Oleh: uun nurcahyanti | Oktober 14, 2011

ATRIBUTISME


Beberapa malam lalu diajak teman-teman siswa untuk makan nasi bakar di Singgahan. Mbak penjual nasi bakar yang telah akrab dengan kami dengan senyum sumringah menyambut kedatangan kami. Entah mengapa saya sangat suka dengan aura mbak yang satu ini. Bersahabat dan penuh percaya diri, padahal secara fisik dia tidak termasuk dalam golongan perempuan yang bertubuh indah. Tubuhnya cukup tambun, namun ia dengan sangat pede mengenakan baju ketat dan kondisi ini tak membuatnya tampak kikuk. Hal ini justru malahmembuatnya menarik menurut saya pribadi.

Hari ini alhamdulillah ada yang ngajak makan masakan kesukaan saya, mie ayam. Dan di siang yang terik itu kami bersantap mie ayam di sebelah timur Rumah Sakit HVA. Dan lagi-lagi saya disuguhi pemandangan yang menarik untuk dikaji. Penjual mie ayam tersebut adalah seorang perempuan yang berbadan cukup subur dengan penampilan yang sangat sederhana dan dengan bahasa yang sederna pula. Dan lagi-lagi mbak penjual mie ayam ini menjadi obyek pengamatan yang menarik untuk saya. Tubuhnya yang sangat tidak langsing itu ternyata sangat enak untuk dilihat.

Dua kutipan contoh diatas mungkin hanyalah contoh sederhana yang akrab dengan keseharian kita. Bahwa disekitar kita ternyata sangat banyak orang ‘kurang ideal secara fisik’ yang bertebaran. Mereka tidak seperti para bintang sinetron yang bertubuh ramping dan berkulit putih, tapi mereka adalah orang-orang yang cukup enak dipandang, padahal sangat besar kemungkinannya bagi mereka yang tidak ideal itu merasa minder dan kadangkala tersiksa dengan ketidak-idealan tubuhnya itu. Dan bagi yang sangat tidak percaya diri, maka mereka dengan senang hati berupaya mati-matian untuk bisa tampil lebih langsing atau berusaha untuk memiliki kulit yang lebih putih cemerlang padahal ia orang Jawa tulen yang cenderung berkulit hitam manis.

Selama ini mindset kita memang seringkali digiring oleh media kepada penalaran kedagingan, meminjam istilah Moamar MK. Yaitu konteks nalar yang melulu berkutat pada kondisi fisik yang sebenarnya adalah sekedar daging yang menutup tulang belulang dengan segala isi yang melingkupinya. Tulang, urat, otot dan organ-organ tubuh bagian dalam menjadi kurang terperhatikan karena tidak terlihat secara kasat mata. Hanya daging yang terbungkus kulitlah yang menjadi sasaran eksploitasi karena mereka adalah hal tertampak.
Bila organ dalam tubuh yang notabene konkrit namun hanya tak terlihat saja mengalami pengabaian saat kita berbicara tentang konsepsi tubuh, apalagi hal yang abstrak semisal kualitas diri atau eksplorasi bahasa!
Konsep ini pada akhirnya membentuk paham physicisme, yaitu sebuah paham yang menyiibukan diri untuk mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan fisik dengan segala tetek bengeknya semisal mengenai gemuk kurus, warna kulit, jenis rambut,ukuran payudara dan sebagainya yang menopang penampilan fisik seorang individu.

Paham physicisme ini akhirnya menghasilkan paham atributisme, yaitu paham yang memuja kemasan-kemasan. Demi melancarkan konsepsi ini agar mendunia, lantas muncul model boneka Barbie yang mencitrakan kemolekan tubuh ‘ideal ‘ dalam wujud yang ramping, langsing, jangkung dengan rambut bergelombangnya nan blonde dan berwajah elegan yang angkuh. Atribut yang menemaninya pun dibuat sangat elegan dengan cita rasa golongan atas juga. Lantas, seluruh dunia mengiblatkan konsepsi fisiknya ke Eropa dan Amerika Serikat serta Kanada yang secara analogi tercermin dalam boneka mainan para gadis kecil ini.
Para tunas-tunas harapan dari segala bangsa di berbagai belahan dunia pun akhirnya bermimpi untuk memiliki kesempurnaan ala Barbie dan bermimpi memiliki kehidupan penuh mimpi merah jambu ala Barbie juga. Dan mereka yang tidak memiliki kondisi ideal ini pada akhirnya ditepikan oleh zaman yang dimotori secara keji oleh media yang dikendalikan oleh industri atribut-atribut yang sebenarnya termasuk dalam industri kebutuhan sekunder dan tertier.

Kongkalikong antara korporasi internasional dengan media ini pun secara sistematis menghancurkan tatanan indah yang bernama perbedaan dan individualitas manusia. Bahwa secara fisik, orang Afrika memang tidak sama dengan orang Cina, orang India memang tidak sama dengan orang Jawa, orang Prancis memang berbeda dengan orang Tahiti dan seterusnya, dan seterusnya. Akhirnya orang-orang yang tidak seperti boneka Barbie dianggap tidak proporsional menurut zaman yang disebut sebagai era modern ini. Dan mereka pun terpinggirkan oleh zaman, ditinggal di selokan-selokan peradaban.

Air comberan dari mesin kapitalisasi pun mengencingi kepercayaan diri dan individualitas para pemilik tubuh yang dikatakan Tuhan sebagai makhluk yang sempurna itu. Dan para makhluk paling sempurna itu pun malah menganggap diri mereka maha tak sempurna hanya karena tubuh mereka dianggap tidak njamani.Ya. Tidak njamani!

Sehingga sering kita lihat orang Jawa tak lagi Njawani, orang Indonesia tidak lagi meng-Indonesia,Orang Arab juga sudah ikut larut dalam gempita Eropa-Amerika-Kanada dan lupa akan ke-arabannya sehingga malah jadi Arapati genah…

Kegemerlapan atributisme ini menggemerlapkan industri non primer dan membawa arus perubahan kebutuhan mendasar manusia secara fundamental sehingga secara sadis memporak-porandakan kebutuhan hidup manusia dan secara drastis mengubah gaya hidupnya. Karena yang dikejar bukan lagi pemenuhan kebutuhan fisik dan kemudian jasmani dan rohani, tapi justru kebutuhan untuk menampilkan kondisi fisik yang berujung pada pemenuhan kebutuhan biologis. Yang sayangnya cenderung pada pencapaian-pencapaian yang cenderung normatif-kompetitif karena saat ini adalah era industrialisasi, dan tidak mengakar karena sentralisasi figur adalah pembusukan karakter unik yang seyogyanya dimiliki oleh setiap insan. Hal itu adalah gengsi dan kepuasan pribadi . Sebuah kondisi yang pada akhirnya mencipta kasta-kasta dalam masyarakat dan menebarkan penyakit-penyakit kepribadian.

Secara indah, budaya dan peradaban manusia di berbagai belahan dunia disentralisir pada kebutuhan non primer ini dengan satu sentral yaitu Eropa, Amerika Utara, dan Kanada. Secara cantik, bangsa dari berbagai belahan dunia manapun diperbudak oleh atribut-atribut. Secara sistematis pusat-pusat pengkajian keilmuan dibangun demi melanggengkan rezim keindustrialisasian ini atas nama ilmu pengetahuan dan kemajuan zaman. Namun secara ironis menghasilkan sarjana-sarjana yang siap menjadi buruh di kaki mesin kapitalisme.
Dan setelah segala masalah kepribadian berkembang. Maka muncul industri kosmetik dan perawatan badan yang lagi-lagi berkarakterlicik dan manipulatif. Muncul industri motivasi yang melenakan dengan dalih adanya penurunan semangat dan daya kreasi masyarakat. Dan ruang kelas yang seharusnya semesta dan akrab dengan alam pun berpindah ke hotel-hotel dengan durasi waktu yang sangat sedikit. Belajar yang seharusnya meluas, akhirnya jadi menyempit. Belajar yang seharusnya berdurasi lama, dari ayunan hingga liang kubur, pun mengalami reduksi waktu demi hal yang bernama sertifikasi yang lagi-lagi adu gengsi dan bersifat kompetitif semata.

Kemerdekaan individu sebagai seorang anak dari bangsanya pun pada akhirnya ikut tergerus arus atributisme yang ditunggangi oleh industrialisasi. Individu memiliki tubuh, dan tubuh bisa berbahasa. Tubuh adalah kitab yang telah tersulam kalam-kalam Illlahiah sehingga tubuh bisa di di masukan dalam ranah politik yang bernama politik tubuh. Politik tubuh seharusnya mampu dilakukan sebagai bentuk dari perjuangan untuk mencapai kemerdekaan diri. So, mari bersemangat dan melangkah penuh percaya diri demi menemukan karakteristik diri dan karakteristik bangsa.Gi…tu.

Pare,17 september 2011
11.31


Responses

  1. bravo miss


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: