Oleh: uun nurcahyanti | Oktober 14, 2011

STAY HUNGRY,STAY FOOLISH


Steve Jobs : Stay Hungry Stay Foolish
by Azzam Anwar on Thursday, October 13, 2011 at 10:57pm

Berikut adalah terjemahan pidato almarhum Steve Jobs, Founder dan Owner Apple yang telah diterjemahkan oleh Dadang Kadarusman pada tanggal 17 Juni, 2009 silam. Silakan baca dan renungkan.

Saya merasa terhormat untuk menghadiri acara wisuda anda dari salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia. Sejujurnya, saya tidak pernah lulus dari perguruan tinggi. Jadi, bisa saya katakan bahwa ini adalah jalan yang paling dekat bagi saya untuk ‘mengikuti wisuda’. Hari ini, saya ingin menyampaikan kepada anda 3 kisah tentang hidup saya. Itu saja. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya 3 kisah.

Kisah pertama adalah tentang menghubungkan jejak-jejak kehidupan.

Saya Drop out dari Reed College (RC didirikan tahun 1908 di Portland, Oregon), dalam 6 bulan pertama, namun tetap tinggal di kampus selama sekitar 18 bulan berikutnya sebelum saya benar-benar keluar. Tahukah Anda, mengapa saya drop out?

Hal itu berawal sejak saya belum lahir, Ibu kandung saya adalah seorang perempuan muda, siswa sebuah universitas yang belum menikah. Dan dia memutuskan untuk mengijinkan saya diadopsi. Dia berkeinginan kuat agar saya diadopsi oleh orang tua yang berpendidikan tinggi. Oleh karenanya, segala sesuatunya sudah dirancang sebaik mungkin sehingga ketika lahir, saya akan langsung diadopsi oleh keluarga seorang pengacara. Namun, ketika saya lahir, keluarga itu secara mendadak mengatakan bahwa mereka menginginkan anak perempuan. Maka orang tua angkat saya yang berada dalam daftar tunggu mendapatkan telepon ditengah malam;”Kami mempunyai bayi laki-laki yang tidak diharapkan, apakah Anda menginginkannya?” Mereka bilang;”Tentu saja.”

Ibu kandung saya kemudian mengetahui bahwa calon ibu saya tidak pernah lulus kuliah, bahkan calon ayah saya tidak pernah lulus SMA. Karenanya, Ibu menolak untuk menandatangani dokumen adopsi itu. Namun, beberapa bulan kemudian akhirnya Ibu setuju, ketika kedua orang tua angkat saya berjanji akan menyekolahkan saya ke perguruan tinggi. Inilah awal bagi kehidupan saya.

Dan 17 tahun kemudian, saya benar-benar bisa sekolah di perguruan tinggi. Namun, betapa naifnya saya ketika memilih sebuah perguruan tinggi yang nyaris sama mahalnya dengan Stanford, sehingga semua tabungan kedua orang tua saya dihabiskan untuk membayar biaya kuliah. Setelah 6 bulan, saya tidak juga berhasil menemukan manfaatnya bersekolah semahal itu. Saya sama sekali tidak mengerti apa yang saya inginkan dalam hidup, dan saya tidak tahu apakah sekolah bisa membantu saya untuk menemukannya. Padahal, disekolah ini saya sudah menghabiskan semua uang yang orang tua saya kumpulkan dengan susah payah disepanjang hidup mereka.

Maka, saya memutuskan untuk berhenti sekolah, dan meyakini bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja. Sungguh sangat menakutkan saat itu, tapi jika saya menengok kebelakang dari sekarang; maka itu merupakan salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat. Sejak saya drop out, saya bisa terbebas dari keharusan untuk mengikuti pelajaran-pelajaran yang tidak saya sukai, malah sebaliknya justru saya bisa mengikuti pelajaran-pelajaran lain yang jauh lebih menarik.

Ini bukan kisah romantis. Saya tidak memiliki tempat tinggal yang pantas, sehingga saya tidur dilantai kamar teman saya. Saya mengembalikan botol minuman untuk menukarnya dengan deposit 5¢ supaya bisa membeli makanan. Dan setiap hari minggu saya harus berjalan sejauh 11 kilometer untuk mendapatkan sedekah berupa makan malam seminggu sekali di kuil Hare Krishna. Saya menyukai semua pengalaman itu. Terutama kepada keputusan untuk mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi saya yang pada akhirnya memberikan manfaat tidak ternilai dikemudian hari. Ijinkan saya untuk memberikan satu contoh:

Reed College pada waktu itu merupakan tempat terbaik untuk mempelajari seni kaligrafi. Seluruh kampus dihiasi oleh poster, gambar, dan atribut kaligrafi buatan tangan yang sangat indah. Karena saya sudah drop out dan tidak memiliki kewajiban untuk mengikuti kelas normal, maka saya memutuskan untuk mengambil kelas pelajaran kaligrafi, lalu mempelajari bagaimana cara melakukannya. Saya belajar tentang huruf ‘serif dan san serif’. Tentang variasi jarak antar huruf dan kombinasinya. Tentang apapun yang menghasilkan keindahan pada tipografi. Ilmu itu sungguh sangat indah, bernilai historis, sangat artistik, dan saya menjadi semakin tertarik padanya.

Tidak ada secercah harapanpun untuk bisa memanfaatkan semua itu dalam kehidupan saya. Namun, sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendesain computer Machintos untuk pertama kalinya, semua pelajaran itu terasa manfaatnya bagi saya. Dan kami menerapkannya dalam desain komputer Mac. Itu merupakan computer pertama yang memiliki tipografi yang indah. Jika saya tidak pernah mengikuti pelajaran kaligrafi dikampus itu, maka Mac tidak akan pernah memiliki beragam tipe dan jarak antar huruf yang seproporsional itu. Dan karena Window hanya bisa meniru Mac, maka kemungkinan tidak akan ada komputer yang memiliki kemampuan itu. Jika saya tidak pernah drop out, maka saya tidak akan pernah masuk ke kelas kaligrafi, dan mungkin personal computer tidak memiliki tipografi seindah seperti saat ini.

Tentu saja mustahil untuk menyambungkan jejak demi jejak kehidupan itu untuk melihat masa depan; ketika saya masih kuliah dulu. Namun, sungguh betapa sangat, sangat jelasnya untuk melihat kebelakang setelah sepuluh tahun kemudian.

Sekali lagi, Anda tidak akan bisa menghubungkan jejak demi jejak kehidupan dengan cara melihat kemasa depan; Anda hanya akan bisa menyambungkan jejak-jejak itu kebelakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa jejak-jejak itu akan menghubungkan Anda dengan masa depan Anda. Anda harus meyakini sesuatu – perasaan hati Anda, takdir, kehidupan, karma, apapun itu. Karena, meyakini bahwa jejak-jejak kehidupan itu akan membangun jalan menuju masa depan, akan memberi anda keyakinan diri untuk mengikuti suara hati, meskipun tidak selamanya nyaman, namun itulah yang akan membuat semua perbedaan.

Kisah kedua saya adalah tentang cinta dan kehilangan.

Saya beruntung, karena saya menemukan apa yang saya cintai pada masa-masa awal kehidupan saya. Woz (Stephen Wozniak) dan saya memprakarsai Apple di garasi orang tua saya ketika umur saya masih 20 tahun. Kami bekerja keras, sehingga dalam 10 tahun saja Apple sudah berkembang dari perusahaan yang kami kerjakan berdua di garasi menjadi perusahaan bernilai $2 Milliar dengan lebih dari 4,000 karyawan. Kami baru saja meluncurkan karya terbaik kami – The Machintos –setahun sebelumnya, ketika usia saya memasuki 30 tahun. Dan, kemudian saya dipecat.

Bagaimana mungkin Anda dipecat dari perusahaan yang Anda dirikan? Begitulah, sejalan dengan pertumbuhan Apple, kami kemudian merekerut seseorang yang saya kira sangat berbakat untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Pada tahun pertama, semuanya berjalan lancar. Namun, kemudian visi kami tentang masa depan mulai berbeda, dan akhirnya kami terlibat dalam perseteruan sengit. Ketika itu terjadi, Board of Directors memihak kepadanya. Lalu, pada usia 30 tahun itu; saya dipecat. Saya benar-benar tersingkir dari muka public. Semua hal yang saya dambakan disepanjang hidup saja telah sirna, dan itu sungguh merupakan sebuah bencana yang menyakitkan.

Saya benar-benar tidak tahu, apa yang harus saya lakukan selama berbulan-bulan setelah itu. Saya merasa telah meruntuhkan sebuah generasi kewirausahaan, seolah saya telah menjatuhkan „tongkat musik konduktor‟ yang saat itu menjadi tanggungjawab saya. Lalu saya menemui David Packard dan Bob Noyce untuk meminta maaf kepada mereka karena saya telah membuat semua kekacauan itu. Saya sungguh telah benar-benar gagal, sehingga saya pernah berniat untuk melarikan diri dari the valley. Namun, secara perlahan muncul sebuah titik terang dalam diri saya – saya masih mencintai pekerjaan saya. Apa yang telah terjadi di Apple tidak bisa merenggutnya barang sedikit pun. Saya telah disia-siakan, tapi saya masih mencintainya. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk memulai kembali.

Semula saya tidak menyadarinya; namun kemudian saya tahu bahwa ternyata dipecat dari Apple merupakan peristiwa terbaik yang menimpa diri saya. Beban berat yang harus saya pikul sebagai orang sukses, lalu diganti dengan beban kecil sebagai seorang pemula, tanpa harus merasa khawatir akan banyak hal lainnya. Semuanya itu, memberi saya kebebasan untuk memasuki suatu periode paling kreatif dalam kehidupan saya.

Dalam lima tahun kemudian, saya memulai sebuah perusahaan bernama NeXT, serta perusahaan lain bernama Pixar, dan jatuh cinta kepada seorang perempuan luar biasa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar membuat film animasi computer pertama didunia yaitu Toy Story, dan saat ini merupakan studio animasi paling sukses didunia. Selanjutnya sebuah peristiwa yang bersejarah terjadi, Apple membeli NeXT, sehingga saya kembali ke Apple. Dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi inti dari kebangkitan Apple dimasa kini. Dan Laurene bersama saya menjalani kehidupan keluarga yang sangat indah.

Saya sangat yakin bahwa semua ini tidak akan terjadi jika saya tidak dipecat dari Apple. Itu seperti pil yang rasanya sangat pahit, namun saya yakin pasien membutuhkannya. Kadang-kadang, kehidupan menonjok anda tepat diubun-ubun dengan pukulan berat. Jangan pernah kehilangan keyakinan. Saya yakin bahwa satu-satunya hal yang membuat saya bertahan dan terus berusaha adalah; karena saya mencintai apa yang saya kerjakan.

Anda harus menemukan apa yang anda cintai. Dan itu berlaku pada pekerjaan anda, juga pada orang-orang yang Anda cintai. Pekerjaan anda akan mengisi sebagian besar hidup anda, sehingga satu-satunya cara untuk mendapatkan kepuasan darinya adalah; untuk melakukan pekerjaan yang anda yakini sebagai pekerjaan yang berharga. Dan satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan berharga adalah dengan cara; mencintai apa yang anda kerjakan. Kalau anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Seperti segala sesuatu yang berhubungan dengan hati, Anda akan tahu ketika anda menemukannya. Dan, seperti halnya semua hubungan yang agung, maka semuanya akan terus berkembang untuk menjadi lebih baik, dan menjadi lebih baik lagi seiring dengan perjalanan waktu. Jadi, teruslah mencari. Jangan pernah berhenti.

Kisah ketiga saya adalah tentang kematian.

Ketika berusia 17 tahun, saya membaca sebuah kutipan yang bunyinya kira-kira begini; “Jika Anda menjalani hidup setiap hari seolah-olah itu merupakan hari terakhir dalam hidup anda, maka pada suatu hari anda akan benar-benar mengalami hari terakhir itu.” Kalimat itu sangat mengesankan bagi saya, dan sejak saat itu, selama 33 tahun terakhir, setiap pagi saya menatap cermin dan bertanya pada diri sendiri;”Kalau ini adalah hari terakhir dalam hidup saya, apakah saya akan melakukan apa yang selayaknya saya kerjakan hari ini?” Dan jika jawabannya adalah „Tidak‟, dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu bahwa ada sesuatu dalam diri saya yang harus saya ubah.

Menyadari bahwa saya akan segera mati adalah sarana paling penting untuk membantu saya membuat pilihan besar dalam hidup. Sebab, hampir segala hal – semua tuntutan eksternal, semua kebanggaan, semua ketakutan untuk dipermalukan, dan segala kekhawatiran akan kegagalan – semuanya itu, tiba-tiba saja menjadi tidak lagi bernilai ketika berhadapan dengan kematian, sehingga yang tersisa hanyalah apa yang „benar-benar penting‟ saja. Menyadari bahwa anda akan mati adalah cara terbaik untuk membebaskan diri dari jebakan pemikiran bahwa anda akan kehilangan sesuatu. Anda sudah tidak memiliki apapun. Sehingga tidak ada alasan bagi anda untuk tidak mengikuti kata hati.

Sekitar setahun yang lalu, saya didiagnosis penyakit kanker. Saya menjalani pemeriksaan pada jam 7:30 pagi, dan hasilnya menunjukkan ada tumor pada pancreas saya. Bahkan, saya tidak tahu pancreas itu apa sebelumnya. Dokter mengatakan bahwa ini adalah kanker yang tidak dapat disembuhkan, dan harapan hidup saya hanya tinggal sekitar 3 sampai 6 bulan saja. Dokter menganjurkan supaya saya segera pulang dan „mempersiapkan segalanya‟, dimana ini adalah kode dari dokter tentang „mempersiapkan diri untuk mati‟. Artinya, saya harus menjelaskan semuanya kepada anak-anak saya tentang sesuatu yang tidak ingin saya ceritakan dalam waktu sedekat itu. Dengan begitu segala sesuatunya bisa dipersiapkan, sehingga keluargamu tidak terlalu kaget jika saatnya tiba nanti. Dan itu berarti mengucapkan ‘selamat tinggal’.

Saya menjalani hidup bersama penyakit itu sepanjang hari. Kemudian, pada suatu sore saya menjalani biopsy, dimana mereka memasukkan alat endoskopi kedalam kerongkongan saya, melintasi lambung, dan masuk kedalam usus, lalu meletakkan jarum kecil di pankreas saya, dan mengambil beberapa sel tumor itu. Saya dibius, namun istri saya yang menemani mengatakan bahwa ketika mereka melihat sel-sel itu dibawah mikroskop, dokter mulai menangis, karena keajaiban telah mengubah sel kanker itu sehingga masih mungkin untuk disembuhkan melalui pembedahan. Saya menjalani operasi itu, dan syukurlah, saya baik-baik saja sekarang.

Ini merupakan saat dimana saya berhadapan dengan kematian dalam jarak yang teramat dekat, dan saya berharap tidak mengalaminya lagi dalam beberapa puluh tahun kedepan. Karena pernah berada sedekat itu, sekarang saya bisa menceritakan soal kematian kepada anda dengan lebih meyakinkan daripada menjelaskannya dengan sekedar konsep intelektualitas semata.

Tidak seorangpun ingin mati. Bahkan, orang yang ingin masuk sorga tidak ingin mati untuk memasukinya. Namun, kita semua sama-sama menuju kepada kematian. Tak seorangpun bisa lari darinya. Dan itu merupakan sebuah kepastian, karena boleh jadi kematian merupakan satu-satunya proses pencarian terbaik atas makna kehidupan. Kematian adalah agen perubahan bagi hidup. Kematian membersihkan hal-hal yang sudah uzur, untuk membuka jalan bagi hal-hal baru. Sekarang, hal baru itu adalah anda, namun suatu saat nanti tidak lama lagi dari sekarang, anda akan berangsur-angsur menjadi tua dan harus digantikan. Maaf jika kata-kata saya terdengar begitu dramatis, namun benar adanya.

Waktu anda sangat terbatas, jadi jangan membuang-buang waktu untuk mengambil jatah hidup orang lain. Jangan terjebak dalam dogma – yaitu menjalani hidup dari hasil pemikiran orang lain. Jangan membiarkan pendapat orang lain menutupi suara kalbu anda. Dan yang terlebih penting lagi, milikilah keberanian untuk mengikuti suara hati dan intuisi anda. Karena kedua hal itu sudah mengetahui apa yang benar-benar anda inginkan dalam hidup anda. Hal yang selain dari itu, bersifat sekunder.

Ketika saya masih muda, ada sebuah publikasi mengagumkan yang disebut “The Whole Earth Catalog”, yang merupakan salah satu buku panduan bagi generasi saya. Media itu dibuat oleh orang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia menyajikannya dengan sentuhan-sentuhan puitis yang memikat. Ketika itu akhir tahun 1960-an, sebelum lahirnya publikasi melalui personal computer dan desktop; sehingga segala sesuatunya dibuat dengan mesin ketik, gunting, dan kamera Polaroid. Media itu bagaikan Google dalam bentuk cetakan, pada era 35 tahun sebelum Google ada; dia dipenuhi oleh gagasan, dihiasi dengan beragam sarana menawan, dan kosa-kata yang mengesankan.

Stewart dan teman-temannya menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth Catalog”, dan setelah berjalan beberapa waktu, mereka menerbitkan edisi terakhirnya. Itu terjadi di pertengahan tahun 1970-an, dan ketika itu saya masih seusia anda. Disampul belakang catalog terakhir itu ada sebuah foto jalan pedesaan diwaktu pagi, semacam pemandangan yang anda dapatkan ketika anda tengah menaiki sebuah truk kalau anda senang berpetualang. Dibawah foto itu, ada kata-kata;”Stay Hungry. Stay Foolish”. Itu merupakan salam perpisahan yang mereka ucapkan dalam edisi terakhirnya. Stay Hungry. Stay Foolish. Dan saya selalu mengatakannya kepada diri saya sendiri. Dan sekarang, saat anda diwisuda untuk memulai lembaran kehidupan baru, saya mempersembahkan kata-kata itu kepada anda.
Stay Hungry. Stay Foolish. Thank you all very much.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: