Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 9, 2011

Puasa Dan Manajemen Diri


Puasa seringkali dimaknai sebagai sebuah kondisi dimana kita menahan haus dan lapar mulai dari terbit fajar atau waktu subuh hingga waktu terbenamnya matahari atau saat maghrib. Puasa juga sering dilihat sebagai sebuah aktifitas pembersihan jiwa dan amal yang didalamnya bertabur begitu banyak kebaikan. Sehingga wajar kiranya bila bulan Ramadhan adalah momen yang dianggap cukup spesial bagi kebanyakan orang terutama bagi muslim dan muslimah.

Ada banyak wacana bertaburan untuk mengupas puasa dalam sudut pandang seperti ini. Dalam kesempatan ini saya mencoba untuk memaknai puasa dengan sudut pandang yang sedikit berbeda, yaitu puasa dan hakekat mendasarnya yang bisa kita petik untuk olah manajemen diri.

Puasa adalah bagian dari rukun Islam. Rukun semakna dengan pilar atau pondasi, sementara Islam saya maknai sebagai sebuah pilihan prinsipil seorang individu dalam mengisi ruh keyakinan pribadinya. Sehingga kita berangkat dari pemahaman bahwa rukun Islam adalah pilar yang menyokong individu-individu dalam merajut baju kepribadiannya demi meningkatkan kualitas individualitasnya.
Kita semua tentu paham bahwa rukun Islam itu ada lima, yaitu syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji. Kelima hal ini adalah pondasi utama dalam olah manajemen diri bagi siapa saja yang memilih Islam sebagai keyakinan hidupnya. Kelima pondasi ini saling berkait selayaknya anak tangga untuk meraih tingkat kualitas diri yang setinggi-tingginya.

Rukun Islam yang pertama adalah syahadat. Syahadat semakna dengan komitmen, sebuah basmalah. Hidup diawali dengan basmalah. Syahadat adalah sebuah iman, sebuah kontrak forum alias ijab qobul. Dengan siapa? Dengan sang pemilik hidup. Kalau dari puisi Kahlil Gibran yang mengibaratkan anak sebagai anak panah dan orang tua sebagai busur, maka syahadat adalah sebuah proses penempatan target atau sasaran luncur untuk sang anak panah. Jauh dekatnya sasaran, besaran titik sasaran telah dilukiskan pada waktu komitmen itu tercipta, dan seluruh titik-titik sasaran tersebut dipancangkan dengan tegas di atas permukaan bumi. Sehingga wajar bila ada ungkapan Allah yang sangat menggetarkan : Inilah bumi yang Ku hamparkan untukmu menjadi khalifah!

Dari sini kita mendapatkan dua poin penting yaitu tentang tanah yang menjadi tempat berpijak, yaitu sebuah tempat dimana suatu pengabdian dan gelora perjuangan dipersembahkan, dan penegasan yang tak terbantahkan bahwa dalam setiap jiwa yang bernama manusia ini terdapat satu karakter dan tugas khas yaitu sebagai pemimpin. Sehingga dari sini jelas sekali alasan adanya momen pertanggungjawaban akbar di Padang Masyar kelak, karena setiap diri diserahi tanggung jawab luar biasa yang bernama kepemimpinan.
Kesadaran mendasar ini sangatlah penting karena tanpa menyadari adanya tugas mulia sebagai pemimpin maka kita bisa jatuh pada keinginan untuk tidak menyegerakan diri dalam proses meningkatkan kualitas diri. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk yang inkonsisten, tidak seperti malaikat dan setan yang memiliki konsistensi sempurna sebagai makhluk Allah. Selain itu, tanpa memahami bahwa ada bumi Allah yangmenjadi landasan berpijak, maka manusia tidak akan pernah merasa memiliki suatu tempat kolektif yang harus diperjuangkan demi keberlangsungan komunitas yang bersangkutan. Tempat kolektif yang dimaksud disini bukanlah wilayah milik pribadi, namun wilayah publik yang membutuhkan tanggung jawab kolektif yang solid, dalam hal ini minimal adalah wilayah Negara. Dari sini konsepnya menjadi jelas bahwa setiap individu yang pasti merupakan anak bangsa adalah sel-sel utama penyokong dan penjaga negerinya.
Allah menciptakan makhluk yang konsisten yaitu malaikat dan setan, sementara manusia dan jin diciptakan sebagai makhluk yang tidak konsisten. Inkonsistensi inilah yang seringkali membuat sang anak panah sering terbang-terbang kecil meninggalkan jalurnya. Allah melengkapi manusia dengan emosi, logika dan nurani. Harmoni dari ketiga hal ini yang menciptakan sifat dan karakter. Logika yang terdiri dari lipatan-lipatan maha dahsyat akan membantu individu dalam menentukan pilihan-pilihan dalam hidupnya. Emosi menciptakan nada-nada yang bisa naik turun sehingga tercipta banyak lagu dengan cita rasa yang indah dan saling berbeda. Nurani adalah segaris konsitensi yang berfungsi untuk menjaga manusia agar tetap berada dalam jalur tugas kesemestaannya. Selain itu, dalam setiap kisah kelahiran manusia, manusia telah dilumuri alat perjuangan dengan kekokohan yang tidak main-main. Sehingga dengan demikian, manusia memang disemai alam untuk menjadi pemimpin.

Karena Allah telah menyemai bibit-bibit pemimpin di buminya yang elok ini, maka Allah kemudian memberi pelajaran dasar kepemimpinan di ruang-ruang kelas kesemestaan yang telah disiapkan jauh-jauh masa sebelumnya. Pelajaran Dasar kepemimpinan ini tertuang dalam rukun Islam yang kedua yaitu sholat. Hakekat sholat adalah berdoa. Konsepsi doa adalah pembelajaran tentang ke-rendahat-ian. Bagaimanapun, piranti-piranti canggih yang dahsyat dalam diri manusia itu tentu berpotensi untuk membuat manusia menjadi tinggi hati. Bila manusia sudah dalam kondisi tinggi hati, maka manusia akan sangat mudah tergelincir pada kondisi yang bernama lupa diri. Lupa diri ini adalah hal yang paling mencekam dalam sejarah kehidupan manusia, karena saat manusia lupa diri maka ia akan konsisten dalam ketidak-konsistenannya sebagai makhluk. Dan ini berarti ia akan semakin jauh dari jalur tanggung jawab mendasarnya sebagai pemimpin di muka bumi ini.
Sehingga Allah mengajari kita untuk berendah hati lewat satu mata pelajaran hidup yang teramat luar biasa yaitu sholat. Lewat sholat atau berdoa ini, Allah memaparkan konsepsi mendasar tentang hidup dan kepemimpinan yaitu bahwa seorang pemimpin harus memiliki komitmen yang telah terwakili oleh pilar yang bernama syahadat. Syahadat dalam bahasa politik semakna dengan janji kampanye. Memang, seorang calon pemimpin harus berkampanye agar kualitas integritasnya bisa dinilai publik nantinya. Setelah terpilih maka sang pemimpin harus memenuhi segala macam janji kampanye nya dengan segala kebesaran hati. Kebesaran hati untuk memberikan pengabdian terbaik kepada umat yang dipimpinnya ini berakar pada konsep rendah hati yang tulus dan dalam. Tanpa kerendahan hati yang luar biasa sulit rasanya kita berbesar hati dan tulus mengabdikan potensi kita untuk umat yang kita pimpin. Bisa-bisa kita malah menuntut untuk dilayani dan diagung-agungkan, bukannya melayani dan mengabdi pada orang-orang yang kita dipimpin.
Dalam kuliah materi dasar kepemimpinan ini , Allah memberikan contoh nyata dengan melakukan janji kampanye yang maha dahsyat kepada manusia. Janji kampanye allah itu berbunyi : Mintalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan. Dan karena janji inilah maka Allah siap untuk diminta dan dipohon oleh seluruh umatnya dalam kurun waktu berputarnya dunia sebagai kurun waktu masa jabatan Allah pada semesta yang dikuasai dan dipimpin-Nya. Setelah itu,Allah yang Maha Memiliki Segala-nya sebagai bagian dari bekal kepemimpinannya itu siap untuk diperintah manusia dengan doa-doa yang manusia panjatkan.

Karakteristik pemimpin dan pemegang kekuasaan diteladankan secara tuntas oleh Sang Maha Guru Kehidupan, yaitu Allah Subhanallohu Wata’ala. Bahwa seorang pemimpin harus memiliki amunisi dan modal bagi wilayah-wilayah kerja yang hendak dipimpinnya.
Bila belum ada maka wajib hukumnya untuk meng-ada-kan pembekalan ini. Artinya, seorang pemimpin harus memiliki jiwa sebagai seorang pembelajar sejati sebagai bagian dari peng-ada-an amunisi dan bekal kepemimpinannya nanti. Setelah itu, seorang pemimpin harus siap dan selalu mau untuk dipinta, apalagi bila itu berhubungan dengan janji kampanye yang telah diucapkan-nya, sebuah syahadat kepemimpinan. Allah tidak akan ingkar pada janjinya .Sebagai penguasa semesta Dia konsiten dengan janjinya. Tidak ada permohonan yang diabaikan bahkan dilupakan, hanya momennya saja yang tidak pernah serta merta karena seorang pemimpin yang baik harus punya manajemen planning dan resiko yang cukup mumpuni juga, dan Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana. Demikian juga dengan kita yang diberi wilayah kepemimpinan di bumi Allah ini, kita tidak boleh melupakan janji kampanye kita. Tidak selayaknya seorang pemimpin ingkar pada syahadatnya untuk umatnya, untuk Negara dan bangsanya.

Wah…rasa-rasanya berat sekali ya tugas manusia di dunia ini..?

Pastilah demikian, bukankah manusia memang terlahir sebagai seorang pejuang? Dalam proses kelahiran manusia, dari sekian ratus juta sel sperma yang matang hanya satu yang diijinkan membuahi sel telur. Rasio persaingan yang demikian tinggi dan ketat itu tidak akan mungkin dimenangkan oleh sesuatu yang berkarakter pecundang. Hanya para pejuang sejatilah yang mampu memenangkan persaingan seperti ini, dan kita sebagai individu yang terlahir ke dunia adalah makhluk pilihan dengan karakter pejuang sejati tersebut.

Dari sini muncul sebuah benang merah yang liat bahwa tugas kepemimpinan manusia telah disertai karakter hebat yang menyokongnya yaitu karakteristik seorang pejuang. Sehingga pelajaran hidup berikutnya bagi para pemimpin ini adalah melibatkan diri dalam proses perjuangan hidup itu sendiri, dan untuk itu Allah memberikan pilar yang ketiga yaitu puasa.

Puasa semakna dengan memperjuangkan mimpi atau komitmen yang telah kita buat itu. Puasa semakna dengan proses yang harus kita lalui untuk meraih bekal-bekal yang kita butuhkan dalam menjalankan tugas kepemimpinan kita di dunia ini, karena seorang pemimpin harus mempunyai pilihan sikap dan prinsip yang jelas dan bernas.
Puasa memiliki tiga bagian penting yaitu : sahur, menahan lapar dan haus mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dan berbuka. Ketiga hal ini adalah mata pelajaran pokok mengenai konsepsi dasar tentang manajemen diri seorang anak manusia, meminjam istilah Bandung Mawardi, yaitu bahwa hidup diawali dengan iman dan diakhiri dengan amin. Iman adalah pijakan awal, acuan untuk melangkah, yang semakna dengan pertanyaan dasar bagi sebuah riset. Sementara amin adalah jawaban atau kesimpulan alias prinsip-prinsip hidup yang kemudian kita dapat dari perjalanan mencari jawaban tersebut.

Sahur adalah mengadaan bekal demi sebuah perjalanan yang bernama puasa. Bagi saya, sahur serupa dengan iman, sebuah pijakan awal alias pertanyaan mendasar yang ingin kita cari jawabannya. Puasa semakna dengan perjalanan mencari jawaban, bergelut dengan proses dan bercinta dengan pembelajaran yang harus dilalui dengan penuh keprihatinan dan kesabaran dengan segala derap emosi yang menyertainya. Terkadang terasa menyiksa hingga kita merasa lebih baik berhenti dan berbuka sebelum waktunya karena haus yang tak terkatakan atau godaan aroma makanan dan tipisnya keyakinan untuk bertahan. Saat kita memutuskan untuk berbuka, kapan pun waktunya, berarti kita telah memanen jawaban alias prinsip hidup yang akan membentuk sikap hidup kita.

Berbuka sebelum waktunya adalah cara instan untuk menuntaskan rasa haus dan lapar yang menggoda. Berbuka pada saatnya berarti memahami benar konsepsi momen yang merupakan pilar penting dalam penciptaan alam semesta, bahwa bahkan Allah saja membutuhkan momen untuk nenunaikan segala pinta hambanya, apalagi perjalanan manusia dalam proses menemukan jawaban-jawaban dalam hidupnya. Sebuah momen berbuka puasa memang sederhana, namun hakekat berbuka itu sungguh sangat tidak sederhana. Berbuka berarti menemukan jawaban, menemukan prinsip hidup yang menjadi bagian integral dalam individualitas seorang anak manusia nantinya. Ini semakna dengan amin, bahwa hidup diawali dengan iman dan diakhiri dengan amin.

Berpijak dari pemahaman ini, dapat disimpulkan dengan tegas bahwa puasa adalah konsepsi tentang manajemen diri. Tentang bagaimana seorang individu harus terus berupaya untuk meningkatkan kualitas dirinya dan menemukan amin-amin yang menjadi ciri khas karakteristik dirinya yang pasti berbeda dengan individu lainnya.

Dalam Islam kita memiliki momen luar biasa yang bernama Ramadhan dimana kita diwajibkan untuk berpuasa selama satu bulan penuh kecuali bagi yang berhalangan. Itupun dihitung sebagai hutang dan ada kewajiban untuk membayar hutang puasa tersebut pada bulan-bulan lainnya. Melihat konsepsi puasa dan kewajiban puasa di bulan Ramadhan, agaknya Allah sangat menekankan adanya kondisi yang bernama pencarian jawaban ini. Tiga puluh hari berpuasa berarti kita didorong untuk memiliki tiga puluh pertanyaan dan berupaya untuk menemukan tiga puluh jawaban atau prinsip hidup yang nantinya kita kukuhi sepanjang hayat kita. Sungguh dahsyat!! Dengan Ramadhan Allah memaksa kita untuk kritis bertanya sekaligus gigih dalam berjuang untuk mencari jawabannya. Allah bahkan menjanjikan berlimpahnya pahala di bulan suci ini dengan sabda-Nya bahwa tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Sebuah ayat motivasi yang luar biasa.

Bila tidurnya orang yang berpuasa saja bernilai ibadah apalagi bila ia tidak tidur tapi belajar atau bekerja misalnya. Bila diamnya saja bernilai kebaikan, apalagi jika mau bergerak. Artinya, Allah menandaskan secara lugas bahwa saat kita mau berjuang dalam suatu proses demi menemukan prinsip dan hakekat hidup kita dengan belajar menggauli kesulitan-kesulitan dan menerjang segala rintangan, maka setiap langkah diri maupun langkah pikir kita adalah bernilai ibadah. Sehingga menurut saya, momen puasa Ramadhan adalah momen revolusi diri dimana setiap diri didorong untuk sedemikian rupa untuk mendapatkan amunisi dan bekal hidup yang bernama kualitas diri.
Ramadhan berakhir dengan datangnya Idul fitri. Antara Ramadhan dan Idul Fitri terdapat momen sesaat yang bernilai sangat hebat yaitu zakat fitrah. Momen zakat ini berakhir saat waktu sholat Ied tiba. Idul Fitri semakna dengan berbuka dalam kontelasi yang lebih besar, sehingga orang sering menjulukinya dengan hari kemenangan. Sehingga saya menyebut momen zakat ini sebagai gerbang panjang untuk memaripurnakan kemenangan individu.

Zakat adalah momen berbagi. Bahwa jika kita ingin mendapatkan kemenangan abadi maka kita wajib berbagi. Tanpa berbagi kita tidak akan merasakan manisnya kemenangan. Berbagi berarti kita bermanfaat bagi orang lain, dan bukankah pencapaian manusia yang tertinggi adalah bermanfaat bagi orang lain?

Setelah perjalanan Ramadhan yang panjang demi kita mendapatkan bekal dan amunisi, maka hal berikutnya yang harus manusia lewati adalah bergerak untuk membagikan hasil penggembaraannya seperti Tuhan yang dengan senang hati membagikan segala yang dimiliki-Nya. Inilah pencapaian tertinggi dari seorang manusia.Zakat.

Di awal tadi kita telah memiliki konsepsi bahwa manusia adalah makhluk yang tidak konsisten. Meski pilar-pilar hidup telah dengan indah diajarkan kepada manusia agar dia mampu berjalan pada jalur konsistensi, namun tidak dapat dipungkiri bahwa inkonsistensi adalah hal yang khas pada diri manusia. Nabi Musa pernah mengalami hal tersebut, Nabi Yunus bahkan sampai meninggalkan kaumnya. Demikian juga dengan Nabi Muhammad. Oleh karena itu Allah menyiapkan sebuah momen re-charge yang bernama Haji sebagai rukun Islam yang kelima.
Haji semakna dengan memompa kembali semangat juang yang mungkin melemah, me-regenerasi sel-sel perjuangan yang mungkin luka-luka atau bahkan mulai terkelupas agar kita tetap laju diatas jalur perjuangan. Haji semakna dengan perjalanan pulang ke tempat dimana segalanya berawal untuk berkontemplasi agar denyut nadi perjuangan kembali mengalir segar dan bugar sehingga kita siap mengabdi kepada umat dengan motivasi dan semangat berlipat setelah kita mendapatkan energi baru.

Sahabat, kita tengah berada di dalam momen revolusi diri yang sungguh hebat yaitu bulan suci Ramadhan. Semoga setiap hari di bulan Ramadhan ini kita menemukan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang menjadi landasan pacu bagi kita untuk mempertinggi kualitas diri kita sebagai para khalifah di muka bumi ini.

Pare, 8 Agustus 2011
Disampaikan dalam diskusi Rumah Anak Bangsa
Di Kresna English Course
Uun Nurcahyanti


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: