Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 15, 2011

Diary Rumah Anak Bangsa (1)


Suara Sumbang

Apabila kita telah berniat melakukan sesuatu dengan tulus,
maka janganlah pernah berpikir bahwa niat dan ketulusan kita itu tidak akan diuji ketangguhan niatnya dan kedalaman ketulusannya.
Karena hanya orang-orang yang memiliki kemauan berjuang untuk melewati ujianlah yang akan mencicipi manisnya buah perjuangan.

Tanggal 10 Mei 2011 adalah tanggal yang berharga bagi saya pribadi dan forum diskusi Rumah Anak Bangsa. Pada hari Selasa itu kota kecil kami kembali disambangi oleh seorang tokoh nasional yang selama ini konsisten berjuang di jalur pendidikan untuk rakyat miskin. Beliau adalah mas Eko Prasetyo dari Resist Book Yogyakarta. Mas Eko adalah seorang penulis produktif buku-buku perlawanan dan konsisten mengangkat kemiskinan sebagai tema-tema kuat yang selalu menggeliat manis dalam alur penanya.
Kehadiran para pemikir bangsa yang memiliki kecemerlangan ide dan memiliki semangat tinggi untuk membangun Indonesia ke depan agar menjadi jauh lebih baik, seperti mas Eko ini, ibarat suplai darah pada generasi muda yang tengah menderita kekurangan darah yang tanpa mereka sadari sebenarnya.
Bersilaturahmi ilmu dengan para tokoh nasional dan para pemikir bangsa di kota kecil seperti Pare ini ibarat punguk merindukan bulan alias sangat jarang terjadi, padahal darah perjuangan harus terus dialirkan keseluruh parit-parit bumi pertiwi. Jika dahulu para begawan, guru-guru bangsa, menebarkan ilmu dengan mengairi ladang-ladang kehidupan rakyat, mendatangi daerah-daerah terpencil untuk membangun peradaban dan membangunkan kesadaran kemanusiaannya, saat ini ilmu dan sumber-sumber peradaban berpusat di kampus yang kebanyakan berada di kota-kota besar. Dan ketika kota-kota kecil membutuhkan para guru bangsa, kemana kami harus berharap?
Di era yang serba uang ini, tentu tak ada hal yang tak dinilai dengan uang, dari biaya yang dikeluarkan, atau jumlah ongkos produksi yang ditanggung. Lantas dikonversi dengan seberapa besar keuntungan yang hendak didapatkannya. Candu keuntungan ini begitu menggema dan bahkan meratulela di tengah masyarakat bangsa ini. Dan bila para guru bangsa, begawan kehidupan, yang seharusnya mengalirkan sumber air keilmuan dan memetikan dawai indah peradaban bangsanya ikut tenggelam dalam arus logika candu keuntungan, lantas siapa yang nantinya mengairi parit kehidupan bangsa ini?Bisa kena serangan stroke berkali-kali kita!
Forum diskusi Rumah Anak Bangsa dilahirkan untuk mengambil bagian dari pencegahan serangan stroke yang berkali-kali ini. Meski kata Adhie M. Massardi diskusi adalah selemah-lemahnya iman perjuangan, namun bukankah dalam iklan PMI, setetes darah kita adalah harapan bagi kehiduan sesama?
Forum diskusi Rumah Anak Bangsa memang lahir dari rahim SMART ILC. Meski sekarang telah menjalani kondisi independennya, apakah salah bila ada sang ibu tetap mendampinginya? Dan lantas kenapa harus dicurigai bahwa sang ibu akan mengambil keuntungan dari kondisi anaknya yang belum stabil? Bukannya tidak menjadi masalah bila ide yang sama-sama baik dengan tujuan yang sama-sama mulia disinergikan?
Suara sumbang ataupun penghujatan atas kedatangan mas Eko Prasetyo yang ditujukan pada SMART ILC yang dicurigai memiliki maksud lain yaitu promosi lembaga atau yang lainnya, tentunya sangat saya sayangkan. Bila hanya kecurigaan dan kecurigaan yang kita benihtanamkan dalam benak kita sebagai anak bangsa, tanpa aksi nyata untuk hanya sekedar mengkonfirmasi dan menjernihkan ruang-ruang pikir kita dengan keikhlasan untuk membuka lipatan-lipatan logika, rasanya serangan stroke hanya tinggal menunggu waktu, kawan..
Mari kita berbuat terbaik untuk bangsa, untuk Indonesia, bukan atas nama golongan dan sebagainya.
Pare, 20 Mei 2011

Uun Nurcahyanti


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: