Oleh: uun nurcahyanti | Desember 2, 2011

BALADA PENJAJAHAN


Dua hari yang lalu di meeting junior kami, yakni sebuah meeting yang diadakan bagi para anggota tim baru yang mendiskusikan berbagai hal tentang hidup dan prinsip dasar kehidupan sebagai bekal kerjasama tim ke depannya, seorang anggota tim junior memberikan kultum tentang penjajahan ( kolonialisme ) dan bagaimana para pahlawan bangsa dalam mengartikan kemerdekaan.

Kultum dimulai dengan sebuah pertanyaan, “Bila harta benda anda di rampas orang, apa yang akan anda lakukan?”

Dan beberapa peserta yang dimintai wacananya menjawab bahwa mereka akan mempertahankan dan mengambil harta yang dirampas tersebut.
Setelah pewacaan tentang kolonialisme dan sekelumit wawasan tentang bagaimana sebaiknya sikap seorang anak bangsa dalam menghadapi persoalan bangsanya, ia mengunci kultumnya dihari yang cerah itu dengan untaian kata-kata indah yang cukup menggugah bahwa dahulu, para pahlawan yang berjuang dengan impian membawa Indonesia merdeka itu tidak pernah berjuang dengan niat untuk menggembalikan harta benda pribadi mereka. Mereka tidak menganggap penting barang-barang pribadi mereka yang hilang karena diambil orang lain secara paksa. Bagi mereka ada hal yang lebih penting yaitu kemerdekaan Indonesia!

Segala energi dan upaya dikerahkan demi mencapai kemerdekaan Indonesia. Hal terpenting yang harus sesegera mungkin diwujudkan adalah kemerdekaan. Bagaimanapun, sebuah pilihan merdeka adalah pilihan kebangsaan yang mesti diniscayakan bagi seluruh anak bangsa demi keniscayaan sebuah batas negara tertentu yang benama negara. Dan para penggagas dan perintis Indonesia merdeka telah memetakan gagasan dan menuangkannya dalam ranah kenyataan sehingga berdirilah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Kupasan

Sungguh sebuah sharing ide yang sederhana namun cukup menginspirasi dan menggugah perenungan saya tentang arti kemerdekaan dan konsepsi sederhana tentang penjajahan.

Pada masa lalu kita mengenal kata kolonialisme sebagai istilah populer untuk hal yang disebut penjajahan. Kolonialisme berasal dari kata koloni yang bermakna kumpulan suatu individu alias komunitas. Istilah ini bermakna bahwa perampasan hak-hak individual atas nama penjajahan masa lalu merupakan bentuk penjajahan antar koloni yang satu,atau suatu bangsa, demi menguasai koloni lain, atau bangsa lain. Penjajahan pada masa itu adalah bentuk penjajahan antar bangsa demi menguasai kekayaan alam, mengubah konsepsi ideologi ataupun memecah konsepsi keyakinan sebuah bangsa.

Rasa ingin menjadi penguasa dunia dan rasa ingin dipandang sebagai bangsa hebat yang memiliki kelebihan dibandingkan bangsa-bangsa lainnya telah mendorong sebuah bangsa dengan rakus menafikan keberadaan bangsa lain dan dengan penuh pongah menaklukan bangsa lain yang diinginkannya.

Dari sini cukup terang rasanya bila ide kolonialisme adalah ide komunal bukan ide individual. Kelemahan dari ide ini adalah bila ada seorang anak bangsa yang tersadar akan kesalahan dan kerakusan bangsanya, maka ia berpotensi untuk menghancurkan sistem kerakusan masal tersebut. Bila virus kesadaran ini terus tersebar dan tertanam, maka akan menimbulkan banyak kesadaran baru yang pasti akan melemahkan sistem bangsanya sendirinya. Dalam kasus Indonesia-Belanda, hal ini diwakili oleh sosok Multatuli.

Di sisi lain, bila pada komunitas bangsa yang terjajah lahir sosok-sosok yang mampu menjadi panutan dan lantas ia memimpin kesadaran akan eksistensi bangsanya, maka bangsa terjajah ini akan bangkit untuk mengusir penjajah dari bumi tanah airnya. Mereka pasti bukan orang-orang yang memikirkan kepentingan individunya tapi memikirkan kepentingan komunitas atau bangsanya. Dan kondisi inilah yang terjadi pada awal abad 19 hingga terlahirlah banyak negara-negara baru yang tersadar akan hak kemerdekaan bangsanya.

Kondisi ini tentu dirasa baik oleh negara bangsa yang menyadari hak asasi bangsanya dan bermimpi untuk menjadi negara yang merdeka. Sementara bagi bangsa yang menjajah, kemerdekaan negara-negara jajahan belum tentu diterima dengan lapang hati dan penuh penghormatan karena logika bangsa penjajah adalah logika penguasaan bukan logika hidup berdampingan dengan saling menghormati dan saling menolong untuk membawa dunia pada kehidupan yang lebih baik.
Hal ini tentu mendorong bentuk-bentuk penguasaan model baru yang lebih mutakhir demi tetap hidupnya sistem penjajahan itu sendiri. Ibarat virus yang bertahan untuk berimun agar tetap hidup dan menggerogoti tubuh yang hendak dilemahkannya. Dan kelemahan-kelemahan sistem kolonialisme model lama menjadi pelajaran berharga bagi bangsa-bangsa penjajah ini untuk melahirkan sistem penjajahan model baru yang mutakhir.

Dan memang, sistem penjajahan yang kemudian muncul mengabaikan komunitas alias merek kebangsaan dan nama negara bahkan identitas keyakinannya. Identitas kebangsaan, nama negara atau pun nama agama sangat berpotensi untuk merapatkan barisan dan memicu bait-bait kesadaran karena mereka adalah individu-individu yang bekumpul dalam satu naungan wadah. Oleh karena itu konsepsi komunal alias perkumpulan atau perkomunitasan harus dibongkar. Dan muncullah konsepsi baru yang bernama penjajahan inti komunal alias penjajahan diri atau individu.

Penjajahan individu ini akan melahirkan generasi yang dipimpin oleh benaknya dan keinginannya sendiri. Sebuah generasi anak bangsa yang mengabaikan orang lain yang hidup dan bertumbuh di sekitarnya karena konsepsi yang ditanamkan adalah konsepsi ke-aku-an, segalanya berpusat pada diri dan hidup adalah utuk memenuhi keinginan dan kebutuhan diri. Dalam konsep masyarakat yang seperti ini, konsepsi orang lain sebagai bagian dari kesemestaan diri seorang individu jadi dianggap tiada. Aku adalah aku dan kamu adalah kamu, yang bukan bagian dari diriku.

Orang lain yang tak mendukung ke-aku-an seorang individu atau tak mampu berjalan seiring dengan kepentingan ke-aku-an si individu adalah orang yang tak patut untuk diingat apalagi dirangkul dan dipedulikan. Mereka dianggap orang yang gagal mengikuti derap zaman dan patut dimarjinalkan bahkan disingkirkan.

Sistem ini tidak memerlukan senjata yang menghancurkan fisiologi tubuh individu tapi justru membutuhkan piranti-piranti yang menguatkan kualitas dan memupuk perkembangan diri seorang individu. Sistem ini tidak perlu muncul lewat mimbar dengan orasi hebat atau datang ke lapangan dengan persenjataan berat, tapi cukup muncul dengan penuh kesantunan dan bahkan dibungkus dengan penampilan yang menarik dan senyum manis yang diumbar serta kerling keyakinan yang memesonakan.ndorong individu untuk merayakan satu persatu impian dengan sebuah kata hebat yang disebut kesuksesan.

Logika konsep dari sistem ini sangat terang, yaitu meniadakan kebutuhan berkumpul dan menipiskan kebanggaan komunitas. Sebuah bangsa yang anak-anak bangsanya lupa akan kebangsaannya, tidak memahami sejarah peradaban bangsanya, dan tipis kebanggaan akan identitas kebangsaannya, tentu akan menjadi bangsa yang lemah dan tidak lagi solid. Bila konsepsi kebangsaan saja hanya seadanya, apalagi kepedulian untuk mengerti bahwa di bumi yang tengah dipijaknya ada sebuah warisan luhur dan agung yang bernama negara!

Sebuah bangsa yang tiada memiliki anak pinak pengetahuan dan kebanggaan akan keberbangsaan yang tertanam dalam benak setiap anak bangsanya merupakan bangsa yang sulit untuk dipimpin. Kepemimpinan dan pengaturan masyarakat bangsa yang bersangkutan pada akhirnya hanya menjadi konsepsi wacana semata.

Dari sebuah generasi negara bangsa yang berkonsepsi seperti ini tidak mungkin lahir pemimpin besar yang revolusioner yang mampu merajut perbedaan demi nama besar bangsanya dan demi mempertahankan negara, tanah airnya. Kekentalan tingkat ke-aku-an akan melahirkan individu-invidu yang ego-sentris yang menafikan batasan atas nama hak asasi manusia dan mengabaikan masyarakat bangsanya atas nama pencapaian jenjang karir pribadi, popularitas diri ataupun
kesuksesan financial. Dan penjajahan ini bukan bernama kolonialisme tetapi globalisme. Sebuah istilah popular yang merajalela dalam banyak benak untuk mengesahkan banyak tindakan demi kepentingan pemakluman dirinya.

Pare,2 Desember 2011


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: