Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 18, 2011

Diary Halilintar (1)


Mainanku

Hari masih pagi, semburat biru di ufuk timur telah beranjak jingga tersapu perak. Jam masih belum lama beranjak dari angka 5. Dari dapur dimana saya sedang mempersiapkan sarapan untuk pagi itu, singgah suara dari dua lelaki tercinta saya. Suara yang semula tenang penuh cengkerama itu semakin lama semakin meninggi dengan intensitas dialog yang semakin kerap frekuensinya. Ada apakah gerangan…?
Usut punya usut ternyata anak saya ingin beli mobil mainan di pagi indah itu, sementara ayahnya bersikukuh kalau tokonya belum buka dan agaknya suami saya kewalahan untuk memberi pengertian ini pada anak saya. Saya pun ikut mencoba memberi pengertian pada seorang anak yang tengah memiliki keinginan kuat itu…

Usaha kami gagal total. Halin bersikeras untuk mendapatkan apa yang diinginkannya pagi itu. Saya segera menghirup nafas dalam-dalam dengan kepala tetap berputar untuk mencari solusi. Tiba-tiba saya mendapat ide untuk menyolusikan masalah kecil ini : mengubah sedikit cara berdialog dengan Halin.

“Lin, kenapa bangun tidur tiba-tiba pingin beli mainan..?” tanya saya sambil berlutut hingga tinggi kami setara.
“Aku pengen, Bun…” jawabnya polos.
“Pengen aja?” Dia mengangguk-angguk dengan mata penuh harapan. Hati saya mulai meleleh tapi saya tetap mencoba untuk fokus pada dialog kami.
“Trus kalau pagi-pagi begini beli mainannya di mana? Kan toko mainan belum buka, Nak..?”
“Aku tahu kok belinya dimana!” jawabnya tegas di luar dugaan kami,”Ayah nggak tahu khan..?” lanjutnya dengan kerling matanya yang lucu dan khas kalo merasa tengah berteka-teki.

Aha! Ini dia jawabannya. Dia tahu tempatpenjualnya, dan pasti dia juga tahu kalau toko tersebut sudah buka pagi-pagi begini…berarti warung sayur!

“Ya sudah, Halin cuci muka dulu lalu ganti baju ya… ntar biar dianterin ayah beli mainan,” kata saya yang langsung disambut teriakan kebahagiaan dari mulut kecilnya sambil melompat-lompat kegirangan..

Suami saya memandang saya tak berkedip seolah tak percaya dengan keputusan yang saya ambil, atau lebih tepatnya kurang setuju.
“Sudah… dituruti dulu aja…kita akan belajar sesuatu,” bisik saya sambil tertawa kecil menjawab tatap matanya yang penuh keraguan. Entahlah..rasanya saya yakin kalau akhir dari fragmen kecil di pagi ini bakal menarik.

*****

Tak sampai 15 menit terdengar suara sepeda motor memasuki halaman rumah kontrakan kami.Halin dan ayahnya telah kembali. Dengan diiringi suaranya yang terdengar begitu riang, Halin memasuki dapur.

“Assalamualaikum, Bunda…aku belikan kerupuk dan perut ayam buat bunda.”
“Waalaikumussalam…wah..terimakasih…”

Saya perhatikan beberapa benda yang ada di tangan kanan-kirinya itu. Tangan kirinya memegang sebungkus kerupuk dan sebuah kue yang dibungkus plasti. Di tangan kanannya ada sebungkus plastik yang sangat kecil. Plastik yang sangat kecil itu adalah bungkus mobil mainan yang sangat kecil juga!!
Subhanalloh… mainan yang diinginkannya hanyalah 2 mobil mainan plastik yang sangat sederhana yang harganya hanya Rp 500,- saja sebuahnya!

Mata saya kontan berkaca-kaca…dan begitu suami saya masuk saya membuang muka untuk menyembunyikan airmata yang meleleh turun. Ada rasa sesak yang menggumpal, bercampur rasa sesal yang tiba-tiba menyergap.

Wajah suami saya tampak berkabut menandakan penyesalan yang tak terdefinisikan…

##

Sahabat, seringkali kita sebagai manusia dewasa tidak memiliki cukup kesabaran dan pengertian untuk memahami maksud anak-anak kecil di sekitar kita. Mereka belum tersentuh keglamouran dunia, kitalah yang mengenalkannya. Mereka belum tercemari gaya hidup yang berkelimpahan materi, kitalah yang mencemarinya. Kita seringkali lupa bahwa mereka adalah pecahan dari misteri illahiah yang serba maha dengan segenap cintanya yang dahsyat.

Anakku, Halilintar, maafkan ayah bundamu..

Rumah Pak Wahyu yang selalu berlimpah sunrise elok..


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: