Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 8, 2011

Kisah Stroke Saya


Hari sabtu tanggal 29 April 1993 adalah hari yang tidak bisa saya lupakan dalam hidup saya. Itu adalah momen dimana saya terkena stroke, penyakit yang saat itu masih sayup-sayup terdengar dan belum banyak orang yang tahu informasi tentang penyakit ini. Saat itu saya masih berusia 21 tahun. Usia yang cemerlang, kata orang, usia yang penuh energi untuk menggapai berbagai mimpi. Pada saat itu tensi darah saya drop hingga dibawah angka 70. Pada saat itu saya sedang dalam perjalanan ketika dari Yogyakarta ke Karanganyar. Setelah sempat mendapat pertolongan pertama di RSUD Karanganyar, saya dibawa pulang. Keesokan harinya kondisi saya kembalii tidak stabil, kata dokter, pembuluh darah otak saya pecah dan saya mengalami koma. Pasca koma itu bagian tubuh sebelah kiri saya lumpuh.
Saya orang yang sangat aktif, bahkan banyak orang bilang saya hiperaktif, sehingga bisa dipastikan kondisi pasca stroke itu membuat saya sangat shock. Saya masih ingat betul hari dimana fisioterapis pertama saya memberitahukan kondisi saya yang mengalami kelumpuhan, dan beliau berkata bahwa saya harus memulai kehidupan saya ke depan dengan latihan-latihan fisik seperti layaknya bayi. Dimulai dari titik nol kembali.
Saat itu saya tengah duduk di pinggir tempat tidur di Rumah Sakit Yarsis solo, tempat saya dirawat. Saya tentu saja sangat tidak percaya dengan apa yang beliau sampaikan dan untuk membuktikan bahwa beliau tidak benar, saya langsung melompat turun dari tempat tidur. Sebagai orang yang berpengalaman beliau tentu sudah memperhitungkan kemungkinan tersebut dan dengan sigap beliau menahan tubuh saya agar tidah rubuh ke lantai. Dan saat itu saya sepenuhnya sadar bahwa kehidupan saya telah sama sekali berubah!
Bila selama ini bergerak adalah kebutuhan vital yang menghidupi seluruh kegairahan saya untuk hidup, saat itu saya dihadapkan pada kenyataan bahwa Tuhan telah mengambil semuanya dari saya. Dengan sangat cepat, tanpa peringatan dan prediksi. Lantas, bagaimana saya harus memulai kehidupan saya kembali? Itu pertanyaan pertama yang bertalu-talu mengepung ruang pikir saya waktu itu. Tapi, karena pada dasarnya saya bukan tipe orang yang terbuka, saya sembunyikan segala takut dan sepi yang tiba-tiba merajai hati saya saat itu. Saya mencoba untuk tetap bergairah saat berhadapan dengan orang lain, dan baru menangis saat tengah sendirian. Saya terus memompakan rasa optimis bahwa ini semua hanya ilusi, mimpi sesaat dimana manakala saya terbangun esok hari, saya baik-baik saja. Saya sungguh sangat mengharapkan hal tersebut. Saya menyalakan harapan itu dalam dada saya tanpa henti.
Harapan itu sempat membuat saya terkapar beberapa hari, namun saya berupaya untuk segera bangkit. Saya mulai mengikuti program fisioterapi yang dianjurkan rumah sakit. Mulai belajar menggerakan tangan dan kaki saya, dan mulai belajar berjalan kembali.
Berjalan adalah latihan yang sangat saya tekankan saat itu. Mengapa? Karena bila saya tak mampu berjalan, berarti saya tidak bisa berpindah tempat dengan sendirinya sesuai dengan keinginan saya. Artinya seumur hidup saya akan bergantung pada orang lain. Dan tentu saja saya tak mau itu terjadi. Tidak mampu berpindah tempat adalah suatu kematian bagi seorang Uun Nurcahyanti, dan saya sangat tidak mau hal itu terjadi, sehingga meskipun merambat-rambat dan diliputi banyak ketakutan, saya berusaha untuk belajar berjalan.
Dan setelah saya berani berjalan tanpa berpegangan pada tambatan, saya mulai memberanikan diri untuk belajar berjalan di luar lingkungan rumah saya. Dan hal ini adalah tantangan tersendiri untuk saya dengan kondisi saya pada waktu itu.
Hari pertama, saya sudah siap berjalan, tapi ketika hendak keluar dari gerbang rumah, hati saya tiba-tiba menciut. Bayang-bayang ketakutan menyelimuti seluruh hati saya dan dengan berbagai alasan saya membatalkan latihan saya untuk berjalan-jalan diluar rumah pada hari itu.
Hari kedua, saya memberanikan diri untuk berjalan-jalan keluar rumah lagi. Saya kuatkan hati saya dan mengumpulkan seluruh keberanian saya untuk melakukannya. Namun, lagi-lagi nyali saya meleleh begitu melihat jalan didepan rumah saya. Kegamangan kembali dengan takzim mengungkungi hati saya. Dan dengan berbagai alasan (lagi), saya membatalkan latihan keluar rumah pada hari itu!
Tapi kondisi ini tidak membuat hati saya lega. Saya malah diliputi kegelisahan setelah dua hari yang gagal itu. Saya tersadarkan pada kenyataan bahwa ternyata saya pengecut betul. Ternyata Uun yang tomboy dan suka nekat ini tak memiliki kekuatan mental yang kokoh. Organ gerak yang sekarang sudah sangat terbatas ini, ternyata dengan serta merta membatasi kekuatan psikologis saya. Ironis sekali!
Hari ketiga saya coba untuk melakukan tawar menawar lagi dengan hati saya sebelum melangkahkan kaki keluar dari gerbang rumah saya. Saat itu, ketakutan, rasa malu, tidak percaya diri dan keraguan kembali mengepung jiwa saya, namun saya mencoba bertahan untuk tidak larut dengan satu pertanyaan, bila tidak segera dilakukan saat ini, apakah besok saya bakalan berani? Dan meskipun penuh keraguan, dengan ditemani oleh seorang saudara saya, akhirnya saya menapakkan kaki saya dijalanan kembali dengan kondisi yang sangat jauh berbeda dengan saya yang dulu. Ini adalah saat dimana saya belajar bersosialisasi kembali dan memberanikan diri untuk menatap dunia diluar tembok rumah saya.
Tapi kondisi psikologis yang naik turun dan ketidakberanian untuk menyeritanya pada orang lain meski pada keluarga dan sahabat, pada akhirnya membuat saya semakin tenggelam dalam kegamangan yang semakin hari semakin menipiskan harapan saya untuk betahan dengan kondisi baru saya. Saya semakin tak mampu berdamai dengan kondisi baru saya ini. Saya menjadi sangat sensitif dan semakin senang menyendiri. Rasa-rasanya hidup semakin abu-abu dan absurd. Saya merasa kehilangan diri saya sendiri. Saya semakin tak mampu untuk bangun dari rezim kegelapan itu, seperti tenggelam dalam sumur tanpa dasar dengan ilalang tanpa batas tepian padang.
Pada saat itu berkali-kali terbersit keinginan untuk mengakhiri hidup saya. Dan saya terperangkap dalam pemikiran tersebut, tanpa mampu untuk menemukan jalan pulangnya. Moto hidup saya bahwa segala sesuatu seharusnya diperjuangkan dengan nafas spartan, tampaknya tak mampu membuat saya bangun dalam keterpurukan saya saat itu.
Kondisi ini berlangsung cukup lama dan pada saat yang sama saya jadi memusuhi Tuhan. Saya merasa bahwa Tuhan tidak adil. Mengapa harus saya yang mengalami kondisi nan berat terasa seperti itu. Mengapa bukan orang yang bergelimang maksiat dan dosa yang mengalaminya?(Maaf..)
Berbagai pengobatan alternatif juga saya jalani sebagai bagian dari ikhtiar saya. Tapi saya tetap tenggelam dalam kelam saya sendirian. Saat itu bahkan terbersit dalam benak saya bahwa rasanya lebih baik mati di meja operasi, sehingga ketika ada tawaran operasi dari Rumah sakit Dokter Sarjito, Yogyakarta, saya langsung menyetujuinya. Bukan karena harapan atau optimisme untuk sembuh dan kembali pulih seperti sedia kala, tapi karena berharap agar operasi itu gagal dan saya meninggal di meja operasi! Setidaknya, saya meninggal secara terhormat, tidak mati bunuh diri. (harapan orang yang tengah putus asa seringkali sungguh terasa sebagai sebuah keinginan yang gila,bukan?!)
Tapi pada akhirnya keluarga tidak mengizinkan operasi tersebut.

Sebuah titik balik

Selain kakak yang selalu mendampingi proses terapi yang saya lakukan, ada seorang sahabat yang senantiasa menemani saya dalam masa-masa pemulihan kondisi fisik dan mental itu. Namanya Nina. Pada suatu hari, sahabat saya ini bersedih hati karena salah seorang kakaknya hendak merantau ke Kalimantan dan dia merasa bakal sangat kehilangan. Saat itu dia berujar bimbang,”Kenapa ya Tuhan memberiku cobaan seperti ini, sementara ku sedang membutuhkan dukungannya?”
Spontan saya berkomentar, memberi masukan, ”Mungkin karena menurut Allah kamu sudah mampu mandiri dalam menyelesaikan masalah-masalahmu. Allah itu, Nin,tidak pernah memberi cobaan kepada hambanya melebihi kemampuan hambanya dalam menanggung cobaan itu. Manakala momen ini diberikan Tuhan padamu berarti bahwa Tuhan percaya bahwa kau bisa melewati fase ini!”
Namun, kata-kata yang saya tujukan pada sahabat saya ini, justru bagai laju bumerang yang meluncur dengan sangat cepat dan gencar berbalik menuju pada diri saya sendiri. Kesadaran saya yang selama hampir satu tahun terakhir ini entah tertidur entah pingsan itu serta merta terhentak bangun.
Lha, kalau Tuhan memberi cobaan sesuai dengan kemampuan hambanya, lantas untuk apa saya berkecil hati dan berburuk sangka pada takdir yang dianugerahkan-Nya kepada saya? Kalau Allah menghadiahi saya kondisi spesial dengan tidak berfungsinya organ tubuh sebelah kiri saya, bukankah itu berarti Allah percaya bahwa saya mampu melewati semua ini? Dan Allah memercayai kemampuan saya untuk melewati fase ini?! Betapa bodohnya saya telah menyia-nyiakan waktu untuk tenggelam dalam keterpurukan yang tidak jelas..bahkan berniat untuk mengakhiri torehan sejarah hidup saya padahal Allah memberi beban kepercayaan yang sedemikian luar biasa!!
Bagai seorang guru, manakala membuat soal untuk murid-muridnya pastilah ia sudah mempersiapkan kunci jawabannya. Soalnya pun pasti disesuaikan dengan level kemampuan si siswa. Dan Allah adalah maha guru yang paling sempurna menyulamkan rencana-rencananya..
Kesadaran ini menjadi titik tolak saya untuk bangkit. Bahwa saya tidak boleh mengecewakan maha guru yang membuatkan soal-soalnya untuk saya sesuai level yang saya miliki. Saya tidak boleh tidak lulus ujian karena maha guru saya dengan sepenuh ikhlas telah mengajari saya tentang pelajaran kehidupan. Dan, saya bertekad untuk berdamai dengan hati saya, dengan kondisi fisik saya sekarang dan merajut kembali impian-impian saya. Karena cacat fisik bukan halangan untuk berkarya, dan hal paling penting adalah bahwa saya tidak boleh tergantung sepenuhnya pada orang tua dan saudaa-saudara saya. Sungguh tidak enak hidup dari belas kasihan orang lain.
Semester genap 1994, tepat satu tahun saya tinggalkan kampus, saya memutuskan untuk kembali ke kampus dan menyelesaikan 4 semester yang masih tersisa. Dan akhirnya, dengan izin orangtua saya yang sebenarnya sangat keberatan dengan keinginan saya untuk kembali kuliah, saya kembali ke kampus untuk menyelesaikan studi dan menantang diri saya sendiri untuk hidup jauh dari orang tua dalam kondisi fisik yang belum sepenuhnya stabil. Saya bertekad mengumpulkan kembali serpihan-serpihan keberanian saya yang sempat tergilas arus waktu. Meski tetap bersemayam ketakutan yang besar pada diri saya pada waktu itu.
Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan Diploma saya tahun 1995 dan menjadi lulusan terbaik di jurusan saya waktu itu.

Juni 2011
Ditulis untuk Majalah Sekar

Uun Nurcahyanti


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: