Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 18, 2011

Buah Khuldi (Sebuah Perenungan)


Tulisan ini adalah perenungan yang telah lama saya geluti dan mendapat simpul muaranya setelah membaca dua buku karangan Agus Mustofa yang mengupas tentang ayat-ayat yang berkenaan dengan penciptaan Adam.
Dalam buku kupasan Agus Mustofa yang berjudul Adam Tak Diusir Dari Surga, beliau menggambarkan kupasannya dengan sangat gamblang bahwa ayat-ayat yang berkenaan dengan penciptaan adam dan hawa ini adalah ayat-ayat yang merupakan gambaran general tentang penciptaan manusia modern (al insaan), laki-laki maupun perempuan.
Lebih jauh, saya memaknai ayat-ayat ini sebagai penggambaran yang gamblang tentang kesetaraan laki-laki dan wanita dalam penciptaannya. Yang bisa diartikan bahwa secara fungsional laki-laki dan perempuan itu sama dengan kapasitasnya masing-masing tentunya. Batasan-batasan nyata tentang fungsi ini kemudian diberikan Allah secara bertahap lewat jalur-jalur kenabian dengan masanya sendiri-sendiri. Ayat-ayat ini adalah sandaran referensi paling sahih mengenai kesetaraan gender menurut Islam.
Sayangnya, ayat-ayat ini telah banyak disalah tafsirkan dengan mengatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk Adam. Sehingga akhirnya kebanyakan perempuan pun keblinger dengan mendasarkan pengabdiannya pada suami saja dan melupakan ilmu pengetahuan sebagai dasar tindakan seluruh manusia untuk akhir pengabdian besar kepada Allah Sang Pemilik Semesta.
Sama halnya cerita tentang buah khuldi yang saat ini telah menjadi kisah saja. Kisah tentang sebab terusirnya adam dan Hawa dari surga, begitu kita biasa mendengar nya. Padahal yang tersurat dalam Al-Qur’an adalah Allah memerintahkan adam untuk turun ke bumi, bukannya diusir Alllah dari surga, setelah Adam dan Hawa melanggar larangan untuk mendekati pohon khuldi.
Setan yang telah berkomitmen kepada Allah untuk menyesatkan manusia itupun mendapat celah untuk mempengaruhi Adam dan Hawa, dua al insaan pertama ini. Dan merekapun terjebak untuk mengikuti bujuk rayu setan ini dan akhirnya, terbukalah aurat-aurat mereka sehingga mereka harus bersusah payah untuk menutupinya dengan daun-daun surga.
Agus Mustofa menggambarkan ini sebagai masa akil bailgh, dimana seorang anak manusia akan menggalami perubahan struktur tubuh yang dahsyat dan juga perubahan struktur otak. Kondisi ini adalah masa peralihan yang luar biasa dan pasti akan dialami oleh setiap manusia yang mencapai usia ini. Usia dimana rasa malu menjadi bagian dari diri manusia, dan masa dimana seorang anak manusia mulai menemukan dunia riil di akhir masa kanak-kanaknya yang penuh imajinasi dan kegairahan akan kesenangan surga.
Bagi saya pribadi simbol buah khuldi adalah simbol pilihan yang sangat mungkin akan dilalui manusia. Sementara masa akil baligh adalah fase yang secara alamiah akan dilalui manusia pada awal masa dewasanya. Dan pada fase ini muncul rasa ketertarikan antara laki-laki dan perempuan dan kebutuhan untuk berkomunitas yang lebih besar dari ketika masih ada di fase kanak-kanak dulu.
Rasa ketertarikan terhadap lawan jenis inilah yang menjadi jalur utama pemicu godaan setan, dan inilah masa menimbang untuk menelan buah khuldi atau menjauhinya agar kita sebagai manusia tetap berkepantasan untuk menjadi makhluk penghuni surga.
Masa pubertas pertama ini juga memiliki kondisi fisiologi maha dahsyat yaitu terbentuknya cabang-cabang otak baru yang memiliki kondisi serupa saat kita dilahirkan, namun dalam kapasitas fungsi yang berbeda. Masa ini diliputi oleh kelabilan dan ketidakseimbangan kondisi diri individu dan juga karakteristik pribadinya.
Dan wajar bila pada akhirnya Adam dan Hawa yang saat itu tengah memasuki masa pubertas pertama mereka, akhirnya kalah oleh godaan setan dan akhirnya memakan ‘buah khuldi’.
Buah khuldi, menurut saya pribadi identik dengan satu kondisi khusus yang dimiliki manusia secara wajar karena bagian dari sunatullah, yaitu perasaan cinta terhadap lawan jenis demi meneruskan laju generasi suatu bangsa atau pun suatu kaum. Keberlangsungan regenerasi suatu bangsa tentulah sangat penting bagi eksistensi perdaban dan budaya bangsa yang bersangkutan. Sehingga bagi golongan yang menginginkan kehancuran peradaban suatu kaum sangatlah perlu kiranya menyebarkan virus buah khuldi agar kualitas benih suatu bangsa atau kaum menjadi tereduksi dan kalau mungkin bahkan akan hilang sama sekali!Astaghfirulloh…
Budaya untuk makan buah khuldi ini pada akhirnya dijadikan alat untuk merusak generasi umat Islam dunia atau pun merusak generasi negara-negara yang memiliki sejarah kebangsaan yang mengakar secara tersistematis.
Indonesia adalah sebuah Negara besar dengan kompleksitas kebangsaan yang memiliki sejarah panjang luar biasa. Budaya dan peradaban bangsa dengan etnisitas terbanyak di dunia ini telah mengakar kuat hingga menembus batas-batas zaman. Dan sekarang para anak mudanya mabuk kepayang pada buah larangan illahi, buah khuldi!
Mari berinteropeksi diri,sahabat…


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: