Oleh: uun nurcahyanti | Oktober 1, 2011

Kerja Kata


Indonesia adalah negeri buku. Ini adalah kalimat pembuka dalam salah satu makalah dari pembicara diskusi malam mingguan Rumah Anak Bangsa, Bandung Mawardi, seorang penulis essai muda yang produktif dan sangat gila baca.

Kalimat sederhana ini terasa sangat dahsyat bagi saya. Kalimat ini bagaikan sebuah lecutan yang membelalakan mata batin saya tentang sebuah kenyataan yang seharusnya telah lama bisa saya baca. Bahwa para pendiri Indonesia, para penggagas alias konseptor dan patriot yang memperjuangkan kemedekaan Indonesia adalah para rhapsodist. Mereka adalah para penulis handal yang memiliki gagasan dan pemikiran cemerlang hasil dari telaah buku dan pendalaman wacana diri lewat diskusi dan pergulatan-pergulatan kata dan pergumulan tiada henti dalam meminang dan menyunting aksara-aksara.

Para pemimpin awal Indonesia merdeka adalah manusia-manusia produktif dalam menyimbolkan tata pikir dan olah rasa mereka dalam tulisan-tulisan baik lewat media cetak atau pun dalam buku-buku. Lukisan-lukisan tubuh mereka bahkan masih abadi dan relevan dengan alam kondisi kekinian Indonesia seratus tahun kemudian.

Para pengawal dan penggagas ke-Indonesia-an itu, bukan para pengecut yang hanya lihai dalam berkata-kata dengan penuh santun namun kehilangan esensi kebermaknaan dari abjad-abjadnya karena apa yang diutarakannya bukanlah hasil dari goresan penanya sendiri. Mereka juga bukan pesolek yang mementingkan daya pikat yang mengelabui visualitas rakyatnya dengan foto dan penampilan yang wangi memabukan.

Mereka adalah manusia-manusia pemberani yang mengurung dirinya dengan kesunyian dan meramaikan Indonesia Raya dengan kerja kata tanpa jeda. Kerja kata, tidak sama dengan berpesta pora kosakata seperti yang saat ini seringkali dipamerkan oleh para politikus di layar kaca-layar kita masa kini itu. Kerja kata adalah sebuah proses membaca dan mendalami kedalaman diri demi menghasilkan kebeningan nurani yang segalanya melulu dipersembahkan untuk segala sesuatu di luar dirinya.

Di luar diri, bukan berarti berhenti dalam ruang lingkup keluarga yang semakna dengan pelanggengan kekuasaan dan kekayaaan. Atau keluar sedikit pada wilayah keorganisasian atau wilayah kepartaian yang tengah dibelanya. Sebuah hal yang secara nyata setali tiga uang dengan kepentingan diri pribadi sebenarnya.

Masa depan rakyat dan negara bangsa dengan nama Indonesia – lah yang selalu menjadi fokus perjuangan dan ujung dari seluruh energi pembacaan diri para pahlawan Indonesia ini.

Sayangnya, selepas September 1965, budaya kerja kata ini tereduksi dan beralih kepada kerja bakti untuk memperbaiki taraf ekonomi. Sebuah kerja untuk berbakti pada kata ekonomi semata. Seluruh kosakata yang tadinya berwarna pelangi kini hanya berwarna ekonomi.
Dalih perbaikan ekonomi, dengan stempel formal yang bernama ‘atas nama rakyat’, pada akhirnya memberangus budaya bertutur secara Bhinneka menjadi hanya sekedar Tunggal Ikka semata. Satu jua iitu adalah EKONOMI. Bukan ekonomi kerakyatan, tapi ekonomi atas nama rakyat!

Kata RAKYAT tiba-tiba menjadi sebuah kosakata popular demi merebut kepemimpinan bangsa dan mematikan mereka yang sebenarnya bernama rakyat itu sendiri. Rakyat dinina bobokan dengan slogan dan dongeng-dongeng perbaikan ekonomi.

Susastra dimarjinalkan karena tidak membawa dampak ekonomi. Kata-kata indah dan santun penuh kepolosan dan nuansa kekuatan penuh kemerdekaan dilecehkan dibawah kaki kekuasaan. Buku-buku bukan lagi menjadi telaah kedalaman diri lewat kerja kata, tapi menjadi ritual ekonomi lewat kata kerja . Memroduksi buku adalah sebuah kerja yang seyogyanya menghasilkan capital dan menopang desain ekonomi makro bagi negara bangsa.

Kondisi yang mengakibatkan sebuah aksara tak lagi memiliki ruh, butir-butir kata tak lagi menyimpan kekuatan rasa penuh jiwa yang mampu menggapai emosi para pembacanya yaitu para anak bangsa! Pada masa Orde Baru ini, Indonesia mulai kehilangan jati dirinya dalam dunia aksara dan keberbudayaan peradabannya. Susastra mengalami sekarat karya, kerja-kerja kata dikaramkan oleh mereka yang seharusnya bekerja sebagai penjaga dan pemangku peradaban bangsanya.

Sebuah kerja kata adalah kata kerja yang bermakna imperative tanpa tempelan predikat tak mengapa!

Sebuah Catatan
Dari diskusi Rumah Anak Bangsa, 24 september 2011
Terima kasih Mas Bandung!


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: