Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 18, 2011

Ajaran Dan Mata Pelajaran


KETIKA AJARAN MENJELMA NENJADI MATA PELAJARAN,
NILAI BERAPA YANG KAU INGINKAN..?

Fragmen 1
Saat masih sekolah dulu, ada satu mata pelajaran yang bernama PMP, singkatan dari Pendidikan Moral Pancasila. Pelajaran yang menarik dan sangat saya sukai pada awalnya karena pelajarannya mudah, banyak hal baik yang diuraikan dan soal ujiannya pasti mudah-mudah jawabannya (kecuali saat mulai ada hafalan pasal-pasal dan ayat-ayat UUD 1945, butir-butir Pancasila dan produk-produk hukum lainnya seperti GBHN).
Suatu saat, ketika saya masih duduk di bangku SMP, ada momen untuk naik bis ke sekolah karena ban sepeda tiba-tiba saja bocor pagi itu. Waah.. pengalaman baru nih!! Seru hatiku dengan diliputi ketegangan.
Saat sedang duduk di dalam bis selama beberapa menit dan berdamai dengan segala macam ketegangan yang bergelung di hati, tiba-tiba bis berhenti dan ada seorang ibu –ibu tua masuk. Teringat pelajaran PMP, secara spontan saya berdiri untuk memberi tempat duduk untuk si ibu tua tersebut. Akhirnya saya menjadi satu-satunya orang yang berdiri di bis selain kondektur!
Hal yang paling membuat shock adalah ternyata kebanyakan penumpang bis adalah orang dewasa yang secara usia pasti lebih tua dari saya. Dan… mereka tidak ada yang spontan beranjak saat si ibu tua tadi masuk bis. Dan bahkan ketika saya yang secara fisik paling kecil juga tidak membuat kakak-kakak SMA ataupun para bapak yang gagah tergerak untuk berbagi tempat duduk. Satu pertanyaan besar langsung mengusik hati saya. Apa mereka tidak pernah belajar PMP dan mengkaji nilai-nilai mulia yang diajarkan disana, tentang tepo seliro dan keteladanan?

Fragmen 2
Dalam pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) yang membosankan kata teman-teman saya, ada satu statemen yang sering diucapkan oleh guru-guru sejarah saya, yaitu bahwa Indonesia adalah negara besar yang memiliki peradaban tinggi, berbudi pekerti luhur dan juga memiliki rasa toleransi yang luar biasa. Statemen ini begitu memikat hati saya di tengah rasa bosan yang kental disekitar saya terhadap mata pelajaran yang satu ini. Statemen ini seperti nada indah yang siap menggerakan semangat energi hidup saya. Entah mengapa..
Bayangan akan betapa indah negeri ini dengan orang-orang yang baik disekitar lingkungan saya menjadikan hidup saya terasa damai dan tenang. Kenyataan penjajahan yang begitu lama, namun akhirnya kita mampu merdeka memberi rasa heroik yang kental pada masa kecil saya. Betapa hebatnya tanah air Indonesia ini.
Saat kelas satu SMP, saya meminjam buku dari perpustakaan sekolah, serial Lima Sekawan. Pada halaman terakhir buku itu ada tulisan tangan, semacam puisi, yang berisi tentang penggugatan terhadap kinerja anggota DPR. Tulisan yang sangat menawan dan menyentak satu sisi kesadaran kritis saya tentang kenyataan yang ada disekitar dunia orang-orang dewasa yang saya percayai. Juga tentang pelajaran-pelajaran sekolah yang berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan yang selalu saya gandrungi. Seketika saya tersadar pada salah satu statemen dalam hafalan GBHN waktu SD dulu : Menciptakan Pemerintahan Yang Bersih Dan Berwibawa!
Setelah itu saya tak lagi terlena dengan lagu lama nan indah tentang kehebatan Indonesia dan peradabannya, saya berkelana untuk menemukan jawaban. Dalam perjalanan itu keterkejutan demi keterkejutan berhamburan menghampiri, karena ternyata dunia orang-orang dewasa ternyata adalah dunia yang tidak sama dengan yang digambarkan dalam buku-buku pelajaran SD dan SMP saya dulu. Dalam kenyataannya Indonesia sangatlah carut marut. Korupsi, nepotisme, hingga penjualan aset-aset negara berseliweran di sekitar kita tanpa jeda. Para penguasa dan wakil rakyat berselingkuh untuk bersekongkol dalam mengabaikan kepentingan rakyatnya. Saya merasa sangat tertipu dan terbohongi oleh mata pelajaran-mata pelajaran favorit saya sendiri!

Kupasan
Dua fragmen diatas hanya contoh singkat tentang perjalanan saya menyelami dunia sekolah berdasarkan pengalaman saya dulu. Dan pengalaman serupa ini tentu betebaran disekitar kita dengan keberagaman suka dukanya. Hal yang mungkin sama adalah adanya satu kesimpulan mendasar tentang kegelisahan kolektif terhadap apa yang sebenarnya terjadi pada dunia persekolahan kita, atau ada apa sih sebenarnya dengan dunia pendidikan di Indonesia?
Kita semua tentu sepakat bahwa manusia terlahir sebagai makhluk pembelajar, sehingga belajar adalah kebutuhan mendasar manusia karena kaidah dan makna hidup harus diikat dan terus menerus ditatahkan agar nantinya menjadi suatu tata nilai pada diri seorang individu. Pelajaran-pelajaran hidup terukir jelas pada kemampuan seorang individu dalam memanusiakan dirinya, yang pada akhirnya menghasilkan kualitas diri sesuai dengan upaya yang dilakukannya dalam belajar. Dan sebenarnya, untuk itulah sekolah itu ada, bukan?
Artinya, pelajaran-pelajaran yang kita rajut detik demi detik di bangku sekolah seyogyanya adalah pelajaran yang berkemampuan memberi bekal kita untuk menjadi bagian dari derap peradaban zamannya dan masa depannya. Tapi dari dua fragmen diatas saja kita tidak menemukan adanya harmoni yang indah antara teori dan kondisi lapangan, dan bila kita boleh berkata jujur, kita bisa mengatakan bahwa pelajaran sekolah kita sebagian besar adalah mata pelajaran-mata pelajaran palsu alias fiktif! (Setahu saya kondisi yang boleh fiktif itu adalah novel dan film)
Sementara, bukankah munculnya teori-teori itu adalah karena adanya fenomena-fenomena yang terjadi dalam ruang realita dan keseharian kita yang lantas diamati dan dikaji untuk kemudian disajikan dalam tatakan ruang keilmuan? Pertanyaan besar yang kemudian menyeruak adalah : Lantas, desain teori mata pelajaran yang pernah saya rengguk dulu dibuat berdasarkan apa? Apakah berdasarkan realita hidup, atau berdasarkan ideal-ideal yang hendak dicapai oleh departemen Pendidikan Nasional? Atau ada hal lain yang mendasari pembentukan kurikulum dan landasan pematerian dalam sistem pendidikan nasional kita
Pijakan ini tentu penting untuk diketahui dan dikaji bersama dengan melibatkan seluruh komponen bangsa dengan segala aspek sosial budaya yang melatarbelakanginya. Karena bagaimana pun pendidikan adalah bagian terpenting regenerasi sebuah bangsa demi menopang eksistensi peradaban yang diusungnya.
Sayangnya memang, aspek-aspek mendasar yang seyogyanya ada pada tatanan ajaran-ajaran yang memondasi pembentukan mental dan karakter suatu bangsa ini lambat laun tereduksi, sehingga sangat wajar bila pada Hari Pendidikan Nasional tahun 2011 ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan pendidikan karakter sebagai isu utama pendidikan nasional Indonesia.
Kata wajar disini berkonotasi bahwa kewajaran karena adanya degradasi nilai, bukan wajar karena memang sudah begitu seyogyanya. Artinya, kita harus berbesar hati mengakui bahwa ada masalah kronis dengan bangsa ini yang berhubungan dengan mental dan karakteristik diri.
Mencanangkan pendidikan karakter sebagai bagian dari isu pendidikan nasional sebagai solusi atas carut marutnya jati diri bangsa sebenarnya ibarat sumba yang mewarnai perairan pendidikan nasional, bisa jadi bumerang yang membuat warna airnya menjadi lebih keruh.
Mungkin ini merupakan sikap yang terlalu apriori, namun kita mesti bercermin dengan perjalanan pendidikan nasional sejak Indonesia merdeka sampai di era reformasi sekarang ini. Kita tak bisa memungkiri bahwa bila kita berbicara tentang sistem pendidikan nasional seolah-olah kita justru terkotak pada pembicaraan tentang sistem persekolahan nasional. Sementara, sekolah adalah bagian dari sistem pendidikan itu sendiri. Dan karena sistem pendidikan lebih berpatokan pada sekolah sentris, dan sekolah masih banyak terjebak dengan sistem mekanik yang bekerja ala mesin, maka pendidikan nasional pun tidak mampu berkembang secara organis dan dinamis. Segalanya lebih pada kerja otomatisasi sehingga mematikan ruang kreasi dan eksistensi.
Dalam sistem yang seperti ini, yang dianut adalah tombol-tombol yang akan melakukan sesuatu manakala diberdayakan. Dalam wacana sekolah, tombol-tombol ini ibaratnya adalah nilai alias skor. Sehingga dunia Sekolah Nasional kita adalah dunia yang menganut asas score-minded. Hanya skor yang memberi ruang penghargaan secara akademis yang tersebar dalam mata pelajaran-mata pelajaran yang ada dalam kurikulum persekolahan.
Dalam pada itu, karakter adalah sebuah kondisi yang membutuhkan ruang nilai yang bukan skor, tapi nilai yang bernama value, sehingga bila pendidikan karakter ini dimasukan dalam kurikulum pendidikan nasional, maka kondisinya akan sama dengan nasib Pendidikan Moral Pancasila di zaman saya sekolah dulu ataupun bahkan pendidikan agama: sekedar menjadi teori-teori belaka! Padahal, agama, pendidikan moral dan juga karakter adalah sebuah ajaran yang nantinya akan menghasilkan value bukan skor.
Hal ini tentu berpotensi sangat besar untuk menimbulkan kerancuan dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Ajaran-ajaran yang seharusnya dipelajari dalam ruang-ruang kelas kehidupan yang terbentang dalam sekolah-sekolah kesemestaan malah dibonsai untuk menjadi tanaman kerdil dalam pot-pot yang bernama ruang sekolah. Dan bila kondisi ini tidak segera dikritisi bersama, maka karakteristik bangsa yang sebenarnya menjadi tujuan akhir dari pendidikan karakter justru akan menjadi pepesan kosong belaka!
Tawaran Solusi
Pendidikan Nasional seyogyanya kembali ke khitah. Maksudnya mulai berbenah dengan siap dikritisi dan bergerak untuk suatu perubahan nyata agar mampu keluar dari kungkungan paradigma lama yang selama ini dianut bahwa pendidikan semakna dengan persekolahan. Pemahaman pada hakekat makna pendidikan tentu menjadi isu teraktual yang berkebutuhan mendesak untuk segera dirombak.
Pendidikan yang merupakan tiang pancang utama keberlangsungan suatu komunitas adalah sebuah sistem yang diusung oleh tiga komponen utama yaitu : keluarga, lingkungan sosial atau etnis dan Negara dan sekolah sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah atau negara.
Ketiga hal ini harus bersinergi untuk mendukung tercapainya cita-cita pendidikan itu sendiri yaitu mencetak generasi yang kelak menjaga tradisi besar bangsanya, menjaga keutuhan tanah pengabdiannya dan kesejahteraan warga negaranya atau umatnya agar goresan tinta sejarah sebuah bangsa tetap terus tertorehkan dan berkontribusi untuk peradaban semesta.
Selama ini pemerintah secara konsisten menimpangkan dua pilar penting dalam sistem pendidikan nasional yaitu keluarga dan lingkungan. Padahal dari pendidikan dan budaya pengasuhan keluargalah sebuah nilai diri individu terbentuk. Sebuah nilai yang bernama value bukan skor!Karena orangtua tidak perlu mengeluarkan ijazah atau sertifikat.
Value-value inilah yang nantinya akan membentuk lajur-lajur kehidupan dalam tulang-belulang dan darah daging para anak bangsa yang tertuang dalam perilaku, sikap moral, karakteristik diri dan resistensi individu dalam menghadapi resiko serta bertanggungjawab terhadap resiko tersebut. Dan bukankah hal ini yang sebenarnya tengah ter-eliminasi dalam kehidupan berbangsa kita saat ini?
Ajaran adalah materi pembelajaran yang sekolahnya adalah pada ruang-ruang semesta. Mata pelajaran adalah materi pembelajaran yang sekolahnya bisa diusung oleh ruang-ruang sekolah. Dan manakala ajaran dijadikan mata pelajaran, maka hasil akhirnya pasti hanya skor semata. Yang tercetak dalam angka dan aksara semata dan tertulis hanya pada selembar kertas yang bernama rapor atau ijazah. Yang untuk mendapatkannya bisa diadakan tawar menawar dan negoisasi. Bahkan demi nilai agama kita berkemampuan untuk melanggar nilai-nilai dasar agama dengan alasan demi skor yang tinggi dan lulus ujian.
Maka, bila ajaran menjadi suatu mata pelajaran, pertanyaannya adalah nilai berapa yang kau inginkan, bukan nilai apa yang hendak kau tanamkan. Sungguh sangat ironis memang! Lantas, bangsa besar ini mau berarah kemana sebenarnya?

Disampaikan Dalam Diskusi Rumah Anak Bangsa
Di UNESCO , dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional

Uun Nurcahyanti


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: