Oleh: uun nurcahyanti | Desember 9, 2011

Waterpark : Sebuah Catatan


The Legend Waterpark, Kertosono, 22 April 2011.
( Aku seperti dibawa kembali pada satu perenungan saat di Mifan Waterpark, Padang Panjang, 31 Desember 2010)

Saat di Mifan akhir tahun lalu itu, ku seperti tersadar pada suatu fenomena yang tengah muncul dalam masyararakat bangsaku. Fenomena yang menawarkan kesenangan dan dibungkus oleh tawaran paket kebahagiaan keluarga. Fenomena itu bernama waterpark!

Kata waterpark telah menjadi begitu populer dalam satu dasawarsa terakhir ini. Yah, sebuah tempat wisata yang berupa wisata air dan menjadi ikon tempat wisata favorit bagi siapapun terutama bagi keluarga.

Kenyataan lainnya adalah bila beberapa tahun yang lalu waterpark hanya ada dan populer di kota-kota besar di Indonesia, tapi secara dahsyat aliran modal dalam sistem ekonomi kapitalistik dunia, pada akhirnya membuka kran untuk mengalirkan demam wisata air ini menuju wilayah-wilayah non perkotaan.

Dan, sim salabim! Di kota-kota kabupaten pun menjamur tempat-tempat wisata air seperti ini.

Hal yang paling menyentak adalah ku memasuki wilayah religious yang berjuluk kota Padang Panjang. Kota tempat lahirnya para pejuang bangsaku yang notabene berada sangat jauh dari keramaian dan hiruk pikuk ala kota besar ini, ternyata juga telah ‘terkontaminasi’ dengan dengan sebuah bangunan waterpark yang bernama Mifan Waterpark. Dibangun di arena yang cukup luas dengan kemegahan dan keeleganannya.

Di tempat ini pula keterpingsananku akan potensi bahaya favorit keluargaku ini mencuat

Saat itu ada seorang dara minang yang berkulit sesegar buah pear dengan kemulusan selayak porselen. Dara tersebut hanya berpakaian ala kadarnya khas pakaian wisata air. “Wow bunga mawar nan indah” pikir saya. Gadis yang tengah bermain bersama adiknya ini pun lantas masuk ke salah satu kolam air dan bercengkrama dengan adik kecilnya itu.

Tak lama kemudian mereka naik kembali ke pinggir kolam dan berjalan menuju kolam lainnya. Dan tentu saja tak ada bagian dari tubuh sang mawar ini yang tidak tertangkap oleh mata perempuanku.

Hati perempuanku pun terkesiap. Darah terasa naik sampai ke ubun-ubun….bukan karena terbuai nikimat dengan pemandangan aduhai si bunga mawar, tapi oleh amarah yang menggelegar dan rasa perih yang datang tiba-tiba, begitu saja …

Padang Panjang yang memang baru saja kukenal selama beberapa minggu saja ini telah menguatkan semangat juangku untuk negeriku ini hanya karena ku menginjak tanahnya, tanah kelahiran para pejuang!
Tapi, di negeri kelahiran para pahlawan ini ternyata berdiri megah area wisata yang berpotensi untuk “menelanjangi” siapa saja yang masuk kedalamnya.

Sungguh….. suatu kenyataan yang menusuk dada …

Aku menyadari sepenuhnya bahwa tempat-tempat seperti ini adalah salah satu produk dari mesin kapitalisme dan rezim tuna sejarah dan tuna visi yang tengah berkuasa di negeriku ini.

Tempat elok ini menawarkan refreshing asyik untuk seluruh keluarga. Namun tanpa sadar para penghuni “surga” ini ( karena keluargaku adalah surgaku ) telah tergiring secara sistematis, pasti, dan manis untuk ‘memakan buah khuldi’ yang berakibat pasti yaitu tampaklah aurat-aurat mereka.

Duhai kota Padang Panjang, rintihku saat itu. Buah khuldi telah mulai di impor ke tanahmu!

Akankah kau menggeliat dalam berontak, duhai tanah leluhur para pejuang…?

The Legend Waterpark, tempat yang tengah ku kunjungi ini, terletak antara jalan Nganjuk-Kertosono. Sebuah tempat yang indah untuk berwisata dan menawarkan sebuah keindahan yang bakal sangat mudah menaklukan hati anak-anak kita untuk merubungnya seperti layaknya semut pada gulali.

Masyarakat dari segala penjuru desa di sekitar Nganjuk dan Kertosono pun berbondong-bondong datang tuk merasai air yang beningnya bertabur kaporit dan yang sebentar lagi akan memabukannya dan membuat mereka lupa akan segarnya sentuhan air sumber dari desa mereka sendiri. Atau mereka akan lupa kecipak riang air terjun di wilayah-wilayah terpencil mereka.

Mereka akan lupa air tanahnya mengalirkan air kehidupan yang abadi dan menghidupkan jiwa raga mereka

Jangan-jangan keindahan semu yang serba dibuat, ditata dan di standardkan ini membuat mereka jijik menginjak lumpur sawah di desa-desa mereka dan menjernihkan hati mereka tuk telusuri jalan-jalan setapak menuju puncak-puncak gunung sebagai habitat alamiah mereka yang digambarkan Allah sebagai surga seperti pada kisah Adam dan Hawa.

Jangan-jangan wong-wong ndeso itu merasa lebih bergengsi untuk bermain air di waterpark-waterpark dari pada berseduh dengan air bening di sungai desa dan di hamparan mata air disela-sela bebatuan di sekitar rumah mereka. Mereka kan mulai turun gunung demi hiburan yang sebenarnya tidak mereka butuhkan tetapi hanya mereka idam-idamkan dengan iming-iming sejumput gengsi dan dan segumpal pengalaman baru.

Jangan-jangan tanpa sadar mata air-mata air itu jadi tak bertuan, dan saat para pemilik pabrik air kemasan datang mereka tidak lagi merasa memilikinya dan melepaskannya begitu saja sumber utama kehidupan mereka itu diambil dengan terang benderang di depan mata-mata seluruh warga dengan segala pemakluman.

Maka, jika kita semua melupakan pijakan dataran tinggi yang memang sulit didaki dan bersemak belukar tapi menjanjikan surga dan segala keindahan hidup, tragedi Adam dan Hawa pun akan kembali terulang dan terus terulang. Karena setelah itu kita justru mengais rejeki di kolong-kolong jembatan kota. Kita pun juga eksodus ke kota atas nama ilmu pengetahuan dan kebutuhan hidup atau keinginan untuk bertahan hidup.

Dan jangan-jangan kita harus meringkuk disudut-sudut ilmu itu di tepian air sungai kota yang menghitam dan penuh sampah dalam kondisi hidup segan mati tak mau karena jiwa pengelana kita telah lenyap termakan hiruk pikuk hiburan dalam bungkus kertas-kertas proyek wisata.

Jangan-jangan! Kitalah bangsa surga itu . Dan kini kita telah dengan terang-terangan memakan buah khuldi yang perlambang hebat itu. Dan, Tuhan pun menurunkan kita dari dataran-dataran tinggi surga, yang seringkali justru kita marjinalkan dengan nama ‘desa’, surga kita yang sesungguhnya!

Nganjuk, 22 April 2011


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: