Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 6, 2011

Selayang Pandang Tentang Pare


Pare adalah sebuah kota kecamatan yang berada i kabupaten kediri. Jawa Timur. Kota kecil ini terletak antar kota Kediri dan jJombang. Waktu yang dibutuhkan dari masing-masing kota ke Pare sekitar 45 menit. Di kota kecil nan damai ini terdapat sebuah wilayah yang saat ini akrab dijuluki Kampung Bahasa Inggris, yaitu wilayah desa tulung rejo. Diwilayah ini kita bisa menemukan suatu lokasi pendidikan yang unik dan mengkhususkan diri pada bidang-bidang bahasa asing terutama Bahasa Inggris. Kondisi ini yang membuat zona ini dijuluki Kampung Bahasa Inggris.

Sejarah kependidikan kebhasaan di wilayah ini di mulai pada tahun 1977. Perintis sekaligus peletak dasar konsep kependidikan adalah bapak Muhammad Kalen Osen_yang akrab dipanggil pak Kalen. Sosok luar biasa ini merupakan pribadi yang visioner dan memiliki kedisiplinan dan keteguhan sikap yang luar biasa.

Sistem pendidikan yang beliau kembangkan adalah sisitem pendidikan wilayah Yang diadopsi dari sistem yang biasanya dianut oleh pondok-pondok pesantren yang ada di Indonesia. Pendidikan Wilayah adalah suatu sistem yang melibatkan aktif warga sekitar lembaga pendidikan yang bersangkutan. Di sini warga dilibatkan secara aktif bukan hanya dalam pengembangan sistem ekonominya, tetapi lebih pada penjagaan motivasi belajar dan keberlangsungan sistem belajar pada peserta didik itu sendiri. Bagaimanapun peserta didik tentu lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat kos dari pada ditempat kursus. Oleh karena itu peran aktif para pemilik kos sebagai pengontrol utama belajar dari para peserta didik tentu sangatlah dibutuhkan. Tentu bukanlah suatu hal yang mudah untuk dirintis karena melibatkan orang-orang yang hampir tidak berurusan dengan sistem belajar mengajar, tapi inilah tradisi pertama dan utama yang kelak yang secara signifikan terus mendampingi perkembangan Pare.

Disamping itu beliau juga menciptakan sistem pendidikan yang bertumpu pada tangung jawab keilmuan yang telah diperoleh, yaitu sistem yang memberikan kesadaran penuh kepada peserta didiknya untuk ikut terlibat secara aktif dalam keberhasilan adik-adik kelasnya. Pada diripeserta didik dipompakan rasa percaya diri yang setinggi tingginya bahwa dalam dirinya terkandung potensi diri yang luar biasa dan terkandung unsur tanggung jawab untuk membagikan ilmu yang telah dimilikinya. Dari sistem ini tercipta kelompok belajar- kelompok belajar yang biasanya disebut sebagai Study Club yang diampu oleh para senior.Sistem ini lagi-lagi mengadopsi sistem pengabdian yang sangat lazim ditemukan di pesantren-pesantren dan sisitem ini adalah salah satu tradisi penting yang menopang perkembangan pare ke depannya.

Keunikan lain dari Pare adalah sistem program kursus yang dikembangkan. Kalau biasanya lembaga-lembaga pendidikan kursus bahasa asing menggunakan sistem komprehensif yang mengajarkan bahasa dengan sistem makro, sistem program yang ditawarkan oleh berbagai tempat kursus yang ada di Pare bersifat partial alias mikro dimana program di pecah-pecah sesuai dengan kebutuhan siswa_dengan kata lain sesuai dengn kebutuhan pasar_sehingga bila kita butuh suatu materi tertentu, Speaking misalnya, kita tinggal berkonsentrasi pada materi yang dibutuhkan saja. Sistem yang tidak lazim memang, dan bahkan terkesan ‘memanfaatkan pasar’. Namun kemandirian metode dan kurikulum pembelajaran yang berkembang di lembaga-lembaga pendidikan kursus yang ada di Pare ini membuat kesan tersebut bias karena tradisi pembelajaran yang sedari awal dirintis oleh Pak Kalen adalah tradisi pembelajaran yang kuat dan mengakar. Kondisi ini telah mendarah daging sebagai suatu tradisi yang tidak boleh lenyap begitu saja meski waktu terus berputar.

Disamping keunikan-keunikan tersebut di atas, hal lain yang menjadi ciri khas lain dari Pare yang menonjol adala biaya pendidikannya yang sangat murah. Penulis mengistilahkannya dengan nama pendidikan kerakyatan. Kondisi ini memang telah di kembangkan dari awal berdirinya Basic English Course (BEC) yaitu lembaga pendidikan kursus tertua di Pare yang didirikan oleh Pak Kalen yang sampai saat ini menjadi ikon utama Pare. Sistem ini tentu merujuk pada model sistem pembiayaan ala pondok pesantren yang murah meriah tapi padat ilmu. Meskipun Pare saat ini telah berkembang pesat mengiringi zamannya, namun kondisi ini ternyata masih terus dipertahankan,dengan kata lain. Pare seakan ingin memberi bukti bahwa pendidikan berkualitas bukan melulu ditentukan oleh harga yang membumbung tapi lebih pada kemapanan sistem yang digunakan, kemandirian kurikulum, serta peran seluruh komponen yang terlibat dalam sebuah sinergi aktifitas belajar mengajar.

Pare dengan segala fenomenanya adalah hal yang menarik untuk dikaji. Kini 32 tahun setelah peletakan batu pertama itu, Pare telah dikenal sebagai Kampung Bahasa Inggris. Tradisi-tradisi belajar yang telah puluhan tahun terus bermetamorfosa tentu merupakan hal yang perlu didalami demi perbaikan sistem pendidikan di negeri kita tercinta ini.

Pare, Juli 2009
Uun Nurcahyanti


Responses

  1. mantab


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: