Oleh: uun nurcahyanti | Desember 9, 2011

ANAKKU, GURU KEHIDUPANKU…


Setelah mengamati banyak hal, terutama dalam sisi perkembangan anak ada banyak mutiara ilmu yang aku dapatkan. Hal yang palingmengejutkan adalah bahwa ternyata bila konsepsi tentang ke hidupan tidak ditanamkan pada seorang anak maka sebenarnya konsep-konsep kehidupan pada anak tersebut akan tetap berlubang, tetap kosong. Dan bila selamanya kita tidak mengisinya, maka ruang konsepsi itu akan tetap hampa.

Demikian juga dengan ranah-ranah emosi kita. Bila tangkai emosi seorang anak tidak terisi penuh sesuai dengan kelaziman tahap perkembangannya, maka tangkai-tangkai itu bisa setengah layu alias bermuatan setengah-setengah yang pada akhirnya nanti ia akan tumbuh dewasa dengan setengah hati dan dengan kuasa emosi yang setengah matang.

Memang dalam perjalanan hidup seorang anak nantinya ada banyak kemungkinan untuk memperbaiki diri dan selalu ada waktu untuk menuangi tangkai-tangkai emosi yang ada agar kemudian menjadi penuh. Namun, bagaimana bila kita sebagai seorang individu tidak menyadari kalau ternyata tangkai emosi kita tidak penuh? Bagaimana bila kehampaan ruang-ruang konsepsi itu tidak kita ketahui?
Disinilah dan untuk itulah pertautan antar manusia dibutuhkan dan mengapa pendidikan juga dibutuhkan. Disini sebenarnya peran sekolah sebagai wadah untuk mengintegralkan diri, sebagai tempat berkumpulnya manusia agar belajar berinteraksi, dan mengembangkan diri serta kepribadiannya.

Dr. Helen Morrison, M.D., seorang psikiater forensik yang telah melakukan penelitian selama lebih dari 30 tahun terhadap kondisi para pembunuh berantai yang kasusnya cukup menggemparkan di berbagai belahan bumi terutama di wilayah Amerika Serikat dan Inggris yang memang memiliki cukup banyak kasus sejenis, ditemukan satu fakta yang mengejutkan bahwa dalam diri para pembunuh berantai ini tersimpan ‘kepribadian anak-anak yang tidak berkembang’.

Anak-anak adalah makhluk-makhluk unik yang memiliki semangat yang luar biasa dengan keingintahuan yang membumbung tiada henti. Mereka tidak mengenal lelah dan putus asa. Mereka tidak mengenal takut. Mereka selalu penuh dorongan dan kebaikan. Mereka punya begitu banyak keinginan dan selalu terobsesi untuk mewujudkannya. Mereka tidak memiliki pertimbangan-pertimbangan yang yang mendalam akan mara bahaya. Mereka selalu melakukan apa yang mereka mau, sangat independen. Mereka sangat memercayai orang-orang dewasa disekitarnya. Mereka juga tidak pernah mengeluh dan resah atas kegagalan yang dilaluinya karena setiap kali kaki kecilnya terantuk batu yang menyebabkan mereka terjatuh mereka pasti bangkit lagi. Sakit tidak akan membuat mereka menyerah, luka tidak akan membuat mereka mengerang lama.

Anak-anak adalah makhluk yang memiliki keluasan hati yang luarbiasa, mereka selalu mengerti keadaaan di sekitarnya dengan sudut pandang mereka yang bening. Mereka tidak akan menyalahkan lingkungan sekitar mereka. Segala beban dan dan kepedihan mereka tanggung sebagai kesalahan mereka sendiri karena mereka belum mempunyai konsep tentang orang lain apalagi menyalahkan orang lain.

Namun sebaliknya orang-orang dewasalah yang acapkali menyalahkan mereka bukannya mengajarkan bahwa mereka tidak sendirian, bahwa dalam lingkungan mereka ada orang lain. Orang yang bakal mengajak mereka bicara, mengajari mereka tentang ilmu-ilmu kehidupan tentang hikmah dan nilai-nilai hidup yang dimiliki makhluk-makhluk lain.
Anak-anak adalah makhluk yang memiliki penyerapan pemikiran yang luar biasa. Segala hikmah dan konsep hidup mereka simpan baik-baik dalam lipatan-lipatan logika mereka yangmemang masih terlipat rapi. Waktu kan membawa mereka untuk membuka lipatan-lipatan itu dan orang-orang dewasa di sekitarnyalah yang seharusnya membimbing dan mengajari mereka untuk membuka peta-peta lipatan tersebut karena tanpa pemhaman lokalitas yang baik orang jadi mustahil untuk bisa membaca peta. Demikian juga sebaliknya, peta yang tak kaya informasi akan menjadi gambar nan buta belaka.

Anak-anak adalah guru-guru besar seluruh umat. Memang, sejarah adalah guru kehidupan, namun anak-anak adalah guru besarnya, dosen sejarah terdahsyat, trainer psikologi paling kreatif dan paling arif bijaksana.

Mereka adalah guru besar kehidupan karena dalam diri mereka tercermin nyata sejarah masa terhebat_ suatu masa dimana kita mungkin tak mudah lagi menelusuri jejaknya, yaitu masa kanak-kanak kita. Dan jejak itu bisa kita kutip kembali pada diri anak-anak kita, juga anak-anak kecil dari seluruh penjuru dunia.

Anak-anak selalu memiliki hati yang baik, yang meskipun mudah marah tetapi gampang sekali memaafkan, meski suka menolak tapi selalu mudah penasaran, yang meski gampang menangis tapi selalu tak gampang layu, yang meski punya banyak keinginan tapi tak pernah memiliki pikiran culas demi mendapatkannya.

Mereka adalah mata air kehidupan yang bakal mengairi tanah air-tanah air dimanapun mereka berpijak. Mereka adalah spon-spon besar yang selalu haus akan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Mereka tidak akan menuntut bila ternyata orang-orang yang mengajarinya salah dalam mengajari mereka tentang konsepsi dan kearifan hidup.

Mereka akan sangat tabah menyimpan erangannnya saat kesakitan terasa begitu dalam menelusuri hati maupun tubuhnya. Mereka bisa sangat rapat menutup dukanya, bahkan membawa seluruh rasa sakit itu dalam kematiannya, seperti ribuan anak-anak yang mati kelaparan di beberapa negara di Afrika. Mata mereka tetap membesar karena daya hidup yang memang tak surut oleh kelaparan apapun bentuknya. Mata bening mereka tetap menyuluh harapan, harapan pada orang-orang dewasadi sekitarnya. Mereka sangat memercayai kita, orang-orang dewasa di sekitarnya.

Seharusnya, memang, dalam mata air tidak boleh ada air mata. Dan selalu secara tidak sadar kita, orang-orang besar, inilah yang membuat mereka pedih berlinangan air mata… yang bahkan kita seringkali tak tahu!
Ya Rabb…

Pare, 26 September 2011

Maafkan Bundamu, anakku,
bila seringkali membuat mata hebatmu tergenangi air mata…
Betapa engkau baru 4 tahun…


Responses

  1. Postingannya inspiratif. Membuat seorang anak tahu apa yang dirasakan seorang ibu untuknya..
    I realized how I love my mom, terima kasih🙂

    • ungkapan yang sama untuk anda…terima kasih…


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: