Oleh: uun nurcahyanti | September 20, 2011

Bangsa Preman Terhebat


Hari ini adalah hari pertama kelas translation yang diawali dengan perkenalan. Siswa yang beruntung mendapatkan kesempatan perkenalan adalah Guntur yang berasal dari Gresik. Banyak hal menarik yang bisa kami gali pada diri seorang Guntur. Dan hal yang paling menarik adalah kisahnya saat mencari SMA.

Syahdan, orangtuanya Guntur tidak merestui Guntur masuk ke SMA pilihannya dan menyarankan masuk ke SMA lain yang menurut orangtuanya lebih cocok untuknya. Setelah melalui berbagai tes, ternyata Guntur hanya duduk di bangku cadangan. Dan orangtuanya mencoba mencari jaur alternatif agar bangkunya Guntur berubah.
Akhirnya, ada jalan kompromi! Pihak sekolah mau menerima Guntur menjadi salah satu siswa di SMA tersebut asalkan membayar sejumlah uang dengan dalih bantuan pengadaan laptop untuk fasilitas belajar mengajar di sekolah tersebut.

(Sungguh sebuah dalih yang rasa-rasanya sudah bergaung sejak saya sekolah dulu meski biasanya dengan alasan uang pembangunan…)

Sang ayah lantas membawa jalan kompromi ini ke rumah untuk didiskusikan karena jumlah yang diminta tentu berjumlah tidak sedikit bagi keluarga tersebut. Dan bagi Guntur sendiri demi mengetahui hal tersebut dengan serta merta ia menolak untuk masuk ke SMA pilihan bapaknya itu. Alasannya :” Lha wong kami sendiri saja tidak mampu membeli laptop kok malah mau membelikan laptop buat orang lain, Miss, bukankah itu gila namanya…? Meskipun demi hal yang bernama belajar di sekolah favorit…”

Meski Guntur mengucapkannya sambil tertawa-tertawa, namun matanya yang lentik tak mampu menyembunyikan kabut tipis kehampaan yang sekilas bersemayam disana. Ada galau yang mungkin bergulat dengan kegeraman yang teramat dalam. Hal itu terlihat jelas di matanya…

Hal tersebut ternyata terulang kembali saat dia ingin masuk ke kepolisian, seperti cita-citanya. Jalur ‘bersih’ alias tanpa duit gagal ditembusnya. Jalur yang memberi pilihan untuk masuk adalah jalur berduit yang konon berbandrol minimal 60 juta!

(Orang miskin ternyata dilarang jadi Polisi Indonesia,kawan…!!)

Dan kali ini mata siswa saya ini tak malu menyembunyi tetes-tetes bening yang tak hendak luruh itu. Sebuah kemarahan dan kekecewaan bersatu menghancurkan cita-cita besar masa kecilnya. Menjadi salah satu pasukan penjaga negerinya!

Kisah kecil ini begitu bermakna dan mengispirasi bagi kami, teman-teman sekelasnya. Kenyataan pahit semacam ini memang bukan hal asing bagi dunia pendidikan di Indonesia, namun meski demikian kami tetap merasa terhenyak oleh setikam luka. Bahwa begitu banyak harapan dari orangtua siswa dan calon siswa yang dibebankan pada pundak sebuah lembaga yang bernama sekolah sementara sistem pendidikan nasional belum juga mampu memformulasi kualitas yang berkompromi dengan kondisi ekonomi besar bangsa. Sehingga ada slogan yang dimaklumi bersama bahwa ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH, ORANG MISKIN DILARANG JADI SARJANA, dan sekarang yang terbaru :ORANG MISKIN DILARANG JADI POLISI!

Sungguh ironis yang menyakitkan hati.

Apalagi bila mengingat sebuah kondisi riil bahwa kadang demi menyekolahkan anak-anaknya, orangtua terpaksa melampaui batas logika kemampuannya secara ekonomi sementara kemanfaatan dar’sumbangan’ yang harus disetorkan tersebut masih dalam tanda tanya. Seperti kata Guntur tadi, “Lha wong untuk beli laptop sendiri saja tidak mampu kok malah menyumbang buat sekolah!”

Hal ini terlihat sepele, namun sebenarnya tidak demikian implementasinya. Bagi saya pribadi, maaf, dalam hal ini lembaga sekolah telah berkarakter tak ubahnya seperti preman pasar. Kalau preman, mereka berbuat seperti itu karena desakan kebutuhan perut agar tetap bertahan hidup. Tapi bagi lembaga sekolah, desakan apa yang mendorongnya untuk ’mengompas’ para calon siswanya..?

Bukankah orang-orang yang mengusung dunia sekolah adalah kaum intelektual dengan kemampuan suvival yang pasti jauh labih baik darpada preman pasar? Ataukah justru saat ini telah terjadi booming paham premanisme di berbagai lapisan kepentingan, baik sekolah ataupun di level kerja-kerja strategis…?

Kalau iya, tentu preman-preman jenis ini lebih terorganisir dan berpotensi memiliki penghasilan sangat tidak terbatas. Bahkan, bisa-bisa para pengusaha sejati beramai-ramai memindahkan jalur bisnis mereka ke jalu premanisasi ini. Dan Indonesia ke depan bisa dipastikan akan menjadi bangsa preman terhebat di dunia.Begitu.


Responses

  1. sepertinya yang beginian sudah kayak jadi budaya dan kebiasaan.*waktu aku muda beberapa teman ingin memenuhi cita2nya,semua tes lulus,kecuali tes terakhir ketika ada penawaran antara 1setngah juta sampai 1 juta 900 ribu,kondisi jaman itu

    • Berarti kita memang bangsa preman keturunan ya mas..hehehe…


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: