Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 12, 2011

Di bawah Kaki Langit


Sebuah cerpen karya :Ni’matul Jannah

Sambil mengayuh sepeda pelan-pelan, kami berdua berduet menyanyikan lagu sheila on seven, sahabat sejati. Seperti kebiasaan yang sering kami lakukan jika sedang bersepeda bersama, menyanyi sampai tiba ditempat tujuan. Lalu aku akan teriak marah-marah setiap kali ia meludah di jalan sembarangan sambil mengayuh sepedanya.
“ih, jorok sih !! kasian yang sepedanya dibelakang.” Omelku yang kerap menjadi reminder kebiasaan buruknya. Ia hanya tertawa sambil bilang, ‘sorry lupa, hehehe.’ (sekarang kayaknya dia mulai sedikit lebih anggun, ga begitu lagi yah ? )
Melalui arah menuju The Daffodils, kami jalan-jalan sore selepas kelas yang tak ada ampun kepadatan materinya. Baru saja tadi kami mendapat kertas buram kecil yang menjengkelkan. Lebih menjengkelkan dari pada kertas buram yang bergoyang-goyang minta ditanda tangani demi mendapat traktiran. Kertas buram kali ini adalah kertas berupa deret-deret soal Study Club of Pre Grammar yang ditulis tangan oleh tutor kami, Mr. Feri. Bukan masalah seberapa jelek tulisannya, tapi seberapa jelek pemahaman kami terhadap materi yang beberapa pertemuan terakhir ini terus-terusan dijejalkan ke dalam otak kami. Pernah kami nyeletuk, alih-alih membela diri terhadap jebloknya nilai kami.
“ abisnya Mr, tulisannya lho kayak hieroglif gini. Kita mana bisa baca. Kita kan makhluk modern yah, gak kayak si penulisnya.” Aku merengut menatap nilaiku yang tak pernah lebih tinggi dari 60.
“ itu bukan karena seberapa nyeni tullisan saya, sampeyan saja yang dengkulnya sering kejedot, makanya lemmot !” mr. Feri, sampai bibirnya hampir nyrempet tembok kelas setiap kali ngomel-ngomel.
Demi menghilangkan ketidak puasan hati atas nilai yang memalukan tadi, aku dan Shiny menghabiskan sepanjang sore dengan bersepeda ke sawah dan duduk-duduk bercerita dipinggir jembatan kecil ditengah sawah. (bukannya malah belajar lebih giat yah ). Kami paling semangat jika bercerita tentang impian-impian kami. Sering juga diselingi cerita gosip ter-gress yang terjadi di sekolah maupun asrama. (kami lebih suka menyebut berangkat sekolah dari pada berangkat kursus, alih-alih nostalgia jaman putih abu-abu). Tak jarang juga kami cerita tentang masalah hati remaja, apalagi kalau bukan soal lelaki yang mengagumkan. Hehe.
Aku duduk diatas jembatan kecil menghadap hamparan padi yang luas. Tersenyum melihat langit yang senada dengan seragam sekolah kami dulu. Putihnya awan, dan birunya langit. Bagiku, waktu yang paling indah adalah saat jam empat sore sampai setengah enam sebelum maghrib. Seperti saat ini. Dimana aku bisa sepuas-puasnya memandangi langit. Sekenyang-kenyangnya menghirup angin sore. Setinggi-tingginya merajut impianku dibawah kaki langit. Jika aku sedang benar-benar jenuh dan stress dengan nilai dan pelajaran yang ngebutnya mati-matian, cukup dudukkan saja aku diatas rumput liar, berikan aku langit yang luas dan udara yang bebas, maka disitulah aku nyaman. Entah sendiri ataupun ditemani.
“Pare itu memiliki dua bagian yang saling silang yah.” Kataku.
“Saling silang kayak gimana ?” sahut Shiny yang sudah memposisikan diri duduk di sampingku.
“kalo kita jalan kearah selatan, semua kesibukan ala orang kota tumpang tindih. Fasilitas memadai. Gaya hidup melejit tinggi. Orang-orang yang hiruk pikuk mengejar mimpi atau kakayaan duniawi.”
“tapi kalo kita jalan ke utara, kita melihat permainya sebuah desa. Orang-orang berangkat ke sawah. Panen terong, cabe dan bawang. Ibu-ibu membawa sarapan untuk suaminya. Atau anak-anak yang girang main sepak bola dilapangan sebelah. Iya Ori, kontras sekali.” Sambungnya.
“untung kita masih ada di tengah-tengah. Jadi kalau jenuh, kabur kesini aja !”
“ada tempat lain di seberang Pare yang tempatnya juga lumayan bagus. Persawahan juga, kapan-kapan kita jelajah kesana yuk !”
“okkeh, hari minggu depan yah ?”
“deal.”
Kami saling tersenyum menatap langit. Berlari dengan pikiran kami masing-masing.
“beberapa tahun kedepan, kita udah ada dimana yah ?” gumamku pada langit.
“aku mungkin akan tetap di Jakarta. Sarjana dengan IPK yang memuaskan. Menjalani hidup dengan bara impian. Kalo Ori ?”
“aku ada di Surabaya, aktivis kampus, organisasi dengan kegiatan kesana-kesini. Menelusuri peta masa depanku dengan kompas impian.”
“pokoknya nanti, meskipun kita udah gak barengan lagi, kita harus tetep saling kabar. Shiny di Jakarta dan Ori di Surabaya, kita sama-sama mengejar impian kita. Meski dengan jalan yang berbeda, pasti kita berdua tetep bisa saling erat. Aku gak mau putus komunikasi, Ori.”
“tenang ajah, suatu saat nanti kita akan kembali bertemu di suatu tempat dengan sejuta sejarah yang indah. Kita akan jumpa lagi dalam kondisi yang lebih hebat dari sekarang.”
Janji kami, disaksikan langit.
Mataku kembali menyapu bentangan angkasa. Sembari kedua telingaku menangkap suara gemericik air dibawah jembatan yang kami duduki. Angin, aku suka hembusan angin sore. Terlebih jika mendung menghiasi sudut-sudut langit. Maka pucuk-pucuk daun yang bertengger diatas pohonnya masing-masing akan semakin terlihat anggun. Hijau yang masih pupus. Hijau yang masih belia. Hijau yang menggoda.
Beberapa anak kecil terlihat berlarian sepulang sekolah. Wajah ceria, tertawa tanpa dosa sambil menyomot batagor yang dibungkus plastik kecil di tangan kanannya. Juga seorang bapak paruh baya yang sedang mengurusi tanaman sayur dibelakang kami. Dereten tanaman bawang tampak menggunduk membentuk semacam barisan batalion bertameng baja. Di ujung sana, tak jauh dari tempat kami duduk, tiga orang bocah tengah memanjat pohon mangga. Sepertinya sedang panen liar, padahal pohon tersebut tumbuh diantara pohon kamboja di dalam area pemakaman desa.
Aku juga sempat melirik ke arah bangunan tua yang masih berdiri ringkih di pinggir sawah. Seperti pesakit yang terjerembab diantara penyakit belukar. Sebentar ataupun lama, aku pasti selalu melihat bangunan itu setiap kali aku menyudutkan duniaku disini. Pernah waktu itu, aku bertanya pada seorang bapak yang tengah memotong rumput untuk ternaknya dirumah. Sayangnya, tidak ada info. Bapak itu juga tidak tahu-menahu soal bangunan itu. Kupikir itu adalah bekas pasar yang terbakar dan sudah tidak difungsikan lagi. Karena tidak mendapat sumber yang jelas, akhirnya kami menyebut bangunan itu dengan nama Colloseum Roma.
Kami berdua lalu turun menuju pematang sawah. Menyusuri lahan padi yang membentang luas. Sampai kami berdiri diantara padi-padi yang masih hijau. Aromanya begitu segar. Aroma pertumbuhan dan kehidupan.
“ayo, kita teriakkan keras-keras semua impian-impian kita !!” ucapnya padaku.
“ok, satu menit untuk penghayatan sejenak.”
Kami kemudian saling diam. Aku menunduk sambil menutup mata. Menangkupkan kedua tanganku didada. Merasakan desahan angin di sekelilingku. Ada ketenangan. Entah apa yang ketika itu ia pikirkan selagi kami dalam masa penghayatan. Tentunya ia juga pasti sedang berdoa.
“siap ?” tanyanya.
Aku tersenyum mengangguk. “siap.”
“aku duluan yah.”
Kembali aku mengangguk.
“aku, shiny zzha, bisa menjadi penulis hebat, seorang dosen teladan serta bisa menyempurnakan hafalanku dan menemukan seseorang yang menjaga hatiku !!”
Suaranya lantang, penuh keyakinan. Dalam hati aku mengucap amin berkali-kali. Kami masih saling diam untuk beberapa saat. Menunggu aku mengucapkan impianku.
Aku kembali menutup mata. Menghela nafas dalam, lalu kuteriakkan:
“aku, Oriza, mampu berkarya sebanyak-banyaknya. Menjadi penulis yang inspiratif. Menguasai berbagai bahasa dan menemukan Alfalfa !!”
“amiinn…” ia menjawab.
Aku masih berdiri diam. Mengamini, mambasahi mata hati. Rasanya sangat menyenangkan. Biarkan semuanya mendengar. Biarkan orang-orang melihat tingkah kami dengan heran. Biarkan pula dua belia ini merajut harapan. Karena kami bangga memiliki impian.
Dibawah kaki langit, kami bercerita. Dibawah kaki langit, kami berdoa. Diamini oleh gemericik air dan segala yang mendengarnya. Dedaunan yang saling bergesekan, mengucapkan amin untuk impian kami. Awan yang berarak serta udara yang berhembusan, akan mengabarkan kisah ini kepada apapun yang dijumpainya. Juga mungkin, orang-orang yang berlalu-lalang tidak sengaja melihat kami disini.
Doa kami, ya Tuhan. Impian kami, dua remaja yang baru melek menghadapi dunia.

Degan kotak sejuta mimpi
Aku datang menghampirimu
Kuperlihatkan semua hartaku
Semua impianku…
(mozaik memory anak-anak sawah)
Oriza Oriloval. Ni’matul J.


Responses

  1. hihi,, RRRUUAAARRR BIASAA…
    ane jadi tambah semangat nih miss… ^_^

    HUSEN HAS BEEN LIKE THIS.

    • Semoga terus terjaga semangatnya…Amiin


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: