan membenamkan pikiran saya dengan rupa-rupa bentuknya yang serba indah tak terperi. Olala…

Sehingga dengan enteng saja jari saya mengetik judul di atas yang bertemakan cinta itu. Namun setelah mengawali tulisan ini, akhirnya saya tersadar pada alasan mendasar dari kampanye abjad yang senantiasa digaungkan oleh sahabat saya, Bandung Mawardi, bahwa kebanyakan dari kita selama ini seringkali berkata-kata secara tidak sadar. Kita melatahkan setiap tutur yang kita keluarkan dari mulut kita sendiri. Dan budaya latah tutur kata itu terbentuk oleh sistem komunikasi global yang dikuasai tehnologi dengan koorporasi besar yang bernama media dan selalu menggunakan baju modernisasi dengan jualan yang menggiurkan bernama informasi dan ilmu pengetahuan.

Hal lain yang sebenarnya sangat sering luput dari perhatian kita, bahkan, adalah latah pikir, latah emosi dan latah ide. Ya seperti yang sebenarnya tengah saya alami ini. Kelatahan yang satu ini tentu merupakan penyakit latah terganas yang menyerang seorang diri yang bernama manusia ini. Mengapa? Karena latah yang satu ini akan menimbulkan olah pikir yang serentak, setipe dan seragam.

Sementara, hal paling mendasar yang membedakan organ otak manusia dan hewan adalah penggunaan fungsi otaknya. Kehebatan sistem otak manusia akan mandeg bila si pemilik tidak menggunakannya untuk berpikir. Berpikir adalah proses yang dimulai dengan bertanya, lalu diikhtiari dengan perjalanan panjang untuk jatuh bangun dalam menemukan jawaban dan diiringi semangat juang dengan penuh keberanian untuk kembali bertanya dan kembali jatuh bangun demi seutas jawaban. Sementara jawaban yang muncul acapkali tidak tuntas. Itulah belajar. Dan dari proses itu terjadi pendalaman dan penggalian aksara-aksara ilahiah yang tersimpan dalam setiap tubuh manusia. Ibarat akar pohon yang semakin menghujam ke dalam bumi. Yang berani mengalami kesakitan untuk menembus cadas-cadas nan keras dan kokoh demi menghujamkan eksistensi keberakarannya, sehingga eksistensi kepohonannya pun juga akan semakin nyata karena sang pucuk pohon akan semakin tumbuh gagah menjulang menuju langit.

Artinya, sebenarnya jelas bahwa tidak ada pabrik masal pembuatan otak manusia seperti halnya pabrik pembuatan sepatu, baju, rokok, ataupun mie instan. Otak manusia adalah eksklusif, unik. Sebuah hand-made paing sahih dari Sang Maha Pemikir, Sang Maha Sempurna. Tuhan merajut sendiri setiap otak yang dititipkan pada tubuh setiap manusia. Tuhan menganyamkan ke dalamnya aksara-aksara yang bermakna tak sama dengan dawai yang menghasilkan nada-nada yang kelak kan menciptakan harmoni semesta sepanjang zaman.

Demikian juga dengan bentuk fisik manusia beserta seluruh kondisinya. Sangat eksklusif. Lagi-lagi merupakan sebuah hand-made dari Sang Maha Indah. Tuhan sendiri yang memahat dengan detail setiap bentuk tubuh yang manusia miliki dengan kesempurnaan dan keindahan yang tiada tara.

Memang, tidak ada manusia yang sama, baik secara fisik maupun secara pemikiran ataupun juga hal-hal lainnya seperti gerak emosi, karakter dan lain sebagainya. Dari sini tentu sudah jelas sangat nyata keganasan dari virus latah pikir tadi. Karena kita yang seharusnya memang tak sama namun hadir untuk menciptakan harmoni semesta, malah dijebak dalam kultur seragam pastinya malah berpotensi besar untuk merusak nada-nada lagu kesemestaan itu sendiri. Bukankah aneh bila dalam sebuah orkestra, alat musik yang digunakan adalah drum semua dengan bentuk yang sama dan menghasilkan suara yang sama. Tentu bukan orkestra yang terbentuk tapi hanya jadi koor suara drum tunggal yang tanpa harmoni.

Latah pikir tentu akan menghasilkan budaya-budaya yang serba latah juga. Dengan karakteristiknya yang rapuh dan tidak jelas karena tidak memiliki akar yang kuat untuk bertumbuh dan bertahannya budaya yang bersangkutan. Budaya yang terbentuk dari olah pikir yang latah selain bersifat rapuh dan tidak jelas akhirnya juga bersifat instan karena arah pikir komunitas jenis latah pikir ini dikendalikan oleh kondisi di luar dirinya. Sehingga lama kelamaan seorang yang terjerat dalam iklim latah pikir ini akan gamang pada dirinya sendiri. Tidak intim dengan keakuannya sendiri. Dia akan menjadi individu yang tercerabut dari akar budaya bangsanya yang sebenarnya adalah komunitas hakiki yang dimiliki dan menjadi tempat persemaian kemanusiaan yang telah dengan teliti ditetapkan Tuhan untuknya.

Sehingga wajar kiranya peringatan Pramudya Ananta Toer dalam buku terakhirnya yang menyatakan bahwa manusia Indonesia masa kini telah kehilangan individualitasnya. Ya. Manusia Indonesia saat ini sangat mungkin telah merasa sangat asing dan tidak akrab dengan budaya etnisnya sendiri yang sebenarnya adalah identitas sejatinya yang membedakan dirinya dengan masyarakat dari bangsa-bangsa lainnya. Yang lebih gilanya lagi jangan-jangan kita bahkan lebih suka menggunakan atribut dan lebih intim dengan budaya bangsa-bangsa lain yang bahkan sebenarnya kita tak mengenal dan memahami maksudnya.

Atau hal yang tergila adalah bahkan kita tidak mengerti gerak emosi kita sendiri. Kita dengan sukarela jatuh cinta dan patah hati tanpa sadar, tanpa tahu apa itu cinta dan apa itu patah hati. Kita hanya ikut-ikutan cerita sinetron dan alur percintaan yang umum kita lihat di berbagai macam film dan yang tersimpan dalam syair-syair lagu. Duhai…

Lantas kita pun akhirnya tak pernah mengenal siapa diri kita sebenarnya! Ataghfirullah…

Pare, 22 Desember 2011


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: