Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 21, 2011

JUNGKIR BALIK KATA


Ada sebuah kegelisahan yang telah lama sekali mencuat dalam hati nurani saya tentang dunia aksara alias kata-kata. Apa pasal? Karena produk industri televisi Indonesia yang setiap saat bisa kita akses,baik iklan ataupun acara-acaranya sering sekali menggunakan kata yang pada akhirnya tidak pas atau sesuai dengan hakekat makna asli si kata. Hal ini bisa karena ekspresi yang dihadirkan atau pun kepentingan seorang pengguna kata dalam bertutur kata.

Beberapa waktu lalu populer ekspresi “Emang gue pikirin?”

Ekspresi ini sebenarnya semakna dengan peribahasa “Meskipun anjing menggonggong Khafilah tetap berlalu” yang memberi dorongan kepada seseorang untuk teguh kukuh mempertahankan keyakinannya meski ada banyak halangan dan rintangan yang menghadang, meski ada banyak penghujatan dan caci maki asalkan kita berjalan pada jalur kebaikan dan kebenaran ya terus saja dengan gagah melangkah. Begitu kira-kira pesan moral yang termaktub dalam peribahasa tersebut. Luar biasa sekali, bukan?
Namun, dalam perkembangannya peribahasa ini mengalami penyimpangan makna dikalangan anak-anak muda khususnya, dengan diartikan secara agak sembarangan menjadi : Jangan dengerin apa kata orang. Apapun kata orang kita ya kita cuek aja!

Nah khan..sepertinya mirip tapi bila kita dengan seksama mengamati, dua istilah ini jauh sekali berbeda. Yang pertama berbicara tentang keyakinan pada prinsip kebenaran dan kebaikan, yang kedua berpijak pada prinsip egoisme, semau gue. Alibinya sih mempertahankan eksistensi diri, biar nggak gampang terombang-ambing.

Celakanya, dengan adanya perkembangan tehnologi yang melahirkan dunia layar kaca dan internet dengan tawaran kemudahan akses informasinya, ada pergeseran budaya yang terjadi dengan laju yang terasa begitu cepat. Budaya barat yang ego sentris menjalar dan menggejala bak wabah penyakit yang menjangkiti remaja-remaja kita. Dan peribahasa indah itu pun mengalami konversi ekspresi dengan ungkapan yang lebih vulgar dan menohok “Emang gue pikirin”. Sungguh sebuah pilihan sikap yang apatis dan sangat anti sosial.
Ekspresi yang sebenarnya kental dengan aroma budaya Betawi yang memang bergaya tutur polos dan ceplas ceplos ini pun menyebar dan digunakan oleh berbagai suku di indonesia dari yang muda sampai yang sudah tidak muda lagi. Yang sayangnya tidak memiliki pemahaman akar budaya Betawi dengan baik, sehingga mewabahlah generasi yang anti peduli pada masyarakat sekitarnya, egoisme menjadi karakteristik baru bangsa yang berazazkan gotong-royong dan kekeluargaan ini. Sungguh sangat bertentangan dan ironis.

Dalam perkembangan dunia kosakata Indonesia, banyak sekali penggunaan kata yang tereduksi dari makna awalnya. Contoh yang saat ini juga tengah menggejala adalah penggunaan kata “wajar”. Kata wajar ini bermakna suatu hal yang dimaklumkan karena kondisinya. Misalkan : musim pancaroba, maka wajar kiranya bila banyak anak yang terserang flu dan batuk. Atau, Rahmini adalah murid yang sangat rajin dan cerdas, maka wajarlah kiranya ia mendapatkan ranking di sekolah. Seperti inilah konteks penggunaan kata wajar dalam kewajarannya.

Namun di stasiun-stasiun televisi kita sering disuguhi kata wajar dalam konteks yang berbeda, misalnya : Wajar saja si A korupsi wong dia punya jabatan di lahan yang basah, wajar saja si B selingkuh wong dia cantik dan tenar, atau wajar aja PNS pada males kerja lha wong gajinya sudah terjamin. Yang agak parah: wajar aja polisi nilang atau ada razia lha wong tanggal tua!

Lha..disini kata “wajar” yang semakna dengan kebiasaan yang masih bisa dimaklumkan, menjadi sedikit rancu dalam jagad penggunaan maknanya. Karena memberi toleransi yang luas pada wilayah yang justru tidak wajar. Seakan-akan kita jadi sepakat bahwa koupsi bagi pejabat adalah hal biasa yang bisa diterima oleh khalayak, bahwa keelokan fisik dan pencapaian popularitas adalah alasan yang bisa diterima jika yang bersangkutan melakukan tindak perselingkuhan, bahwa PNS memang seyogyanya malas kerja, malas melayani rakyat yang telah menggajinya!Dan bahwa para pengayom masyarakat boleh merampok masyarakat manakala mereka dipanggil oleh kebutuhan perut.Sungguh ironis sekali, bukan..?

Contoh lainnya adalah kata “lebay”. Kata yang populer sekitar tiga tahun terakhir ini, awalnya digunakan sebagai bagian dari trend bahasa gaul di dunia televisi (lagi…) untuk menggantikan kata “berlebihan” yang bermaksud menyindir secara main-main pada karakter seorang pemain yang bertingkah secara berlebihan. Suatu upaya kreatif dalam dunia kosa kata.

Karena yang memproduksi adalah media masa elektronik yang notabene merupakan leader dalam pembentukan life-style modern, maka kosakata inipun dengan cepat ditiru dan digunakan dalam bahasa keseharian para pemirsanya.

Dan kosakata inipun saat ini telah mengalami pergeseran makna menjadi suatu ungkapan populer untuk menyindir apapun yang kita anggap berlebihan tanpa melihat apakah berlebihannya itu perlu dikritisi ataukah justru itulah tata nilai sebuah kehidupan. Misalnya: ketika ada seorang kakak yang perhatian kepada adiknya dan berupaya untuk menjaga tingkat motivasi sang adik yang memiliki indikasi kegoyahan, sang adik malah dengan santainya bilang :Ah, Kakak lebay ih..!

Atau lebih celakanya lagi bila ada seorang pelajar yang diingatkan agar menjaga karakter pembelajarannya dengan rajin baca buku dan senantiasa berpikir kritis, si siswa dengan santai malah berpikir : Ih..lebay banget sih bu guru ini..mau belajar kek, mau tidak kek terserah gue..!

Jika pemahaman ”lebay” yang seperti ini mengakar kuat pada kebanyakan generasi masa depan negeri ini, bisa-bisa sebuah mimpi besar yang tidak biasa akan mengempis karena deraan kata-kata lebay dari lingkungannya yang digunakan secara serampangan. Orang-orang yang memiliki semangat juang laksana badar dan nafas hidup yang spartan akan gamang dengan pilihan sikap hebatnya karena masyarakat akan dengan tidak adil menghakimi mereka sebagai orang-orang lebay. Lantas, bangsa ini bisa-bisa tidak lagi memiliki orang-orang hebat karena masyarakat maunya yang tidak lebay. Sungguh ironis!(lagi…)

Jungkir balik kosakata yang rasa-rasanya tidak terjadi secara kebetulan ini tidak boleh dibiarkan terus berlanjut. Apapun, kata-kata itu lebih tajam dari seribu pedang. Bila sebilah pedang berkemampuan untuk membunuh raga seseorang, maka kata-kata berkemampuan untuk menghabisi karakter suatu bangsa . Sebuah alat pembunuh super canggih yang justru bertumbuh dalam sel kebangsaan itu sendiri, seperti sebuah sel kanker yang telah dipicu untuk dihidupkan…

Dan harga yang mungkin harus dibayar adalah mengerontangnya karakter dan nilai hidup bangsa yang bersangkutan!

Mari , menghimpun kata-kata yang bermakna, sahabat, karena Indonesia adalah bangsa yang bersusastera luar biasa. Bila mengikisan karakter anak-anak bangsa ini tidak segera kita jadikan bagian penting dalam perjuangan pembentukan karakter bangsa, tahun-tahun ke depan kita akan menjadi bangsa yang digerogoti kanker akut!


Responses

  1. kupasan yang menarik untuk disimak dan perhatikan

    • terima kasih mas…semoga kita tidak terjebak dalam arus penjajahan kosakata..


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: