Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 16, 2011

Membedah Novel : JALAN PULANG


Bersama sang penulis novel, mas Aguk Irawan

Prolog

Novel sufistik adalah sebuah aliran baru dalam dunia sastra modern Indonesia. Saya sendiri sebagai penikmat sastra Indonesia sempat terkesima dengan pemunculan para penulis muda yang bersemangat dan membawa pembaharuan tema dan aliran dalam jagad sastra Indonesia ini.

Tema tentang islam dan hakekat hidup dalam nafas keislaman menjadi suluh di tengah-tengah kepungan media massa yang yang aktif menawarkan konsepsi hidup ala western dan Amerika Serikat yang selalu dibungkus dengan kehidupan modern yang dianggap berjalan lurus seiring dengan nafas zaman. Padahal pada kenyataannya konsepsi modernisasi atau globalisasi ini membuat kita tersungkur layaknya pohon besar yang tercerabut dari tanah tempatnya bertumbuh dan dipindahkan ke dalam pot-pot bunga untuk sekedar dijadikan pajangan. Slogan-slogan indah yang menyesatkan diusung dan digembar gemborkan, bahkan harga pun dibuat seolah-olah tinggi menjulang. Pohon bonsai ini lho, indah dan berharga selangit. Pohon bonsai ini lho merupakan suatu lahan bisnis baru!! Aha…

Dan seluruh pelosok hati masyarakat dibuat terpesona dengan sosok pohon Gaharu yang terbonsai elok, atau pohon beringin yang kokoh molek diatas pot porselein super indah yang menopangnya..!

Itulah kita di tengah pusaran arus modernisasi dan globalisasi ini. Sebuah masyarakat bangsa yang dibuat tak berdaya dan tak mengenal bumi tempat kita seharusnya berpijak karena terpikat dengan dinginnya ruangan ber-AC dan baju baru nan indah yang kita kenakan meski dengan baju-baju tersebut kita tak bisa mengakar dengan dalam dan menghujam seperti seharusnya kita sebagai anak dari suatu bangsa yang berperadaban tinggi dan luhur dengan sejarah kebangsaannya yang hebat.

Kupasan Nilai

Awalnya saya kurang tertarik dengan novel model ini karena kebetulan saya kurang tetarik dengan novel yang bertemakan cinta. Selain itu, pertama kali membaca novel seperti ini pada novel yang alur ceritanya, menurut saya, terlalu perfect dan jauh berada diawang-awang bagi orang biasa dengan pemahaman agama yang terlalu seadanya seperti saya. Novel seperti ini terlalu bertutur ala dongeng Kancil saat saya kecil dulu, fiktif dan tidak menawarkan nilai yang memiliki efek personalis political tinggi. Meskipun jalinan ceritanya indah dan menarik, namun kurang humanis. Ini adalah titik dasar saya dalam memandang novel sufistik. Sehingga ketika tahu bahwa novel yang hendak dibedah dalam silaturahmi ilmu yang bertajuk diskusi Rumah Anak Bangsa kali ini adalah novel sufistik, saya tentu sangat terkejut. Apalagi karena saya sudah sepakat untuk mendampingi sahabat Aguk Irawan untuk membedah novel Jalan Pulang ini.

Awalnya saya merasa berputus asa karena bab-bab awal dalam novel ini menceritakan tentang kisah pertemuan antara dua sejoli dengan segala romantikanya. Wah… kayaknya novel ini bakal menyita energi saya karena didahului dengan rasa antipasti yang bergelut rapat dengan dilemma karena adanya beban tanggung jawab. Dengan tertatih-tatih saya terus mengikuti aliran kata-kata yang meluncur dari jari – jemari kalimat dalam novel tersebut.

Perkiraan awal saya lainnya, saya akan dihadapkan pada ceramah agama model novel dengan dalil yang banyak dan melelahkan. Namun perkiraan saya salah setelah saya memaksakan membaca novel ini hingga hampir sepertiganya. Tak dinyana Novel ini ternyata menawarkan kupasan mengenai cinta dengan segala hakekat yang mendasarinya ada dan bertumbuh. Karena cinta adalah sesuatu yang lebih purba daripada semesta.

Novel ini memberi pemahaman baru tentang pemikiran paling fundamental atas beberapa hal mendasar tentang hidup yang sangat bertolak belakang dengan asumsi umum yang saat ini telah pesat berkembang. Terutama dalam memandang cinta yang bersandar pada konsep cinta antar manusia ataupun cinta antar manusia yang mencoba disandar-sandarkan pada cintaTuhan.

Menurut Aguk Irawan, konsepsi cinta dalam hakekat adalah perwujudan dari cinta semesta yang disebarkan Allah lewat ayat-ayat kesemestaannya. Cinta ibarat benih yang disemai di padang pasir. Pasir bisa menutupi sang benih, panas matahari sangat mungkin mencumbui permukaan kulitnya. Hujan yang sesekali datang menyirami dahaganya. Angin bisa saja datang menghampiri dan menerbangkannya entah kemana, namun sang benih tak hendak mati dan enggan bertumbuh. Ia akan terus tumbuh untuk memberi bukan meminta.

Cinta berarti keberadaan tanpa menuntut kehadiran dan kebahagiaan. Andai ada kesengsaraan itu hanyalah suratan cinta Tuhan demi mengokohkan sang benih untuk tetap menjaga azzam untuk bertumbuh demi bisa memberi kemanfaatan pada kehidupan meski ada keterpisahan dari tempat awal persemaian. Karena sebuah benih cinta bisa tumbuh dimana saja, dalam media apa saja. Cinta seperti inilah yang disebut sebagai cinta sejati yang menempatkan keberadaan cinta itu pada ranah kesemestaan, sebagai bagian dari cinta illahiah dimana semua berawal dan berakhir padanya.

Novel ini juga dengan lugas bertutur tentang mimpi secara cerdas dan berbeda. Bila mimpi biasanya kita maknai sebagai harapan yang kuat untuk masa depan, novel ini menggambarkan mimpi sebagai pengejawantahan dari bahasa Tuhan yang sengaja diciptakan sebagai alat penyuling carut-marutnya dunia yang seringkali tidak menampakkan ketulusannya. Mimpi adalah sesuatu yang luar biasa dan berkemampuan mencipta firasat. Sementara firasat menyimpan energi yang membentuk kata cinta di dalam hati. Aguk menggambarkan dengan indah dalam untaian kata : Tiada yang lebih indah di dunia ini kecuali mengejar impian. Dan tiada yang lebih indah dari hidup selain menggapai cinta.

Yang paling menarik bagi saya, novel ini mengingatkan saya untuk tidak lupa pada pena, alias ajakan halus namun tak boleh terbantahkan mengenai suatu hal yang bernama menulis. Kata-kata dahsyat dari Aguk Irawan yang menggetarkan adalah penalah sahabat sejati, dengan pena kita membingkai huruf-huruf dan menitipkan bahasa Tuhan dalam makna-makna!

Kupasan Makna

Bagi saya pribadi, novel ini memberi satu kaitan mendasar tentang hal yang penting bagi seorang muslim mengenai pegangan kepercayaan yang seyogyanya selalu bergema dan berdiam di dalam setiap sel-sel kehidupannya, yaitu hakekat mengenai rukun iman. Bahwa rukun iman yang memondasi seorang muslim tentang kepercayaan-kepercayaan mendasar bagi kemuslimannya itu adalah hakekatnya adalah pengejawantahan hal yang lebih purba daripada alam semesta, yaitu cinta.

Mengapa? Tentu sangatlah tidak mungkin bila Allah menciptakan alam semesta beserta segala isinya tanpa adanya rasa cinta. Allah yang Maha Berilmu tentu mematri cinta dalam setiap penciptaannya sehingga seluruh sifat Allah tertuang dalam gelar indah alam semesta yang tiada tara ini. Cinta Allah yang dalam terhadap seluruh makhluk-Nya adalah dasar dari keberadaan dan penciptaan alam semesta.

Oleh karena itu Allah mengajari kita hakekat cinta itu untuk memondasi seluruh energi kita dalam bergerak dan bertindak. Ajaran tersebut tertuang dalam rukun iman. Rukun adalah pilar atau tiang pancang, sementara iman semakna dengan kepercayaan. Dan dasar dari seluruh pilar kepercayaan tersebut tentu adalah cinta. Apa pasal? Cinta adalah sebuah emosi mendasar dan murni yang membingkai seluruh energi untuk menjadi lebih berdaya. Berdaya dalam artian berdaya juang dan berdaya ledak.

Gerak hati yang bernama cinta ini merupakan cikal bakal segala hal yang ada dalam ruang hidup manusia. Karena cintalah orang diam menjadi berkehendak untuk bergerak mencari ilmu. Karena cinta pula regenerasi sebuah bangsa berkelanjutan. Karena cintalah sebuah benih kepercayaan tersemaikan hingga akhirnya mengakar kuat. Karena cintalah pucuk-pucuk kerinduan akhirnya hadir mengiringinya. Dan dahaganya sebuah kerinduan akan terobati oleh adanya pertemuan.

Artinya, hanya cintalah yang berkemampuan menumbuhkan sulur-sulur kepercayaan yang nantinya merambah seluruh hati dan jiwa sang pecinta. Pintalan-pintalan kepercayaan ini akan menghadirkan simpul-simpul emosi yang mengikat erat seumpama api dengan asapnya, yang manakala terpisah oleh ruang dan waktu akan menciptakan rindu yang menggumpal pekat. Sebuah rindu dendam yang tak tersembuhkan tanpa hadirnya sang buluh perindu. Duhai…betapa indahnya!

Dengan kosepsi luar biasa inilah Allah memondasi hamba-hambanya dengan pelajaran cinta yang terindah sepanjang masa yang bernama rukun iman. Yaitu tentang hakekat sebuah kepercayaan yang akan menghasilkan biduk kerinduan yang mendarah daging terhadap 6 hal utama penyangga kesemestaan, yaitu : Allah, Malaikat, Kitabullah, Nabi dan rasul, Hari Kiamat, serta Takdir dan Qodar.

Untuk konsep cinta ala Allah ini, Aguk Irawan memberi simbolisasi yang berupa pohon. Bahwa cinta itu ibarat pohon yang berakar tunjang yang tumbuh menggapai cakrawala. Cinta kepada Allah ibarat akar sang pohon. Hal lainnya adalah bagian-bagian pohonnya, sehingga manakala kita memfokuskan diri pada perawatan akar pohonnya maka sang pohon akan tumbuh dengan kokoh,sehat dan kuat. Namun bila kita lebih memfokuskan diri pada selain akar, maka kita tidak berkontribusi untuk menghidupkan energi dari seluruh pohon, tapi sekedar mengambil manfaat dari bagian-bagian pohon tersebut. Misalnya bila kita memfokuskan diri pada buah sang pohon yang memang menarik dan menggiurkan, maka bisa disimpulkan bahwa kualitas kita masih sebatas cinta seorang pengijon atau malah, maaf, pencuri buah semata.

Dan dari sinilah kita bisa melihat secara jernih bagaimana kualitas ruhaniah kita dengan tolok ukur yang dalam namun sederhana yaitu cara kita memelihara dan memfokuskan cinta yang kita miliki. Dan fokus utama dari cinta yang berkualitas adalah bagaimana menghidupkan sebuah pohon agar akarnya menghujam dalam ke relung bumi dengan batang kokoh menjulang ke langit.

Dalam novel luar biasa yang ternyata baru saya tahu merupakan sebuah kisah nyata ini ada banyak pelajaran hidup hebat yang saya dapatkan, ternyata berbicara tentang materi-materi hidup dan keagamaan terasa lebih merasuk ke dalam jiwa manakala dituturkan secara humanis dan penuh keteladanan.Begitu.

Disampaikan Dalam Diskusi Rumah anak Bangsa
Di Basic English Course, Pare, 14 Agustus 2011
Uun Nurcahyanti


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: