Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 19, 2011

PARE : KAMPUNG BAHASA untuk RAKYAT


by Andi Zulkarnain, di bulan Ramadhan tahun 2010

Kampung bahasa Pare dimulai tahun 1977. Pejuang awalnya adalah Mr Kalend lahir di Kalimantan Timur, 20 Februari 1945. Pernah mendapat penghargaan People of The Year (POTY) 2009 sebagai tokoh pendidik teladan oleh Seputar Indonesia.

Ada beberapa yang unik dari model pendidikan ala Pare, diantaranya adalah adanya sekitar 74 tempat kursus, sedangkan camp dan kost sebanyak 255, dengan sistem pembelajaran yang berbeda (banyak pilihan) ssuai dengan karakter masing-masing siswa. Mulai dari yang ketat, wajib pakai sepatu, dasi dan kawan-kawannya, sampai yang bebas, bisa pakai sandal, pakai sarung, bahkan makan sambil belajar.
Di beberapa tempat kursis ada yang memiliki aturan internal bahwa tutor yang menyapa siswa. Jadi ada model pengasuhan, ada pendekatan yang berbau emosional, pendekatan kekeluargaan, pendekatan persahabatan. Sehingga kedekatan siswa dan tutor berjalan dengan sangat baik. Itulah yang kemudian mendukung terciptanya suasana kelas yang enjoy. Sehingga proses belajar menjadi lebih hidup.
Ya. Belajar di Pare bikin hidup lebih hidup.

Keunikan yang lain adalah ada beberapa camp dan kost yang wajib English area 24 jam. Di banyak tempat orang bercakap dengan menggunakan English.

Kendaraan yang dominan adalah sepeda. Sehingga teman-teman akan senantiasa berolahraga sepeda. Hal tersebut yang membuat siswa lebih segar dalam menerima pelajaran.

Di beberapa tempat kursus, bahkan menggunakan pendekatan pembelajaran yang natural (misalnya : belajar di bawah pohon).

Di Pare banyak pilihan waktu belajar.Ada paket 2 mingguan, sampai paket 6 bulan. Ada juga yang menawarkanspesialisasi program, misalnya :Grammar, Speaking,Pronunciation, Vocabulary,TOEFL,Writing Translation dan lain-lain.

Harga buku, kamus, dan alat tulis murah, juga sewa kost, harga makanan semua murah (harga rakyat).
Kampung yang tenang, jauh dari bising kota, apalagi Pare (Tulungrejo) adalah kampung religius (daerah pesantren). Dominan masyarakat dan pelajar perempuan mengenakan jilbab.

Hal lain adalah Pare bisa berkembang sampai terkenal secara nasional, bahkan internasional, tanpa melibatkan pemerintah terlalu jauh. Pare dibangun oleh kekuatan kultural (nobformal). Sehingga pihak kursusan bisa lebih kreatif untuk membuat aturan serta menciptakan metode pembelajaran. Kerumitan yang berbau administratif, sulit ditemui di Pare. Misalnya pembuatan sertifikat, cukup ditandatangani oleh krtua kursusan sehingga prosesnya bisa lebih cepat.

Pare adalah model pendidikan alternatif atas gagalnya negara menciptakan pendidikan murah, humanis dan berkualitas.

Pare Untuk Semua
Pendidikan murah, merakyat, berkarakter dan religius


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: