Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 8, 2011

Pare : Kota Mengajar Manusia


Setelah menyelesaikan kuliah D-3 saya, saya sempat bekerja di beberapa tempat. Yang pertama, membuka usaha sablon dengan sahabat saya, kemudian diminta untuk membantu merintis koperasi para pedagang pasar Klewer Solo. Dan saya diberi kepercayaan menjadi manajer pengadaan barang di Koperasi tersebut, Kharisma Solo. Setelah itu saya merintis usaha mandiri yaitu usaha grosir dengan system kanvas bersama beberapa rekan. Usaha tersebut didirikan di daerah Sleman Yogyakarta. Sayangnya, krisis keuangan 1998 menumbangkan usaha yang tengah kami rintis pada waktu itu. Lalu saya pulang ke solo dan merintis usaha rumahan yaitu berjualan gula pasir dan es lilin.
Akhir bulan Juli 1998, saya menghadiri pernikahan salah seorang sahabat saya di Mojokerto. Pada saat itu kami berangkat dari kota Kediri dan melintasi sebuah kota Kecamatan yang bernama Pare. Sahabat saya, Elita, menceritakan bahwa di daerah tersebut ada sebuah tempat kursus yang bernama BEC. Kalau kursus disana, yang perempuan harus mengenakan jilbab. Mereka juga menerapkan disiplin belajar yang luar biasa dengan sistem belajar seperti yang ada di pesantren.
Cerita dari Elita ini sangat merasuki hati dan pikiran saya. Kata Elita, perintis tempat ini bernama Mr Kalen. Dan saya sangat terobsesi untuk bertemu dengan Mr Kalen. Mengapa? Karena kalo berbicara tentang perempuan berjilbab, berarti kita berbicara tentang kelompok masyarakat yang sangat Indonesia. Artinya, masyarakat umum pemilik bangsa besar Indonesia ini yang justru dianggap sebagai warga kelas tiga di negaranya sendiri.
Dulu saya sering disuruh orang tua untuk kursus bahasa Inggris di berbagai tempat kursus Bahasa Inggris di Solo atau pun di Yogyakarta saat saya kuliah. Kebanyakan teman-teman yang kursus adalah orang Cina. Sangat jarang saya mendapat teman yang sama-sama orang Jawa. Sehingga bila BEC mewajibkan siswinya yang muslim mengenakan jilbab berarti peserta kursusnya pasti kebanyakan adalah orang Indonesia, kelompok minoritas di kususan-kursusan besar yang pernah saya temui. Dan hal ini yang membuat rasa penasaran saya memuncak. Saya berkeyakinan bahwa Mr Kalen pastilah orang hebat sehingga bisa membangun lingkungan bahasa Inggris yang berbau Indonesia. Apalagi Pare bukan kota besar, tapi BEC eksis disana.
Hal ini yang membuat langkah kaki saya mengalir ke Pare pada bulan November tahun 1998 dan berkenalan dengan dunia yang sebenarnya tidak baru bagi saya yaitu bahasa Inggris. Selain keinginan untuk bertemu dengan Mr. Kalen, kedatangan saya ke Pare merupakan pertaruhan terakhir saya dalam menguasai pelajaran bahasa Inggris ini. Kerena meskipun saya sering mengikuti kursus bahasa ini, saya tetap tidak pernah menguasainya dengan baik.
Awalnya saya belajar di Pare selama 6 bulan, tapi saya belum merasakan penguasaan secara signifikan. Akhirnya saya memutuskan pulang ke Solo. Kebetulan juga pada saat itu ibu dan nenek saya sedang sakit. Saya pulang tidak dengan sepenuh hati karena Pare telah mengikat hati saya. Ada banyak tradisi menarik di desa kecil ini yang belum pernah saya temui di wilayah-wilayah belajar yang lain yaitu budaya study club dan pendampingan belajar dari kakak kelas maupun dari bapak ibu kos maupun dari lingkungan di sekitarnya termasuk para penjual makanannya.
Setelah satu setengah bulan dirumah, orangtua menyuruh saya kembali ke Pare, mungkin males melihat saya nganggur. Dan sebelum saya kembali ke Pare memenuhi permintaan orangtua saya, saya mencoba untuk berkontemplasi mengenai kegagalan saya belajar bahasa Inggris selama ini. Dan saya sampai pada sebuah kesimpulan kecil bahwa jangan-jangan stepping yang saya lalui selama ini kurang tepat. Orang belajar bahasa pasti ingin bisa berkomunikasi secara verbal, sementara pada dasarnya saya adalah seorang yang pemalu dan tidak pede-an. Mungkin saya harus memulai belajar hal lain tentang bahasa ini dengan format yang lebih pasif. Dan saya memutuskan untuk mengambil kelas yang paling tidak populer di kalangan bahasawan, yaitu kelas grammar.
Saya kembali ke Pare tanggal 9 Juli 1999 dan berkonsentrasi untuk mengambil kelas grammar.Tak dinyana, ternyata saya menemukan pintu untuk mencintai satu-satunya pelajaran yang tidak saya sukai saat bersekolah dulu itu. Rasa cinta itu membawa saya pada pemahaman yang saya idam-idamkan dan memberi saya peluang untuk bertunangan dengan dunia pendidikan dan pengajaran.
Saya memulai pengalaman kepengajaran saya pada tanggal 10 September 1999 di sebuah lembaga kursus yang membawa perubahan mainstream dunia kursus di Pare saat itu yaitu Mahesa Institute. Siswa saya kebanyakan mahasiswa sehingga saya sangat banyak dibantu oleh sahabat-sahabat siswa dalam dunia pengajaran ini. Bagaimanapun saya tidak punya latar belakang kependidikan. Dan hanya dengan bekal sedikit ilmu yang saya dapat dari berbagai kursusan di Pare ini, saya rajut benang-benang ilmu itu untuk dishodaqohkan pada adik-adik kelas saya yang mengalir ke Pare untuk mengenal bahasa Inggris. Seperti inilah kekuatan dunia kepengajaran di Pare, sebuah tempat yang saya sebut sebagai pendidikan wilayah, kota mengajar manusia. Saya akhirnya berani tampil untuk mengajari orang lain. Hal yang tidak pernah terlintas dibenak saya sebelumnya.
Akhir tahun 2000, siswa-siswa saya melakukan pengukuran tentang kondisi Pare dan kami melakukan diskusi intensif mengenai hal tersebut. Karena saya belum pernah ikut organisasi dan tidak memahami dunia riset, maka saya hanya menjadi pendengar saja. Dalam diskusi kecil tersebut, ada dua kesimpulan penting yang dititipkan teman-teman siswa kepada saya sebelum mereka kembali mengalir ke habitatnya.
Pertama, Pare bisa bertahan sejak 1977 yaitu saat berdirinya BEC sampai saat ini adalah karena mitos belajarnya yang tinggi. Mitos belajar ini sering saya istilah dengan sistem pendidikan wilayah dimana sekolah sebagai sentra pendidikan dan wilayah lingkungan sekolah sebagai pendukung utama proses belajar mengajar ini. Wilayah lingkungan sekolah merupakan wilayah pendukung denyut kehidupan pendidikan itu sendiri dan bukan sekedar wilayah ekonomi. Kepedulian lingkungan untuk mendukung keberhasilan proses belajar mengajar adalah hal yang sangat kental terasa pada Pare masa lalu, memang.
Kedua, biaya belajar di Pare relatif sangat murah. Saya mengistilahkannya dengan sistem pendidikan kerakyatan. Karena kursus bahasa Inggris dilembaga-lembaga kursus di kota besar biasanya biayanya relatif mahal dengan intensitas masuk yang tidak serapat di Pare ini.
Secara geografis, Pare bukanlah tempat yang strategis. Bila kedua hal prinsipil ini hilang dari denyut kehidupan Pare, maka Pare akan menjadi wilayah pendidikan yang sama dengan yang saat ini ada di wilayah-wilayah pendidikan lain di Indonesia. Dan besar kemungkinannya Pare hilang sebagai role model pendidikan wilayah dalam sejarah pendidikan di Indonesia nantinya. Pesan itu yang ditekankan teman-teman siswa saya sebelum mereka mengalir pulang. Dan saya menerimanya sebagai amanah.
Bulan Mei tahun 2002 saya keluar dari tempat mengajar saya. Teman-teman mendorong saya untuk mendirikan tempat kursus sendiri. Meski belum punya pengalaman mengelola kursus dan tidak pede, saya ingat amanah teman-teman siswa saya tahun 2000 itu. Dan dengan mengucap basmallah saya dan beberapa teman mendirikan sebuah lembaga pendidikan kursus yang bernama SMART International Language College pada tanggal 12 Juni 2002.
Awalnya, SMART didesain untuk anak-anak dan berkolaborasi dengan SDN Tulungrejo 3, namun pada tahun ajaran baru 2002 tersebut, sekolah ini fusi dengan sekolah lain sehingga kerjasama indah itu berakhir. Dan desain konsepnya akhirnya diubah untuk para pelajar yang datang ke Pare dengan target utama TOEFL.
Kami bersikukuh dengan sistem pendidikan kerakyatan dalam artian murah, tapi tidak murah meriah atau murahan. Kualitas materi tetap merupakan fokus utama dalam pengembangan sistem dan metode belajar di SMART. Kami juga mengembangan model tes masuk untuk level-level lanjutan. Disamping itu, kami sangat menanamkan siswa untuk mampu fokus dimana saja mereka belajar, sehingga ruang kelas kami bisa ada dimana saja. Ini juga sebagai cara untuk tetap menjaga Pare dengan sistem belajar wilayahnya yang sejak dulu telah ditanamkan oleh BEC. Tapi ada juga yang berpendapat ini adalah alibi kami karena kami tak punya ruang kelas yang representatif.
Dan memang begitulah adanya, karena biaya yang dikenakan sangat murah, maka kami belum sanggup untuk mengontrak gedung yang lebih pantas kata banyak pihak. Gedung yang saat ini kami tempati kami kontrak per bulan dengan besaran kontrak yang hampir tidak berubah dari semenjak awal kami menempatinya 7 tahun yang lalu. Alhamdulillah perjuangan kami disertai oleh orang-orang yang rela mengikuti konsep berani miskin yang kami terapkan! Ha..ha..ha..
Siswa kami berasal dari berbagai latar belakang pendidikan. Mulai dari yang tidak mengenal sekolah formal hingga mahasiswa pasca sarjana. Dengan berbagai usia mulai dari 13 tahun hingga 71 tahun. Mereka juga berasal dari berbagai daerah di Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Sebuah ruang interaksi dan transformasi yang indah dan menjanjikan banyak pelajaran berharga. Saya menyebutkan inilah Indonesia yang senyata-nyatanya.
Saat ini alumni SMART ILC sudah mencapai lebih dari 10.000 orang. Tenaga pengajar yang ada berjumlah 22 orang yang paling muda berusia 19 tahun dan saya adalah pengajar yang paling tua di team saya, 38 tahun.
Pare, dalam perjalanan panjangnya sebagai sebuah Kampung Pelajar, telah mengikat banyak ilmu dan menebar berjuta makna. Dari bumi Allah yang bernama Pare inilah saya bertunangan dengan dunia pendidikan dan merajut benang-beang karya untuk rumah besar Indonesia. Semoga Pare tetap menjadi Kota Mengajar Manusia.

Pare, 12 Juni 2011
Sebuah tapak kecil perjalanan seorang Uun Nurcahyanti


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: