Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 22, 2011

MENULISLAH


Ini adalah status fb saya 3 Maret 2011 :
“Menulis adalah kewajiban nasional setiap anak bangsa..!” begitu teriak Pram berkali-kali..
Sahabat,
bila kecintaan pada bangsa ini masih mengalir dalam darahmu
dan masih terukir kokoh dalam tulang belulangmu,
menulislah..
March 3 at 1:54pm

Saya tengah diliputi oleh kegalauan karena jemari saya tak lagi luwes merangkai aksara-aksara saat saya menulis status ini. Ini adalah sebuah kalimat penyemangat bagi saya untuk kembali menulis, melukiskan kisah, mengukir tapak pemikiran dan menuangan tetes-tetes harapan lewat rangkaian kata sehingga bisa dialirkan, dishodaqohkan pada orang lain.
Apalagi kala membaca sebuah berjudul Inspiring Writers karya menarik dari sahabat Sutejo seorang pendidik yang gemar menulis. Dalam buku ini terdapat banyak kata-kata yang membangkitkan hasrat untuk segera bergerak menuangkan pikiran dan kreasi imajinasi dalam pahatan kosakata-kosakata. Segera! Tanpa ada alasan menunda.

Prolog buku ini diawali dengan kalimah yang sangat dahsyat : Penulis itu seorang Rhapsodist!
Lebih lanjut dijelaskan bahwa menurut Budi Darma, rhapsodist adalah seorang (sastrawan) yang memiliki pemikiran cemerlang dan mampu mengungkapkannya secara cemerlang pula. Konon sastrawan (penyair) dianalogkan dengan “nabi” karena rata-rata mereka pemikir dan filosof. Mereka adalah simbol peradaban. Para pembaca simbol-simbol Allah yang luar biasa, para penerjemah bahasa semesta.
Dan bukankah para nabi diturunkan untuk mengajarkan ayat-ayat Tuhan kepada manusia, untuk menerjemahkan kesemestaan Allah dalam bahasa manusia?

Lebih lanjut, kata Sutejo, ada beberapa surat Al Qur’an yang secara intensif berbicara tentang ilmu pengetahuan, yaitu surat Al-‘Alaq, Al-Qalam dan Al-Muzzammil. Al-‘Alaq berbicara tentang dasar-dasar utama belajar yaitu membaca yang diikuti oleh menulis sebagai aplikasinya. A-Qalam adalah sebuah surat yang berbicara tentang pentingnya transformasi ilmu melalui proses kepenulisan, dan Al-Muzzamil merupakan simbol belajar secara intensif.

Artinya, menulis itu adalah kewajiban kita sebagai seorang manusia, apalagi bagi seorang guru! Sosok guru hendaknya merupakan sosok yang memiliki kesuri-tauladan penuh di dalam dirinya. Mengapa? Karena guru adalah penguasa kelas, pengatur ritme kehidupan dalam suatu ruang kelas dan seorang pemimpin orkestra yang mencipta nada-nada indah dalam derap langkah sebuah komunitas kecil yang bernama kelas.

Seorang guru tentu tak boleh tidak melakukan “ iqro’” (istilah saya) atau membaca. Membaca adalah denyut jantung kehidupan setiap individu yang bernama manusia, dan guru adalah seseorang yang mengajar manusia, sehingga wajib bagi seorang guru untuk cinta membaca, menjadi kutu buku! Menjadi kutu buku, kawan, bukan sekedar mengoleksi buku.

Guru yang jauh dari kebiasaan membaca buku, sangat mungkin menjadi guru yang tidak punya jiwa mengajar manusia. Karena bagaimanapun, murid-murid yang duduk bersama dalam satu ruang kelas itu pastilah memiliki kondisi yang beragam. Dan seorang guru mesti memahami keberagan itu dengan bekal ilmu yang mumpuni. Mengapa?(lagi…) Karena seorang guru adalah artis lokal bagi anak didiknya. Seorang idola dalam jejak tapak sejarah hidup mereka. Tata,tutur dan tingkah laku seorang guru adalah warna-warni kehidupan bagi siswa-siswinya.

Seorang sahabat saya, Mr Keceng, selalu mengingatkan teman-teman junior dalam tim SMART: Bawalah teman-teman siswa ke duniamu!

Maksudnya, siswa harus diajak menjelajahi wilayah pikir sang guru, mendalami jejak-jejak perjuangan sang guru dalam menata pikir dan hati karena seorang guru adalah suluh bagi para siswanya. Seorang guru yang suka membaca dan berdiskusi akan menebarkan virus membaca dan berdiskusi pada para siswanya. Seorang guru yang hobi main game akan mendapatkan komunitas yang apresiasi terbesarnya hanya main game saja. Seorang guru yang punya kebiasaan menulis akan menghasilkan banyak penulis. Apapun, seorang guru harus sadar pada pilihan sikap diri yang dimilikinya karena ia akan membawa para siswanya ke dalam kehidupan dan dunianya.So, tentukan pilihan sikapmu, guru.

Setelah seorang guru mampu mencelupkan dirinya dalam dunia bacaan dan wacana-wacana, maka ia akan mampu lebih bijak dan luas dalam memandang persoalan kehidupan. Sebuah mata pelajaran hanyalah sebuah jendela pertemuan yang pemandangan di luar jendela itu adalah samudra kehidupan dan keagungan kesemestaan itu sendiri. Pada diri siswa harus dipompakan ketertarikan untuk duduk di dekat jendela dan melihat ke arah jendela tersebut. Lantas ditiupkan keberanian untuk melompati jendela itu dan keluar menuju kenyataan kehidupan! Menjawab tugas kemanusiaan mereka sebagai pemimpin di muka bumi ini.

Untuk memompakan keberanian ini seorang guru perlu kosakata yang indah,berirama dan berenergi. Seorang individu tidak mungkin mengumpulkan untaian aksara-aksara sarat makna bila ia tak pernah membaca dan menggumuli dunia kata-kata. Kata-kata yang terbaca akan terucap pada diri kita lewat tutur lisan alias wicara, ataupun tutur simbol alias tulisan. Seorang guru tak mungkin tak bertutur, maka menulis itu wajib, guru!

Penutup

Saya selalu berkeyakinan bahwa manusia terlahir dengan tiga karakter khas yaitu seorang pejuang, seorang guru, dan seorang pemimpin. Bagi saya setiap orang adalah kitab yang pasti akan dibaca oleh orang lain. Sebuah bacaan adalah ujung wacana, dan suatu wacana adalah guru. Sehingga setiap orang wajib untuk memiliki kecintaan membaca agar nantinya terampil menulis. Yah, seperti kata Pramudya Ananta Toer bahwa MENULIS ADALAH KEWAJIBAN NASIONAL SETIAP ANAK BANGSA! Dan, bukankah setiap individu yang terlahir ke dunia pasti adalah anak suatu bangsa?!

Sahabat, apapun bangsa (baca: etnis) yang kita miliki, kita telah berikrar dalam Sumpah Pemuda bahwa kita BERBANGSA SATU : BANGSA INDONESIA!

Jadi, marilah kita tuntaskan kewajiban nasional kita. Mari menulis untuk INDONESIA!!


Responses

  1. terus menulis ya mbak…. keep blogging… nitip jejak ya http://thelando.wordpress.com/
    salam kenal🙂

    • Salam kenal juga mas..terima kasih amanahnya…


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: