Oleh: uun nurcahyanti | September 18, 2011

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN!


Kisah Pertama

Awal semester genap lalu, saya mendapat teguran dari direktur program dimana saya mengajar. Sebuah teguran yang seharusnya tidak membuat saya tersinggung, namun sayangnya cara menyampaiannya terasa kurang santun secara etika akademik. Teguran itu adalah tentang ‘pelitnya’ saya memberi nilai A pada mahasiswa saya.

Mungkin hal ini adalah sebuah sindiran atau guyonan ala para petinggi. Teguran itu disampaikan melalui salah satu staf saya yang kebetulan juga adalah mahasiswa saya. Teguran tersebut disampaikan di depan forum kelas. Aih..indah nian…!

Meski gulana, saya hanya bisa menghela nafas panjang saat staf saya tersebut menyampaikan amanah unik tersebut…

Dalam benak saya tiba-tiba muncul kerancuan berpikir antara kebenaran dan kebaikan. Bila acuannya adalah kebenaran, maka bukankah seorang guru, dalam level manapun ia mengajar, seyogyanya mendahulukan kejujuran dalam memberi nilai (score) demi membangun nilai (value) pada para murid-muridnya?

Bukankah mental dan karakter pembelajar sejati tertempa hanya dengan kejujuran dan ketulusan dalam memberi nilai tersebut? Nilai (score) yang dianggap di atas standard akan melahirkan pemenang yang memiliki rasa percaya diri yang membumbung, sementara nilai (score) di bawah standard hanya akan melahirkan pejuang yang berjiwa besar dan bermental baja.

Artinya, berapapun nilai (score) yang didapat adalah buah perjuangan yang memondasi nilai (value) hidup bagi para manusia-manusia pembelajar. Abjad yang didapat sebagai simbol nilai (score) di bangku kuliah, seyogyanya, adalah simbol perjuangan dan kualitas diri seorang siswa, bukan sekedar abjad bisu yang dikejar hanya gengsi prestasi belajar!

Betapa hebatnya sistem pendidikan nasional kita yang menempatkan score sebagai acuan tanpa melihat value yang terbangun di dalamnya.

Betapa ironisnya, seorang pimpinan yang mengajak kepada kekufuran secara terang-terangan…
Sementara saya adalah seorang dosen dari sebuah fakultas dengan nama paling menggetarkan : FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN!

Sebuah tempat yang dipercaya untuk menggodok para calon guru bangsa ini mengajak dan mengajarkan saya untuk culas dalam memberi nilai pada tunas-tunas muda pendidik anak bangsa masa depan. Sementara saya selalu mengatakan pada mahasiswa saya bahwa bukan saya yang memberi nilai (score) pada mereka, saya hanyalah menghitung dan memindahkan nilai-nilai yang mereka sendiri tuliskan dalam bentuk abjad A,B,C,D, dan E itu.Bahwa sejarah kecemerlangan akademis mereka, mereka sendirilah yang menorehkannya!
Sungguh ironis…

Kisah Berikutnya

Awal semester ini seorang mahasiswa menyampaikan pesan dari dekan saya. Pesan tersebut adalah sebuah teguran mengapa harus ada nilai C pada mata kuliah yang saya ampu semester sebelumnya…

Dan pagi nan cerah itu berubah menjadi abu-abu bagi saya!

Ada pertanyaan yang menyelinap nakal dalam benak saya, ‘Mengapa ya ditentukan 5 abjad dalam cara penilaian di perguruan tinggi :A B C D E, bila nilai lumrah yang dikehendaki lembaga hanya A dan B?
Bagaimana mungkin negeri besar Indonesia ini mampu mempertahankan kebesarannya bila nilai-nilai mata pelajaran saja bisa dimanipulasi dan di korupsi..?”

Saya teringat suatu ketika, selepas wisuda D3, saya berkata pada Tuhan, “ Tuhan, kenapa aku tak berani bermimpi untuk mendapatkan IP 4 saat kuliah lalu..? Andai ku berani, ku pasti lulus Cum Laude kan, Tuhan…?! Sebenarnya ku ingin sesekali pernah mencicipi IP 4, Tuhan, tapi aku tidak berani bercerita kepada-Mu…”

Saat itu nilai saya memang tidak Cum-Laude meskipun saya adalah lulusan terbaik di jurusan saya. Hanya sangat nyaris Cum-Laude!Hehehe…

Sepuluh tahun kemudian, semester terakhir S1 saya, Tuhan berkenan mengabulkan permintaan saya. Saya mendapatkan IP 4!

Bukan bangga yang menggetarkan seluruh jiwa saya waktu itu, tapi bayangan akan beban tanggung jawab atas nilai yang telah saya dapatkan tersebut. Kata bangga dan bahagia terasa jauh dari diri saya waktu itu, kata terpaku dan terpana lebih tepat menggambarkan suasana hati saya yang bergetar karena beban yang tiba-tiba lekat entah dari mana.

Betapa bagi saya sebutir nilai adalah torehan sejarah yang di dapat karena kita memperjuangkannya. Saya teguh pada prinsip bahwa setiap tetes keringat orang tua saya, harus saya jawab dengan prestasi! Namun banyak sikap berbeda yang menghendaki saya mengkhianati nilai (value) yang telah saya bangun sekian lama itu justru saat saya menjadi seorang dosen dari fakultas paling menggetarkan : FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN!

Tiba-tiba saya merasa marah dan tertikam bermilyar khianat!

Pare, 12 September 2011

Uun nurcahyanti


Responses

  1. 🙂 Begitu ya. Itu pernah aku alami saat awal-awal menjadi dosen. Dikumpulkan dengan teman-teman seangkatan; ditegur dekan soal nilai yang kami berikan.
    Begitulah, benar seperti yang Anda uraikan di atas. Padahal, kami hanya ingin bersikap objektif. Toh, dari sejumlah mahasiswa masih ada yang bernilai A.
    Aku juga selalu mengatakan kepada mahasiswa/i bahwa nilai itu mereka yang buat sendiri sebenarnya. Tugas dosen ya mengantarkan mereka memahami materi kuliah yang diberikan kepada mereka, membuat soal yang sesuai dengan kondisi kelas, mengoreksi, dan menuliskan nilai-nilai yang mereka buat sendiri (pada hakikatnya).
    Selamat berpegang terus pada prinsip. Kalau kita objektif, mahasiswa juga paham dan menerimanya kok.
    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

    • Benar ,Pak…semoga kita bisa berpegang pada prinsip-prinsip kebenaran yang kita yakini. Sebuah kehidupan tanpa ‘Amin’ hanya akan menghasilkan sebuah ritual semata.Terima kasih atas supportnya, bapak…

    • Terima kasih atas support dan sepenggal kisahnya, bapak…
      Semoga kita senantiasa mampu menjaga prinsip-prinsip kebenaran yang kita yakini.Amiin…


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: