Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 18, 2011

Diary Halilintar (2)


Senja Jingga di Masjid An-Nuur

Suatu sore, ketika kami sekeluarga berjalan-jalan menikmati matahari sore nan elok, anak saya yang saat itu berusia tiga tahun bercerita dengan mimik seriusnya yang menggemaskan.

“Bunda, temenku yang bernama mas Reno tuh termasuk orang yang tidak bisa diajak baik,Bun..”

“Anak yang tidak baik, gitu tho maksudnya Lin?” tanya saya menanggapi celotehnya yang terdengar sedikit janggal.

“ Bukan, Bunda…maksudku tuh bukan begitu, bukan anak yang tidak baik, tapi anak yang tidak bisa diajak baik,” jawabnya lugas dan tegas.

Saya sekejab merasa takjub dan terkesiap. Ahai…pilihan kata yang menarik dari batita saya ini. Anak yang tidak bisa diajak baik. Hmmm…

“Memang kenapa Lin, kok Halin bisa mengambil kesimpulan seperti itu?” tanya saya penuh rasa penasaran.

“Soalnya mas Reno tuh suka bicara keras-keras dan suka marah-marah,Bun. Sedikit-sedikit marah, sedikit–sedikit teriak-teriak. Itu namanya anak yang tidak bisa diajak baik, Bunda,”
jawab Halin dengan gerakan kepala layaknya seorang guru yang hendak meyakinkan muridnya. Matanya yang bening membulat, pertanda sedang serius.

“Nha..Halin kalo di rumah juga sering begitu. Suka bicara keras-keras sama ayah dan juga ma Bunda…,” kata saya menanggapi argumentasinya.

“Itu karena…itu karena anu, Bunda..”

“Karena apa, sayang?”

“Karena Bunda juga suka bicara keras-keras,” jawabnya bernas yang terdengar bagai godam keras yang menusuk gendang telinga saya dan suami. Langsung saya peluk tubuh kukuhnya yang lembut. Jawab saya sejurus kemudian,” O..gitu ya Nak..astaghfirulloh…(ada banyak gejolak rasa yang berhimpun saling menderu di dalam dada saya: tersungkur dalam ketakjuban karena anak usia tiga tahun saja mampu membandingkan dan menganalisa, sesal karena ternyata belum mampu menjadi teladan sikap yang baik apalagi hebat, dan malu karena sebagai orang dewasa ternyata saya masih menyimpan karakter anak-anak yang kental!) Maafkan,Bunda, ya Nak..subhanalloh..maaaf… Besok lagi kalau Bunda bicaranya keras-keras tolong diingatkan ya, sayang…?!”

“Iya!” jawabnya spontan dan tegas khas anak-anak. Janji ini memang dijaganya pasca dialog luar biasa di pelataran masjid An-Nuur Pare di sore nan jingga itu.

“Maafkan bundamu ya Nak…” pelan suara saya terasa tercekat.

“Iya!” jawabnya tuntas dengan mata teduh penuh mengerti.Duhai…airmata saya tak urung luruh perlahan tanpa isak.

Sahabat, anak-anak memang makhluk hebat yang sangat pengertian dan sangat mudah memaafkan. Dalam jiwa mereka yang polos tersimpan kebaikan ilahiah terindah. Dalam hati mereka yang bening bersemayam benda paling purba yang bernama cinta dengan kuantitasnya yang luar biasa. Subhanalloh..

Sahabat, betapa hebat Allah menyampaikan pelajaran hidup pada saya hari itu. Lebih hebat lagi adalah pilihan guru yang ditunjuknya dalam menyampaikan kalam kebenaran itu. Seorang anak yang dititipkan-Nya kepada kami agar kami bersinergi untuk merajut makna hidup dan memintal sejarah mimpi-mimpi kami…

Sahabat, anak-anak adalah guru besar kehidupan…


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: