Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 18, 2011

Untuk 17 Agustus


by Ades Oriloval on Tuesday, August 16, 2011 at 11:23pm

Sore ini Bu Warni masih saja berkutat didalam dapur kecil yang sekaligus merangkap sebagai kamar tidurnya. Dari tadi ia berusaha memasak ubi pemberian tetangga diatas tungku yang apinya malas-malasan berkobar, tidak ada minyak tanah sama sekali. Hanya enam biji kecil, tapi sudah cukup untuk menu berbuka puasa untuk dirinya dan suaminya, Pak Sidi. Sesekali sambil memasak, ia mengawasi kondisi suaminya yang semakin ringkih ditelan usia dan sakit tua.

“apa besok Setyo akan mengunjungi kita, Bu ?” tanya Pak Sidi pada istrinya.

Bu Warni tersenyum getir. “dia sudah sibuk mengurus kepentingan negaranya, Pak. Tidak usah berharap dia mengunjungi kita disini.” Jawabnya sambil meniupi tungku yang apinya masih merem melek.

“oh iya, mungkin dia akan mengikuti upacara kemerdekaan di Istana Merdeka.” Pak Sidi tersenyum bangga.

Bu Warni menghela nafas dalam. Biarlah kebanggaan itu sedikit menghibur pikiran suaminya.

“kira-kira apa yang akan pemuda-pemuda itu berikan pada ulang tahun negara kita kali ini ya Bu ?”

Sekali lagi Bu Warni hanya bisa menghela nafasnya. Setiap tahun, ia harus menguatkan diri dan suaminya terhadap kondisi mencengangkan yang tengah terjadi pada tanah air yang dulu mati-matian dibelanya. Karena setiap hari pun, Pak Sidi tak pernah bosan menanyakan kabar-kabar kemerdekaan. Terutama detik-detik perayaan seperti sekarang ini.

“ubinya sudah matang Pak, sudah saatnya berbuka puasa juga. Ayo.”

Dengan tertatih, Pak Sidi berjalan keruangan depan. Tak banyak ruang dirumah mereka. Hanya terdiri dari dua ruangan yang disekat oleh selembar triplek dengan lubang ventilasi yang kecil disana-sini. Satu sebagai ruang besar, tempat segala hal dilakukan. Satu lagi ruangan kecil sebagai kamar sekaligus dapur tadi.

Hanya dengan enam biji ubi sebesar jari, serta sebotol air yang sudah dimasak. Sepasang pejuang itu menikmati menu berbuka puasa mereka. Tak ada keluhan apa-apa. Pak Sidi tetap melahap menu makannya dengan kunyahan pelan, mengingat gigi tuanya yang sudah banyak yang tanggal.

Sementara itu, setiap kali memandang wajah tirus suaminya, Bu Warni selalu merenung. Betapa dulu tubuh kekar suaminya ini selalu berdiri dibarisan depan menantang kompeni bersenjata. Betapa dulu, setiap malam menjelang hari perayaan kemerdekaan, ia selalu mengumpulkan pemuda-pemuda kota untuk mempersiapkan perjuangan esok mengibarkan bendera. Menyorakkan pekikan-pekikan kemerdekaan sekencang-kencangnya. Betapa dulu, masa itu, telah menjadi kenangan membanggakan yang terkadang menyedihkan.

*********

Diatas sofa mewahnya, Setyo duduk merangkul seorang lady escort (wanita pendamping) yang disewanya untuk semalam ini. Dengan alasan rapat komisi menjelang upacara kemerdekaan kepada istrinya, ia kini berhasil berpesta pora dikamar hotel bintang lima.

Ditemani sebotol Dom Perignon, ia bermanja-manja bersama budaknya malam ini. menenggak minuman berapi sebelum kemudian tersenyum puas diranjang. Sama sekali tak terlintas sekejap pun pikiran tentang kondisi orang tuanya kala ini. Semua kemewahan yang digenggamnya sekarang ini adalah murni hasil jerih payahnya. Tak ada campur tangan orang tua. Tegasnya waktu itu, ketika ia berhasil mencapai puncak kejayaan sebagai dewan negara yang terhormat. Yang kemudian mengkhianati kepercayaan dan amanah Bapaknya serta amanah negara yang diembannya. Hingga akhirnya ia sibuk mengurusi negaranya sendiri. Dimana ia bisa memilih selir jalanan sampai selir sekelas lady escort, dimana dia adalah presiden mutlak untuk negara pribadinya.

*********

17 Agustus berkibar-kibar dalam merah putih yang terpasang disetiap halaman depan rumah-rumah warga. Pagi buta tadi, Pak Sidi bangun lebih awal dari istrinya. Dengan terbungkuk-bungkuk ia berjalan menuju laci kecil tempat ia menyimpan pusaka abadinya. Sang saka merah putih. Dua hari lalu ia sudah meminta istrinya untuk mencuci kembali bendera kehormatannya.

Masih terlipat rapi didalam laci. Pak Sidi mengusapnya beberapa kali. Mencium aroma perjuangannya yang masih tersisa dalam setiap serat kain. Membenamkan wajahnya sedalam ia mengais memori-memori yang ingin sekali ia ulangi sekali lagi sebelum akhir hayatnya nanti.

66 tahun lalu, ia adalah seorang remaja tanggung yang ikut lantang menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ia pun masih ingat ketika mendengar cerita sprei putih yang diambil untuk dijadikan warna kesucian dalam simbol bendera merah putih. Ia terisak pelan mengingat hal itu. Sprei yang juga ikut memerdekakan bangsa yang kaya ini.

“pak…” Bu Warni mendatangi suaminya yang telah terisak di ruang depan.

“ayo Bu, kita harus siap-siap upacara.” Selalu ada nada penuh semangat setiap kali Pak Sidi berbicara perihal bangsa.

“ini baru mau subuh Pak, ayo sahurlah dulu. Setelah shalat kita menunggu upacara.”

“dimana nanti kita upacara ?”

“lapangan terlalu jauh. Sepertinya kita perlu naik angkot kalau mau kesana, dan.. kita tidak punya uang untuk itu Pak.” Suara Bu Warni tercekat.

Pak Sidi hanya diam tak menanggapi. Kembali ia membenamkan wajahnya diatas bendera, menciumi wangi kemerdekaan sekali lagi.

“kita akan tetap mengikuti upacara. Kau sanggup berjalan menemaniku ?”

“berjalan kemana ? ke lapangan maksud Bapak ??”

“iya. Kita akan tetap mengikuti upacara.” Tegasnya.

“Bapak kuat berjalan sejauh itu ?” tanya Bu Warni, menyangsikan kondisi suaminya yang ringkih.

“aku ini pejuang Bu. Sampai sekarang pun tetap pejuang. Sampai akhir hayat pun aku akan tetap berjuang.”

Untuk kesekian kalinya Bu Warni hanya bisa menghela nafas. Mengiyakan permintaan suaminya. Ia lalu berjalan menuju dapur. Mengambil dua biji ubi yang sengaja disisakan untuk sahur. Hanya dua biji ubi, tak membutuhkan waktu yang lama untuk dihabiskan lalu segera mengambil air wudhu sebelum perjalanan jauh menuju lapangan.

Demi takut telat menghadiri upacara, Pak Sidi bersama istrinya berjalan menuju lapangan selepas shalat subuh. Saat langit masih cukup gelap karena mentari belum membuka selimutnya untuk mengucapkan selamat hari kemerdekaan kepada mereka. Menyusuri gang-gang sempit yang kumuh tak jauh dari rumah mereka yang sama kumuhnya.

“bagus sekali ya, Bu.” Nadanya berdecak kagum melihat bendera yang berkibar pelan disepanjang jalan yang dilaluinya. Bendera plastik yang terpasang saling-silang menghiasi langit dini hari.

“iya, rasanya seperti kembali ke masa lalu.” Gumam Bu Warni pelan sambil menuntun jalan suaminya yang tertatih, “kalau Bapak lelah, nanti kita istirahat dulu ya.” Lanjutnya.

“tidak usah istirahat, kita kan harus cepat-cepat. Lagipula aku merasa sangat baik-baik saja setelah melihat bendera ramai-ramai begini.” Ucapnya sambil memeluk bendera dalam kantong plastik yang dibawanya.

***************

Di dalam kamar hotel yang sama, Setyo baru saja terbangun dari pesta tengah malamnya. Ia teringat undangan upacara yang harus dihadirinya pagi ini. ia segera meloncat dari tempat tidur untuk sekedar membasuh muka dan merogoh sebuah amplop yang sudah dipersiapkannya untuk budak semalamnya tadi, lalu segera melesat pergi menuju rumah dinas menjemput istrinya.

Masih subuh begini, jalanan kota cukup lenggang untuk mengemudi dengan kecepatan yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Meskipun efek Dom Perignon semalam masih membuat kepalanya cukup pusing, Setyo tetap melajukan mobilnya dengan cepat.

Sekilas sudut matanya menangkap bayangan dua sosok renta yang berjalan pelan melawan arah laju mobilnya.

Dua orang itu…. pikirannya menggantung. Ia cukup mengenali seragam hijau yang melekat pada tubuh kurus pria tua itu. Seragam kepahlawanan yang dulu sering ia lihat saat Bapaknya bercerita tentang perjuangan kemerdekaan sewaktu ia masih kecil.

Setyo menghentikan mobilnya sebentar. Menyipitkan matanya untuk memandang lebih jelas pada dua sosok renta yang berjalan ditepi trotoar dihadapannya. Memastikan kedua orang tua tersebut bukanlah kedua orang tuanya.

Dan masih tetap sama seperti terakhir kali ia melihat sosok lelaki itu. Gurat wajah yang tegas dan model rambut yang selalu dipotong cepak ala tentara, masih membekas dalam sosok renta yang kini berjalan disamping mobilnya seraya dipapah oleh seorang wanita tua, Ibunya.

Setyo hanya diam termenung. Tak berniat untuk keluar menghampiri kedua orang tuanya, pun untuk sekedar menyapa.

“tak ada urusan lagi dengan masa lalu.” Gumamnya, lalu kembali melaju meninggalkan orang tuanya yang berbelok di tikungan.

**************

Mereka sudah berjalan hampir dua jam. Matahari pagi pun sudah menguap dari tadi. Pak Sidi berjalan semakin pelan. Tampaknya ia mulai kepayahan untuk melanjutkan perjalanan menuju lapangan.

“istirahat dulu Pak ?”

“nanti kita telat Bu.”

“tapi Bapak sudah lelah kan..”

“sudah tak seberapa jauh kan ? insya allah kuat..”

Setengah jam lagi, upacara kemerdekaan yang digelar dikawasan Kebon Sari akan dilaksanakan. Hanya tinggal lima ratus meter lagi Pak Sidi dan istrinya akan sampai dilapangan. Sayangnya kondisi Pak Sidi sudah semakin payah untuk tetap berjalan. Meskipun sedari tadi Bu Warni menawarkan istirahat, ia terus saja menolak dengan alasan yang sama, takut telat menghadiri upacara. Sementara itu, Bu Warni juga menengok kanan kiri untuk mencari tumpangan yang sekiranya juga hendak pergi menuju lapangan seperti mereka. Namun sepertinya kali ini, mereka berdua harus kembali berjuang demi kemerdekaan yang mereka banggakan dengan terus berjalan sampai tiba di lapangan.

“dulu ketika Bung Karno mau memproklamasikan kemerdekaan, beliau pun sedang sakit demam. Detik-detik sebelum beliau dijemput menuju Pegangsaan Timur saja beliau masih selimutan dikamar, selesai proklamasi pun beliau kembali istirahat dikamar. Juga sama saat bulan Ramadhan seperti sekarang ini. Jadi Bu, aku tidak akan berhenti demi upacara kemerdekaan ini.” Pak Sidi menegaskan. Langkah-langkahnya memang tertatih, namun kemaunnya tetap tegap menuju lapangan.

Saat upacara memasuki agenda pembacaan Undang-Undang Dasar 1945, Pak Sidi beserta istrinya baru saja tiba di lapangan. Bagaimanapun berjalan, mereka akhirnya tetap telat. Namun tak menyusutkan semangat Pak Sidi untuk segera bergabung dalam barisan. Dengan seragam pejuang kebanggaannya, ia berbaris diantara orang-orang yang sudah lebih dulu datang. Sementara itu, istrinya berbaris dibelakangnya. Tangan kanan Pak Sidi masih menggenggam Sang Saka tercintanya. Nanti jika sampai dirumah, ia baru akan mengibarkan bendera tersebut diatas tiang kayu depan rumahnya.

Di barisan depan sana, dimana para tamu undangan terhormat juga mengikuti upacara dibawah tenda, berdiri pula seorang anak muda gagah dengan jas sutera. Setyo bersama istrinya berada di barisan depan tepat menghadap kedua orang tuanya. Pak Sidi tak cukup jeli untuk melihat di kejauhan. Namun Setyo tentu saja melihat pemandangan itu dengan jelas. Begitu pula Bu Warni. Ia menatap anaknya sambil tersenyum. Tak berharap banyak untuk diakui. Cukup melihat anak semata wayangnya kini hidup dengan lebih sejahtera baginya sudah cukup menenangkan.

Selepas upacara, semua orang bubar dari barisan. Pak Sidi masih berdiri menatap sayup-sayup bendera yang telah berkibar dihadapannya kini. Sementara itu Setyo bergegas mengikuti tamu undangan lain untuk mengikuti acara jamuan bersama.

“sepertinya tadi aku melihat Setyo, Bu.” Ucap Pak Sidi sambil melangkah pelan keluar lapangan.

“bukan Pak, Setyo tidak disini.” Sahut Bu Warni pendek. “ayo kita kibarkan bendera didepan rumah kita.” Sambungnya sembari memapah suaminya kembali berjalan pulang.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: