Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 17, 2011

Kado Kemerdekaan Buat Saya..


MERAH PUTIH BERKIBAR DI MENARA EIFFEL!
by Amiril Mueminin on Wednesday, August 17, 2011 at 12:08pm

Banyak air mata tertumpah di hari ini. Jiwa-jiwa menjadi salut. Semangat terkobar di dalam hati. Garuda seakan membentangkan sayap sambil mendongak ke angkasa. Di dada kami garuda itu terbakar, menyala, meremas semangat dan hati kami hingga air mata tertumpah. Hari ini adalah hari kemerdekaan negaraku tercinta INDONESIA.

Sejak 66 tahun lalu negaraku mengumandangkan proklamasinya. Dibacakan langsung oleh seorang pemuda yang menjadi presiden pertama dan tergagah Indonesia; Soekarno. Teks proklamasi adalah teks kedua setelah Alquran yang paling aku sukai, Bahkan mengalahkan teks-teks sastra tercintaku dari penyair-penyair dunia sampai penyair kampung. Setiap melihat teksnya yang penuh coretan atau hanya mendengarnya dari orang lain, setitik embun bening ‘kan menetes di hatiku. Saat itu air mata takkan terbendung berkaca di sudut mataku. Aku cinta negeriku!

Aku berdiri dari tempatku duduk menuju ke ruang tengah. Di situ telah menunggu sebuah laptop hitam yang di sisi kirinya ku tempeli stiker merah putih. Aku ingin mencari kabar tentang bagaimana perayaan kemerdekaan di negaraku. Oh iya, sejak dua tahun yang lalu aku melanjutkan studi ke Eropa tepatnya di Prancis. Sejak berada di negeri orang, rasa kebangsaanku terhadap Indonesia bersemi, seburuk apapun bentuk pemerintahannya, semiskin apapun rakyatnya. Bagiku, Indonesia tetap Negara paling indah, paling menarik dan tanah tumpah darah. Makanya aku sempat meradang dan melaknat ketika ada orang yang mengarang buku ‘aku malu jadi orang Indonesia’, orang yang tak tahu terima kasih, kita makan dari tanah Indonesia, minum dari airnya, tumbuh di atasnya, menghirup udaranya belajar dari rakyatnya. Tidakkah lebih baik jika kita lebih berfokus ke solusi dari pada berfokus untuk menuntut sambil mencercah ibu pertiwi kita sendiri. Apakah dia tidak tahu bahwa ibu pertiwi pun pecah tangis menyaksikan anak-anaknya di gedung hijau itu menjual diri.

Di beberapa link internet Indonesia. Ku dapatkan rangkaian-rangkaian kata yang meraup kesadaranku meninggalkan tempat di mana tubuhku sedang berjejak. Parade baris-berbaris, pawai baju adat, panjat pinang, lomba makan kerupuk dan banyak lagi. Rangkaian-rangkain kata itu menggiringku ke masa lalu menerobos hijab ‘sekarang’ dan ‘lampau’.

Lalu…

Aku seakan kembali ke masa merah putih. Dimana umbul-umbul warna-warni terpancang meriangi jalan. Di tengah-tengahnya aku berada di antara pasukan berbaris bagai sepotong balok yang tertarik di tengah-tengah kerumunan warga. Rapi. Seragam dan selaras. Kami berjalan tegap dengan pakaian serba putih, berkopiah hitam berblis pita merah putih. Derap langkah kami mengundang decak kagum. Tepuk tangan riuh menyambut sepasukan santri bak sehabis perang membawa kemenangan. Dada kami membusung, tatapan tajam menusuk ke arah depan.

Di tengah-tengah kerumunan warga yang ruih, satu aba-aba pimpinan merekahkan barisan kami menjadi berbagai variasi barisan. Gegap gempita warga semakin memekak, menyejukkan matahari yang sedari tadi menyulutkan bara di atas kami. Hari itu, Soekarno-Soekarno muda menjelma, siap menantang dunia.

Tersadar dari lamunan. Ku tinggalkan laptop yang tetap menyala. Ku tarik koper usang dari bawa ranjangku. Sepasang baju putih lengan panjang dan celana kain putih, masih sama seperti yang dulu. Pakaian ini aku bawa sampai ke Prancis, sebab dulu itu adalah pakaian andalanku di pondok. Di depan cermin semuanya telah terpakai. Agak kekecilan tapi tak apalah demi hari bersejarah ini. Kini tinggal memakai songkok yang terlipat di atas meja. Bendera yang ku pajang dinding kini telah ku ikat pada sepotong pipa. Show time!!!

‘Aller là où?’ Philipus, teman seapartemenku menyapa.

‘Indépendante.’ Jawabku tegas sambil mengepalkan tangan ke udara.

Sebagai orang Prancis yang culture litterair, jiwa seninya menyeruak setelah melihat pakaian tak biasaku. ‘J’ai rejoint. J’attends des amis.’ Ia berlari ke kamarnya dan beberapa detik keluar dengan pakaian putih kapas berbalut rompi abu-abu.

Aku memberitahunya bahwa hari ini adalah hari kemerdekaan negaraku dan aku ingin merayakannya di depan menara Eiffel. Aku ingin berteriak di sana tuk membacakan teks proklamasi dan menyanyikan lagu Indonesia raya. Ia makin tertarik dan bersemangat menemaniku.

Kami menyusuri jalan De la vidione dante-avenue. Melewati jejeran toko-toko berkelas dunia, studio, galeri dan teater. Melewati pengamen jalanan berparade di sudut-sudut bangunan. Kota yang sangat mencintai seni. Di belakangku Philipus berteriak-teriak dengan sengau-sengau lantang “Indépendante… Indépendante… Indonésie!!!”. Aku ikut berteriak ditengah keriuhan pejalan kaki. Jiwaku bergetar, badanku merinding. Persis seperti ketika aku dalam barisan gerak jalan di kampungku.

Melewati stasiun Gare de Lyon. Julang menara Eiffel telah terlihat. Dihiasi toko-toko dan musium yang berbaris rapi mengelilinginya. Kemudian aku terkesiap. Di sana. Di sudut bangunan tua tak bercat dengan beberapa patung wanita melambai yang bersatu pada tiang-tiang menjulang, sekelompok anak muda yang sangat tak asing di mataku. Mereka sedang menari, meneriakkan lagu-lagu dengan urat leher yang menonjol.

‘Sialan… Bisa-bisanya merekatidak mengundangku.’ Gumanku

‘Haaaaaiiii… Mi’. Ayooo cepet gabung di sini.’ Una Kodok dengan kebaya hijau melambai ke arahku.

Di sana juga ada Yoyo, Atiyah dan Fadlul dengan tas ransel di punggungnya. Mereka semua berpakaian adat membuatku dan Philipus makin bergelora.

“Kok nggak bilang-bilang bikin acara di sini?”

“Tadi kita dah telpon kamu tapi nggak ada yang angkat.”

Ternyata sakin semangatnya aku lupa membawa hpku. Aku memperkenalkan philipus kepada teman-teman.

“Una Cicak dan Aldin mana?”

“sebentar lagi mereka tiba.”

Kemudian dari arah aku dan Philipus datang. Dengan sepeda pink, Una C yang berpakaian ala Putih ala palang merah dan Aldin dengan jas biru muncul. Dari sana lambaian tangan Una yang sesekali terhalang tubuh Aldin yang semakin kencang mengayuh sepeda. Dari rona kemerahan karena sinar matahari di wajahnya memberitahuku bahwa perayaan hari ini adalah cetusan idenya, Miss OC. Lihat saja, guratan penat didahinya seakan tak berarti.

“Uhhh. Untung aku berhasil bujuk Sri Nintyas bikin pecel untuk kita?’ ia memperlihatkan kantongan yang berisi bungkusan-bungkusan pecel.

“Haaaah.. Peceel di Paris? Bisa-bisanya kamu berfikir sampai bikin pecel segala. Ruaaaar biasa!”

“Iyaaa. Tidak tau ni mbok-mbok satu ini. Kalau masalah kumpul-kumpul sambil makan, otaknya encer banget. Tidak di Pare, Tidak di Paris. Tetep saja sibuk ngurus.” Aldin menambahkan.

“Tapi seneng, kan?” balasnya yang serempak kami angguki.

“Ayoooo.. Sekarang kita menuju Eiffell!!!” Pekaknya.

Kami berangkat berbarengan menyanyikan lagu Maju Tak Gentar. Eiffel yang terlihat kurus dari tempat kami berkumpul, kini semakin Nampak kokoh. Angin sejuk di sore hari menambah syahdu nyanyian kami, mengalung-alung. beterbangan, berbisik pada sang menara.

Dekat sang menara, kami bersorak berpegangan tangan mengelilingi bendera yang kami tancap. Kami melompat-lompat mengikuti bait-bait lagi perjuangan yang kami hafal. Kami berparade. Sesekali berbaris, hormat kepada bendera di di depan kami. Sore itu kami habiskan dengan perayaan kecil-kecilan, berbincang tentang sejarah tujuh-belasan kami ketika masih di Indonesia dulu dan kami menatap Eiffel yang menjulang itu membayangkan sebuah bendera merah putih maha besar berkibat di puncaknya. Hanya mimpi, tapi mampu membuat kami tersenyum. Wajah kami memerah menahan rasa yang ingin membuncah.

Matahari telah memerah di ujung barat. Awan-awan kapas jingga berlalu dengan sangat hati-hati menatap kami. Gelap mulai meraup cercah-cercah cahaya. Ribuan lampu seakan kunang-kunang sehabis hujan yang menempel pada lekat-lekat sang menara. Aku yang memakai pakaian serba putih dengan kopiah hitam di kepalaku didaulat berdiri di bangku panjang di depan kami untuk membacakan teks proklamasi. Dengan suara yang diserak-serakkan. Memirip-miripkan penampilan Bung Karno pada tanggal 17 agustus 1945 di kediamannya jalan Pegangsaan.

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l.,

Di selenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 45

Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno/Hatta

Seketika itu senyap. Sesenyap malam yang meniupkan angin-angin beku. Ada kerinduan menyeruak berdebar-debar di dada kami. dan kami tertunduk. Mengukur senti-senti sejarah kami. Kini kami di sini. Berdiri sejurus dengan sang menara. Dulu ini hanyalah mimpi. Mimpi yang kami sendiri tak tahu bagaimana mewujudkannya. Tapi, sekarang kami di sini. Berdiri bergandengan tangan.

Una K mengeluarkan carik-carik kertas dari tasnya dan membagikan tiga lembar untuk tiap orang, tak terkecuali Philipus. Yang sedari tadi ikut terhanyut pusaran keharuan. “Pourquoi pleurez-vous?” tanyaku sambil menatapnya. “Je ne sais pas.” Jawabnya sambil mengusap pipi dan hidungnya yang bongkok dengan ujung rompi abu-abunya.

“aku sengaja membawa kertas-kertas ini agar teman-teman berjanji dan selalu ingat akan janji tersebut sehingga tidak terlena dengan bujuk materi di negeri lain. Aku ingin teman-teman menuliskan persembahan apa yang akan teman-teman berikan pada Negara kita jika pulang nanti.” Una K memberi komando.

Aku menuliskan singkat: kan ku abdikan diriku demi memajukan pendidikan bangsaku. Itu janjiku.”

“sudah?” kami mengangguk.

“selanjutnya. Apa yang akan teman-teman lakukan ketika kembali ke Indonesia.”

Penaku menari dan tertulislah: Kupancangkan sebuah janji keramat. Sepulang dari Paris, aku akan melahap keindahan tiap lekuk gunung-gunung yang ada di pundak negeriku. ‘kan ku rabai tiap corak batik yang berbeda di setiap daerah. ‘kan ku dengar celoteh orang Ternate di Maluku. ‘kan ku tatap wajah penuh harap orang-orang Noge di Papua. ‘kan ku hirup wangi kopi Aceh di Serambi Mekah. Aku cinta negeriku…

“dan yang terakhir…” Una K tercekat. Ia menyeka air mata di lereng pipinya. “yang terakhir, coba teman-teman tuliskan orang yang paling berjasa mengantarkan kita melanglang buana hingga ke negeri antah berantah ini?. Untuk yang satu ini, kita akan bertukar kertas dan membacakannya satu persatu.”

Dan satu nama pun ku tulis. Lalu ku lipat dan kukumpulkan di depan kami. Sedang Philipus menatap kami lalu berkata “I’m a French. But, Je tiens à l’Indonésie.” sambil meletakkan pena dan kertasnya.

Satu persatu dari kami mengambil secara acak kertas yang terkumpul di depan kami.

Fadlul: Bunda Uun Nurcahyanti.

Atiyah: Miss Uun Nurcahyanti.

Yoyo: Bunda Uun Nurcahyanti.

Aldin: Ibu Uun Nurcahyanti.

Una K: Miss Uun Nrcahyanti.

Una C: Bunda Uun Nurcahyanti

Aku: Bunda Smart.

Kami saling menatap. Tersenyum. Lalu butiran-butiran sejuk mengaburkan pandangan kami. Berkaca-kaca dan mengalir. Biar saja, gelap juga telah meraup terang. Takkan kelihatan. Tapi suara tawa kami berat tak dapat kami sembunyikan. Haru dan rasa getar tuk mengabarkan terima kasih kami pada seseorang yang berhasil mengibarkan semangat kami lebih tinggi dari menara Eiffel. Terima kasih atas kilatan-kilatan semangatnya hingga membuat kami membara dan tak padam.

(tulisan kecil teruntuk Guru sekaligus sahabat yang memerdekakan semangatku tuk terbang meraih mimpi-mimpi; Bunda Uun Nurcahyanti.)

Malam 17 boelan 8 tahoen 2011.

Atas nama muridmu,

Amiril Mueminin


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: