Oleh: uun nurcahyanti | Desember 20, 2011

PERJALANAN HEROIK RADHAR PANCA DAHANA


Hari Kamis,tanggal 15 desember 2011, ada sms masuk ke hape saya. Dari mas Radhar Panca Dahana yang sudah bersepakat untuk mengisi diskusi Rumah Anak Bangsa edisi minggu kedua bulan Desember 2011 yang akan diadakan pada hari Jum’at tanggal 16 Desember 2011_ keluar dari jadwal rutin yang malam mingguan. Hal ini disebabkan oleh kesibukkan mas Radhar Panca Dahana sebagai pemateri.

Rencananya mas Radhar berangkat dari Jakarta hari Kamis dan turun di Solo untuk mengadakan diskusi dengan sahabat-sahabat Pengajian Malam Senin di rumah Mas Bandung Mawardi. Dan sebenarnya pada hari itu tidak ada rencana dari panitia untuk melakukan penjemputan di Solo karena kami mengira Mas Radhar akan diurusi oleh teman-teman dari Solo, namun pesan singkat via sms itu begitu mengusik hati saya.

“Saya naik garuda sore ini.
Tiba solo jam 17.45.
Siapa yg jemput ya?”

Saya merasa ada kesan bahwa mas Radhar sangat berharap ada yang menjemput dan menemani beliau sejak tiba di bandara Adi Sumarmo Solo nantinya. Selain itu ada kekhawatiran yang menyeruak tiba-tibamengenai kesehatan dan kondisi beliau yang sebenarnya memang tidak saya tahu.

Akhirnya diadakan rapat kilat untuk menunjuk siapa yang punya luang waktu dan kegiatan sehingga bisa menemani mas Radhar sejak dari Solo hingga ke Pare. Dan akhirnya diputuskan Miss Umi yang menjemput meski beliau punya kelas Listening dan Pronunciation.Dan sms beliau akhirnya saya balas setelah ada keputusan siapa yang menjemput beliau.

“Nanti ada teman yg mnjemput mas, namanya Umi.
Nanti istirahatnya d Ibis mas.
Semoga pjalanannya menyenangkan
dn semoga bisa segera btemu utk bsilaturahmi ilmu.”

Dan kami pun segera berbagi tugas untuk mempersiapkan perjalanan Miss Umi ke Solo yang sangat mendadak hari itu. Jam 10.25 WIB Miss Umi pun berangkat menuju kota Surakarta.

Pukul 17.08 ada sms dari mas Radhar :

“Delay 1 jam lbh.”

Wah, pesawatnya ditunda pikir saya dan segera berita itu saya sampaikan pada Miss Umi dan Mas Bandung. Kepada Mas Bandung saya sekaligus mengkonfirmasi acaranya Mas Radar di Solo

“Acaranya mas radhar jm brp nggih mas, ni pesawatnya ditunda katanya.”

Dan jawaban dari Mas bandung cukup mengejutkan saya

“O blm tahu.
Tadi dia ngabari kelelahan usai cuci darah.
Kita tdk tahu utk kepastian dia kumpul dgn tmn2 di Solo.”

“Nggih mas”, jawab saya. Dan saya pun malah tenggelam dalam duka lara yang tak terkatakan. Sepertinya kegelisahan saya menemukan pertemuan muaranya. Mas Radhar usai cuci darah dan dengan kelelahannya nekat berangkat ke solo. Duhai…sungguh tidak terbayangkan betapa besar ketulusan dan tekad yang beliau bawa demi memenuhi permintaan kami di kota kecil kami yang bernama Pare ini.
Terus terang sekelumit rasa bersalah muncul dalam hati dan benak saya membentuk oase keraguan dan ketidaktegaan. Saya mempertanyakan sendiri keinginan dan keputusan saya untuk mengundang budayawan dan sastrawan nasional yang hebat ini.

Ada hal mendasar yang tidak saya lakukan sebagai pertimbangan penting saat mengundang beliau yaitu kondisi kesehatan beliau. Saya hanya bertumpu pada semangat untuk bersilaturahmi ilmu dan berbagi konsepsi fundamental demi negeri tercinta dengan para pembelajar dari berbagai daerah di Pare ini . Sebuah langkah yang seharusnya lebih harus dipertimbangankan lagi di waktu-waktu yang akan datang karena kebaikan yang bernilai ibadah pun selain harus diakukan dengan sadar haruslah memiliki pertimbangan yang bijak.

Namun, meski bagaimana saya yakin langkah Rumah Anak Bangsa dan mas Radhar sejauh ini adalah langkah-langkah ajaib yang penuh berkelimpahan berkah ilahiah dan kebaikan. saya mencoba mengentalkan kembali keyakinan saya bahwa pasti dan pasti ada maksud Tuhan dengan pertemuan dan segala kemudahan yang kami alami dalam proses pertautan ini. Bismillah…semoga esok hari kami benar-benar bisa bertemu dengan beliau.

Persiapan kami untuk hari ini kami akhiri dengan briefing untuk mematangkan persiapan untuk esok hari. Sekitar jam 19.00 hape saya bordering arena adda telepon masuk. Saya angkat dan ternyata Miss Umi yang menelepon. Dia mengabari bahwa Mas Radhar tidak tahu kalau acara diskusinya jam 7 malam. Beliau merasa keberatan kalau malam!

Waduh! Saya panik namun berusaha untuk tetap tenang sembari mengingat-ingat perjalanan lobi saya dan Mas Radhar sebelumnya. Jangan-jangan saya memang lupa dan itu bisa berakibat sangat fatal karena pamfet dan segala hal yang berkenaan dengan informasi acara ini sudah dilakukan beberapa hari sebelumnya. Dan sayangnya waktu itu diskusi di rumah kontrakannya Mas Bandung sedang berlangsung dengan penuh semangat dan hangat.

Saya membuka file percakapan kami berdua dan memang sejak awal waktu diskusi yang malam itu sudah terbicarakan. Alhamdulillah.
Segera saya kabarkan itu ke Miss Umi. Dan berharap ada berita baik yang datang malam itu. Namun ternyata malam itu tidak ada berita apapun karena diskusi budaya di rumah Mas Bandung itu berlangsung hingga pukul 11 malam dan setelah itu beliau langsung meluncur ke hotel Ibis untuk beristirahat. Nampaknya memang tidak ada peluang untuk mengganggu beliau malam itu. Dan saya harus menunggu esok hari tiba sambil menunggu datangnya keajaiban.

Pukul 03.07 saya kembali menghubungi Miss Umi tapi tidak ada jawaban. Saya mahfum tentu ia tengah lelap dibuai mimpi karena perjalanan hari itu tentu cukup menyita energinya.

Pagi tiba dan saya mengawali Jumat pagi itu dengan kembali menghubungi Miss Umi dan berniat juga menghubungi Mas Bandung karena saya tetap merasa tidak enak hati kepada Mas Radhar berkenaan dengan jadwal diskusi, namun tiba-tiba hape saya bergetar. Bukan sms dari Miss Umi yang memang saya tunggu-tunggu, tapi dari Mas BANDUNG!

“Ladenilah Radhar di Jumat keramat dengan tawakalisme.”

Pesan yang singkat memang, namun pilihan katanya membuat jiwa saya bergetar begitu hebat meski saya tidak sepenuhnya paham maksud beliau. Kata-kata itu bagai sengatan energi yang sepenuhnya membuat saya tersadar bahwa diatas segala kendala yang terjadi ada sebuah perjalanan panjang yang telah tertempuhi dan perjalanan itu dilandasi dengan ketulusan, keteguhan dan kesungguhan. Sehingga pasti aka nada berjuta hikmah yang bakal kami himpun dan bahwa tidak ada satu hal pun yang tidak tersolusikan. Pasti ada jalan keluar. Kata-kata itu memosisikan kondisi pikir saya menjadi sepenuhnya positif dan yakin bahwa ada kekuatan ilahiah yang akan selalu menyertai perjalanan ibadah kata ini. Saya pun menjawab sms tersebut :

“Nggih mas, tp maksudnya gimana?
Wah, aku jadi nggak enak ma beliau krn sepertinya beliau lupa kalau acaranya malam.
Aku masih kepikiran ki mas,”

Dan jawab Mas Bandung adalah :

“Sakit dan lelah jd sebab. Lupa baginya itu biasa.”

Wah, jawaban singkat yang lagi-lagi cukup menyejukan kegundahan saya. Dan kembali saya memberikan jawaban

“Tapi tidak apakah beliau kpare mas? Perjalanan cukup jauh…”

“Ya. Perjalanan dgn laku paradoks,” jawab Mas Bandung. Jawaban yang tidak saya pahami.

“Laku paradoks tuh bgmn mas?” saya menuntut penjelasan yang lebih nyata.

“Kelihatane jelas tp mengandung samar.”

Aha, lagi-lagi sebuah jawaban yang mencipta teka-teki, yang memerlukan waktu berjenak-jenak untuk berpikir lebih dalam agar terselami maknanya. Gaya bertutur khas seorang Bandung Mawardi.
Tak berapa lama kemudian Miss Umi menelepon. Telepon yang saya tunggu-tunggu. Dan dari pembicaraan kami pagi itu cukup jelas bahwa Mas Radhar tidak mungkin berdiskusi pada jam yang telah kami sepakati di awal. Kondisi kesehatan beliau sangat tidak memungkinkan. Kata Miss Umi , bahkan, Mas Radhar sering gemetaran ketika berjalan. Beliau sering terhuyung-huyung…

Wah, kembali saya terserang rasa panik yang luar biasa. Saya kemudian tawaran solusi yaitu diskusi dimulai pukul 16.00 untuk Mas Radhar dan berakhir sekitar pukul 19.00. Selanjutnya saya minta Miss Umi uintuk memohon Mas Bandung melanjutkan diskusinya bagi mereka yang tidak teranjangkau oleh perubahan jadwal yang sangat mendadak ini. Agar peserta yang baru bisa datang jam 19.00 atau lebih tetap bisa mengikuti ajang diskusi Rumah Anak Bangsa (RAB) edisi minggu ini.

Alhamdulillah beliau menyepakatinya.

Segera saya hubungi teman-teman tim SMART untuk membicarakan kondisi terkini dari rencana diskusi RAB ini. Bagaimanapun juga ini akan sangat mempengaruhi kondisi pembelajaran yang seharusnya masih berlangsung sampai menjelang maghrib dan karena acara diskusinya dimulai lebih awal maka harus ada pergeseran jadwal dan itu tentunya mesti meminta kesepakatan kelas. Demikian juga dengan kegiatan masak memasak yang diadwalkan dimulai jam 10.00 sesuai dengan waktu luang Miss Nisa dan Autad, sang koki, mau tak mau harus dimajukan karena perkiraan kedatangan tamu adalah selepas sholat Jumat.

Usai pengkondisian kerja yang diadakan secara spontan dan serba dadakan itu, kami pun segera bergerak untuk menunaikan tugas kami masing-masing. Bismillah. Terngiang kembali sms Mas Bandung di awal pagi tadi : “ Ladenilah Radhar di umat keramat dengan tawakalisme.”

Ya Rabb, ditangan-Mu lah segala keajaiban tercipta. Dan lingkupilah perjalanan ibadah kata kami ini dengan segala ajaib milik-Mu.Amin…
Pukul 09.09 rombongan Mas Radhar berangkat menuju Pare. Saya memandang nanar sms dari Miss Umi yang mengabarkan keberangkatan mereka. Ya allah…ini seperti mimpi yang tengah menuju tanah kenyataan. Ada harap-harap cemas yang melingkupi hati setiap orang yang menunggu kedatangan Mas Radhar dan rombongan.

Pukul 13.31 rombongan sudah sampai di daerah Purwoasri. Itu tinggal sepelemparan batu untuk tiba di Pare. Dan benar saja, menjelang jam dua siang rombongan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga.

Rasanya sangat luar biasa melihat Mas Radhar Panca Dahana, Mas Bandung Mawardi, dan satu orang lagi yang ternyata adalah Mas Fawzi Sukri turun untuk menginjakan kaki mereka di bumi Pare ini. Saya seperti terbawa pada lingkar kata-kata di novelnya Pramudya Ananta Toer, Arus Balik, pada bagian yang menggambarkan perjuangan para Begawan di masa lalu dalam menyebarkan ilmu mereka dengan mendatangi wilayah-wilayah yang jauh bahkan terpencil demi memberikan pelita pencerahan.

Dan mereka yang tengah menapakkan kaki di bumi Pare itu laksana para Begawan masa lalu yang dalam tubuhnya dilukisi ilmu dan bermuatan penuh kosakata berdaya. Mereka adalah orang-orang ikhlas yang bersedia mengairi ladang kecil kami dengan air kehidupan yang tersimpan dalam setiap sel tubuh mereka.Duhai. Mimpi itu telah mengukiri wilayah kenyataan,kawan.

Jam 14.30 pekerjaan persiapan ruangan pun segera dimulai dan usai satu jam berikutnya. Segala hal telah dipersiapkan oleh tim persiapan ruangan. Dan acara pun siap dimulai.

Tiba-tiba awan semakin menebal dan kondisi yang tadinya masih agak benderang berganti gulita. Dan hujan pun turun tanpa bisa ditawar-tawar lagi. Sementara itu deru angin meningkahi hujan yang seperti tercurah dari langit itu. Subhanallah. Yang teringat adalah tawakalisme.

Waktu diskusi pun molor. Pukul 16.45 Mas Radhar baru memulai obrolan sore yang sejuk itu meski pembukaannya sudah dimulai sekitar 20 menit sebelumnya dengan diawali doa dan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta pewacaan singkat tentang RAB.

Mas Radhar yang awalnya meminta waktu hanya sebentar untuk mengisi diskusi akhirnya menularkan semangat keberbangsaannya pada seluruh peserta yang hadir dan seakan melupakan kondisinya yang tengah kepayahan dan berbicara hingga pukul 19.30 lebih.

Beliau begitu bersemangat dan trengginas dalam menanamkan penyadaran segala keindonesiaan dalam bingkai yang utuh dan indah. Dua kali istirahat sela, adzan Maghrib dan Isya’, beliau pergunakan untuk berbaring dan setelahnya beliau kembali berbicara dengan penuh semangat nan membara.Subhanallah.

Saya merasa khawatir karena melihat beliau tidak memperhatikan kondisinya yang jelas terlihat jejak kepayahan. Saya pun mengingatkan Mas Bandung yang tentu lebih mengetahui kondisi beliau. Namun Mas Bandung meyakinkan bahwa hal itu biasa dan seperti itulah sosok budayawan ini, beliau selalu bersemangat saat berkarya. Tak bisa dihentikan. Beliau adalah orang yang total.

Saya dan mungkin seluruh peserta diskusi malam itu menjadi saksi atas perjuangan hebat Mas Radhar menepiskan segala rasa sakit yang sangat mungkin tengah merubungi seni-sendi tubuhnya. Menurut keterangan Miss Umi dan Mas Bandung, Mas Radhar memiliki 22 penyakit sehingga kondisi tubuhnya seringkali tidak stabil dan tidak terprediksi.

Bahkan, salah seorang peserta diskusi sempat tidak percaya, katanya, saat membaca pamflet bahwa pemateri malam itu adalah Radhar Panca Dahana. Karena dia sangat tahu kalau kondisi kesehatan beliau memang sangat riskan untuk jatuh pada titik tidak stabil sementara perjalanan dari Jakarta ke kota keil kamipastilah ukup jauh,dan pasti berpotensi untuk menyita banyak energi bagi beliau. Pernah, katanya, saat pentas teatrikal puisi beliau Lalu Aku di Bandung, beliau sempat kejang-kejang sebelum pentas, namun lima menit sebelum pentas kondisinya kembali stabil dan dengan gagah beliau tampil untuk menuntaskan pentas tersebut dan setelah pentas kembali beliau mengalami kejang-kejang hebat!

“Oh, Tuhan Yang Maha Pengasih,” keluh saya dalam hati, “lindungilah perjalan ibadah kata beliau ini dengan segala kasih dan kebesaranmu. Hanya kebaikan yang kami semua niatkan dan semoga berlimpah kebaikan juga yang Engkau tuang dalam setiap diri kami. Tuhan…semoga segala ilmu yang bertumpah ruah malam ini menjadi sebuah pondasi penting bagi masa depan bangsa kami.Amin.Amin.”

Hanya doa itu yang terus saya usapkan dalam hati saya sepanjang Mas Radhar berbicara sembari ucapan terima kasih yang tak putus, bahkan, hingga detik saya tuliskan ini.

Mata-mata muda yang penuh semangat dan penuh gairah dalam menekuni setiap tutur Mas Radhar bagaikan embun penyejuk yang menggerus segala keraguan yang sejak beberapa waktu sebelumnya sempat menghinggapi dan menggerus keyakinan saya terhadap acara di Jumat malam yang keramat ini. Dan saya yakin mata-mata ini juga yang menjadi sumber energi bagi Mas Radhar untuk bertahan pada semangat yang Spartan.

Akhirnya menjelang pukul 20.00 Mas Radhar mengakhiri diskusi sesi 1 itu dengan pesan terdahsyat yaitu : MARILAH KITA MENGUATKAN PERBEDAAN KITA, BAHWA KITA MEMANG SEBUAH NEGARA DENGAN LEBIH DARI 450 SUKU BANGSA DENGAN SEGALA BUDAYA DAN TRADISINYA, UNTUK MENGUATKAN KEBERSATUAN KITA. UNTUK MENGUATKAN KEINDONESIAAN KITA.

Setelah beristirahat sejenak di rumah saya dan berbinang hangat dengan beberapa fungsionaris RAB, Mas Radhar kembali meluncur ke Surabaya untuk beristirahat sebelum nantinya kembali ke Jakarta keesokan harinya. Mas Radhar ditemani oleh Miss Umi dan Andi Zulkarnain dari komunitas Rumah Anak Bangsa.

Sebelum beliau pulang saya mengucapkan salam perpisahan dengan tuturan , “ Terima kasih mas, sangat heroik. Sungguh sangat heroik. Selamat jalan.” Kata-kata itu saya ucapkan dengan rasa yang sungguh menggetarkan dan hampir menyurung seluruh air mata di sudut mata saya.

Sabtu dini hari pukul 01.50 ada sms masuk ke hape saya dari Mas Radhar :

“Mbak Uun, terima kasih banyak utk sambutan dan fasilitasnya yg sangat baik.
Semoga semua maslahat buat kita semua.
Semoga sehat dan sukses sll semua ya.”

Saya cukup tercengang melihat jam pengirimnnya Karena saya baru membuka pesan singkat tersebut menjelang subuh. Tak terasa beberapa butir air mata mengaliri pipi saya. Kata-kata yang begitu lembut dan menyentuh. Kata-kata yang mampu meluruhkan segala penat dan meruntuhkan dinding –dinding kecemasan saya.

Pukul 04.38 datang lagi pesan singkat. Kali ini dari Mas Bandung Mawardi:

“Jelang subuh sampai rmh.
Eh, sekarang ngibadah esai lagi.
Selamat lho sdh mencipta memori.”

Wah, keren sekali para pujangga Indonesia ini, pikir saya terhenyak. Mas Bandung yang meladeni diskusi Rumah Anak Bangsa hingga lewat jam sebelas malam dan langsung cabut menuju Solo malam itu juga sudah sibuk dengan ibadah katanya lewat esai di hari yang bahkan belum bermatahari itu.

Dan pagi itu saya lewatkan dengan sedikit ketermanguan seolah masih berada dalam pesona yang tengah ditaburkan Tuhan pada hari lalu. Kata-kata Mas Radhar dan Mas Bandung begitu dahsyat mengepung seluruh pagi saya di 17 Desember itu.

Lewat tengah hari baru saya mampu menjawab sms dari Mas Radhar meski dengan tangan yang masih gemetaran :

“Amiin…amiin…semoga butiran2 penyadaran yg mas Radhar tebarkan untuk kami tertanam dbenak dn relung hati kami sbg bagian hidup yg penting utk Indonesia ke depan mas.”

Dan setelah itu saya menanyakan keberadaan beliau karena sesuai jadwal pesawat beliau mengudara pukul 11.15, dan saat saya sms sudah menjelang jam satu siang. Artinya, mungkin beliau tengah dalam perjalanan ke rumah. Namun harapan saya buyar seketika :

“Baru tiba di bandara, lngsng ke RSCM.”

Pesan dari Mas Radhar ini saya terima pukul 13.02. Dan saya langsung lemas setelah membacanya. Rasanya hilang sudah seluruh perbendaharaan kata-kata yang saya punya. Ya Rabb…Mas Radhar…

Saya pun langsung menghubungi Miss Umi untuk meminta keterangan tentang kondisi Mas Radhar terakhir saat tiba di hotel Novotel Surabaya. Dan sepanjang sore itu kami mencoba memantau kondisi beliau meski terkendala dengan alat komunikasi. Mungkin Mas Radhar memang butuh istirahat.

Sms terakhir dari Mas Radhar siang itu saat saya bertanya tentang kondisi beliau berbunyi demikian :

“Ya.
Spt kemarin.
Maunya tidur lama..haha.”

Saya tahu Mas Radhar mencoba mencairkan gumpalan kegundahan hati saya dengan bercanda, tapi kata-kata halus yang sangat singkat itu justru menghimpun cemas yang tak terkatakan.

Bakda Isya’ setelah vakum dari kabar Mas Radhar sepanjang sore itu, saya pun mencoba untuk sms Mas Bandung :

“Mas, berarti hari kamis lalu sebelum ke solo mas Radhar ke RSCM dulu ya?
Dan tadi setelah dr bandara beliau k RSCM lagi.
Ku kok kuatir yo mas.”

Jawaban dari Mas Bandung datang secepat kilat :

“Cuci darah 3 kali seminggu.
Biasa.
Ia bakal tetap beringas.”

Jawaban yang sangat singkat dan lugas itu cukup melegakan, namun kami belum lega sepenuhnya karena belum bisa menghubungi Mas Radhar sehingga belum tahu kabar terakhir dari beliau.

Pukul 20.40 akhirnya sms yang saya tunggu-tunggu datang. Kata Mas Radhar menggambarkan kondisi beliau saat itu :

“Lagi luemes..hehe..”

Ah, lagi-lagi beliau mencoba untuk tidak mendramatisir kondisi beliau yang sebenarnya memang sudah sangat mengkhawatirkan itu. Semakin bertumpuk hormat saya pada pengasuh rubrik Teroka di Kompas ini. Sementara para generasi yang lebih muda dan lebih sehat seringkali mengaitkan sedikit pengorbanan dan kesibukan mereka sebagai alasan untuk merasa tidak enak badan agar mendapat kemakluman dan dispensasi dalam tugas dan tanggung jawab yang tengah mereka pegang.

Sungguh begitu jauh jarak antara ketulusan berbagi dengan memanjakan diri dengan berbagai alasan kesehatan demi menggugurkan hukuman atau bahkan melepaskan tanggung jawab, atau sekedar mendapatkan kemahfuman publik.

Betapa saya tertunduk malu pada kondisi diri saya sendiri yang kadang masih suka malas dalam bershodaqoh ilmu dan masih banyak patah semangat dalam beribadah kata. Sementara orang yang sekaliber Mas Radhar Panca Dahana dengan segala kesakitannya saja masih begitu bersemangat mengairi ladang-ladang gersang di tanah airnya.

Betapa banyak alasan-alasan pribadi yang seringkali kita cipta untuk membuat kita terpaku pada keengganan dalam melangkah dan kegamangan dalam mencipta suatu karya nyata untuk bangsa. Betapa kita secara tidak sadar lebih suka mengejar sebuah tindak yang mencipta popularitas pribadi sehingga melupakan esensi kebermanusiaan kita sendiri, dan mungkin bahkan sampai pada titik lupa pada tugas keberbangsaan kita yang sebenarnya adalah bagian dari tugas kebertuhanan manusia. Betapa kita acapkali lupa pada satu hal hakekat bahwa kita adalah seorang manusia, seorang anak bangsa dari negeri kaya raya yang bernama Indonesia.Betapa…

Menjelang jam sepuluh malam, hape saya kembali bergetar. Sms dari Miss Umi yang mengabarkan bahwa Mas Radhar sedang naik taksi dalam perjalanan menuju ke rumah beliau.

Saya sungguh tidak tahu lagi harus merasa apa. Lega atau miris. Atau entah apa lagi. Nyatanya, seorang budayawan besar milik Indonesia ini telah mengajarkan hal paling nyata pada saya dan siapa saja dalam hal semangat menjalani segala tugas keberbangsaaannya. Seperti seorang Begawan yang digambarkan oleh Pramudya Ananta Toer, seorang maha guru bangsa yang luar biasa.

Sekali lagi mata saya dipenuhi oleh kaca-kaca bening yang bergeliat untuk saling tumpah ruah. Saya ingat salah satu sms dari Miss Umi Jumat siang kemarin yang membuat semangat saya bangkit meski saya tak tahan untuk tak tergugu dalam linangan air mata :

“Bwtku yg dlakukan mis uun bwt undng mas radhar adl hal gila dn heroik…
Trmksh byk y mis.
Perjalanan ini smkin mbwtku ykn kl mis uun akn sll siap mjd chaya
dn akn trus menghdrkan chy..utk kami.
Truslah bchya mis.”

Dan akhirnya airmata saya tertumpah kembali malam itu. Bagi saya kesediaan Mas Radhar untuk memenuhi undangan forum diskusi Rumah Anak Bangsa di Pare Jumat malam lalu itu adalah hal yang lebih gila dan lebih bernilai heroik.

Semoga semakin banyak maha guru bangsa yang tidak enggan menginjakkan kakinya di ladang-ladang berlumpur di seantero Indonesia ini dengan semangat para Begawan kehidupan di masa lalu. Karena seluruh penduduk Indonesia adalah sebenar-benar maha siswa, dan seluruh wilayah negeri ini adalah sebuah universitas semesta yang pasti bernama Universitas Indonesia Raya. Yang sebenar-benarnya. Bahwa kita adalah maha negara : INDONESIA.

Pare, 20 Desember 2011
Terima kasih untuk semua sahabat.
Terima kasih yang tak akan mampu terlukiskan oleh kata-kata…


Responses

  1. meski saya tidak hadir disana miss, saya ucapkan terimakasih atas tulisan ini. semoga teman2 RAB dapat mengambil banyak pelajaran dari mas radha dan mas bandung mawardi…

  2. Semangat Ms Uun menjadi energi bagi teman2 SMART, semoga sehat terus Ms


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: