Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 26, 2011

BANGSAKU YANG HEBAT


Pada akhir tahun 1991, saya mengikuti sebuah seminar yang bebicara tentang etos kerja bangsa Indonesia. Pada seminar tersebut, pembicara dengan berapi-api memberi sebuah wacana tentang etos kerja bangsa ini dengan sebuah kesimpulan kritis bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang etos kerja anak-anak bangsanya boleh dibilang sangat payah, bahkan ada survey yang menyatakan bahwa orang Indonesia itu kebanyakan pemalas yang enggan diajak bekerja keras.

Entah mengapa saya merasa sangat terbakar dengan kritikan yang cukup berani itu. Saya merasa menggenggam keyakinan yang sebaliknya, tapi harus dibuktikan.

Usai acara saya ikut nimbrung untuk berbincang langsung dengan sang narasumber. Dan singkat cerita, saya berhasil meyakinkan beliau untuk ikut saya ‘nglayap’ dini hari berikutnya.Sepeda motor Astrea hitam itu melaju membelah malam sambil menyambut embun pagi nan dingin. Tujuan saya adalah Pasar Beringharjo sebelah selatan.

“ Dimana ini, Dik?” Tanya mas pembicara tadi yang mungkin cemas karena saya memarkir sepeda motor di pasar nan kumuh itu.

“Pasar ,Mas…” jawab saya singkat sekenanya.

“Untuk apa ke pasar malam-malam begini? Seharusnya sepertiga malam adalah waktu untuk bertahajud, Dik, waktu terbaik untuk bercinta dengan Allah…” kata mas pembicara dengan lembut meski nyata tersimpan rasa jengkel dalam tutur lembut itu.

“Monggo duduk dulu disini, Mas, nanti pertanyaan njenengan saya jawab,” jawab saya cuek. “Pak Kardi, ketan dan teh panas buat temanku ya…?!” seru saya pada penjual lesehan yang mangkal disudut Pasar Bringharjo Lama itu.

“Lha kowe, Nduk..?!”

“Kopi lanang,, tapi ntar aja deh… mau mbantuin nurunin sayur dulu…” jawab saya sambil melepas kemeja fanel coklat yang saya kenakan dan berlari kecil menuju L-300 yang baru saja memasuki hiruk pikuk pasar di dini hari itu.

Setelah membantu beberapa pedagang yang sibuk membawa berbagai sayur dan buah dari berbagai wilayah sekitar Yogya, saya kembali ke warung Pak Kardi dan menemui mas pembicara yang memang sengaja saya tinggalkan di sana.

Dengan kaus yang masih bersimbah keringat, saya bertanya pelan, “Mas pernah ke tempat seperti ini sebelumnya?”

Dia menggeleng pasti. “Saya tidak pernah berkeliaran di luar malam-malam kecuali ada kegiatan sekolah atau kampus…” jawabnya enteng tanpa beban.

Busyet…tipikal anak kampus banget pikir saya jengkel. Tak percaya kalau si mas yang hebat dalam berbicara di kancah seminar kemarin siang itu, bahkan belum bisa meraba maksud saya membawanya ke tempat ini!

Segera saya mendekat ke Pak Kardi untuk mengambil sebatang rokok. Rasanya saya butuh penenang untuk meredakan emosi yang mulai meninggi. Dan ini bakal menjadi momentum pertama saya untuk hal yang bernama merokok!Gila…

Sambil menikmati bau khas pasar rakyat,saya menghisap rokok saya pelan.. berharap gundah di hati saya sedikit mereda. Setelah beberapa hisap, baru saya angkat bicara dengan lebih tenang, “Mas…kemarin anda bilang bahwa kita adalah sebuah bangsa yang memiliki etos kerja sangat buruk, bukan?! Apa Mas tidak bisa melihat bahwa orang-orang yang saat ini ada di sekeliling kita ini adalah orang-orang hebat yang sudah bangun disaat yang orang lain masih terlelap, yang sudah bergerak untuk bekerja kala para pemimpin bangsa mungkin masih terlelap juga…mereka menyiapkan apa yang esok pagi akan dimakan oleh sebagian besar kita! Dan apakah bangsa semacam ini bisa dijustifikasi sebagai bangsa yang beretos kerja rendah..?!”

Wajah bulat di depan saya itu berubah menegang. “Tapi kan itu memang pekerjaan mereka?!” jawabnya lugas dengan nada jengkel tidak menerima argumentasi saya.

“Dan Mas juga mau bilang bahwa pekerjaan kita mahasiswa adalah menjustifikasi mereka, bangsa kita sendiri, sebagai orang-orang yang beretos kerja rendah. Bahwa pekerjaan mahasiswa adalah sekolah dan menjalankan ritual agama tanpa melihat bahwa ruh keberagamaan kita sebenarnya bertaburan di sekeliling kita, dan dititipkan Tuhan pada orang-orang ikhlas yang mengabdikan hidupnya demi keluarga dan orang lain seperti para bakul-bakul kecil itu..?! Begitukah…”

Beberapa teguk kopi pahit menyapa tenggorokan saya, tapi hati saya merasakan perih yang lebih pahit dari kopi bikinan Pak Kardi ini.

“Mas…setelah dari sini kita bisa cepat pulang ke kos dan tidur lelap di bawah hangatnya selimut-selimut kita. Sementara sebagian besar dari mereka masih harus berjuang untuk sampai ke rumah mereka di Magelang,Temanggung, Wonosobo, atau entah dimana. Memang itulah resiko dari pekerjaan yang mereka pilih, Mas, tapi mereka adalah anak-anak bangsa yang tidak selayaknya dicap sebagai orang-orang yang beretos kerja rendah…”

Pria muda didepan saya itu tercenung, diam seribu bahasa.

“Satu hal yang saya keberatan,Mas, dan mengapa saya bersikeras membawa anda kesini adalah karena saya ingin Mas tahu bahwa kita adalah bangsa yang pekerja keras, Mas, kita adalah bangsa hebat yang selalu tabah dalam memperjuangkan kehidupan. Lihatlah kulit tua-kulit tua itu masih liat melawan dinginnya malam sementara anda yang masih belia saja seakan enggan melepas jaket nyaman itu, bukan?! Dalam kegersangan hidup dan beratnya perjuangan itu, mereka masih juga tertawa ceria dan bercanda ria. Sungguh sebuah bangsa yang penuh antusiasme dan optimisme…”

Sambil menghela nafas dalam, saya melanjutkan,“Maaf Mas..saya hanya berharap kita lebih arif dalam memandang bangsa kita sendiri. Mereka yang ada di sekeliling kita ini adalah rakyat yang juga pemilik sah negeri ini,Mas! Mereka bukan orang malas yang suka membuang-buang waktu untuk ongkang-ongkang kaki. Bahkan mungkin dari tetes keringat merekalah biaya kuliah kita terlunaskan. Dan tak perlu kita menjustifikasi bangsa kita sendiri dengan label-label yang merendahkan…”

Mata saya mulai sembab.

“Lebih dari 400 tahun ditindas bangsa lain dan dihisap intisari hidupnya, tentu berefek dahsyat, Mas, kita telah dibumihanguskan secara mental dan dibusukan secara pemikiran. 400 tahun, Mas, itu bukan waktu yang sebentar itu genosida intelektual yang mengebiri kegagahan sebuah bangsa!”

Saya hisap rokok saya dalam-dalam…sebutir air mata luruh diam-diam.

“Melihat perjuangan mereka dalam bertahan hidup, Mas, itu hanya sebuah fragmen kecil yang terjadi di semua wilayah negeri ini. Kita tak seharusnya merasa apatis dan pesimis, Mas. Kita seharusnya yakin bahwa bangsa ini masih punya masa depan!”

“Masa depan..?”jawabnya mengawang,terasa sangat pesimis.”Alasannya…?Kenapa bisa yakin..?”

“Karena masih ada kita, para generasi muda negeri ini yang yakin dengan kebesaran negeri ini. Yang kan bergerak untuk menebarkan rasa optimisme itu, Mas…”

Dan di dini hari yang cukup menggigit itu kami pulang dengan menggenggam sebuah tali persahabatan dengan sebuah janji untuk selalu meyakini bahwa Indonesia adalah sebuah bangsa yang hebat!!

Sepenggal kenangan
Yogyakarta, November 1991


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: