Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 4, 2011

Selarik Hikmah


Satu minggu yang lalu ada dua kejadian yang secara tiba-tiba mampu membuat saya merasa pilu. Yang pertama terjadi beberapa hari sebelumnya. Seorang sahabat yang biasanya menjadi tempat terdekat berbagi ide dan hati tiba-tiba jauh begitu saja saat ada masalah pribadi. Padahal biasanya kami selalu terbuka dan saling berbagi. Meski saya sangat mengerti bahwa tidak semua hal bisa dibagikan pada satu orang saja, tapi rasanya ada sedikit galau yang mendera ujung hati saya.
Hal kedua kebetulan berkenaan dengan sahabat saya lainnya. Seorang sahabat lama yang kebetulan memang tak lagi sering bertemu karena ada ruang, waktu dan kesibukan yang memisahkan kait-kait pertemuan kami. Kami pernah hidup dalam akrabnya perjuangan hidup selama lebih kurang 6 tahun, sebelum akhirnya dia mengalir kembali untuk melanjutkan kuliahnya beberapa tahun lalu.
Sahabat saya ini ternyata sudah menyelesaikan masa kuliahnya dan diwisuda satu minggu sebelumnya. Saat secara tidak sengaja saya membuka fb-nya, saya melihat foto-foto wisuda yang di-up load di wall-nya. Tidak mungkin saya tidak bahagia dengan kelulusannya tersebut, namun entah mengapa ada rasa sakit yang sangat nyata yang meleleh di hati kecil saya. Sebuah pertanyaan yang mengganjal adalah mengapa saya tidak diberi kabar…?
Ingatan saya seketika melayang pada awal saat dia masih berjuang untuk masuk universitas bergengsi di Surabaya itu, Universitas Airlangga. Teringat saat sms memohon doa setulus hati agar dilancarkan segala azzam mulia untuk menuntut ilmu di kelas-kelas kesemestaan yang bernama universitas. Sepintas teringat juga saat meminta doa saat mau mengerjakan skripsi dengan segala tetek bengek penelitiannya yang rumit. Namun saat perjuangan itu telah berbuah manis, bahkan sekedar sepotong kabar pun tidak bertiup ke telinga saya…
Ah…mungkin saya terlalu mendramatisir keadaan! Saya segera mengambil air wudhu untuk menetralisir kondisi hati yang tiba-tiba limbung. Ingin menangis, tapi kondisi pikir masih sibuk dalam keterpanaan. Ingin bercerita, tapi tak tahu kepada siapa… karena pada saat kita sedang sensitif tentu tidak pada sembarang orang kita bisa bercerita. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil jeda beberapa saat untuk menentramkan hati.
Setelah beberapa lama mengendapkan emosi, akhirnya saya menceritakan kegalauan yang tengah sedikit menyanyat pucuk-pucuk hati saya saat itu pada seorang kawan baik yang saya anggap cukup bijak dan memiliki kedalaman pemikiran. Bukan untuk apa-apa sebenarnya, hanya sekedar meluapkan gulana yang tengah mengumpul sahaja…karena terkadang kita butuh rasa hati dan segala gejolak negatif yang tengah melanda didengarkan oleh orang lain.
Dan apa yang terjadi..? Sahabat saya yang berpengetahuan agama cukup dalam ini dengan tegas dan lugas menjejali saya dengan dalil-dalil tentang eksistensi Tuhan dan betapa pentingnya bersandar hanya pada-Nya. Bahwa manusia tak selayaknya terlalu sering mengeluh karena ada Sang Pemberi Kasih Sayang yang tak letih menemani eksistensi kita sebagai makhluk-Nya. Manusia yang terlalu suka mengeluh tak akan mampu bercinta dengan indah dengan Tuhan-nya…Kita tak seharusnya merasa terlalu membutuhkan orang lain, cukup Allah saja…Dia adalah Dzat yang paling tepat untuk tempat bersandar, melabuhkan segala gundah…
Dia merasa sangat heran, kok bisa sih orang yang cukup matang seperti saya merasakan hal-hal sepele yang tidak penting seperti itu…?
Glodaks…!!
Saya bercerita pada orang yang kurang tepat, kawan…Bukannya menetralisir suasana hati, kami malah bergulat dalam diskusi yang hangat tentang ke-Tuhan-an dan ke–manusiaa-an. Seru juga. Meski agak tidak mengenakan rasanya, tetapi saya dapat pelajaran berharga di akhir pekan lalu itu.
Hal yang paling saya garis bawahi adalah sebuah jawaban mengenai hal mendasar mengapa saat ini Islam terasa eksklusif dan elitis bagi umatnya sendiri. Hal itu adalah karena para penyampai syiar Islam tidak memasuki dasar kebutuhan emosi umatnya. Seperti yang terjadi dengan saya dan sahabat diskusi saya saat itu sebagai contoh kecilnya. Memang, hanya Allah tempat manusia bersandar hati, tapi itu adalah sebuah level pencapaian yang tidak main-main. Dibutuhkan banyak anak tangga untuk mencapai posisi pikir dan dzikir yang seperti itu. Dan itulah tugas ulama sebagai pemimpin dan guru besar umatnya, untuk menuntun mereka menapaki anak tangga-anak tangga itu. Agar nantinya seluruh umat mencapai kemapanan level pikir dan dzikir seperti yang dimiliki pemimpinnya.
Namun, bila kebanyakan ulama hanya menawarkan wacana-wacana yang berkutat dalam ranah teori tanpa mau meluangkan waktu untuk melihat kondisi emosi umat yang tengah dipimpinnya, maka konsepsi wacana keagamaan yang tengah dibawanya itu hanya akan menjadi mitos-mitos belaka. Bukankah sangat disayangkan? Agama adalah konsepsi paling mendasar dalam kehidupan manusia, oleh karena itu agama harus disampaikan hingga pada sisi paling dasar dalam diri manusia yaitu samudra hati, agar nantinya mampu memondasi seluruh aspek sikap dan kehidupannya. Sisi yang paling dasar itu bukan hanya pada sisi wacana tapi pada sisi penelaahan dan penerimaan konsep-konsep nilai keagamaan di dalam qolbunya.
Bagaimanapun, manusia adalah makhluk yang inkonsisten tidak seperti malaikat dan setan yang berkarakter sangat konsisten, sehingga wajar kiranya manusia bisa mengalami kondisi yang naik turun tingkat keyakinannya. Dan itulah mengapa Tuhan memberi kebebasan manusia untuk membuat pilihan-pilihan dan kemudian bertanggungjawab atas pilihan-pilihan tersebut. Pilihan ini yang mengantar manusia dalam menentukan sikap dan prinsip hidupnya masing-masing maupun komunitasnya. Dan peran para ulama sebagai pemimpin umat atau komunitas adalah untuk mengawal terjaganya karakter bertanggung jawab dan mendorong untuk memiliki pilihan sikap dan prinsip diri. Namun bila ulama tidak pernah melihat sisi emosi para jamaahnya, maka agama hanya akan menjadi simbol ritual semata bukan menjadi titian spiritual yang nantinya mampu menjaga tradisi dan peradaban komunitasnya.
Itulah salah satu kunci mengapa Islam tidak lagi membumi alias mengakar kuat di hati orang yang mengaku dirinya adalah seorang muslim. Ulama terasa sangat jauh dari jamaahnya meski setiap hari sholat di masjid bersama. Sungguh ironis memang.

Pare, 4 Agustus 2011


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: