Oleh: uun nurcahyanti | September 2, 2011

BANDUNG


Keberangkatan

Pada Idul Fitri tahun ini, saya diberi limpahan karunia yang begitu besar sehingga bisa mudik di kota Kembang ini. Pertama kali sejak saya menikah 7 tahun lalu. Banyak pegalaman mengasyikan yang menyertai kepulangan saya ke kota kelahiran suami saya ini.
Pertama sekali adalah bahwa ternyata malam itu ada pertandingan Big Match di Liga Inggris. Dua pertandingan! Pertama Manchester City vs Totteham Hotspur dan pertandingan lain yang membuat saya sangat patah hati karena tidak melihat langsung berjalannya pertandingan di layar kaca, Manchester United vs Arsenal!
Saat sms berdatangan untuk mengabarkan ada pertandingan tersebut, saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Kok bisa-bisanya saya ketinggalan informasi tentang pertandingan MU vs Arsenal. Dan perlu diketahui bahwa arsenal adalah club favorit suami saya!
Kami Cuma bisa membayangkan serunya laga sembari menunggu kabar via sms. Dan detik demi detik terciptanya gol-gol ke gawang Arsenal adalah waktu yang paling menyiksa…! Apalagi buat suami saya yang ngefans ma Arsenal.
Hasil akhir : 8-2! Gila…! Arsenal belum pernah kalah setelak ini. Meskipun saya adalah MU lovers tapi rasanya sakit juga mengetahui Arsenal harus takluk dengan sedemikian telak. Semoga Arsene Wenger segera bisa memperbaiki kinerja timnya yang pasti goyah karena kenyataan pahit tersebut.
Pengalaman kedua adalah pengalaman ‘menjinakan’ malaikat kecil saya, yang ketika saya bangun dari sekejap terlelap (30 menit), sudah nongkrong di atas tempat duduk dan bergelantungan di tempat penyimpanan tas.Astaghfirullah…!
“Lin…ngapain disitu..?” kata saya tenang meskipun sebenarnya terkejut setengah mati.
“Halin sedang main monyet-monyetan, Bunda…” jawabnya dengan wajah sumringah nan polos.
Waah..logika dan dunia imajinasi anak-anak memang acapkali mengejutkan para orang dewasa di sekitarnya. Dan perjalanan ke Bandung pagi itu diwarnai lobi panjang untuk membuat Halin teralih perhatiannya dari dunia monyet-monyetannya itu…

Selamat Pagi Bandung

Kereta terlambat saat memasuki kota bandung. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.30. Terlambat satu jam lebih. Alhamdulillah sesampai di stasiun Gede Bage, Bandung, Halin malah ketiduran sehingga kami pun bisa beristirahat untuk beberapa saat setibanya di rumah. Lumayan…
Sorenya Halin mendapat banyak teman baru karena keponakan-keponakan mulai berdatangan. Suasana rumah menjadi cukup heboh.
Dan… kehebohan tersebut semakin menjadi kala Halin bermain-main kunci dan akhirnya terkunci sendiri di kamar depan! Dia panik dan mulai menangis. Kami pun memutar otak untuk mengeluarkannya dari kamar yang tak berjendela itu.
Akhirnya Halin bisa dikeluarkan setelah ia bisa menyusupkan anak kunci dari bawah pintu dan ayahnya pun membuka pintu dari luar! Halin menangis meminta pulang. “Aku nggak mau di Bandung..!” ujarnya berkali-kali.
Kebetulan kerabat yang datang berkunjung pada waktu itu pernah pula memiliki pengalaman sejenis, sehingga Halin tidak merasa sengsara sendirian dan bahkan setelah bisa membuka kunci pintu sendiri, ia mencoba masuk kamar dan mengunci pintu dari dalam untuk kemudian dibuka lagi olehnya.
Sekali lagi keajaiban belajar dari kesalahan, kepanikan dan pengalaman adalah cara pembelajaran yang efektif dan tepat sasaran. Bukan malu dan terkoyaknya harga diri yang didapatkan tapi bertambahnya pengalaman dan keyakinan bahwa ada dukungan yang tak henti untuk belajar dari lingkungan sekitar kita. Betapa lingkungan adalah hal penting dan sebuah ruang kelas ter-nyata dalam sistem belajar semesta bagi manusia.
Dan hari pertama di Bandung ditutup dengan kabar bahwa pemerintah menetapkan lebaran baru akan dilaksanakan lusa, 31 Agustus 2011. Kota Bandung pun belum semarak dengan takbir yang menggetarkan kalbu.

Dari Daarut Tauhid ke Gedung Sate

Hari kedua di Bandung adalah 1 Syawal bagi umat Islam yang melaksanakan Idul Fitri pada hariSe lasa tersebut, saya termasuk di dalamnya sebenarnya. Hari ini kami berencana untuk mengunjungi Aa’ Gym di Pesantren Daarut Tauhid yang beliau asuh.
Dan ini adalah kali ketiga kami kesana untuk bertamu pada beliau meskipun belum pernah sekalipun kami berhasil bertatap muka dan bersilaturahmi ilmu langsung dengan beliau.
Kami sampai di pesantren nan bersih itu bakda Dhuhur dan disambut dengan suasana yang berbeda dibandingkan dengan kunjungan kami sebelumnya. Ada beberapa bangunan baru dan suasana teduh tampak semakin kental dan matang.
Kami lagi-lagi kurang beruntung karena Aa’ Gym baru saja meninggalkan pesantren untuk suatu urusan. Alhamdulillah… Allah belum memberi momen yang pas bagi kami untuk bertemu.
Namun, di sini kami disuguhi pemandangan kesibukan menjelang sholat Ied keesokan harinya. Betapa segala detail pelaksanaan sholat Ied telah dilakukan bakda Dhuhur itu termasuk checking sound-system dan penataan space untuk sholatnya. Begitu rapi, begitu detail!
Hebat! Saya merasa sangat beruntung karena bisa menyaksikan persiapan tersebut meski tidak sampai tuntas. Bahwa sebuah perlehatan penutup momen sebesar Ramadhan memang tak seharusnya dipersiapkan secara serampangan dan sambil lalu. Bahwa kesuksesan sebuah acara sangat ditentukan oleh kematangan persiapannya.
Terima kasih Daarut Tauhid atas keramahan, kedisiplinan dan pelajaran hidup setiap kali kami kesana. Dan yang membesarkan hati adalah bahwa Daarut Tauhid dengan Manajemen Qolbunya masih eksis dan bersinar, tidak seperti yang selama ini sering digembar-gemborkan media.
Perjalanan berikutnya adalah ke Gedung Sate, salah satu ikon kota ini.
Setibanya di depan gedung ini kami disambut oleh sebuah bus distro yang menjual souvenir khas Bandung. Brand yang mengusung kerja kreatif ini adalah brand yang masih sangat asing di telinga saya namun terasa sangat menggetarkan, Maha Nagari “Bandung Pisan”!
Brand ini mencoba mengangkat budaya lokal Bandung untuk menjadi produk oleh-oleh/merchandise wisata khas Bandung. Istilah kerennya, mencoba untuk membumikan Bandung agar tak hilang ditelan zaman. Sebuah langkah simple namun kreatif dan gampang diterima masyarakat. Two thumbs up!
Dan sebagai penutup p rerjalanan sore itu, kami dianugerahi hujan lebat yang datang begitu tiba-tiba. Akhirnya kami merasakan hujan lagi setelah beberapa minggu tidak pernah hujan. Dan harus sampai di Bandung dulu baru merasakan hujan-hujanan lagi. Hahaha…

Kota Kembang

Dalam perjalanan pulang, kendaraan kami sempat berkali-kali macet karena padatnya arus lalu lintas. Dan salah satu titik kemacetan yang melelahkan adalah di Pasar Ujung Berung. Sambil menunggu kendaraan bisa melintas, saya menikmati kesibukan orang-orang yang tengah berbelanja keperluan lebaran mereka. Hal yang paling khas adalah penjualan bunga-bunga potong yang masih segar. Hampir di sepanjang trotoar berbagai macam bunga seperti mawar, krisan, aster, sedap malam dan bunga sapu tangan ditawarkan kepada calon pembeli. Dan kebanyakan orang yang keluar dari kerumunan pasar ataupun kendaraan yang melintas memiliki belanjaan khas yaitu bunga potong yang masih segar itu.
Mau tidak mau kenangan terbang melintasi masa lalu. Teringat satu kebiasaan ibu saya dulu yang selalu menghiasi rumah kami dengan bunga sedap malam yang elok saat menjelang Idul Fitri. Bau khas bunga sedap malam ini seakan masih terasa melekat di benak saya hingga saat ini. Kadang bau sedap itu ditemani harumnya mawar atau ditingkahi aroma elok dari bunga melati. Yang pasti rumah kami selalu punya bau khas menjelang Idul Fitri, dan saya tengah berseluncur dengan kenangan itu di sore nan teduh itu…
Semaraknya bunga dan Idul Fitri…Ini mungkin salah satu alasan mengapa Bandung disebut sebagai Kota Kembang.

Bandung, 30 Agustus 2011


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: