Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 14, 2011

Diary Placement Test ( 1 )


Placement Test Olala…

Pada suatu sore, seorang siswa saya berkunjung ke rumah bersama ayahnya. Wah, kunjungan yang luar biasa, ada apa nih, pikir saya senang. Mungkin mau pamit dan mengucapkan selamat tinggal dan terima kasih. Luar biasa.
Setelah sedikit berbasa-basi, siswa saya ini menyatakan keperluannya yaitu mengharapkan saya memberikan les privat padanya tentang materi Med Class, materi level 4 pada program Grammar di SMART. Karena saat ini dia menganggur dan tidak punya program gara-gara tidak lolos Placement Test. Saya pun menyarankannya untuk mengambil program ditempat kursus lain, dia menolak dengan alasan sudah SMART-minded. Saya sarankan untuk belajar dengan kakak kelas, dia bilang,” Ah, mereka tidak profesional!”
(Wah.. ini pemikiran yang sangat tidak saya sukai. Mencintai, tapi tak mau secara aktif memberi bukti)
Saya katakan bahwa team SMART tidak diijinkan memberi privat karena sistem yang dipakai MART adalah sistem kuota dan tes masuk. Memberi privat berarti mengkhianati perjuangan siswa yang berusaha masuk SMART dengan aturan ketat dan berusaha untuk meraih kelas yang lebih tinggi di kelas-kelas lanjutan. Dia menjawab lagi, “Makanya saya datang ke Miss Uun. Kan Miss Uun direkturnya!”
Wah, siswa saya ini membangunkan harimau tidur! Dengan sangat tegas saya katakan, “Karena saya pimpinan tim, maka anda kira saya boleh seenaknya sendiri mempermainkan aturan lembaga?! Mbak, anda datang pada orang yang salah! Silahkan pulang dan bawa mimpi anda itu..”
Dia pun menyahut lagi,” Nilai saya kan 216, Miss, cuman tinggal sembilan poin lagi untuk masuk Med Class. Gimana kalau saya diloloskan saja? Cuma tinggal sembilan kok, Miss, saya pasti mampu mengejar ketertinggalan saya di Med Class. Saya janji untuk rajin belajar!”
Dengan suara yang mulai serak karena dijejali keterlukaan karena sikap tamu saya yang bagi saya sungguh ‘berani dan kurang ajar’ ini, saya menjawab tegas, “ Sampeyan (premannya keluar nih) tahu nggak, Mr Bowo itu nilai Placement Test-nya untuk masuk Hi Class berapa? 423, mbak!!Hanya tinggal 2 poin, dan beliau adalah tim SMART, pengampu S’TORY 3.. kalau kami mau berbelas kasihan tentu beliau lebih kami dahulukan! Tapi apa ya pantas perjuangan disandingkan dengan belas kasihan? Bukankah perjuangan itu hanya sebanding dengan semangat, kehormatan dan prestasi? Dua poin memang sepertinya tak banyak, mbak, tapi dua poin itu memiliki makna yang hakekat dalam sebuah derap perjuangan. Perjuangan teman-teman siswa dalam belajar! Dua poin, ataupun berapa poin yang kurang bukan penyata bahwa sampeyan gagal dalam belajar, mbak, sampeyan hanya tidak lulus Placement Test saja, dan kami berkewajiban menerapkan aturan dan tradisi yang telah kami jalankan. Sementara sampeyan berkewajiban untuk mengevaluasi diri tentang apa kekurangan yang masih sampeyan punya, bertanya kepada siapa-siapa yang paham tentang itu. Anda punya kakak kelas yang bisa menjadi tempat bertanya.”
“Tapi mereka juga belum tentu berkualitas,”sanggahnya dengan penuh semangat.
“Apalagi sampeyan, mbak..” jawab saya sambil menerawang. “Sadar atau tidak, 9 poin itu sudah menunjukan perbedaan. Kata-kata sampeyan barusan juga menegaskan perbedaan itu..”
“Perbedaan apa, Miss?” tanyanya dengan polos.
“Perbedaan antara orang-orang yang hanya memandang ilmu sebagai pencapaian keinginan untuk diketahui dan orang-orang yang memandang ilmu sebagai kebutuhan untuk direngkuh dan dianyamkan dalam jiwa-jiwa mereka yang nantinya kan menuntun mereka dalam kepahaman akan pentingnya ilmu tersebut bagi mereka,” jawab saya sembari menghela nafas dalam-dalam. “Orang-orang yang seperti ini akan menghargai siapapun orang yang berbagi ilmu dengannya. Tanpa harus memandang siapa dia dan bagaimana kedudukannya. Bila anda bisa sedikit menggeser sudut pandang anda terhadap hal ini, kemungkinan besar anda akan mampu melipatgandakan energi anda dalam belajar, berjuang untuk memahami hal-hal yang anda ingin pelajari.”
“Takutnya saya tidak bisa, Miss..!” jawabnya penuh tekanan.
“Kalau takut ya mana mungkin bisa..?”
“Maksud anak saya, mungkin ada kebijakan dari Nak Uun sebagai direktur..”kali ini ayahnya yang berkata. Dengan bahasa yang halus tapi beraroma culas dan menekan, khas orang tua!
Saya tak mau terdesak, dengan senyum dikulum, saya menjawab dengan bahasa yang lugas-lugas saja karena toh saya masih punya amunisi. ” Itu tadi kebijakan saya dan tim,Pak. Tahukah Bapak bahwa anak Bapak ini memiliki mimpi untuk jadi Menteri Keuangan Indonesia (memang begitulah mimpinya)? Masa calon pemimpin masa depan Indonesia patah arang gara-gara tidak lolos Placement Test,Pak? Masa calon pemegang kebijakan keuangan Indonesia minta dibelaskasihani hanya demi bisa belajar Bahasa Inggris di level Med Class,Pak? Bukankah ini hanya sebuah tes kecil yang hampir tak berarti dibanding perjuangannya kelak dalam meraih cita-citanya kelak, Bapak?”
Si bapak diam dan berkata-kata lagi..namun si anak ternyata tak hendak menyerah. Saya juga! Ya Tuhan..ku percaya ku mampu hadapi ini,dampingiku ya..
Setelah dialog-dialog serupa yang seru, akhirnya, mereka pun menyerah membujuk saya yang keras kepala dengan berbagai dalih dan alasan yang mereka bawa. Lalu, mereka pun berpamitan pulang..alhamdulillah..!
Dalam hati saya berdoa sepenuh harap. Semoga mereka paham bahwa kemenangan-kemenangan kecil kita itu tetap harus diperjuangkan agar nantinya kita pantas untuk mendapat kemenangan-kemenangan yang lebih besar!
Jangan jatuh hanya karena tidak lolos Placement Test, kawan..itu hanya tanda bahwa perjuangan kita dalam belajar masih butuh dimaksimalkan. Tak lebih!

Pare, 31 Mei 2011
Uun Nurcahyanti
(khusus dipersembahkan untuk mereka,
yang sangat anti Placement Test.
Terima kasih..)


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: