Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 5, 2011

Masalah Pendidikan di Indonesia


I. Pendahuluan

Manusia adalah makhluk komunal yang berbahasa. Bahasa dalam kehidupan manusia adalah hal yang begitu krusial. Bahasa memiliki fungsi strategis dalam melestarikan komunalitas yang melingkupi dirinya. Disamping itu bahasa merupakan urat nadi kehidupan manusia karena tuang pikir dan dzikir manusia berkaitan erat dengan hal yang bernama bahasa ini.
Manusia adalah juga makhluk sosial yang berbudaya. Komunalitas manusia yang beriringan erat dengan fungsi bahasa yang dimilikinya menyebabkan manusia memiliki kebutuhan yang khas untuk bersosialisasi sebagai bentuk aktualisasi dirinya. Sosialisasi yang dilakukan manusia dalam ruang lingkup komunitas yang mengitarinya ini menghasilkan budaya-budaya khas komunitas yang bersangkutan. Dan lahirlah etnis-etnis dengan berbagai ragam budayanya.
Budaya yang muncul dalam komunitas tertentu ini dipengaruhi oleh banyak faktor seperti : letak geografis dan kondisi alam, kebiasaan-kebiasaan yang tumbuh dan akhirnya melahirkan tata nilai, pertautan komunitas dengan lingkungan sekitarnya yang melahirkan kebijaksanaan hidup yang tertuang dalam dasar pemikiran yang khas suatu komunitas tertentu, dan penggalian-penggalian pemikiran yang menghasilkan karakter pola pikir yang khas dan tertuang dalam bentuk budi pekerti yang berikatan erat dengan budaya masyarakatnya.
Hal-hal mendasar yang melingkupi suatu individu ini tentu wajib untuk terus dikembangkan dan dilestarikan. Dalam konteks yang lebih jauh, manusia akan saling bersentuhan dan mau tak mau akan terjadi kondisi untuk saling bersilaturahmi. Entah itu dalam budaya, bahasa atau pun pemikiran. Silaturahmi yang terjadi bisa bersifat harmonis, dan bisa juga tidak. Yang pasti, dari silaturahmi ini muncul budaya-budaya baru,juga pemikiran-pemikiran baru. Disamping itu muncul pula kebutuhan untuk menggali,melestarikan dan mengembangkan segala daya dan budaya komunitas.
Dari kondisi ini muncul kebutuhan untuk membangun suatu sistem yang terstruktur dalam rangka menggali,melestarikan dan mengembangkan keutuhan entitas suatu komunitas. Sistem ini yang kemudian kita kenal dengan istilah pendidikan.
Dan pendidikan tentu saja merupakan pilar utama keberlangsungan suatu negara bangsa. Kelanggengan budaya dan peradaban suatu komunitas yang berikatan dalam kelompok etnis tertentu yang berkolaborasi menjadi suatu bangsa dan tertata dalam kehidupan bernegara, akan selalu berkaitan erat dengan sistem pendidikan yang dianut dan diterapkan dalam komunitas yang bersangkutan.
Indonesia sebagai rumah besar beragam etnis dan sebagai sebuah negara bangsa, tentu tak lepas dan sangat berkepentingan dengan dunia pendidikan demi tetap tegaknya peradaban nusantara di tengah peradaban besar dunia dengan segala fenomenanya. Pengabaian segala urusan yang terkait dengan pendidikan akan menghasilkan musnahnya peradaban suatu komunitas.
Sayangnya, dunia pendidikan nasional Indonesia dewasa ini masih berkutat dengan berbagai masalah yang membuat laju gerbong dengan jurusan pencerdasan anak bangsa ini seakan berjalan di tempat atau bahkan seringkali terkesan terpeleset keluar jalur.
Makalah ini mencoba untuk sedikit mengupas tentang masalah-masalah pendidikan yang terjadi di dunia pendidikan di Indonesia dari sisi landasan pemikiran dasar pendidikan nasional yang telah dicanangkan oleh Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, Ki Hajar Dewantoro, jauh-jauh hari sebelum Indonesia merdeka . Wacana ini adalah Ing Ngarso Sun Tulodho,Ing Madyo Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani
Mungkin ada banyak pendapat bahwa pondasi pendidikan nasional yang wacana pemikirannya telah terwacanakan sekitar satu abad silam ini merupakan pemikiran kuno yang tak lagi lazim menemani zamannya. Apalagi perkembangan sistem dunia yang bergulir sedemikian cepat seiring dengan perkembangan tehnologi komunikasi dan informasi. Sehingga rasanya cukup wajar bila muncul pendapat bahwa perkembangan peradaban dunia sangat mungkin telah menggerus landasan pemikiran beliau tersebut.
Tentu asumsi ini harus diukur dan dikaji agar kita mendapatkan sudut pandang terbaik dalam menggali kembali pemikiran tentang pondasi pendidikan nasional Indonesia yang telah digaungkan oleh Ki Hajar Dewantoro ini.

II. Masalah-masalah Dalam Dunia Pendidikan Indonesia

A.Sepinya keteladanan nasional

Pemerintahan suatu negara adalah cerminan mutlak dari proses kaderisasi negara bangsa yang bersangkutan. Karakteristik pemerintah suatu negara adalah cerminan watak dasar bangsa yang secara otomatis bisa dinilai oleh negara lain dan menjadi teladan bagi seluruh warga dari negara yang bersangkutan.
Dalam perjalanan panjang Bangsa Indonesia, sejak memproklamasikan diri 66 tahun yang lalu, Indonesia telah beberapa kali berganti episode pemerintahan. Mulai dari orde lama yang dipimpin oleh Presiden Soekarno yang dilanjutkan era orde baru yang dipimpin Presiden Soeharto hingga masa pasca reformasi yang telah berganti empat kali pimpinan nasional_B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Sukarno Putri dan Susilo Bambang Yudhoyono .
Setiap presiden membawa gerbong pemerintahannya melalui kabinet-kabinet yang dipimpinnya. Setiap kabinet memiliki watak khas yang mencerminkan karakteristik pemimpinnya dan juga anggota-anggota kabinet yang bersangkutan.
Pemerintahan Presiden Soekarno dijatuhkan oleh suatu konspirasi politik dan militer yang melibatkan komunitas internasional yang hingga kini masih kabur ujung pangkalnya. Citra Soekarno yang tegas tanpa kompromi dan karismatik memberi wajah dan warna tersendiri bagi citra Indonesia di mata komunitas internasional. Meski ke depannya citra ini menjadi semakin pudar, namun pemerintahan soekarno masih dianggap memberi keteladanan yang berarti tentang pentingnya menjadi individu yang berkarakter dan memiliki sikap yang jelas. Dan hal ini memang tampak jelas pada sikap dan karakteristik warga negara Indonesia pada waktu itu. Keberanian dan semangat kemandirian serta kekukuhan dalam menpertahankan harga diri bangsa yang selalu di kampanyekan Soekarno dengan mudah menjangkiti nurani masyarakat Indonesia yang sedang mencari jati dirinya. Kebaikan dan kemuliaan Soekarno mewarnai kehidupan masyarakat yang dipimpinnya. Kekurangan dan karakter negatif beliau pun banyak ditiru warga masyarakat meski kritikan terus menghujamnya.
Pemerintahan berikutnya yaitu era orde baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto. Citra Soeharto yang kalem dan anti konflik membawa angin perubahan dalam sistem bernegara di Indonesia. Soeharto yang berlatar belakang militer cenderung lebih lunak daripada presiden sebelumnya yang berlatar belakang sipil. Namun disamping karakternya yang tenang dan kalem, banyak kebijakan militer Soeharto yang terasa cukup keras. Bila Soekarno keras dan tegas dalam politik luar negerinya, Soeharto justru keras dan tanpa kompromi pada warga negaranya sendiri. Dalam hal politik luar negeri Soeharto cenderung lebih banyak memberi toleransi pada masyarakat internasional untuk memasuki wilayah milik pribadi yang bernama Indonesia ini.
Hal ini yang pada akhirnya berdampak pada kondisi lahirnya para oportunis dalam berbagai bidang kemasyarakatan. Soeharto yang anti konflik menciptakan komposisi masyarakat yang berkarakter penurut dan tidak memiliki pijakan pasti dalam bersikap. Sikap kritis masyarakat diberangus. Kemandirian dan kebanggaan-kebanggaan lokal dikebiri atas nama modernisasi yang berkiblat pada dunia barat.
Sikap Soeharto yang cenderung mendua ini pada akhirnya menimbulkan ketimpangan dalam berbagai bidang baik sosial,politik,ekonomi dan bahkan dibidang budaya dan pendidikan. Karakteristik pemerintahan Soeharto yang cenderung mengayomi ini juga pada akhirnya mengikis karakteristik mandiri dan kebanggaan sebagai diri sendiri yang merupakan pondasi utama masyarakat sebuah negara bangsa.
Pemerintahan-pemerintahan berikutnya pun mendapatkan imbas dari kondisi ini. Kepemimpinan nasional masih dipenuhi dengan karakter yang seringkali tidak mencerminkan karakter keteladanan bagi warga negara Indonesia. Sehingga karakteristik pemimpin bangsa yang muncul kemudian pun terasa kurang kuat
Dalam wacana Ki Hajar Dewantoro mengenai karakteristik pendidikan Indonesia modern, hal pertama yang dibutuhkan dalam konsep pendidikan seorang manusia adalah Ing Ngarso Sun Tulodho, yang berada di garda depan berkewajiban memberi keteladanan. Bagaimanapun orang yang berada di depan adalah tempat tujuan mata memandang, dan daya visualisasi manusia berpotensi memberi pengaruh hebat dalam tingkah lakunya, seperti anak-anak yang pasti meniru tindakan, gaya dan kebiasaan orang-orang yang ada di sekelilingnya terutama orangtuanya.
Dalam kasus ini orang tua adalah para pemimpin anak-anaknya, mereka adalah guru utama dan pertama bagi para tunas bangsa ini. Jika kita tarik kondisi ini ke dunia persekolahan, maka kita tak bisa memungkiri peran guru sebagai pilar utama pemberi keteladanan bagi murid-muridnya.
Hal yang akan sangat ironis karena ternyata profesi guru ini belum banyak menjadi pilihan hidup masyarakat Indonesia masa kini yang lebih menyukai dunia materialitas,yang memberi kemudahan dan keleluasaan dalam menghasilkan materi. Sehingga ketika seseorang menjadi guru karena faktor tidak ada pilihan lain sebagai pilihan profesinyaatau menjadi guru karena adanya fasilitas yang ditawarkan profesi ini,bukan karena panggilan jiwanya, maka keteladan bisa jadi hanya konsep yang seadanya saja.
Kondisi ini tentu membawa dampak yang luas karena seorang guru akan membawahi beberapa kelas dimana dalam satu kelasnya terdapat banyak siswa. Siswa-siswa ini bagai pemirsa televisi yang mengamat segala tindak tanduk sang guru dan sangat mungkin mereka mengambil hikmah dan nilai hidup dari guru yang bersangkutan. Dengan kata lain, guru adalah kitab utama bagi siswa-siswinya.
Tingkah laku, tindak tanduk, alur pikir, dan tata nilai hidup dari seorang guru juga carasegala hal dikaitkan dengan produk dan dikemas dengan rapi dan menarik agar layak jual cara guru mengelola kelas dan memberikan solusi dalam setiap persoalan yang dihadapi siswa-siswinya demi menaklukan pelajaran yang tengah digelutinya adalah kitab tak tertulis yang justru akan lebih dahsyat mengukir nilai di benak dan nurani para siswanya.
Namun, pada era globalisasi ini dimana segala hal dikaitkan dengan perolehan materi ini, kita tak bisa memungkiri bahwa segala hal lebih cenderung dilihat kemampuannya dalam menghasilkan materi. Sayangnya, kondisi ini juga merambah pada profesi guru maupun pada dunia sekolah. Sejak pemerintah memperhatikan kesejahteraan guru, berbondong-bondong orang memasuki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Bukan dengan tekad untuk mendalami tentang ke-guru-an itu sendiri atau menyelami ilmu kependidikan, tapi lebih karena tawaran materi yang dijanjikan dari profesi ini.
Lagi-lagi acuan materilah yang membawa para calon guru bangsa ini memasuki dunia persekolahan.Profesi guru akhirnya memiliki daya jual tinggi. Tentu ini adalah hal yang ironis karena terjadi dalam gempitanya dunia persekolahan nasional. Sekolah yang notabene adalah tempat untuk bershodaqoh ilmu dan bersilaturahmi pemikiran demi tetap berjalannya pendidikan hakiki bagi warga masyarakat dalam level manapun, akhirnya menjadi komoditas dagang yang siap untuk diperjual-belikan.
Departemen Pendidikan Nasional pun, lagi-lagi_sayangnya_ dengan rela hati beralih baju menjadi Departemen Perdagangan dengan merek Sekolah dan secara otomatis menjadikan sekolah menjadi bagian dari industri dan komoditas dagang dengan iming-iming gelar dan karir sebagai produk utamanya. Sekolah yang seyogyanya menjadi salah satu pilar pendidikan bangsa pada akhirnya tidak memberikan keteladanan bagi para peserta didiknya. Sekolah dengan sendirinya juga tidak menanamkan nilai dan ajaran-ajaran.
Ajaran agama dan budi pekerti misalnya, sekarang menjadi mata pelajaran semata bukan lagi menjadi ajaran yang seharusnya tertuang dalam setiap derap langkah komunitas sekolah dan para pelaku pendidikan. Bahkan ditengarai saat ini sekolah justru menjadi sekrup mesin kapitalisme global dan mengantarkan peserta didiknya untuk menjadi pelamar kerja dengan ijazah yang dikeluarkan oleh institusi sekolah. Sehingga ijazah sekolah merupakan tiket penting untuk mendapatkan kerja. Beberapa sekolah bahkan kadang tergelincir menjadi makelar ijazah,makelar kurikulum atau makelar sertifikat .

B.Tertepikannya Nilai dan Ajaran

Menurut teori pendidikan, pendidikan adalah penanaman karakter yang luhur dan penanaman nilai bagi para individu yang terlibat dalam dunia pendidikan ini. Sekolah adalah salah satu institusi yang berperan aktif dalam dunia pendidikan, sehingga sekolah hendaknya mampu menanamkan krakter dan juga nilai_bukan sekedar memberi nilai lewat angka-angka. Hal ini telah termaktub dalam wacana Ki Hajar dewantoro yang kedua yaitu Ing Madyo Mangun Karso.
Guru atau pendidik adalah pilar utama dalam penanaman nilai-nilai kehidupan dan dalam membumikan ajaran-ajaran yang nantinya menjadi pondasi pikir dan pilar pembentukan karakter mental para peserta didiknya. Nilai-nilai dan ajaran yang dirajutkan pada diri para peserta didik ini adalah dasar moralitas utama dan dasar pembentukan karakteristik diri individu yang tentunya berawal dari modalitas diri yang tidak sama karena setiap individu itu unik.
Namun, kebijakan pendidikan nasional yang serba seragam dengan segala tetek bengeknya yang ribet itu justru malah mengkerdilkan dan memberangus karakter khas yang telah dimiliki setiap individu yang berlatarbelakangkan kondisi yang memang berbeda-beda berdasarkan pada kultur dan budaya masyarakat dimana si individu bertumbuh termasuk tata nilai dan keyakinan yang dianut lingkungan keluarganya.
Konsep serba seragam yang telah lama dianut sekolah yang merupakan kepanjangan tangan dari departemen pendidikan nasional ini pada akhirnya justru mendangkalkan akar lokalitas yang menjadi ciri khas diri dan model kebijaksanaan komunitas yang melingkupi seorang individu.
Hal yang tentunya sangat bertentangan dengan semangat pendidikan itu sendiri dan berakibat pada ausnya karakteristik luhur para anak bangsa. Sehingga cukup beralasan rasanya bila kondisi bangsa besar Indonesia ini semakin carut marut dengan kapasitas sumber daya manusianya yang terasa minim dan kurang memiliki integritas diri. Korupsi dan kolusi membabi buta dan menjalar dengan pengakaran yang sangat kuat mulai dari level pamong praja hingga ke level pimpinan nasional.
Kondisi ini tentu berhubungan erat dengan nilai-nilai dasar diri yang berkembang dalam masyarakat Indonesia dan secara intens dan fundamental dimiliki individu-individu dalam masyarakat tersebut . Konsep diri yang tidak dipenuhi dengan kebijaksanaan lokalitas dengan keyakinan yang tidak meresap kuat sebagai hasil dari pendidikan yang konsisten dan menyeluruh inilah yang pada akhirnya melahirkan kader-kader bangsa yang gagap dengan nilai dan tradisi luhur bangsanya sendiri. Yang bahkan bisa jadi tega menjual bangsanya demi kepentingan pribadi atau golongan, juga mengatasnamakan kepentingan rakyat sementara sebenarnya tidak paham sama sekali dengan kondisi yang tengah dialami rakyat

C.Pudarnya Individualitas Anak Bangsa

Tipisnya integritas diri seorang individu tentu akan berimbas pada menipisnya integritas diri komunitas tempat bernaungnya individu yang bersangkutan. Kondisi seperti ini bila dibiarkan akan menghancurkan kapasitas umum komunitas maupun karakteristik luhur yang dimiliki komunitas. Dan akibat terdahsyatnya justru ada pada individu-individu pada komunitas tersebut.
Individu-individu tersebut akan kehilangan pengelolaan diri dan kemauan untuk bertahan hidup. Kecerdasan adversity dari individu yang mendukung komunitas menjadi semakin lemah karena para individu ini akan menjadi macan ompong bila tidak bersama-sama dalam derap komunitas. Pada akhirnya si individu hanya berani berperan di balik derap komunitas.
Dalam konsep Ki Hajar dewantoro, kita sangat familiar dengan tuntunan Tut Wuri Handayani yang menjadi landasan dasar pendidikan nasional. Konsep ini adalah konsep mempertahankan integritas individu yang nantinya bakal menyokong komunitasnya.Pemimpin bangsa dalam level manapun dan guru dalam komunitas apapun adalah bahu dan tangan tempat bersandar bagi orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin dan guru memiliki tugas pengasuhan yang kental. Pengasuhan ini adalah penguatan nilai-nilai diri dan konsepsi-konsepsi hidup dari komunitas yang dipimpin sekaligus diasuhnya.
Penguatan ini akan mengentalkan karakter keindividuan sesorang, yaitu kecermerlangan kemampuan dan keunikan yang dimiliki oleh setiap individu yang menjadi batu-bata penyusun rumah komunitas atau rumah bangsanya. Sehingga setiap individu dalam rumah sebuah bangsa terpacu untuk membesarkan nama baik bangsanya yang berkarya terbaik untuk bangsa dan masyarakatnya. Yang nantinya tentu akan mengabdi pada ruang-ruang kemanusiaan semesta.
Sayangnya, lagi-lagi konsep ini hanya menjadi slogan bisu Departemen Pendidikan Nasional Indonesia yang terhormat. Bisu karena makna pengasuhan dan karakteristik pengasuhan mulai luntur dalam dunia persekolahan di Indonesia. Apalagi bila kita menengok pada pentas pendidikan luar sekolah yang semakin banyak mengusung konsep bisnis, pengasuhan dan penanaman nilai dan ajaran adalah hal yang mungkin bahkan tidak terpikirkan sama sekali.Ironis memang.

III.Penutup

Menurut Pramudya Ananta Toer, Indonesia sebagai negara bangsa saat ini telah kehilangan sifat individualitasnya. Individualitas yang beliau maksudkan disini adalah kemenonjolan individu yang tidak bersembunyi dibalik komunitas.
Seorang individu seyogyanya memang berani menyatakan sikap dan memiliki kejelasan dalam bersikap. Dia tidak mengatakan pendapat pribadi atas nama komunitas,atas nama rakyat. Sementara kondisi dan kehidupan rakyat yang dijadikannya tameng justru tak dipahaminya secara benar.
Namun itulah yang saat ini terjadi di negara kita tercinta ini, para pemimpin yang sangat suka mengatasnamakan rakyat sementara mereka sangat rakus dalam menghisap kekayaan negara dan menipu rakyat yang telah memercayainya. Minimnya nilai moral dan integritas para pemimpin bangsa dalam berbagai level ini mau tidak mau memang menunjukkan kualitas senyatanya dari hasil pendidikan nasional kita.
Memprihatinkan memang, namun agaknya kita layak untuk segera berevaluasi diri. Karena ternyata lepasnya nilai-nilai dasar dari konsep pendidikan nasional ala Ki Hajar Dewantoro adalah hal paling logis dan fundamental dari masalah rumah besar Indonesia ini.
Dengan semangat pembaharuan yang tiada henti, semoga makalah sederhana ini mampu memberi wacana berbeda dalam memandang berbagai persoalan yang menimpa pendidikan nasional Indonesia.

Uun Nurcahyanti


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: